Menjadi Generasi Qur’ani

“Umat Islam dijajah karena mereka punya mentalitas yang memang pantas dijajah.”


Al-Quran memberikan dorongan yang kuat agar umat Islam tampil sebagai ummatul ‘ilmi, dengan kewajiban memikul tanggung jawab untuk memberikan arah moral bagi penggunaan ilmu dan teknologi. Ayat Al-Quran perdana berpesan agar kita membaca dan membaca.

Bacalah, siarkanlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah yang menggantung. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajar manusia menggunakan pena. Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-‘Alaq/96:1-5).

Allah swt juga meninggikan derajat orang beriman dan berpengetahuan luas.

Hai orang-orang beriman, jika dikatakan kepadamu berilah tempat dalam pertemuan, berilah tempat. Allah akan memberi tempat yang lapang kepadamu. Dan bila dikatakan berdirilah. maka berdirilah. Allah akan mengangkat derajat orang beriman di antara kamu dan mereka yang diberi ilmu beberapa tingkatan. Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Mujadilah/58:11)

Apakah orang yang khusyuk beribadah di waktu malam, bersujud dan berdiri, memperhatikan hari akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya – (sama dengan yang tidak melakukannya)? Katakanlah, “Apakah sama orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui?” Hanya orang yang arif yang dapat menerima peringatan. (QS Az-Zumar/39:9)

Umat Islam yang 2 milyar dari 7 milyar penduduk bumi berpeluang mengarahkan gelombang sejarah kemanusiaan seperti peran yang pernah dimainkan pada abad-abad pertengahan dengan kekuatan ilmu dan ukhuwah Islamiyah.

Ukhuwah sejati hanya mungkin bila anggota umat ini menjadikan iman sebagai pilihan sadar yang akan melahirkan solidaritas sosial, ekonomi, politik, dan budaya.

Islam menegakkan prinsip-prinsip persamaan, keadilan, persaudaraan dan toleransi. Pudarnya wajah Islam itu karena dalam kehidupan bermasyarakat tidak sepenuhnya berpedoman pada etik Al-Quran, tetapi lebih banyak berpedoman pada etik golongan dan kelompok kepentingan. Masing-masing golongan bangga dengan kelompoknya. (Ar-Rum/30:32, Al-Mu`minun/23:53)

Konsekuensi pernyataan bahwa Al-Quran adalah pedoman kita, iklim perpecahan di kalangan umat harus kita singkirkan. Umat Islam hanya bisa bangkit dan terarah bila Al-Quran tetap menjadi panduan spiritual-intelektual kita.

Perbedaan pendapat dalam politik, teologi, dan fiqih yang telah merunyamkan barisan persaudaraan kita telah membuka peluang bagi penjajah untuk menguasai kita. Malik Ben Nabi, pemikir Aljazair, pernah mengemukakan bahwa “Umat Islam dijajah karena mereka punya mentalitas yang memang pantas dijajah.”

Predikat umat Islam dalam Al-Quran yang harus diejawantahkan ialah khaira ummah dan ummatan wasatha.

Kamu adalah umat terbaik dilahirkan untuk segenap manusia, menyuruh orang berbuatmakruf, dan mencegah perbuatan mungkar, serta beriman kepada Allah… (QS Ali Imran/3:110)

Demikianlah, Kami jadikan kamu umat pertengahan (berimbang, moderat) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) segenap bangsa, dan Rasul (Muhammad) pun menjadi saksi atas (perbuatan) kamu… (Al-Baqarah/2:143)

Secara kultural melepaskan diri dari etik golongan sempit memang bukan pekerjaan yang mudah, sebab ia seakan-akan sudah menyatu dengan keberadaan kita. Bila kita konsekuen dengan pernyataan bahwa Al-Quran adalah pedoman kita, mengapa rantai kultural itu kita jadikan “berhala” dan mengekalkan iklim perpecahan di kalangan umat?

Umat Islam hanya bisa bangkit dan terarah bila Al-Quran tetap menjadi panduan spiritual-intelektual kita. Dzalikal kitabu la raiba fihi hudan lilmuttaqin…

Perbedaan pendapat dalam politik, teologi, dan fiqih telah merunyamkan barisan persaudaraan kita. Runyamnya persaudaraan umat telah membuka peluang bagi penjajah untuk menguasai kita dalam waktu yang tidak singkat. Secara politik kita telah merdeka sejak 72 tahun yang lalu, tetapi secara sosial, ekonomi, dan budaya kita tetap terjajah. Malik Ben Nabi, pemikir Aljazair, pernah mengemukakan, bahwa umat Islam dijajah adalah karena mereka punya mentalitas yang memang pantas dijajah.

Terakhir, mari persegar penghayatan dan pengamalan kita terhadap ayat-ayat sentral keumatan dalam Al-Quran. Allah swt berfirman,

Kamu adalah umat terbaik dilahirkan untuk segenap manusia, menyuruh orang berbuat makruf, dan mencegah perbuatan mungkar, serta beriman kepada Allah. sekiranya Ahli Kitab beriman, niscaya baiklah bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, tetapi kebanyakan mereka orang fasik. (QS Ali Imran/3:110)

Demikianlah, Kami jadikan kamu suatu umat yang berimbang, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) segenap bangsa, dan Rasul (Muhammad) pun menjadi saksi atas (perbuatan) kamu sendiri. Kami jadikan Kiblat yang sekarang hanyalah agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Sungguh (pemindahan kiblat) itu amat berat, kecuali bagi mereka yang telah mendapat petunjuk Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha lemah-lembut lagi Maha Penyayang kepada manusia. (Al-Baqarah/2:143).

***

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
7
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals