Fenomena Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

"...Isra’-mi’raj hanya dijalani Nabi Muhammad saw, tetapi umat Islam dapat menjalani pengalaman serupa..."


Sumber Foto: belitung.tribunnews.com

Pada tahun ke-8 kenabian, paman Nabi Muhammad saw meninggal dunia. Pada tahun yang sama istri tercinta baginda Khadijah juga meninggal dunia. Gangguan kaum Quraisy makin menjadi-jadi. Gangguan paling ringan di antaranya ialah ketika seorang pandir Quraisy mencegatnya di tengah jalan lalu menaburkan tanah ke atas kepalanya.

Fatimah putri Nabi Muhammad saw datang membersihkan tanah di kepalanya sambil menangis. Setitik air mata kesedihan yang mengalir dari kelopak mata seorang putri adalah sepercik api yang membakar jantung. “Jangan menangis, anakku. Tuhan akan melindungi ayahmu,” katanya kepada putrinya yang sedang berlinang air mata itu.

Atas segala penganiayaan kaum Quraisy Nabi Muhammad bermunajat kepada Allah,

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan kemampuanku, dan kehinaan diriku di hadapan manusia. Oh Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah yang melindungi si lemah, dan Engakaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak kuserahkan daku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli. Sebab, sungguh luas kenikmatan yang Kaulimpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan karenanya membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat. Engkaulah yang berhak menegur hingga berkenan kepadaku. Tiada daya upaya selain dengan Engkau juga.”

Malam itu Nabi Muhammad saw sedang berada di rumah saudara sepupunya, putri Abu Thalib yang bernama panggilan Ummu Hani`. Dia mengatakan, “Malam itu Rasulullah bermalam di rumahku. Selesai ibadah akhir malam, ia tidur dan kami pun tidur. Sebelum fajar beliau membangunkan kami. Setelah ibadah pagi bersama-sama, Nabi Muhammad saw berkata, “Saya sudah ibadah malam bersama kamu sekalian. Kemudian saya ke Baitul Maqdis dan berdoa di sana. Sekarang saya sudah ibadah siang bersama kamu.”

Ummu Hani` berkata, “Rasulullah, janganlah engkau ceritakan ini kepada orang lain. Mereka akan mendustakan dan mengganggumu lagi.” “Tapi harus saya ceritakan kepada mereka,” jawab Nabi saw.

Pada tengah malam yang sunyi dan hening, Nabi Muhammad terbangun oleh suara yang memanggilnya, “Hai orang yang sedang tidur, bangunlah!” Ketika ia bangun di  depannya sudah berdiri Jibril. Tangannya memegang seekor hewan yang ajaib, yaitu buraq, yang bersayap seperti sayap garuda. Hewan itu membungkuk, dan Rasul pun naik ditemani malaikat.

Buraq pun meluncur seperti anak panah membubung di atas pegunungan Mekah di atas pasir-pasir sahara menuju utara. Lalu berhenti di gunung Sinai tempat Tuhan berbicara dengan Nabi Musa. Kemudian berhenti lagi di Betlehem tempat Nabi Isa dilahirkan. Sesudah itu meluncur di udara sampai di Baitul Maqdis. Nabi Muhammad cepat-cepat naik ke langit hingga Sidratil Muntaha.

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang di sekitarnya telah Kami berkati – untuk Kami perlihatkan kepadanya beberapa tanda Kami. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat (QS 17:1).

Allah swt membersihkan, mengagungkan, dan menyucikan Diri-Nya dengan menyatakan bahwa Dia yang memiliki nama-nama indah dan sifat-sifat luhur memiliki kesempurnaan mutlak. Tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Tiada pengatur kecuali Dia Yang Maha Kuasa.

Dialah Allah swt yang telah memperjalankan hamba sekaligus Rasul-Nya, Muhammad saw, pada waktu malam, dengan jasad dan ruhnya, dalam keadaan terjaga. Dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis, Yerusalem. Allah swt berkahi tanahnya, buah-buahan, biji-biji, dan lain-lain di sekitarnya. Di situ Allah menurunkan sejumlah Nabi.

Nabi Muhammad saw mengalami perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan naik ke langit (mi’raj) untuk bertemu dengan Allah swt dan menyaksikan keagungan kuasa Allah swt dan kembali ke bumi membawa bingkisan shalat untuk hamba-hamba-Nya.

Isra`-mi’raj Nabi Muhammad saw mengandung ujian iman untuk mengikuti Rasulullah saw. Isra`-mi’raj menunjukkan keterbatasan akal manusia dalam memahami fakta kekuatan jasmani dan ruhani Nabi Muhammad saw yang dapat mengalami perjalanan ke ruang angkasa.

Isra`-mi’raj menguatkan keyakinan bahwa Allah swt memiliki kekuasaan tak terbatas yang mustahil dijangkau akal pikiran manusia. Isra’-mi’raj hanya dijalani Nabi Muhammad saw, tetapi umat Islam dapat menjalani pengalaman serupa melalui shalat. Rasulullah saw bersabda, “Shalat adalah mi’raj orang beriman.”

Allah swt berfirman dalam Al-Quran,

Dirikanlah shalat pada waktu matahari tergelincir sampai gelap malam, dan shalat subuh beserta bacaannya, sungguh shalat dan bacaan subuh disaksikan (QS 17:78).

Dirikanlah shalat secara tepat waktu dan sempurna, yakni sejak matahari tepat berada di atas kepala tengah hari, sampai malam hari: zhuhur, ashar, maghrib dan isya`, serta subuh. Panjangkanlah bacaan Al-Quran dalam shalat subuh, karena para malaikat hadir di sana.

ada waktu malam shalat tahajudlah sebagai ibadah tambahan bagimu; niscaya Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terhormat dan terpuji. Katakanlah, “Tuhanku, masukkanlah aku ke jalan masuk yang benar dengan cara masuk yang terhormat, dan keluarkanlah aku dari jalan keluar yang benar dengan cara keluar yang terhormat, dan berilah aku dari pihak-Mu kekuasaan yang dapat menolongku.” Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan kebatilan akan binasa. Sungguh, kepalsuan akan lenyap.” (QS 17:79-81).

Kita memohon kepada Allah agar dapat beribadah hingga selesai dengan saksama dan dapat memasuki kubur dengan baik serta keluar darinya pada hari kebangkitan dengan baik pula. Ayat tersebut juga mengisyaratkan supaya Nabi saw berhijrah dari Mekah ke Madinah.

Muhammad telah melihat Jibril waktu turun sekali lagi di Sidratil Muntaha (tempat tertinggi). Di dekatnya ada taman surga tempat kediaman, ketika Sidratil Muntaha diliputi sesuatu yang tak terkaktakan. Pandangan matanya tidak membias dan tidak melampauinya. Sungguh, dia telah melihat tanda-tanda keagungan Tuhannya yang terbesar. (QS 53:13-18).

Abdullah Yusuf Ali menuliskan pengalaman wisata spiritual-samawi Nabi dalam sebuah puisi,

Adalah hak istimewa insan Allah
Untuk menyaksikan rahasia yang paling lembut
Dalam dunia rohani dan memberi nasihat orang lain
Tentang Kebenaran
Mereka memperingatkan dan melindungi orang
Terhadap kejahatan.
Namun tak ada yang bisa mengurangi
Setiap tanggung jawab jiwa
Atas dasar amalnya sendiri.
Ia menyandang takdir
Di pundaknya sendiri.
Hadiah Allah adalah bagi semua
Namun tidak semua menerima hadiah yang sama
Taraf keagungan dan kegemilangannya.

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals