Teori Hudud Muhammad Shahrur

Teori Shahrur dalam pemikiran Islam Kontemporer yag paling terkenal adalah Teori Limit atau Hudud.


Teori Shahrur dalam pemikiran Islam Kontemporer yag paling terkenal adalah Teori Limit atau Hudud. Teori ini digunakan untuk menyesuaikan ayat-ayat muhkamat agar tetap relevan dengan kondisi sosial masyrakat, selama masih dalam wilayah batasan hukum Allah.

Shahrur mendasarkan teorinya pada al-Quran surat al-Nisa’ ayat 13-14, yang menegaskan bahwa yang berhak menetapkan batasan hukum hanyalah Allah. Sementara otoritas Nabi Muhammad dalam menentukan hukum tidaklah penuh, beliau hanya sebagai seorang pelopor dalam berijtihad.

Abdul Mustaqim, dalam bukunya yang berjudul Epistemologi Tafsir Kontemporer mengungkapkan kelebihan dari Teori Limit Shahrur. Pertama, ayat-ayat hukum yang selama ini dianggap final dan mutlak, ternyata masih memiliki kemungkinan untuk diinterpretasikan dengan cara yang baru. Kedua, Teori Limit mampu menjaga sakralitas al-Quran, tanpa mengurangi kreativitas untuk berijtihad.[1]

Setelah melakukan penelitian terhadap ayat-ayat hukum, Shahrur menyimpulkan enam bentuk teori batas yang dapat digambarkan secara sistematis dengan rincian sebagai berikut.[2]

1. Halah al-had al-a’la (posisi batas maksimal)

Pada model yang pertama ini membentuk kurva tertutup, dan hanya memiliki satu batas maksimum. Shahrur mengaplikasikan bentuk pertama ini pada al-Quran surat al-Maidah ayat 38, tentang pencurian. Menurut teori ini, hukum tangan adalah batas maksimal dari pelaksanaan hukuman pencurian. Jadi potong tangan bukanlah satu hukuman yang mutlak diterapkan, namun umat Islam harus melihat kualitas dan kuantitas barang yang dicuri, serta kondisi saat pencurian itu terjadi.

2. Halah al-hadd al-adna (posisi batas minimal)

Bentuk teori ini merupakan kebalikan dari teori pertama, berbentuk kurva terbuka daerah hasil hanya terdiri dari satu batas minimal. Shahrur mencontohkan pada larangan dalam al-Quran untuk menikahi para perempuan yang disebutkan dalam surat al-Nisa’ ayat 23. Dalam kondisi apapun umat Islam dilarang untuk menikahi wanita dalam ayat ini, meskipun didasarkan pada ijtihad.

3. Halah al-haddayn al-a’la wa al-adna ma’an (posisi antara batas maksimimal dan batas minimal bersamaan)

Bentuk kurva dalam teori ini adalah tertutup dan terbuka, masing-masing kurva memiliki titik balik maksimal dan minimal. Di antara kedua kurva terdapat titik singgung (nuqtah al-ini’taf) yang berada di tengah kedua kurva, titik ini disebut sebagai posisi penetapan hukum mutlak. Batasan ini diterapkan Shahrur dalam pembagian harta warisan, dalam al-Quran surat al-Nisa’ ayat 11.

4. Halah al-mustaqim (posisi lurus tanpa alternatif)

Dalam kurva bentuk ini, titik balik minimal berhimpit dengan titik balik maksimal. Akibatnya tercipta satu garis lurus yang sejajar dengan sumbu x. Shahrur menyatakan bahwa teori ini hanya mampu diterapkan pada satu ayat saja dalam al-Quran, yaitu surat al-Nur yang berbicara mengenai perzinaan.

5. Halah al-hadd al-a’la li hadd al-muqarrib duna al-manas bi al-hadd abadan (posisi batas maksimal cenderung mendekat tanpa bersentuhan)

Daerah hasil dari bentuk ini berupa kurva terbuka yang terbentuk dari titik pangkal dan hampir berhimpitan dengan sumbu x, sementara itu titik final hampir berhimpit dengan sumbu y. Shahrur menerapkan teori ini pada hubungan fisik antara pria dan wanita. Batasan terendah dalam teori ini adalah hubungan tanpa persentuhan, dan batas maksimal berupa perzinaan. Selama mereka belum sampai perzinaan, maka hukum maksimal Allah belum perlu untuk dilaksanakan.

6. Halah al-hadd al-a’la mujaban wa al-hadd al-adna saliban (posisi batas maksimal positif dan batas minimal negatif)

Daerah hasilnya berupa kurva gelombang dengan titik balik maksimal berada pada wilayah positif, sedangkan titik balik minimal berada pada wilayah negatif. Teori yang terakhir inilah yang digunakan oleh Shahrur dalam menganalisa transaksi keuangan. Batasan tertinggi dalam teori ini adalah pajak atau bunga, sedangkan batasan terendah adalah zakat. Sementara titik nol di antara daerah positif dan negatif adalah pinjaman tanpa bunga.

[1] Abdul Mustaqim, Epistemologi Tafsir Kontemporer, Yogyakarta: Lkis, 2012, hal. 93.

[2] Dikutip dari tulisan Burhanuddin Dzikri, Artikulasi Teori Batas (Nazariyah al-Hudud) Muhammad Syahrur dalam Pengembangan Epistemologi Hukum Islam Indonesia, dalam buku Sahiron Syamsuddin, dkk. Hermeneutika al-Quran: Madzhab Yogya, Yogyakarta: Islamika, 2003, hal. 52.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Rafi

Nama saya Muhammad Rafi. Saya berasal dari Kalimantah selatan, lebih tepatny kota Amuntai, sebuah kota yang terkenal dengan itik panggang dan apamnya. Saya dilahirkan di sebuah desa kecil yang bernama Kaludan Besar, pada tanggal 19 Juli 1997 bertepatan dengan 11 Rabiul Awal. Saya adalah anak pertama dari 4 orang bersaudara dari pasangan Abdul Gani Majidi dan Maimunah. Dalam perjalanan pendidikan dan keilmuan, saya memiliki 2 basic, sekolah negeri dan pondok pesantren. Mulai dari MI dan SD, MTs, Aliyah dan Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidyah Amuntai. Saat ini say sedang berkuliah di UIN Sunan Kalijaga Jurusan Ilmu al-Qur'an dan Tafsir sekaligus sebagai Mahas Santri di Pondok Pesantren LSQ ar-Rohmah Bantul.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals