Quranic Parenting: Pola Asuh Anak Perspektif Al-Quran

Salah satu hal yang penting dalam proses parenting (pola asuh) adalah soal keteladanan dan pola komunikasi yang baik.


Pola asuh anak (parenting) dewasa ini menjadi populer kembali, seiring dengan munculnya berbagai kompleksitas problem mendidik dan mengasuh anak di era milenial.   Maka, bisa dipahami jika kemudian kita sebagai umat beragama perlu back to the Quran. Sebab al-Quran mengandung nilai-nilai luhur yang universal untuk membimbing dan solusi kehidupan orang-orang beriman (Q.S. Fushilat: 44).

Nah, pola asuh anak perspektif al-Quran dapat disebut sebagai Quranic perenting yaitu sebuah konsep tentang pola asuh dan pola pendidikan terhadap anak sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh al-Quran. Nilai-nilai tersebut dapat digali dari, pertama, ayat-ayat yang secara tegas menjelaskan tentang bagaimana mestinya orangtua mendidik anak, misalnya, Q.S. al-Baqarah: 233 dan al-Nisa’: 9. Kedua, dari kisah-kisah al-Quran yang menjelaskan tentang bagaimana para Nabi dan orang-orang saleh mendidik anak-anak mereka (lih. Q.S. Luqman: 13-19 dan al-Shaffat: 102).

Hal ini mengingat bahwa anak sesungguhnya merupakan harapan keluarga dan bangsa yang sangat berharga bagi suatu bangsa. Kemajuan suatu bangsa tergantung pada sejauh mana bangsa tersebut mempersiapkan generasi mereka. Sebab generasi anak-anak merekalah yang akan menjadi penerus cita-cita perjuangan bagi para orangtua. Ini tentu menuntut adanya perhatian yang serius dari para orangtua dan pendidik  dalam mendidik mereka.

Proses mengasuh dan mendidik tentu bukan hanya soal transmisi dan transformasi pengetahuan, tetapi  juga persoalan bagaimana menanamkan nilai-nilai karakter melalui komunikasi yang efektif dan keteladanan dari orangtua. Bagaimana orangtua mesti memahami potensi, bakat dan minat anak  dengan baik melalui dialog di tengah-tengah bermain, dan makan bersama, tentu menjadi sangat berarti bagi tumbuhkembang sang anak. Orangtua mestinya juga menghargai hak-haknya dan mengajarkan tentang apa yang menjadi kewajiban  mereka. Itulah mengapa al-Quran berpesan kepada  para orangtua, agar jangan sampai meninggalkan anak-anak dalam keadaan lemah, sembari berpesan agar dapat berkomunikasi yang baik dengan mereka, sebagaimana al-Quran menegaskan:

Hendaklah mereka takut kepada Allah jika meninggalkan  generasi yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap  kesejahteraannya. Karena  itu, hendaklah  mereka bertaqwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang baik. (Q.S. al-Nisâ [4]: 9)

Diksi dzurriyyah dli’âfan (generasi yang lemah) sengaja dipilih al-Quran dalam bentuk isim nakirah, agar memberikan jangkauan makna yang lebih luas. Maka, pengertian lemah bisa berarti lemah pada aspek fisik-material, intelektual maupun  moral-spiritual. Itu sebabnya Quranic parenting sesungguhnya merupakan model pola asuh dalam mendidik generasi secara holistik-integratif. Holistik artinya mencakup keseluruhan elemen-elemen kemanusian pada diri anak, yang terdiri dari jasad, jiwa, dan ruh. Integratif artinya model pola asuh anak perlu melibatkan berbagai perspektif keilmuan dan teori-teori perkembangan terbaru. Tetapi basis teologisnya tetap mengacu pada nilai-nilai al-Quran, sebagai sumber nilai utama dan pertama.

Nah, terkait dengan ayat di atas Q.S. al-Nisâ [4]: 9), yang menarik untuk kita cermati adalah  bahwa ujung dari ayat tersebut adalah perintah kepada para orangtua agar “bertakwa dan mengucapkan perkataan yang baik”. Itu memberi isyarat bahwa salah satu hal yang penting dalam proses parenting (pola asuh dan  pendidikan anak)  adalah soal keteladanan bertakwa dan pola komunikasi yang baik.

Bagaimana kita sebagai orangtua bukan hanya pandai memberi tausiyah (nasehat) tetapi juga harus mampu menjadi uswah (teladan). Orangtua dan para pendidik tidak hanya bisa ngomong (bicara), tetapi juga bisa momong (mengasuh dengan bijak), tidak hanya membimbing tetapi juga membombong. Maka, cobalah kita sebagai orangtua berkomunikasi yang baik dengan anak-anak kita, dengarkan keluhan mereka, apa masalah mereka dan maunya anak-anak kita, perhatikan potensi-potensi mereka, lalu diarahkan dan difasilitasi  agar mereka bisa sukses menggapai cita-cita masa depan mereka.

Sayangnya, masih sering kita lihat, baik langsung maupun melalui koran, media televisi atau medsos, bahwa sebagian anak-anak bangsa ini terlantar dan terabaikan hak-haknya. Mereka menjadi anak-anak jalanan, menjadi korban trafficking, terlibat narkoba dan pergaulan seks bebas. Pendek kata, telah terjadi praktik dehumanisasi terhadap sebagian anak-anak bangsa ini. Padahal menurut Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34, fakir miskin dan anak-anak yang terlantar seperti itu mestinya menjadi tanggung jawab negara.

Jadi, mestinya negara (pemerintah) ‘hadir’ dan terus mengawal proses pemenuhan hak-hak anak. Anggaran APBN untuk proses pendidikan anak mesti bisa dimaksimalkan. Sebab di mana-mana masih ada kesenjangan antara yang menjadi cita-cita ideal (baca: das sollen) dan yang ada dalam kenyataan (das sein). Adalah tugas kita semua, sebagai orangtua, pendidik dan pemerintah, bagaimana menjembatani hal tersebut, sehingga setidaknya berbagai kasus pelecehan dan kekerasan dapat dicegah semaksimal mungkin.

Walhasil, secara umum, pola asuh anak berbasis pada nilai-nilai al-Quran dapat disimpulkan menuntut sikap keikhlasan, cinta-kasih, kesabaran dan keteladan dari para orangtua. Ada buku yang perlu dibaca oleh para orangtua, tentang bagaimana model mengasuh dan mendidik anak serta menangani anak-anak yang bermasalah, yaitu “Qur’anic Parenting: Kiat Sukses Mendidik Anak Cara Qur’an”. Kebetulan buku tersebut adalah karya penulis sendiri, ditulis berdasarkan riset dan pengalaman dalam mendidik dan mengasuh para anak-anak (dan juga para santri).

Buku tersebut dapat menjadi semacam inspirasi dan motivasi bagaimana kita bisa sukses menjadi orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak-anak kita. Penulis perlu menegaskan bahwa agar anak-anak kita menjadi sukses, pintar dan  berkarakter, maka pola asuh yang dilakukan para orangtua harus berbasis pada nilai-nilai Qurani, yaitu nilai keikhlasan, keadilan, cinta, kasih sayang, kesabaran dan kejujuran, serta tanggung jawab. Mengabaikan hak-hak anak dan meninggalkan model pola asuh Qurani sama dengan menandatangani kontrak bagi kehancuran masa depan anak-anak bangsa. Wa Allâhu a’lam bi al-shawâb.

 

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Suka Suka
7
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Abdul Mustaqim
Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag. adalah Guru Besar Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga dan Pengasuh Pesantren Mahasiswa LSQ (Lingkar Studi al-Qur’an) ar-Rohmah Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Resensi

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals