Wajarkah Mencurigai Program Tahfidz Al-Quran?

Akan tetapi, tidaklah juga dapat dibenarkan jika seseorang menghafalkan Al-Quran dengan tujuan ingin mendapatkan kemuliaan di hadapan manusia.


gambar: hidayatullah

Beberapa tulisan saya sebelumnya telah membahas banyak hal mengenai metode belajar membacab Al-Quran. Terkait hal yang sifatnya kesalahan dan hambatan dalam proses belajar membaca Al-Quran. Kali ini, kembali saya menggelitik pembaca sekalian. Perihal maraknya jurusan baru dalam belajar Al-Quran, yaitu menjamurnya program tahfidz Al-Quran.

Baca juga Tulisan-tulisan Muhammad Maghfur Amin lainnya

Telah banyak kritik yang ditujukan terhadap fenomena ini. Beberapa orang beranggapan bahwa tahfidz Al-Quran merupakan pendangkalan terhadap tujuan Al-Quran sebagai pesan yang harus dipahami, tidak sekedar dihafal. Dalam beberapa tulisan lain mengindikasikan, bahwa program tahfidz ini merupakan salah satu project yang digencarkan oleh salah satu aliran untuk menjadikan Al-Quran seakan cukup dengan diproses dalam hafalan saja.

Pertanyaannya, wajarkah program-program tahfidz ini dicurigai? Menurut hemat saya, Jika kita lihat dengan cara yang lebih arif, maka sesungguhnya kita seharusnya melihat dari beberapa sisi.

Pertama, dari sisi anjuran agama. Salah satu sabda Nabi Muhammad, bahwa sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya”. Dari sabda tersebut mengisayaratkan proses mempelajari secara umum, baik dengan belajar membaca, menghafalnya, hingga memahami kandungannya. Artinya, tidak patut kita curiga terhadap pihak-pihak yang memaknai bahwa mempelajari Al-Qur’an salah satunya adalah dengan cara dihafalkan.

Kedua, dari sisi psikologis. Seorang penghafal Al-Quran memang belum tentu serta merta paham kandungan Al-Quran. Tetapi secara psikologis, seorang yang telah khatam menghafal Al-Quran, paling tidak ia akan lebih besar keinginannya untuk juga menggali dan memahami kandungannya. Dari sisi eksternal, pandangan orang lain terhadap orang  yang hafal Al-Quran, terdapat rasa menghargai yg lebih dari pada selainnya. Meskipun tidak seyogianya seseorang menghafal Al-Quran dengan niatan untuk memperolaleh kemuliaan di hadapan manusia.

Ketiga, dari sisi sejarah. Jika melihat kondisi awal Nabi dan para sahabat dalam menjaga Al-Quran, yang utama diandalkan dalam penjagaan Al-Quran adalah dengan hafalan. Sedangkan dengan berbagai kondisi, menjaga Al-Quran dengan media tulis menulis masih terbatas. Artinya tulis menulis adalah metode kedua setelah hafalan. Dengan demikian, ketika itu menghafal Al-Quran merupakan “yang terpilih” sebagai sebuah cara melestarikannya.

Lagian, benarkah para Sahabat Nabi saat itu, yang dimana Al-Quran diturunkan dengan bahasa mereka (bahasa Arab), telah memahami keseluruan kandungan Al-Quran? Tentu tidak, terdapat banyak hadis yang merupakan penafsiran atau penjelasan Nabi terhadap ayat-ayat Al-Quran karena para Sahabaat tidak memahami ayat yang diturunkan.

Dengan berbagai pengamatan tersebut, dapatkah dibenarkan kecurigaan-kecurigaan terhadap maraknya program tahfidz Al-Quran yang muncul? Bisa jadi, akan salah besar jika kita membenarkan kecurigaan-kecurigaan tersebut.

Baca juga: Menghafal Quran Jaminan Kesalehan, Benarkah?

Akan tetapi, tidaklah juga dapat dibenarkan jika seseorang menghafalkan Al-Quran dengan tujuan ingin mendapatkan kemuliaan di hadapan manusia. Atau bahkan sekedar tujuan duniawi seperti untuk memenangkan sebuah perlombaan tahfidz, seperti yang menjadi tren beberapa tahun ini. Karena pada dasarnya proses menghafal Al-Qur’an adalah aktifitas mulia yang tidak patut dinodai oleh hal-hal yang membuat cacat kesalehan sosial sang penghafal.

Karena alasan ini pula kiranya mengapa Kyai Arwani Kudus, seorang yang digelari sang penjaga Qiroah Sab’ah, melarang santri-santrinya secara mutlak untuk memperlombakan hafalan mereka. Sang Kyai bahkan berpesan bahwa beliau tidak akan pernah meridai mereka jika terlibat dalam lomba atau musabaqah yang ada kaitannya tentang Al-Quran.

Wallahu a’lam bishshawab.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Maghfur Amin
Alumni S1 jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Guru MI Narrative Quran (MINAN), Lamongan. Saat ini menempuh S2 di UIN Sunan Ampel Surabaya pada jurusan yang sama (Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir).

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals