Karena Aku Cinta Maka Aku Merayakan Kelahirannya

“Perayaan Maulid itu bentuk rasa cintaku kepada Nabi-ku, kamu tidak suka itu urusanmu. Aku tidak butuh dalil untuk mencintai Nabiku."


Gambar: Suasana Perayaan Maulid di Monas pada tahun 2017 (Sumber: postkotanews.com)

Bulan Rabi’ul Awal telah lewat beberapa hari. Terdapat peristiwa luar biasa di bulan ini, khususnya bagi umat Islam, tepatnya di tanggl 12 Rabi’ul Awal: Sang tokoh revolusioner sejati dilahirkan, yakni Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia khususnya, peristiwa ini dikenal dengan nama Maulid.

Ditinjau dari segi bahasa, maulid berasal dari bahasa arab maulidun (bentuk masdar mim dari fi’il madhi: walada) yang artinya adalah kelahiran. Dalam ilmu Sharaf, maulidun juga sebagai isim zaman (yang berarti waktu kelahiran) dan isim makan (yang berarti tempat kelahiran). Jadi dapat dipahami bahwa kata maulidun, yang sering diwaca waqof menjadi maulid adalah peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabi’ul Awal dengan tempat kelahirannya di kota Makkah Al-Mukarramah.

Dalam Bangsa Arab, menurut catatan Ahmad Tsauri dalam Sejarah Maulid Nabi (2015) menjelaskan bahwa perayaan Maulid Nabi ini telah dilakukan masyarakat muslim sejak tahun kedua hijriyah. Catatan tersebut merujuk pada Nuruddin Ali dalam kitabnya Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Musthafa.

Dijelaskan bahwa Khaizuran (170 H/786 M) merupakan ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid. Suatu ketika Khaizuran datang ke Madinah dan memerintahkan masyarakat merayakan kelahiran Nabi Muhammad di masjid Nabawi. Beliau juga ke Mekkah untuk mengajak hal yang serupa, namun perayaan tidak di dilakukan di masjid, cukup di rumah-rumah mereka saja.

Khaizuran merupakan salah satu orang yang memiliki perhatian besar terhadap Nabi Muhammad dan situs-situs sejarahnya. Termasuk mempelopori penghormatan terhadap kelahiran Nabi Muhammad.

Di indonesia sendiri, sudah tidak asing dengan perayaan Maulid Nabi. Biasanya kegiatan dilakukan dengan melantunkan puji-pujian (sholawat), pembacaan kisah kehidupan Nabi, lantas mengambil hikmah akan dakwah dan kehidupan Nabi. Kegiatan ini dilakukan di tanggal 12 Rabi’ul Awal, namun ada juga yang merayakannya tidak tepat di tanggal tersebut, melainkan di tanggal lain menyesuaikan situasi dan kondisi. Bahkan di beberapa wilayah di Jawa Tengah, contohnya di Kabupaten Sragen, perayaan dilakukan dari tanggal 1 Rabi’ul Awal, sampai dengan puncaknya di tanggal 12 Rabi’ul Awal.

Kaitannya dengan perayaan Maulid Nabi, terdapat beberapa kaum yang tidak sepakat. Mereka mengatakan bahwa perayaan ini bersifat bid’ah karena tidak ada perintah dalam Al-qur’an dan Nabi tidak pernah mencotohkan. Dan setiap apa yang bid’ah menurut mereka adalah sesat. Sebentar kawanku, dalam menghukumi sesuatu, kita tidak boleh hanya melihat namanya, namun kita juga harus melihat isi/substansinya.

Contohnya makanan hot dog yang berarti anjing panas, merupakan makanan roti berbahan terigu dengan isian sosis daging ayam yang halal. Meskipun namanya hot dog, tidak lantas terbuat dari anjing yang dipanaskan. Dan memakannya pun halal saja, tidak lantas haram hanya karena dinamai hot dog. Begitu pula dengan kegiatan maulid yang pada substansinya adalah membaca Al-Qur’an, menerangkan sejarah perjuangan Nabi, dan membaca sholawat yang kesemuanya ada dalil anjurannya tidak otomatis menjadi sesat hanya karena disatukan dan dinamai dengan Maulid. (terinsipirasi dari penjelasan Prof. Dr. K. H. Ali Mustafa Ya’qub, M.A)

Terlepas dari pandangan kawan-kawan tentang hukum merayakan Maulid ini, ijinkan saya menyampaikan ucapan Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki Al-Hasani, “tidak layak bagi orang yang berakal bertanya, ‘mengapa kalian memperingati Maulid?’ karena seolah-olah ia bertanya, ‘mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi?’”

Terakhir, saya akan menuliskan kata-kata dari seorang Ulama’ dari Jogja, Gus Miftah mengatakan : “Perayaan Maulid itu bentuk rasa cintaku kepada Nabi-ku, kamu tidak suka itu urusanmu. Soal dalil itu bisa kita diskusi kan, tapi mohon maaf, aku tidak butuh dalil untuk mencintai Nabiku. Shollu ‘alannabiy Muhammad.
Wallohu a’lam bish-showab.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Catur Wulandari
Mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Arab di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif dalam organisasi struktural NU, yakni IPPNU. Menjabat sebagai ketua PAC IPPNU Kec Tanon sejak tahun 2017. Ikut serta pula dalam organisasi Keluarga Mahasiswa Nahdlatul ‘Ulama’ (KMNU) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai anggota.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals