Kyai Feminis: Mengenal Sekelumit Pemikiran Husein Muhammad

"..Menurut Kyai Husein, nilai universal yang diusung Islam ialah keadilan dan kesetaraan. Hal ini termanifestasikan dalam doktrin tauhid.."


Sumber foto: huseinmuhammad.net

Kyai Husein Muhammad adalah pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat. Beliau lahir di Cirebon pada tanggal 9 Mei 1953. Sejak kecil, beliau dididik dalam lingkungan pendidikan Pesantren. Beliau pernah nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo. Gelar sarjananya diperoleh dari PTIQ Jakarta (1980). Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikannya ke Universitas al-Azhar Kairo, Mesir.

Ketertarikan Kyai Husein dengan isu gender dan feminisme berawal pada tahun 1993. Ketika itu, beliau diundang oleh Kyai Masdar Farid Mas’udi (sekarang dewan penasehat PBNU) untuk mengikuti seminar dengan tema “Perempuan dalam Pandangan Agama-Agama”. Sejak saat itu, beliau menyadari bahwa terdapat masalah besar mengenai perempuan. Beliau kemudian berkesimpulan bahwa ternyata sebagian ahli agama turut serta dalam mengkonstruksi ketidakadilan gender.

Kyai Husein kemudian semakin intens dalam melakukan kajian terhadap isu-isu perempuan. Banyak sekali karya yang ia lahirkan terkait isu tersebut. Pada tahun 2007-2015, beliau tercatat menjadi Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, dan pada tahun 2008, beliau mendirikan Perguruan Tinggi Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) di Cirebon. Karena itu, beliau pun dikenal sebagai seorang kyai feminis.

Diantara karya-karya Kyai Husein ialah Fiqih Perempuan: Refleksi Kiyai atas Wacana Agama dan Gender (2001), Islam Agama Ramah Perempuan: Pembelaan Kiyai Pesantren (2005), Ijtihad Kyai Husein: Upaya Membangun Keadilan Gender (2011), dan lain-lain.

Fokus utama pemikiran Kyai Husein terkait isu-isu gender dan perempuan ialah melakukan reinterpretasi terhadap teks-teks keislaman yang bias gender, khususnya kitab-kitab kuning yang dominan diajarkan di pesantren, semisal kitab ‘Uqūd al-Lujjayn karya Syekh Nawawi al-Bantani. Reinterpretasi ini penting mengingat realitas kontemporer berbeda dengan realitas masyarakat Arab pada saat Nabi Muhammad hidup. Menariknya, Kyai Husein menggunakan perspektif khazanah keilmuan Islam klasik (turats), khususnya fiqh dalam menyampaikan gagasan-gagasan feminismenya.

Menurut Kyai Husein, nilai universal yang diusung Islam ialah keadilan dan kesetaraan. Hal ini termanifestasikan dalam doktrin tauhid. Tauhid menegaskan keadilan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di hadapan Tuhan. Bagi Kyai Husein, tauhid harus dijadikan basis dan kerangka utama dalam merumuskan keadilan dan kesetaraan gender. Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang hal ini, misalnya surat al-Hujurat ayat 13: “sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”.

Meski demikian, tak dapat dimungkiri bahwa terdapat teks-teks keislaman, baik dalam al-Qur’an maupun hadis, yang bias gender dan bahkan memperlihatkan pandangan misoginis terhadap perempuan. Hal demikian seolah-olah menunjukkan ambivalensi dalam teks-teks keislaman. Oleh karena itu, menurut Kyai Husein, seseorang harus memahami teks-teks tersebut secara tepat dengan cara menganalisa konteks sosio-kultural-historis dimana teks-teks tersebut diturunkan atau disampaikan.

Oleh karena itu, menurut Kyai Husein, diperlukan suatu metodologi baru dalam membaca kembali teks-teks yang bias gender tersebut. Metode yang beliau tawarkan ialah pertama, menjadikan tujuan-tujuan syariat (maqāṣid al-syarī‘ah) sebagai basis utama penafsiran. Kedua, melakukan analisis terhadap konteks sosio-historis (al-siyāq al-tārikhi al-ijtima‘i) dalam kasus-kasus yang ada dalam teks. Ketiga, melakukan analisis bahasa dan konteksnya (al-siyāq al-lisāni). Keempat, “melakukan identifikasi aspek kausalitas dalam teks sebagai jalan ke pemikiran analogis untuk kebutuhan konteks sosial baru (qiyās al-ghāib ‘ala al-shid)”. Kelima, melakukan analisis kritis terhadap sumber-sumber transmisi hadis (takhrīj al-asānid) dan kritik matan (naqd al-matn).

Kritik sanad dan matn tampak sekali ketika Kyai Husein menelaah kitab‘Uqūd al-Lujjayn. Menurut beliau, setelah dilakukan penelitian sanad, terdapat 30 hadis dalam kitab tersebut yang sanad -nya cacat atau tidak bisa dipercaya. Sedangkan sisanya ialah sahihtetapi subtasi matn-nya tidak dapat diterima karena bertentangan dengan al-Qur’an dan hadis-hadis lain yang menegaskan tentang keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap perempuan.

Dalam pembahasan lain, Kyai Husein menganalisis konteks sosio-historis suatu hadis. Sebab, menurut beliau, ide perwujudan kesetaraan, keadilan, dan kesatuan etika kemanusiaan universal diperjuangkan Nabi dalam konteks budaya masyarakat Arab yang sangat patriarkis. Oleh karena itu, setiap teks agama, baik al-Qur’an maupun hadis, yang bersifat diskriminatif dan misoginis terhadap perempuan “harus diposisikan dalam wacana sejarah yang sedang diupayakan untuk diarahkan menuju cita-citanya, yakni keadilan dan kesetaraan”. Dengan demikian, penting sekali untuk menganalisis dalam konteks apa hadis itu diriwayatkan.

Sebagai contoh, hadis yang diriwayatkan sahabat Abu Bakrah berikut: “tidak akan pernah beruntung bangsa yang diperintah perempuan”Menurut Kyai Husein, dengan mengutip pendapat Ibnu Hajar, hadis tersebut diriwayatkan untuk menunjukkan ketidakmampuan Kisra, seorang ratu Persia dalam memimpin Negara.

Selain itu, menurut Kyai Husein, hadis tersebut lebih bersifat deskriptif-informatif bukan untuk menunjukkan legislasi hukum. Hal ini yang dimaksud beliau dengan analisis bahasa dan konteksnya (al-siyaq al-lisāni). Dalam perspektif uṣūl al-fiqh, hal tersebut bisa diterima, karena redaksi hadis tersebut tidak menunjukkan suatu perintah (amr).

Kemudian Kyai Husein mengutip pendapat Ibnu Aqil yang dikutip oleh Ibnu Qayyim bahwa yang menjadi prioritas dalam politik ialah kemaslahatan dan menolak kerusakan. Selain itu, beliau mengutip kaidah fiqh berikut:“tindakan penguasa terhadap rakyatnya harus didasarkan pada kemaslahatan”(taṣarruful imam ‘ala al-raiyyah manūtun bi al-maṣlahah). Dengan demikian, hadis tersebut tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang perempuan untuk berpartisipasi dalam politik.

Kyai Husein tidak menganalisis kualitas perawi pertama hadis tersebut, yakni Abu Bakrah, melainkan memilih menganalisisnya dengan perspektif fiqh. Penjelasan yang demikian merefleksikan paradigma fiqh yang digunakan beliau dalam menyuarakan gagasan-gagasannya tentang kesetaraan dan keadilan gender. Karena pemikiran beliau yang berakar pada tradisi intelektualisme pesantren, M. Nuruzzaman (2005) menyebut kyai Husein sebagai “sebuah teks dari pesantren.”

 

Catatan akhir:

Tulisan ini didasarkan pada karya-karya berikut: Husein Muhammad, Fiqh Perempuan: Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender, (Yogyakarta: LKiS, 2001), Husein Muhammad, Fiqh Perempuan: Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender, (Yogyakarta: LKiS, 2001), dan M. Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Perempuan, (Yogyakarta: LKiS, 2005).

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
7
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
14
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
5
Wooow
Keren Keren
8
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Afifur Rochman Sya'rani
Mahasiswa Pascasarjana Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals