Al-Qur’an Dapat Dinikmati Seluruh Kalangan

"..maka serugi-ruginya manusia adalah yang tidak mau turut serta menikmati hidangan al-Qur'an yang sangat beragam itu.."


Al-Qur'an adalah hidangan (mâ'idah) lengkap seperti prasmanan, dimana setiap orang dapat mengambil dan menikmati tiap hidangan itu (MQS).

Jika mengutip istilah Quraish Shihab, Al-Qur’an adalah hidangan (mâ’idah) lengkap seperti prasmanan, dimana setiap orang dapat mengambil dan menikmati tiap hidangan itu, sesuai dengan selera, kebutuhan dan kemampuannya untuk menikmati.

Dalam menikmati itu, seseorang tidak bisa memaksa selainnya untuk mengikuti hidangan yang ia suka, sebagaimana ia tidak di paksa untuk mengikuti hidangan yang disukai selainnya. Boleh jadi pula, yang dinikmati orang lain tidak ia butuhkan sebagaimana orang lain tidak butuh hidangan yang dinikmatinya.

Baca juga: Menyibak Tabir al-Qur’an

Contoh kecil hidangan itu adalah al-Qur’an Surat Al-Mulk, “Tabarakalladzi biyadihi….Qadir,  alladzi…ghafûr, alladzi….futûr“. setiap orang dapat menikmati hidangan tersebut dengan berbagai cara yang disenanginnya dan sesuai kemampuannya.

Dalam menikmati mâ’idah Al-Qur’an itu dapatlah kita klasifikasikan dalam tiga model pembacaan (qira’ah). Pertama, model pembacaan orang awam. Bagi orang awam, tujuan membaca al-Qur’an sangat sederhana, seperti sekedar ingin mendapatkan pahala membaca al-Qur’an.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw “Siapa yang membaca satu huruf al-Qur’an, maka baginya satu kebaikan, dan tiap kebaikan digandakan sepuluh kali semisalnya...”. Boleh jadi pula tujuan membacanya untuk mendapatkan kenikmatan dan ketenangan. Begitu pula seorang Qori yang menikmati tiap irama dan nada yang di lantunkannya dari kesempurnaan akhir kalimat seperti qadîr, ghafûr, futhûr dst, sesuai dengan lagu bayati, hijaz, nahawan dan sebagainya.

Model pembaca pertama ini tidak membutuhkan tafsir al-Qur’an apalagi perdebatan-perdebatan tentang makna al-Qur’an. Atau juga seperti seseorang yang mencukupkan membaca Al-Qur’an dengan bantuan terjemah Departemen Agama ditemani secangkir teh.

Kedua, pembacaan klasik. Yaitu pembacaan yang merujuk pada tafsir-tafsir klasik. Dimana pembacaan itu akan melibatkan dirinya pada perdebatan yang telah lama terjadi. Seperti makna “al-yad” dalam kalimat “biyadihi” pada ayat pertama surat al-Mulk.

Pembacaan seperti ini menarik bagi para pelajar atau akademisi yang menggeluti ilmu tafsir. Hanya saja, pembacaan seperti ini bersifat romantisisme atau pengulangan (qira’ah takririyah)pendapat-pendapat mufassir terdahulu yang memang tak berujung.

Ketiga, Pembacaan modern. Yaitu model pembacaan yang bukan hanya bertujuan untuk menikmati irama tiap kalimat al-Qur’an atau melakukan pengulangan-pengulangan yang telah lama menjadi perdebatan para mufassir klasik, tetapi lebih jauh dari itu untuk mencari jawaban dari problematika kehidupan saat ini yang semakin komplek. Saat itulah ayat al-Qur’an bukan hanya dilihat dari sisi spiritualis atau mistisnya saja, akan tetapi dihadapkan dengan masalah ekonomi, sosial, budaya hingga politik.

Pada pembacaan modern ini, cerita-cerita israiliyyat, mistis, atau takhayyul dan hal-hal yang tidak relevan dengan kehidupan modern yang sekian lama menghiasi penafsiran perlahan mulai ditinggalkan. Pembaca tidak lagi memperpanjang diskursus “Al-yad” (tangan Allah), karena yang menjadi tujuan adalah apakah pemahaman al-Qur’an ini dapat memberikan solusi dari berbagai musykilat kehidupan.

Itulah berbagai cara manusia menikmati al-Qur’an. Bagaimanapun, al-Qur’an akan selalu memancarkan petunjuk, manfaat dan ketenangan bagi siapapun yang menghendakinya. Jika sudah begitu, maka serugi-ruginya manusia adalah yang tidak mau turut serta menikmati hidangan al-Qur’an yang sangat beragam itu.

Baca juga: Menjadi Genarasi Qur’ani

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
6
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Dr. Mukhrij Sidqy, MA.
Dr. Mukhrij Sidqy, MA. adalah doktor di bidang Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dosen di STIQ Baitul Qur'an, Kelapa Dua, Depok. Ia menjabat sebagai Ketua Ikatan Da'i Muda Indonesia Depok, Wakil Pengasuh PP. Al-Wutsqo Depok, dan Pembina Tahfidz LPTQ Al-Muhajirin BPI Depok.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals