Konsep Mencintai ala Nabi

Jika tak mau menderita karena cinta, Nabi saw telah mengajarkan, "Cintailah apa yang kamu cintai dengan sekadarnya saja tanpa berlebihan.."


Gambar: chartattack.com

Mencintai seseorang -baik pasangan, saudara, dan teman-merupakan suatu perasaan yang hampir seluruh manusia pasti pernah merasakannya, karena mencintai adalah sebuah fitrah dari diri manusia yang dianugerahi oleh sang Khaliq.

Namun masih banyak manusia yang belum paham bagaimana cara mencintai seseorang sehingga pada akhirnya justru perasaan cinta itu menimbulkan perasaan yang sebaliknya yaitu sebuah kebencian dan rasa sakit sehingga berujung kepada penyesalan di kemudian hari.

Dalam Islam sendiri sebenarnya ada sebuah konsep tentang bagaimana cara mencintai seseorang dengan bijak yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw yang apabila itu dijadikan sebuah prinsip dalam mencintai maka akan terhindar dari problem tersebut.

Hadis “Mencintai Seperlunya”

Lalu bagaimana Nabi mengajarkan tentang itu?

Suatu ketika saya mendengar sebuah hadis dengan matan yang beredaksi seperti ini:

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

Yang jika kita terjemahkan maka akan berarti, “Cintailah orang yang engkau cintai seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai”.

Hadis tersebut membuat saya penasaran yang kemudian mendorong saya untuk menelusuri hadis tersebut lebih jauh dengan cara men-takhrij-nya dan melihat penjelasan ulama terkait dengan itu.

Baca juga: Mencintai dan Dicintai

Adapun maksud dari Takhrij Hadits yaitu menunjukkan letak suatu hadits dalam sumber-sumber asli yang meriwayatkannya dengan sanadnya dan kemudian, bila perlu, menjelaskan nilai atau status hadis itu (Anwar, 1992).

Setelah men-takhrij-nya lewat kitab-kitab hadis induk yang masyhur yaitu kutub sittah (kitab hadis yang enam), akhirnya saya temukan hadis tersebut di dalam kitab Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 1920 dengan redaksi lengkapnya sebagai berikut,

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ عَمْرٍو الكَلْبِيُّ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أُرَاهُ رَفَعَهُ، قَالَ: أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا.

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Amru Al-Kalbi dari Hammad bin Salamah dari Ayyub dari Muhammad bin Sirrin dari Abu Hurairah (aku menduga, bahwa dia memarfu’kannya) berkata: “Cintailah orang yang engkau cintai seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai.”

Dari sisi kualitas, hadis tersebut bernilai shahih meskipun secara kuantitas sanad ini merupakan gharib.

Baca juga: Menilai Kepalsuan Hadis tanpa Melihat Sanad, Bisakah?

Abu al-‘Ula Muhammad Abdurrahman dalam kitabnya Tuhfah al-Ahwazi ketika mensyarah (menjelaskan) hadis tersebut beliau mengatakan,

أَيْ أَحْبِبْهُ حُبًّا قَلِيلًا فَهَوْنًا مَنْصُوبٌ عَلَى الْمَصْدَرِ صِفَةٌ لِمَا اشْتُقَّ مِنْهُ أَحْبِبْ .وَقَالَ فِي الْمَجْمَعِ أَيْ حُبًّا مُقْتَصِدًا لَا إِفْرَاطَ فِيهِ وَلَفْظُ مَا لِلتَّقْلِيلِ

“Yaitu mencintainya dengan sedikit cinta, telah disepakati bahwa yang dimaksud di sini yaitu sengaja mencintai dengan tidak berlebihan maupun dengan lafadz yang menunjukkan kepada nilai sedikit.. ”

Dari penjelasan di atas dapat kita cerna bahwa poin penting dalam hadis tersebut adalah kata هَوْناً atau الهَوْن  yang menurut Ibn Manzhur dalam Kamus Lisan Al-Arab bermakna keramahan, kelembutan dan keteguhan, yaitu sikap dalam mencintai yang teguh, tetapi lembut (tidak berlebihan).

Mencintai dengan Bijak ala Nabi

Dalam hadis tersebut Nabi berpesan bahwa cara mencintai seseorang dengan bijak yaitu dengan cinta yang tidak berlebihan, karena mencintai secara berlebihan justru bisa saja menjerumuskan kepada hal yang sebaliknya yaitu rasa sakit hati yang berdampak kepada kebencian terhadap orang yang kita cintai itu.

Begitu pula perihal dengan membenci seseorang, jangan berlebihan dalam membencinya karena bisa saja justru perasaan kita suatu saat berbalik menjadi mencintainya.

Perlu juga bagi kita untuk memahami firman Allah Ta’ala dalam QS. Al-Baqarah: 216 ketika menyinggung tentang perang,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Ayat tersebut berlaku umum dalam segala hal, bisa saja seseorang mencintai sesuatu padahal padahal itu tidak mendatangkan kebaikan baginya (Ibnu Katsir: 1994). Jika ia mengetahui bahwa cintanya itu tidak mendatangkan kebaikan baginya bahkan mendatangkan mudaratmaka perasaan itu kapan pun dapat berubah menjadi sesuatu yang justru ia benci.

Cinta yang Hakiki

Kita hidup di dunia hanyalah sekali. Sungguh merugi jika harus meletakkan porsi cinta yang lebih kepada manusia yang seharusnya kita alokasikan porsi cinta kita itu hanya untuk cinta yang hakiki, yaitu cinta kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Baca juga: Cara Mencintai Rasulullah versi Tuan Guru Bajang (TGB)

Belajarlah dari kisah cinta roman klasik Layla dan Majnun yang keduanya sama-sama cinta mati dengan sangat berlebihan sehingga yang si Majnun pikirkan hanya soal kekasihnya saja yaitu Laila, sampai ia menjadi orang gila selama bertahun-tahun.

Atau mungkin kisah dalam negeri antara Zainudin dan Hayati dalam novel dan film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” yang membuat si Zainudin sempat harus menderita menanggung sakit hati dan depresi selama dua bulan dikarenakan Hayati ternyata lebih memilih menikah dengan laki-laki lain.

Jika tak mau menderita karena cinta, Nabi saw telah mengajarkan,

Cintailah apa yang kamu cintai dengan seperlunya saja tanpa berlebihan.. []

_ _ _ _ _ _ _ _ _

Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

Anda juga bisa mengirimkan naskah Anda tentang topik ini dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Nizam Zulfa

Master

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta | Kabid Keilmuan PK IMM Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga | Pengajar Qur’an di Pakualaman Yogyakarta

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals