Pseudo Merdeka

Sebab sebaik-baiknya merdeka menurut mereka adalah dengan tidak mengganggu kemerdekaan orang lain.


ilustrasi (rumahfilsafat.com)

Koma 2

Negeri yang disebut-sebut telah merdeka itu memang aneh, baik di dunia nyata maupun dunia mayanya. Sebagaimana telah dibahas oleh Saudara Ainu Rizqi di artikelnya yang berjudul "Quo Vadis Kemerdekaan?" via Artikula.id (13/8), arti dari kemerdekaan itu sendiri mulai—dan terus—membias. Merdeka "dari" dan "untuk" pun belum tampak kepastian arahnya. Hingga pada perkopian Cak Slamet dan rekan-rekannya semalam, mereka ngudo roso (baca: merenungi) perihal kemerdekaan.

Banyak pemaknaan atas kata "merdeka". Misalnya, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merdeka bisa diartikan sebagai bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri. Benarkah demikian?

Ada pula merdeka sebagai tidak terkena atau lepas dari tuntutan. Benarkah demikian?

Ada pula merdeka sebagai tidak terikat; tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa. Benarkah demikian?

Tiga pemaknaan tersebut baru dari KBBI, yang menjadi kamus  resmi Bahasa Indonesia. Belum lagi beribu-ribu bahkan berjuta-juta pemaknaan atas kata "merdeka". Mulai dari kaum akademisi, politisi, tukang becak, aktivis, hingga orang-orang apatis, mereka berhak untuk memaknai apapun kata yang ada.

Ah, dirasa-rasa, pemaknaan akan sebuah kata, baik secara lisan maupun tulisan tidak akan cukup bisa menjelaskan. Sebab bahasa tak harus dimengerti, tetapi dirasa.

Baca juga: Hidup di Kota Bukan Jaminan Kaya

"Begini lho, Cah. Aku ini bukan akademisi, jadi aku ndak bisa menerangkan bagaimana kemerdekaan itu secara ilmiah. Mungkin kalian-kalian sebagai orang berpendidikan, bisa menerangkannya." Terang Cak Slamet di tengah-tengah diskusi yang sudah dan masih berlangsung itu.

"Kalau aku pakai pemaknaan dari KBBI seperti yang sudah kubilang tadi, gimana, Cak? Aku lebih cocok menyebut kemerdekaan itu keleluasaan. Atau bahasa sekarangnya, lossss …" jawab Kang Dar.

"Boleh juga itu, Dar. Leluasa sendiri adalah perasaan bahwa kita ini tidak sedang dituntut oleh siapapun. Kita bisa berbuat sesuka hati."

"Eh, tapi, kalau kita merasa leluasa karena tidak ada tuntutan, lantas apa kabar dengan shalat, puasa, zakat, atau ibadah lainnya, Cak?" tanya Judy

"Lho, siapa yang bilang itu tuntutan, Jud? Apa sekolahmu ngajarin begitu?" Judy menggeleng.
"Ibadah-ibadah itu tuntunan, Jud. Bukan tuntutan. Buat apa Allah nuntut kita shalat, puasa, zakat, dan sebagainya? Apa Allah butuh itu semua? Terus kalau ndak ada yang ibadah, apa bakal jatuh kekuasaan-Nya?"

"Oh, iya ya, Cak. Duh, kebiasaan di kampus, Cak. Dituntut terus, hehehe …." Cak Slamet meneruskan, "Jangan sampai keliru. Pandai-pandai membedakan, mana tuntutan dan mana tuntunan. Ibadah-ibadah itu cara Allah menuntun kita untuk menggapai-Nya, Jud. Ndak rumit seperti mengejar perempuan yang kamu pun bingung harus gimana, Allah sudah memberi kita tuntunan. Ya itu tadi, lewat shalat, puasa, zakat, dan lain-lainnya."

Perihal penghambaan atau perbudakan, semua kembali pada kesadaran dan keikhlasan tiap-tiap kepala. Kalau kita ikhlas dihambakan dan menghambakan, maka kemerdekaan akan kita dapatkan. Kalau tidak, ya begitulah.

"Terus, gimana dengan negerimu ini, Cah? Kok katanya sudah merdeka." Cak Slamet memancing pikiran lagi.

"Kalau merdeka yang dimaksud adalah lepas dari jajahan kekuasaan politik negara lain, sudah, Cak. Sebagaimana disahkan lewat Proklamasi 17 Agustus 1945 lalu. Baru, deh, negeri kita menyusun pemerintahan dan rupa-rupanya kemudian. Entah kalau merdeka dari yang lainnya." jawab Kang Dar.

"Iya sih, Kang. Dan kita terus terlena akan kebanggaan merdeka di waktu itu. Bukannya aku ndak menghormati para pejuang yang gigih melawan penjajah untuk meraih itu semua. Tapi, mbok ya ayo kita lihat, kita masih dan terus dijajah, lho." Judy menambahkan

Baca juga: Kenapa Ada Kewajiban dalam Islam?

"Wah, kita dijajah siapa, Jud?" tanya Cak Slamet.

"Bukan cuma 'siapa', Cak. Tapi juga 'apa'. Bukan cuma dijajah oleh suatu pihak, tapi juga oleh nilai-nilai destruktif yang justru makin hari makin berkembang."

"Masuk akal, Jud. Kita mengira dengan tidak adanya serangan militer dari negara lain ke negara kita, berarti tidak ada penjajahan. Padahal, orang kecil seperti kita dijajah oleh mereka yang punya kuasa. Orang apatis seperti kita disampah-sampahkan oleh mereka yang sungguh benar-benar aktivis. Orang yang ibadahnya pas-pasan seperti kita, dikafir-kafirkan oleh mereka yang mengaku amat sangat dekat dengan-Nya."

"Duh, duh, makin pesimis aku, Cak. Makin pesimis atas kemerdekaan yang kita bangga-banggakan ini, heuheuheu …."

"Lho, jangan pesimis, Dar. Justru dengan mencari dan merenungi ini semua, harusnya kita makin ahli mengontrol diri. Pelan-pelan kita merdekakan pikiran kita dari apa yang tak perlu dipikirkan. Pelan-pelan kita merdekakan perasaan kita dari tuntutan-tuntutan. Dari siapa pun, dari apa pun …."

Gelombang pesimis-optimis yang dilalui Cak Slamet dan rekan-rekannya itu memang normal. Namanya juga orang kecil, diskusi seserius apapun, hasilnya cuma dua; diamalkan—minimal—untuk dirinya masing-masing, dan tidak berkoar-koar atas kebenaran yang mereka yakini itu. Untung saja, mereka tak larut dalam pesimisme-nya. Mereka tetap optimis untuk bisa merdeka dari yang membelenggu keleluasaan mereka. Ya, meskipun tak seoptimis para aktivis dan politisi dalam mencari panggung juga, sih. Sebab sebaik-baiknya merdeka menurut mereka adalah dengan tidak mengganggu kemerdekaan orang lain. (SJ)
——-

Seri "Koma" merupakan kisah kasih perkopian Cak Slamet bersama rekan-rekannya, yang ngrasani isu sosial, politik, budaya, dsb. dengan bahasa yang akrab digunakan ‘Kaum Ngopi’.
Baca juga seri "Koma" lainnya:

 _ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Suka Suka
11
Suka
Ngakak Ngakak
2
Ngakak
Wooow Wooow
9
Wooow
Keren Keren
10
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Duljabbar

Master

Alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang | Kini sedang mblakrak di Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Hikmah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals