Hikmah Isra’ Mi’raj, Hakikat Mu’jizat

"...kurang tepat jika dikatakan mujizat itu sesuatu yang dianggap luar biasa. Lalu apa mu'jizat itu?..."


Sumber Foto: Islami.co

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan padanya (Muhammad) sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami…”. (QS. Al-Isra : 1).

Isra Miraj adalah salah satu mu’jizat Rasulullah SAW yang teragung, dimana belum ada Nabi sebelumnya bahkan malaikat yang mencapai tempat tertinggi (Sidratul Muntaha) seperti yang dialami Rasulullah SAW. Namun kita perlu mengerti hakikat mu’jizat itu.

Mukjizat dalam pengertian yang populer adalah sesuatu yang di luar kebiasaan atau asing (khariq lil ‘adah). Makna ini sebenarnya kurang tepat dan relatif (nisbi), karena sesuatu yang luar biasa dan asing itu akan berkembang menjadi biasa dan tidak asing seiring kemajuan iptek.

Contohnya, dulu terbang itu luar biasa, sekarang biasa, semua orang bisa terbang dengan pesawat. Dulu berbicara jarak jauh itu mustahil, sekarang kita bisa berbicara dari satu sisi dunia  sisi dunia yang lain dengan telepon. Bahkan telepon yang luar biasa itu sekarang telah ketinggalan zaman, karena gadget saat ini bukan hanya mampu menghubungkan komunikasi verbal tetapi visual (face to face).

Dari beberapa contoh di atas, kurang tepat jika dikatakan mujizat itu sesuatu yang dianggap luar biasa.  Lalu apa mu’jizat itu? Mu’jizat itu adalah sesuatu yang tidak dapat dipelajari untuk ditiru, tidak ada tekhnik yang mampu memplagiasinya.

Contohnya bagaimana kulit itu menutup sendiri setelah mengalami luka, atau bagaimana rambut bisa tumbuh panjang sedang alis tidak, padahal keduanya berdekatan. Lalu bagaimana pula air hujan yang tawar bertemu tanah bisa menumbuhkan aneka buah dan dengan ragam rasa dan warna.

Itu semua pada dasarnya mu’jizat karena manusia tidak mampu menirunya. Hanya saja karena itu lumrah dilihat dan tidak datang lewat seorang nabi, maka dianggap hal yang biasa.

Orang yang beriman tidak akan meremehkan suatu penciptaan bahkan hanya seekor nyamuk. Sedangkan orang yang bodoh (imannya) akan meremehkan hal-hal kecil ciptaan Allah, padahal sampai saat ini bahkan hingga kiamat tidak ada manusia yang mampu menciptakan seperti seekor nyamuk.

Jangankan menciptakan nyamuk, bahkan untuk menciptakan sayapnya saja tidak mampu. Menganggap ciptaan Allah yang kecil itu sebagai hal yang biasa adalah keanehan (kebodohan)  manusia di era ilmu pengetahuan dan tekhnologi seperti saat ini.

Maka secara umum mu’jizat itu terbagi dua;  yaitu mu’jizat yang telah dianggap biasa karena dapat diakses panca indera dan mu’jizat yang di luar kebiasaan karena hanya saat itu saja manusia dapat menyaksikannya.

Contohnya terbelahnya bulan, keluarnya air dari jari jemari Rasulullah saw, dinginnya api yang membakar Ibrahim as, terbelahnya laut dengan tongkat Musa as dan lain sebagainya. Namun pada hakikatnya kedua jenis mu’jizat itu adalah sesuatu yang luar biasa dan tidak dapat di tiru oleh manusia.

Orang-orang yang mempunyai sentimen terhadap (agama) Islam akan berusaha untuk menolak mu’jizat dengan berbagai teori, karena mengakui mu’jizat berarti mengakui Sang Pemberi mu’jizat. Itulah yang kemudian mereka katakan sebagai “kehebatan”, “kecerdasan”, “kejeniusan” Rasulullah saw ketika berda’wah dan menyampaikan Al-Qur’an, padahal Al-Qur’an itu mu’jizat.

Mereka nisbahkan apapun yang hebat kepada Rasulullah saw kecuali mu’jizat itu sendiri termasuk dalam konteks Isra Mi’raj. Padahal yang paling menonjol pada diri Muhammad bin Abdullah adalah mu’jizat kenabiannya bukan kejeniusan dan lainnya.

Mungkin dengan teori ini lama kelamaan akan dikatakan bahwa Isra Mi’raj itu bisa dijangkau dengan iptek, dan kemudian menafikan esensi kekuasaan Allah SWT sebagai Sang Pemberi Mu’jizat sebagaimana disebut dalam QS. Al-Isra ayat satu di atas tadi.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Mukhrij Sidqy

Mukhrij Sidqy, MA. adalah kandidat doktor di bidang Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dosen di STIQ Baitul Qur'an, Kelapa Dua, Depok. Ia menjabat sebagai Ketua Ikatan Da'i Muda Indonesia Depok, Wakil Pengasuh PP. Al-Wutsqo Depok, dan Pembina Tahfidz LPTQ Al-Muhajirin BPI Depok.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals