Jejak Langkah Strategi Dakwah Rasulullah di Madinah

Kesuksesan strategi dakwah Nabi Muhammad di Madinah merupakan kunci penting di balik pesatnya perkembangan risalah beliau hingga sekarang


Jejak-Langkah-Dakwah-Rasulullah
Sumber gambar: Dompet Dhuafa USA

He was a man in whom creative imagination worked at deep levels and produced ideas relevant to the central questions of human existence” –W. Montgomery Watt

Ada dua hal yang perlu dijawab terlebih dahulu ketika ingin berbicara tentang strategi dakwah Rasulullah di Madinah. Pertama, masih penting gak mengetahui strategi dakwah Nabi Muhammad untuk saat ini? Kedua, apa yang menjadikan dakwah Rasul di Madinah spesial?

Jawaban dari dua pertanyaan di atas akan menjadi dasar kenapa tulisan tentang strategi dakwah Rasulullah di Madinah ini layak menyita sekian menit dari waktu Anda. Sebaliknya, tanpa keduanya, tentu Anda tidak perlu capek-capek menyelesaikan tulisan ini sampai akhir.

Pentingnya Mengetahui Strategi Dakwah Rasulullah di Madinah

Tahun 1978 Michael H. Hart, seorang Astrofisikawan asal Amerika Serikat mencuri perhatian dunia lewat bukunya yang berjudul The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah).  Sebagaimana judulnya, buku tersebut menampilkan seratus tokoh yang menurut penulisnya memiliki pengaruh paling hebat dalam sejarah.

Buku ini menuai kontroversi ketika Hart menempatkan Nabi Muhammad di posisi pertama. Hal ini juga disadari oleh Hart, karenanya sedari awal dia mengemukakan alasan kenapa pilihan pertamanya jatuh kepada Sang Nabi:

My choice of Muhammad to lead the list of the world’s most influential persons may surprise some readers and may be questioned by others, but he was the only man in history who was supremely successful on both the religious and secular levels” 

(Pilihan saya terhadap Muhammad untuk memimpin daftar orang-orang paling berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan beberapa pembaca dan mungkin dipertanyakan oleh orang lain, tetapi dialah (Muhammad) satu-satunya manusia dalam sejarah yang sangat sukses baik dalam bidang keagamaan maupun bidang keduniawian)

Pilihan Hart menjadi semakin masuk akal jika mengingat bahwa Nabi Muhammad tidaklah seberuntung kebanyakan tokoh lain dalam buku tersebut yang memang dilahirkan di pusat peradaban maju pada masanya.

Nabi Muhammad terlahir sebagai yatim lalu menjadi yatim-piatu ketika baru berumur enam tahun. Ia dibesarkan di keluarga yang sederhana dengan kesehariannya mengembala domba. Lebih dari itu, kota Mekah di selatan Jazirah Arab, yang merupakan tempat lahir dan tumbuhnya, hanyalah sebuah daerah terbelakang dan tidak diperhitungkan, apalagi jika dibandingkan dua kerajaan digdaya, Persia dan Romawi kala itu.

Dari kondisi pelik tersebut Nabi Muhammad justru berhasil menyebarkan dakwahnya sebagai Rasulullah dan membangun sebuah sistem sebagai kepala pemerintahan yang pengaruhnya terus berambah bahkan hingga sekarang.

Baca juga: Nabi Muhammad: Tokoh Pertama Paling Berpengaruh di Pentas Sejarah

Terlepas apakah semua orang sepakat atau tidak dengan posisinya sebagai nomor wahid sebagaimana dalam buku The 100, faktanya Nabi Muhmmad memang salah satu sosok yang berpengaruh luar biasa baik selama masa hidupnya maupun sampai saat ini.

Namun tidakkah kita bertanya bagaimana strategi yang diterapkan Nabi Muhammad dalam dakwahnya sehingga bisa berhasil menjadi sosok yang begitu berpengaruh? Bagaimanapun juga keberhasilan Nabi Muhammad tentu tidak dapat dilepaskan dari strategi, metode dan pendekatan yang digunakannya dalam berdakwah.

Hal inilah yang menjadi alasan kenapa kita harus memahami strategi dakwah Rasul, apalagi bagi seorang muslim yang meyakini Nabi Muhammad sebagai uswatun hasanah yang dengan segala kesederahanaannya harus digugu dan ditiru. Selain itu agar kita bisa mengikuti jejak beliau dan mengambil ibrah darinya, khususnya dalam pengaruh dakwahnya kita tentu harus mengetahui strategi yang pernah digunakannya.

Di sisi lain, dakwah Nabi Muhammad selama lebih kurang 22 tahun 2 bulan 22 hari atau yang digenapkan selama 23 tahun terbagi dalam dua periode, yakni periode Mekah dan periode Madinah. Kedua periode tersebut sama-sama memiliki perananan yang sangat penting dalam pembangunan fondasi dakwah Rasulullah, namun di saat yang sama nabipun memiliki strategi yang berbeda dalam dakwahnya karena terdapat perbedaan situasi dan kondisi masyarakat pada masingmasing periode.

Artinya, andaipun kita sudah mengetahui seluruh strategi dakwah Rasulullah, bukan berarti kita bisa menerapkan seluruhnya pada masa kini.

Pada poin inilah strategi dakwah Rasulullah di Madinah menjadi semakin penting untuk dibahas karena adanya beberapa kesamaan situasi Madinah di masa Nabi dengan kondisi kita saat ini, khususnya di Indonesia.

Salah satu kemiripan konteks kita di Indonesia saat ini dengan kondisi Madinah pada masa Nabi adalah komposisi dan struktur sosial yang plural, terdiri dari ragam agama, suku, dan budaya.

Kemajemukan penduduk Madinah secara umum bisa diklasifikasikan dari berbagai segi yaitu: 1) Segi kebangsaan, penduduk Madinah terdiri dari bangsa Arab -yang terbagi dalam dua suku besar yaitu suku Aus dan Suku Khazraj yang bermigrasi dari Arabia selatan, dan bangsa Yahudi –yang terkelompok dalam beberapa suku seperti Bani Quraizhat, Bani Nadhir, Bani Qunaiqa’, Bani Tsa’labat, dan Bani Hadh 2) Segi daerah, mereka adalah orang-orang Arab Mekah, orang-orang Arab Madinah dan Yahudi Madinah.

3) Struktur sosial dan kultur, masyarakat Madinah memiliki perbedaan dalam adat istiadat yang dianut masing-masing suku. 4) Segi ekonomi, bangsa Yahudi adalah golongan ekonomi kuat yang menguasai pertanian, perdagangan dan keuangan, sedangkan orang Arab adalah golongan kelas dua. 5) Segi agama dan keyakinan,  mereka terdiri dari atas penganut agama Yahudi, Kristen (minoritas), Islam, dan penganut paganisme (Hermawan, 2017: 59-60).

Struktur masyarakat Madinah yang plural inilah salah satu alasan strategi dakwah rasulullah di Madinah menjadi signifikan untuk dibahas karena kondisi tersebut sangat mirip dengan struktur masyarakat Indonesia saat ini.

Sehingga dengan mengetahui strategi dakwah Rasulullah periode Madinah ini diharapkan bisa menjadi acuan kita dalam menyiarkan nilai-nilai keislaman yang luhur di tengah pluralitas masyarakat Indonesia guna membangun peradaban yang lebih tinggi.

Strategi Dakwah Rasulullah di Madinah

Madinah selain biasa diartikan sebagai “kota”, ia juga memiliki makna “peradaban”. Sejalan dengan namanya, Madinah adalah sebuah kota dengan peradaban yang sangat tinggi yang dibangun oleh Rasulullah saw. Makanya ia dikenal dengan Madinatur Rasul, Kota Rasulullah.

Sebagaimana Mekah, Madinah juga merupakan kota yang sangat dicintai oleh Nabi Muhammad. Jika Mekah adalah kota di mana Sang Rasul dilahirkan dan berdirinya agama Islam, maka Madinah, selain tempat beliau wafat juga, merupakan tempat titik balik peradaban Islam mulai tumbuh dan berkembang.

Hal inilah yang menjadi alasan para sahabat bersepakat, pada masa pemerintahan Umar ibn Khattab di tahun ke-16 (ada yang mengatakan pada tahun 17 atau 18), untuk menjadikan kalender dan sejarah Islam dimulai dari tahun peristiwa hijrah. Peristiwa ini juga didokumentasikan oleh Imam Bukhari di dalam Sahihnya (no. 3934) yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’d:

مَا عَدُّوا مِنْ مَبْعَثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا مِنْ وَفَاتِهِ مَا عَدُّوا إِلَّا مِنْ مَقْدَمِهِ الْمَدِينَةَ

Mereka tidak menghitungnya dari sejak Nabi saw. diutus, juga tidak mulai dari meninggalnya beliau, mereka tidak menghitung kecuali dari kedatangan beliau ke Madinah”.

Di kota ini Nabi Muhammad berdakwah selama lebih kurang sepuluh tahun atau persisnya, sebagaimana pendapat Muhammad Al-Khudhari, selama 9 tahun, 9 bulan,  dan 9 hari (Cholil, 2006: 83).

Dakwah Rasulullah periode Madinah ini menjadi suatu kekuatan yang terorganisasi yang pengaruhnya bahkan masih terus bertambah hingga sekarang ketika pemeluk agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad mencapai lebih dari 1,6 miliar jiwa atau sekitar 23% dari total populasi yang mencapai 6,9 miliar pada tahun 2010.

Selain meneguhkan ajaran tauhid (monoteisme), materi dakwah pada periode ini juga berkaitan tentang masalah kemasyarakatan dan kenegaraan. Ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan juga berkaitan dengan masalah-masalah tersebut.

Menurut Amahzun (2005: 331-350), strategi dakwah Nabi Muhammad di Madinah dibagi dalam dua bidang tersebut, yakni bidang politik dan pemerintahan dan bidang hubungan sosial kemasyarakatan, sebagaimana berikut:

A. Bidang Politik dan Pemerintahan

Salah satu strategi dakwah Rasululllah di Madinah adalah dengan memperbaiki dan membangun sistem politik dan pemerintahan. Dalam hal ini setidaknya ada tiga strategi utama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad:

1. Membangun Masjid sebagai Media dan Pusat Dakwah

Strategi pertama yang dilakukan Nabi Muhammad ketika sampai di Madinah adalah membangun sebuah Masjid. Masjid pertama yang dibangun tersebut dikenal dengan Masjid Quba, sebuah masjid yang terletak di desa Quba pada sebuah lahan yang dibeli oleh Rasulullah dari dua anak yatim, Sahl dan Suhail bin Amr.

Setelah Masjid Quba, Nabi Muhammad juga membangun sebuah masjid yang dikenal dengan Masjid Nabawi. Salah satu sudut masjid tersebut kemudian dijadikan sebagai tempat kediaman beliau, dengan dua kamar untuk dua istri beliau, Aisyah dan Saudah.

Masjid Nabawi yang dibangun kala itu tentu tidak sama dengan bangunan-bungunan masjid di era sekarang dengan segala kemewahannya seperti Hagia Sophia atau masjid-masjid lainnya. Masjid yang didirikan Nabi tidak lebih dari sebuah bangunan sederhana yang sangat jauh dari kata “mewah”. Bangunan masjid kala itu pernah digambarkan oleh Muhammad Husein Haekal (1984) sebagai berikut:

Masjid itu merupakan sebuah ruangan terbuka yang luas, keempat temboknya dibuat dari bata dan tanah. Atapnya sebagian terdiri dari daun kurma dan sebagian lagi dibiarkan terbuka, sebagian lagi dijadikan tempat fakir-miskin yang tidak punya tempat tinggal Tidak ada penerangan dalam masjid pada malam hari. Hanya pada waktu Isya diadakan penerangan dengan membakar jerami…

…Hal ini berjalan selama sembilan tahun. Sesudah itu baru digunakan lampu-lampu yang dipasang pada batang-batang (tiang) kurma yang dijadikan penopang atap tersebut. Tempat tinggal Nabi tidak mewah keadaannya dari pada masjid meskipun memang sepatutnya lebih tertutup.”

Pembangunan Masjid tersebut merupakan salah satu langkah paling strategis dalam dakwah Rasulullah periode Madinah. Masjid yang didirikan oleh Nabi berfungsi sebagai pusat kegiatan politik dan pemerintahan saat itu (Al-Mubarakfury, 2003: 248).

Karena selain digunakan untuk tempat ibadah, Nabi juga menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan pendidikan dan pengajaran keagamaan, mengadili berbagai perkara yang muncul di masyarakat, musyawarah, pertemuan-pertemuan dan lain sebagainya.

Dengan dibangunnya masjid ini, umat Islam tidak merasa takut lagi untuk melaksanakan salat dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya sebagaimana di periode Mekah sebelumnya. Mereka tidak khawatir lagi dikejar-kejar oleh orang-orang musyrik dan orang-orang yang tidak suka terhadap Islam (Hermawan, 2017: 61).

Dari hari ke hari Masjid Nabawi menjadi ramai karena terus didatangi oleh para jamaah yang akan melaksanakan salat berjamaah maupun untuk kegiatan-kegiatan lainnya bersama Nabi Muhammad (Al-Qahthani, 1994: 123).

Langkah strategis pertama dakwah Nabi ini, dengan menjadikan masjid sebagai pusat pembangunan sistem politik dan pemerintahan yang dipimpinnya, menjadi titik awal keberhasilan dakwahnya di kemudian hari.

***
Sekarang, apa pelajaran yang bisa kita ambil dari strategi dakwah Nabi ini? Jika kita hanya terfokus pada masjid sebagai kunci suksesnya dakwah Rasulullah, agaknya kita masih belum teliti membaca penjelasan di atas.

Jika pembangunan masjid adalah salah satu tonggak keberhasilan dakwah Rasulullah, maka itu bukanlah pada “bangunannya”, melainkan pada “fungsinya”. Jumlah bangunan masjid ketika itu tidaklah banyak dan bangunannya juga tidak megah. Tapi Rasulullah berhasil mengoptimalkan fungsi bangunan masjid yang sederhana tersebut menjadi tempat pemecahan persoalan umat, menyatukan umat (bukan sebaliknya), dan hal-hal positif lainnya.

Tentu pembangunan masjid dewasa ini bukanlah hal yang negatif selama fungsinya sejalan dengan pembangunannya. Semakin banyak masjid seharusnya semakin banyak pula hal-hal positif yang didapatkan dan semakin megah bangunannya seharusnya semakin tinggi pula peradaban yang ada di sekelilingnya.

Sebaliknya jika pembangunan masjid belum bisa sejalan dengan fungsinya untuk umat dan apalagi justru dijadikan sebagai tempat menebar kebencian, maka kita seharusnya kembali bermuhasabah –introspeksi diri bahwa jangan-jangan kita membangun masjid bukan untuk mengikuti jejak langkah Sang Nabi melainkan sekedar pemuasan ego kita saja?

Baca juga: Memangnya Masjid Sudah Syar’i?

2. Membangun Kota Madinah sebagai Pusat Pemerintahan

Strategi Dakwah Rasulullah di Madinah yang kedua di bidang politik dan pemerintahan adalah menjadikan Madinah sebagai pusat pemerintahan Negara. Strategi ini pada dasarnya adalah lanjutan dan masih berkaitan dengan strategi yang pertama.

Pembangunan masjid yang dilakukan oleh Nabi tidak hanya menjadi tonggak berdirinya masyarakat Islam, namun juga merupakan titik awal pembangunan kota. Jalan-jalan raya di sekitar masjid dengan sendirinya tertata rapi, sehingga lama-kelamaan daerah sekitar pembangunan tersebut menjadi pusat kota dan pusat perdagangan serta pemukiman masyarakat.

Dalam dokumen-dokumen sejarah juga diceritakan bahwa Nabi Muhammad sendiri sangat besar perhatiannya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan sarana jalan dan jembatan.

Beliau bersama-sama masyarakat Madinah membangun jembatan-jembatan yang menghubungkan antara satu lembah dengan lembah yang lain sehingga masyarakat setempat dapat berhubungan dengan masyarakat lainnya.

Ramainya pembangunan di kota Madinah menyebabkan masyarakat yang berasal dari wilayah lain berdatangan ke kota baru ini, baik untuk tujuan perdagangan maupun tujuan-tujuan lainnya. Hal inilah nantinya yang mengantarkan Madinah menjadi kota terbesar di jazirah Arabia (Hermawan, 2017: 67).

Strategi dakwah Nabi yang kedua ini juga bisa terlihat dari nama yang dipilih oleh Nabi sebagai kota hijrahnya. Perubahan nama dari Yastrib menjadi Madinah menunjukan rencana Nabi dalam rangka mengemban misi sucinya dari Tuhan, yaitu menciptakan masyarakat yang berbudaya tinggi (masyarakat madani), yang kemudian menghasilkan suatu entitas sosial politik sebuah Negara, dan Madinah sebagai pusatnya.

***
Dalam konteks yang berbeda, strategi seperti ini juga pernah dilakukan oleh Soekarno, Sang Proklamator RI, dengan membangun kota Jakarta yang menjadi Ibu kota Indonesia untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan dari seluruh dunia.

Sedangkan dalam konteks yang lebih luas kita bisa melihat dari strategi dakwah Nabi ini bahwa terbangunnya sebuah peradaban masyarakat merupakan modal penting untuk mendatangkan ketertarikan para investor yang berdampak positif pada pembangunan infrastruktur dan pada akhirnya akan membawa kemajuan ekonomi. Secara tidak langsung hal ini akan berkontribusi dalam mewujudkan peradaban yang lebih tinggi.

3. Membuat Piagam Madinah sebagai Konstitusi Negara

Strategi dakwah Rasulullah di Madinah selanjutnya adalah membuat sebuah perjanjian yang mengikat semua komponen masyarakat Madinah, baik muslim maupun non-muslim. Perjanjian Madinah ini dikenal dengan Piagam Madinah yang ditulis pada tahun 623 M atau tahun ke-2 H (Ahmad,2008: 387-388).

Piagam Madinah ini merupakan sebuah aturan yang dijadikan sebagai konstitusi masyarakat Madinah yang bersedia hidup berdampingan secara damai di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad saw.

Piagam Madinah yang telah disepakati bersama itu menjadi titik tolak pembentukan   negara yang demokratis, karena di dalam perjanjian tersebut terdapat poin-poin yang memberikan kebebasan kepada para penduduknya, termasuk penduduk non-muslim untuk menjalankan perintah agamanya tanpa mendapat gangguan apapun (Hermawan, 2017: 63).

Piagam Madinah yang telah disepakati tersebut membuat suatu perubahan struktur masyrakat Madinah yang radikal dari konfederasi kesukuan menjadi masyarakat baru yang dikendalikan oleh ajaran-ajaran moral dengan instrumentasi hukum yang jelas.

Namun perlu dicatat bahwa piagam Madinah pada dasarnya merupakan perpaduan dari dua dokumen yang digabungkan oleh para sejarawan. Dokumen pertama adalah hasil perjanjian damai Nabi dengan orang-orang Yahudi sedangkan yang kedua adalah dokumen yang mengatur hubungan antar sesama Muslim dan menentukan hak dan kewajiban masing-masing. (Mubasyaroh, 2014: 60)

Dari sisi politik, Piagam Madinah menggambarkan sebuah doktrin politik religius (politico-religious doctrine) yang didasarkan pada persaudaran universal. Dengan adanya piagam ini pula Nabi lebih mudah untuk menjalankan sistem yang mengatur hubungan antar masyarakat Madinah.

Secara keseluruhan Piagam Madinah bertujuan untuk menjelaskan berbagai tanggung jawab seluruh elemen masyarakat Madinah serta ditentukan hak dan kewajibannya masing-masing.

***
Penerapan Piagam Madinah sangat erat kaitannya dengan salah satu tugas terpenting negara dan pemerintahan, yaitu membuat peraturan perundang-undangan atau yang lebih dikenal dengan mewujudkan ketentraman masyarakat. Suatu negara akan bisa merealisasikannya, ketika supremasi hukum ditegakkan. (Mahzun, 2005: 335)

Bagi umat muslim saat ini, setidaknya ada dua arti penting dari dokumen Piagam Madinah tersebut. Pertama, sebagai sumber utama untuk memahami sifat negara Islam pertama dan bagaimana Nabi Muhammad mengatur urusannya. Kedua, sebagai acuan tentang kebijakan Nabi Muhammad SAW dan bermanfaat untuk menyelenggarakan negara modern manapun yang berdasarkan Islam.

Dalam konteks Indonesia, Piagam Madinah ini agaknya setara dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Sebagaimana diketahui bahwa kedua dokumen yang menjadi dasar Nagara Indonesia tersebut merupakan hasil kesepakatan para pendiri bangsa ini untuk memujudkan keutuhan NKRI yang plural.

Di saat yang sama, hal ini juga menjadi tantangan kita bersama untuk mempertahankan keduanya untuk mencegah terjadinya disintegrasi bangsa Indonesia yang tercinta ini.

Baca juga: Kesesuaian Nilai-Nilai Pancasila dengan Maqasid Asy-Syari’ah

B. Bidang Hubungan Sosial Kemasyarakatan

Salah satu fokus utama dakwah Rasulullah di Madinah adalah membangun hubungan sosial kemasyarakatan yang sebelumnya disekat-sekat oleh perbedaan suku dan agama. Beberapa strategi dakwah Nabi dalam bidang ini antara lain:

1. Al-Muakhat: Menciptakan Hubungan Persaudaraan Baru

Salah satu strategi dakwah Rasulullah periode Madinah adalah menciptakan persaudaraan baru antara kaum muslimin yang berasal dari Mekah (kaum Muhajirin) dengan umat Islam Madinah (kaum Anshar). Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat barisan umat Islam di kota Madinah (Ahmad, 2008: 370).

Strategi ini sangat berperan penting sebagai titik awal bagi Rasulullah untuk menyatukan seluruh komponen masyarakat Madinah nantinya, baik muslim maupun non-muslim, demi terwujudnya Madinah yang damai.

Untuk itu, sebelum melakukan konsilidasi dengan non-muslim, Rasulullah terlebih dahulu memperkokoh persatuan internal umat muslim dengan mengajak mereka agar masing-masing bersaudara demi Allah swt.

Dengan persaudaraan ini, Rasulullah telah menciptakan suatu persaudaraan baru, yaitu persaudaraan berdasarkan agama yang menggantikan persaudaraan yang berdasarkan darah.

***
Lantas apa yang bisa kita petik dari strategi ini?

Satu hal yang bisa kita garisbawahi dari strategi dakwah Nabi ini adalah bahwa persatuan merupakan esensi dari sebuah perjuangan dakwah. Tanpa terciptanya persatuan di internal muslim ketika itu, mungkin kita tidak akan bisa menyaksikan syiar Islam bertahan lama sampai saat ini.

Artinya, ketika seseorang atau kelompok tertentu ingin melakukan sebuah perjuangan dengan membawa nama “dakwah islamiyah” maka tidak ada lagi kata “Islamku” dan “Islammu” karena semuanya berada di bawah panji Islam yang rahmatan lil alamin yang mengantarkan umat manusia menuju peradaban yang lebih tinggi sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah.

Hal tersebut akan mustahil tercapai ketika orang lain sedang sibuk melakukan riset ilmiah dan hal-hal positif lainnya sedangkan kita masih berkutat pada debat kusir yang tiada ujungnya mulai dari persoalan qunut, jumlah rakaat tarawih, maulidan, wiridan, dan masalah-masalah “sepele” lainnya.

2. Resolusi Konflik dan Persatuan Antarsuku di Madinah

Sebelum Nabi hijrah ke kota ini, masyarakat Madinah selalu diliputi konflik antarsuku. Ketika itu perang saudara di antara masyarakat Madinah adalah sesuatu yang lumrah.

Klimaksnya terjadi pada peperangan antara suku Aus dan suku Khazraj, yang dikenal dengan Perang Bu’ats di pinggiran kota Madinah pada tahun 618 M (atau lima tahun pra-hijrah). Perang ini melibatkan hampir semua suku-suku Arab di Madinah, demikian juga suku-suku Yahudi, semuanya bersekutu dengan kelompoknya masing-masing (Engineer, 1999: 46).

Pola struktur masyarakat Madinah yang didasarkan pada organisasi suku atau klan, yang mengikat semua anggota keluarga dengan pertalian darah, semakin mempertegas perselisihan yang ada kala itu.

Sistem hubungan ini menumbuhkan solidaritas yang kuat di antara keluarga-keluarga suku. Semangat ini pada akhirnya menimbulkan fanatisme yang mendalam, atau yang sering dikenal dengan ashabiyat. Setiap suku merasa yakin mampu berdiri sendiri tanpa hidup berdampingan dengan suku lainnya, sehingga hampir tidak ada hubungan harmonis antarsuku yang ada, makanya setiap suku tidak mempunyai keprihatinan sosial terhadap nasib suku lain (Hermawan, 2017: 55).

Realitas sosial Madinah yang penuh dengan konflik secara politis “sangat menguntungkan” posisi Nabi Muhammad untuk melakukan gerakan politik (dakwah al-siyasy) dan mengambil peran dalam proses rekonsiliasi di antara masyarakat Yastrib kala itu.

Di sisi lain, rivalitas suku Aus dan Khazraj dalam konteks perebutan ruang dominasi antara keduanya juga mempermudah langkah Nabi untuk menyatukan masyarakat Madinah. Kehadiran Rasulullah sebagai tokoh fenomenal yang terus bersinar membuat mereka melakukan inisiatif untuk menemui Nabi Muhammad dalam rangka masuk Islam sehingga bisa memperoleh legitimasi yang kuat.

Dukungan orang Madinah terhadap Rasulullah dituangkan dalam sebuah penyataan kesetiaan pada Rasulullah yang dikenal dengan Bai’at Aqabah. Peristiwa ini terjadi dua kali yaitu pada tahun 621 M dan 622 M yang kemudian disebut sebagai Baiat Aqabah I dan II (Pulungan,  1977: 79).

Baiat Aqabah merupakan bentuk persekutuan politik dan bagi Nabi merupakan investasi politik yang luar biasa dalam konteks pembumian risalah beliau. Hal ini tidak hanya menyelesaikan konflik panjang masyarakat Madinah, tapi juga mengantarkan mereka pada kemajuan di berbagai aspek kehidupan dan menjadikan kota ini menjadi sebuah kota peradaban.

***
Strategi dakwah Nabi dalam menyelesaikan perseteruan panjang masyarakat Madinah ini mengajarkan kita betapa pentingnya sosok pemimpin yang menjadi sentral perdamaian orang-orang yang dipimpinnya.

Pemimpin seperti ini, baik pemimpin agama maupun pemimpin politik dan Negara, akan menjadi jembatan untuk kemajuan Negara dan juga menjadi tembok baja terjadinya disintegrasi bangsa.

3. Membangun Kesepakatan Kerjasama dan Perdamaian Antarumat Beargama

Madinah merupakan kota heterogen yang penghuninya terdiri dari tiga komunitas agama yang berbeda yaitu komunitas Muslim, Yahudi dan komunitas Paganis. Kondisi inilah yang membuat Rasulullah berkeinginan untuk mengupayakan terjadinya kerjasama dan perdamaian antarkomunitas yang berbeda tersebut.

Perintah untuk menjadikan Bait al-Maqdis di Yerussalem sebagai kiblat umat Muslim di awal periode Madinah oleh sementara pakar juga diyakini sebagai sinyal agar Nabi mendapatkan dukungan dari komunitas Yahudi yang juga beribadah menghadap Bait al-Maqdis.

Nabi Muhammad agaknya menyadari betul bahwa persatuan antarkomunitas agama di Madinah ini merupakan salah satu kunci penting dalam kesuksesan dakwah beliau. Salah satu upaya kongkret untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan membangun kesepakatan kerjasama dan perdamaian antarumat beargamayang ada, khususnya dengan komunitas Yahudi.

Kesepakatan tersebut merupakan bagian dari Piagam Madinah. Di antara butir-butirnya adalah sebagai berikut:

  1. Kaum Muslimin dan kaum Yahudi hidup secara damai, bebas memeluk dan menjalankan ajaran agamanya masing-masing;
  2. Apabila salah satu pihak diperangi musuh, maka mereka wajib membantu pihak yang diserang;
  3. Kaum Muslimin dan Yahudi wajib saling menolong dalam melaksanakan kewajiban untuk kepentingan bersama;
  4. Muhammad adalah pemimpin umum untuk seluruh penduduk Madinah. Bila terjadi perselisihan di antara kaum Muslimin dan kaum Yahudi, maka penyelesaiannya dikembalikan kepada keadilan Nabi Muhammad sebagai pemimpin tertinggi di Madinah.

Melalui  Piagam Madinah penataan hubungan antar agama dalam Islam telah diberi tauladannya oleh Rasulullah saw. setelah hijrah dari Mekah ke Madinah (al-Madinah, kota par excellence) (Raharjo, 1993: 25-29).

Sebagai sebuah kontrak sosial, Piagam Madinah secara keseluruhan memuat 47 pasal. Secara keseluruhan, pasal-pasal tersebut menggambarkan semangat kebersamaan, toleransi antar umat beragama dan dialog dengan prinsip kesetaraan.

Baca juga: Pemikiran Filosofis Demokrasi Nabi Muhammad SAW Melalui Piagam Madinah

Dari semua pasal yang termuat dalam piagam Madinah menurut Munawir Sjadzali (Sjadzali, 1993: 15) prinsip dasarnya memuat dua hal pokok,  yaitu: Semua pemeluk Islam, meskipun berasal dari banyak suku merupakan satu komunitas. Hubungan antarsesama anggota komunitas Islam dengan anggota komunitas lain didasarkan pada nilai-nilai, (a) bertetangga baik, (b) saling membantu dalam menghadapi musuh bersama, (c) membela yang teraniaya, (d) saling menasehati, dan (e) menghormati kebebasan beragama.

Perjanjian ini  merupakan  upaya  Nabi Muhammad  melakukan pembaharuan  secara cermat dan bijaksana terkait dengan berbagai konflik di Madinah. Tentang hal ini R.A  Nicholson yang dikutip Asghar Ali Engenerr menyatakan:

Tak seorangpun dapat mengkaji dokumen ini tanpa terkesan oleh kejeniusan politik  penyusunnya.  Perjanjian ini merupakan buah pikiran yang arif dan bijaksana sekaligus merupakan terobosan baru…

…Muhammad tidak secara terbuka menyerang kemandirian para suku yang ada, namun sesungguhnya beliau menghantamkanya dengan cara memindahkan pusat kekuasaan yang ada di kepala suku ke tangan masyarakat. Komunitas muslim adalah mitra aktif yang dalam waktu dekat akan mendominasi negara baru yang baru saja dibentuk.” (Engineer, 1999: 34)

***
Dari strategi dakwah Nabi ini kita bisa mengatakan bahwa Islam, melalui dialog, memberi ruang dan kesempatan besar bagi terjadinya pencerahan umat karena nilai-nilainya selalu kontekstual dan menyapa kehidupan sesuai karakter kehidupan yang sangat beragam. Konsekuensinya, pluralisme dalam keberagamaan umat Islam menjadi kemestian untuk dikembangkan.

Pluralisme religius secara inheren selalu merupakan masalah kebijakan publik di mana setiap pemerintahan (Islam) harus mengakui dan melindungi hak pemberian Tuhan kepada setiap pribadi untuk menentukan sendiri nasib spiritualnya tanpa paksaan. (Hermawan, 2017: 66)

Dari sini kita bisa melihat dengan jelas bahwa lahirnya Piagam Madinah bukanlah kecelakaan sejarah (historical  accidence) tetapi perjalanan sejarah yang sudah direncanakan (by desain) sebagai sebuah skenario untuk membumikan dakwah Islamiyah.

***
Dari semua uraian di atas, kita sekarang bisa melihat semakin terang bahwa keberhasilan Nabi dalam membangun peradaban kota Madinah tidak bisa dilepaskan dengan strategi dakwah beliau di periode ini.

Meskipun hal ini bukanlah satu-satunya rahasia kesuksesan dakwah beliau, karena prinsip dan metode yang beliau terapkan dalam berdakwah –yang dapat menembus jiwa dan hati umat manusia, juga mempunyai peran yang sangat penting (pembahasan mengenai hal ini akan dibahas di tulisan kami selanjutnya).

Namun satu hal yang pasti bahwa kesuksesan strategi dakwah Nabi Muhammad dalam membangun kota Madinah inilah nantinya yang menjadi kunci awal di balik pesatnya perkembangan risalah beliau hingga sekarang.

Lebih dari itu, jejak langkah strategi dakwah Rasulullah di Madinah ini merupakan pembelajaran berharga bagi kita untuk membangun peradaban bangsa Indonesia menjadi lebih tinggi, khsusnya bagi umat muslim dalam menyiarkan nilai-nilai Islam luhur yang rahmatan lil alamin. [DK]
 _ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Dona Kahfi MA Iballa
Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Artikula.id | Awardee LPDP Doctotal Program-Islamic Thought and Muslim Society-Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals