Masjid Biru: Kedigdayaan Turki Usmani

Kemegahan Masjid Biru merupakan simbol kejayaan Turki Usmani dan mencitrakan sebuah peradaban yang agung


Kejayaan Kostantinopel berakhir digantikan oleh Kerajaan Turki Usmani pada 1453 M setelah takluk di tangan Sultan al-Fatih. Nama ibu kota tersebut juga telah diubah dengan nama Istanbul. Kota tersebut sangat layak menjadi ibu kota negara karena letaknya yang sangat strategis di antara dua benua: Asia dan Eropa, sebagaimana ungkapan Napoleon Bonaparte. Dahulunya merupakan ibu kota negara Byzantium yang pada masa Rasulullah saw. pernah menyurati kaisarnya, Heraclius. Kota tersebut dihuni oleh penduduk yang beragama Kristen dengan beragam bangunan di dalamnya termasuk gereja. Dengan demikian, daerah tersebut merupakan daerah yang sudah dikenal dalam Islam yang awalnya beragama Kristen dan kemudian menjadi bagian dari Islam pada pemerintahan Turki Usmani khususnya di era khalifah ke-7.

Masjid Jami Sultan Ahmed atau dikenal Masjid Biru merupakan sebuah situs keagamaan yang terkenal di Istanbul. Bangunan tersebut merupakan bangunan yang sangat unik. Hal ini dikarenakan jumlah menaranya yang mencapai enam buah. Sebagaimana lazimnya bangunan masjid di Turki, menara mengisyaratkan siapa yang membangun masjid tersebut. Jika seorang sultan yang membangun, maka menaranya lebih dari empat, kerabat sultan berjumlah dua, sedangkan saudagar kaya hanya satu. Hal ini bagian dari kekhasan masjid-masjid di Turki.

Jumlah menara masjid di atas pernah dikritik oleh masyarakat. Pasalnya, karena jumlahnya menyamai jumlah menara di Masjid al-Haram Makkah al-Mukarramah. Oleh karena itu, Sultan Ahmed I memberikan sumbangan dana untuk menambah menara masjid di Makkah tersebut, sehingga jumlah menaranya lebih banyak yakni tujuh buah. Hal ini sebenarnya merupakan kekeliruan para arsitek memahami perintah raja. Namun demikian, hal tersebut dilakukan sebagai bentuk takzim sang raja terhadap kiblat umat Islam, yang mesti dimuliakan.

Masjid Biru di atas dibuat pada masa pemerintahan Sultan Ahmed I yaitu pada tahun 1609-1616 M. Pengerjaan bangunan dilaksanakan selama tujuh tahun lamanya. Masjid tersebut dibuat untuk menandingi Gereja Hagia Sophia, yang kemudian berubah menjadi masjid sekitar tahun 1453 M dan sekarang sudah menjadi museum. Letak museum tersebut berdekatan dengan Masjid Biru. Ukuran masjid  Biru sendiri adalah 53×51 meter. Memilki kubah besar yang berdiameter 43 meter. Demikian juga interiornya yang tampak menawan dengan hiasan kaligrafi ayat-ayat al-Quran yang ditulis oleh Kasim Gubari. Ditambah pilar dan 200 jendela kaca patri yang memancarkan cahaya dari luar dengan lampu gantung yang di dalamnya terdapat telur unta yang mencegah munculnya sarang laba-laba. Sehingga, bangunan masjid ini tampak sangat menarik dan menawan, yang tidak kalah pesona dan kemegahannya dari bangunan-bangunan di sekitarnya yang merupakan peninggalan Byzantium.

Saat saya berkunjung di sana, masjid tersebut sedang direnovasi. Sebagaimana masjid pada umumnya, Masjid Biru juga aktif mengadakan kajian-kajian keagamaan. Kemegahan bangunan masjid tersebut mampu menarik perhatian banyak turis mancanegara. Mereka yang perempuan harus mengenakan kerudung yang sudah disediakan dan bisa disewa, untuk menutupi rambutnya. Juga tidak diperkenankan untuk memakai jenis topi tertentu selama berkunjung.

Bangunan masjid juga didesain begitu luas sehingga memberi ruang bagi para jamaah dan rombongan turis untuk beristirahat dan berleha-leha. Namun begitu, masyarakat Turki sangat menjaga kebersihan dan kesucian lingkungan masjid. Demikian di antara cara mereka memuliakan masjid.

Kemegahan Masjid Biru merupakan simbol kejayaan Turki Usmani dan mencitrakan sebuah peradaban yang agung. Ini bukti nyata dari kedigdayaan kerajaan Islam yang bisa kita saksikan hingga hari ini.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Alfatih Suryadilaga
Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. merupakan Asosiate Professor dalam Matakuliah Hadis di Prodi Ilmu Hadis Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang sebagai Kaprodi Ilmu Hadis dan Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Selain itu, sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals