Negeri itu Bernama “Media Sosial”

Lah, kalau bertikai terus, cari solusinya kapan? Berbenahnya kapan? Majunya kapan? Duh, entahlah.


Ilustrasi Negeri Media Sosial
Ilustrasi Negeri Media Sosial (sumber: ekrut.com)

Koma 1

Enam orang yang melingkar dengan masing-masing satu cangkir kopi di depannya itupun pusing. Cak Slamet menambahkan, "Wis, ndak usah mumet! Ndak ada habisnya kalau bahas itu terus."

Nampaknya, mereka dipusingkan dengan rakyat Negeri Medsos (media sosial) yang tidak pernah akur. Jangankan tiap hari, tiap jam pun pasti ada saja hal-hal yang dipertengkarkan. Ada yang berantem karena bilang klepon itu jajanan non-islami, ada yang berantem karena 'dokter-dokteran' mengaku menemukan obat Corona, bahkan ada yang berantem karena urusan istri ndak mau bikin bekal buat suami.

Padahal, soal klepon yang non-islami itu cukup diajak syahadat saja, kan sudah masuk islam. Soal dokter yang mengaku menemukan obat Corona, kan tinggal diajak penelitian lebih lanjut. Lalu soal istri yang ndak mau bikin bekal buat suami, kan bisa beli di warung dekat rumah, atau biarkan suaminya cari makan sendiri di tempat kerja. Gitu saja kok repot!

Di Negeri Medsos, ada rakyat yang punya slogan, "Selesaikan dengan baku hantam, kami suka pertikaian." Mereka seolah-olah menunjukkan bahwa solusi dari semua permasalahan adalah dengan pertikaian. Lah, kalau bertikai terus, cari solusinya kapan? Berbenahnya kapan? Majunya kapan? Duh, entahlah. Cak Slamet dan lima kawannya pun masih dipusingkan oleh tingkah rakyat Negeri Medsos itu.

"Mungkin begini, Cak. Kita diam saja jika ada pertikaian atau hal-hal yang bisa dipertikaikan seperti itu," saran Judy pada Cak Slamet dan rekan-rekan lingkaran perkopian itu.

"Bagus, Jud. Ndak perlu berkomentar dan menjawab apapun. Barangkali, diam adalah komentar dan jawaban yang cukup baik untuk mereka. Mau didiamkan kok takutnya terus-terusan begitu. Mau komentar tapi kita juga seringkali tidak menguasai apa yang akan dikomentari. Serba salah memang."

Baca Juga: 4 Wasiat Luqman Kepada Anaknya: Q.S. Luqman Ayat 12-19

Acapkali, kita berkomentar atau menjawab sesuatu dengan keras kepala. Padahal, kita sering kurang tahu tentang apa yang akan dikomentari.

Semua ada porsinya, silahkan menjawab, jika memang anda merasa betul-betul menguasai dengan apa yang dibicarakan. Tapi jika anda memang belum cukup menguasai tentang apa yang dibicarakan, lebih baik diam. Atau barangkali anda rendah hati dengan pengetahuan anda, lantas diam saja.

Diam bukan berarti anda acuh tak acuh, masa bodoh, atau tidak peduli. Anda diam juga bukan berarti anda menjadi apatis, yang disamakan dengan ‘sampah’. Bukan! Kembali lagi, silahkan bicara, silahkan diam. Tapi, tetap harus tahu kapan waktu yang tepat.

"Masuk akal, Cak. Saya setuju sama sampean, selalu setuju." sahut Judy usai penjelasan Cak Slamet itu.
"Halah, kamu ini, setuju kok terus."
"Gimana aku ndak setuju, wong pendapat sampean selalu masuk akal, Cak. Hahaha…."

Selingkar perkopian itupun turut menyetujui apa yang diomongkan Cak Slamet. Mereka juga turut menambahkan pengalaman pribadi mereka dalam ber-medsos, guna menguatkan pendapat Cak Slamet.

Kang Dar yang sedari tadi di sana juga ikut menceritakan pengalamannya, "Saya dulu pernah, Cak, mengomentari cuitan salah satu Kyai. Saya kira ndak ada yang salah dengan komentar saya. Saya cuma menuliskan ‘Betul itu, Yai.’ dengan ditambahi emotikon tertawa tipis, sebab cuitan itu memang berisi guyonan. Namun, tiba-tiba ada orang yang mengomentari komentar saya tersebut. Dia bilang, ‘Oh, si A’ itu Kyai, toh?’ dengan raut muka yang saya kira sedang merendahkan Kyai itu."

"Lantas, kamu balas gimana, Dar?" tanya Cak Slamet

"Saya cuma balas, 'Iya, saya menganggap beliau itu Kyai.' Dia jawab balik, 'Kyai dari mananya?' dengan menyertakan emotikon ngakak. Lalu saya jawab 'Saya menganggapnya demikian. Kalau anda tidak menganggap beliau Kyai, ya silahkan.'  Dan komentar itupun berakhir dengan sederet emotikon ngakak darinya"

"Aku suka gayamu, Dar. Jawaban yang elegan, buat mereka-mereka yang bisanya cuma ngajak berantem terus. Hahaha…"

Baca Juga: Kisah Khaulah Binti Tsa’labah yang Dizihar Sang Suami

"Hahaha… ya begitulah, Cak. Buat apa juga saya marah? Wong saya ndak merasa dirugikan. Tapi mungkin sih saya bakal marah jika dia menjelek-jelekkan orang yang saya anggap Kyai tadi. Untung saja tidak."

"Benar juga sih, Dar, terkadang kita masih bisa sabar jika kita sendiri yang direndahkan. Tapi kalau yang direndahkan itu orang yang kita hormati seperti keluarga, guru, atau Kyai kita, ndak bisa terima begitu saja. Misal ketemu langsung sih enak, bisa ngobrol tatap muka. Tapi kalau di medsos? semua pada ganti topeng."

"Ganti topeng gimana, Cak?" tanya Kang Dar

"Ganti topeng, Dar, dia melepas topeng aslinya, lantas memakai topeng lain di dunia maya, beraksi deh dia. Berselancar dengan menebar kebencian kemana-mana. Di Negeri Medsos memang begitu, berombak-ombak orang menebar kebencian. Namun, tak sedikit pula sih yang menebar kebaikan. Tergantung kita, mau memilih jadi yang mana."

"Ah, rasa-rasanya saya mending diam dulu saja, Cak. Saya ndak mau menebar kebencian, soalnya belum bisa menebar kebaikan. Hahaha…." Judy tertawa dengan setitik cabai merah yang menempel di sela-sela giginya.

"Ya ndak ada salahnya juga, Jud. Toh kembali lagi ke pembicaraan tadi. Silahkan menjawab, silahkan diam. Semua harus tahu porsinya masing-masing. Tapi kalau kamu diam terus, lantas kapan kamu bakal punya pasangan, Jud? Kasihan adikmu lho, hahaha …." [MJ]
——-

Seri "Koma" merupakan kisah kasih perkopian Cak Slamet bersama rekan-rekannya, yang ngrasani isu sosial, politik, budaya, dsb. dengan bahasa yang akrab digunakan ‘Kaum Ngopi’.
Baca juga seri "Koma" lainnya:

 _ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Duljabbar

Master

Alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang | Kini sedang mblakrak di Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Hikmah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals