Keummian Nabi Muhammad SAW

“Sesungguhnya kita ini adalah suatu umat yang ummi, kita tidak bisa menulis dan tidak pula pandai membaca/menghitung”


Siapa yang tidak mengenal Muhammad SAW. Nabi terakhir yang dikenal keseluruh negeri. Imamnya para Nabi – nabi terdahulu yang memiliki gelar Al Amin. Sebagian orang berpendapat dan menyatakan kebenaran bahwa Nabi Muhammad SAW itu seorang ummi, tidak pandai menulis dan membaca tulisan, tetapi sejak Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama kali itu, Nabi Muhammad SAW dapat membaca tulisan.

Diriwayatkan ketika malaikat pembawa wahyu (Jibril) datang kepada Nabi Muhammad SAW yang tengah berada di Gua Hira, Malaikat Jibril membawa sehelai tulisan lalu berkata: “Bacalah olehmu!”. Kemudian setelah 3 kali Nabi Muhammad SAW menjawab, “Saya bukan pembaca”, akhirnya dengan nama Allah SWT, tulisan itu dibaca oleh Nabi Muhammad SAW. Lalu malaikat Jibril pergi dengan meninggalkan tulisan itu tercetak di dalam hati Nabi Muhammad SAW.

Berdasarkan riwayat tersebut dapat dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW telah mampu membaca tulisan ayat – ayat wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi, sifat – sifat keummian Nabi Muhammad SAW itu terjadi pada masa sebelum diturunkannya wahyu yang pertama kali. Sifat istimewa Nabi Muhammad SAW adalah sifat ummi sebagaimana dalam Qs. Al A’raf ayat 157-158.

Nabi Muhammad SAW dibangkitkan dalam lingkungan masyarakat yang ummi, sebagaimana dinyatakan Allah SWT dalam Qs. Al Jumu’ah ayat 2.

Firman-firman Allah SWT tersebut telah cukup menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang ummi, yang dibangkitkan di tengah-tengah bangsanya sendiri yang sebagian besar dalam keadaan ummi pula, yaitu Bangsa Arab pada masa itu.

Perkataan ummi menurut arti kata Bahasa Arab adalah:

الامي : من لايعرف الكتابة ولاالقراءة

“Al ummi itu adalah yang tidak mengenal tulisan dan tidak pula mengenal bacaan”

Nabi Muhammad SAW bersabda:

انا امة امية لانكتب ولانحسب (رواه البخاري ومسلم وغيرها)

“Sesungguhnya kita ini adalah suatu umat yang ummi, kita tidak bisa menulis dan tidak pula pandai membaca/menghitung”

Maksudnya, Nabi Muhammad SAW sendiri beserta sebagian besar Bangsa Arab pada masa itu adalah segolongan orang yang ummi, tidak bisa menulis serta tidak pandai menghitung perhitungan dan peredaran bintang – bintang. Dengan perkataan lain, mereka tidak bisa menulis huruf dan tidak pandai menghitung dengan perhitungan secara ilmu falak.

Nabi Muhammad SAW itu adalah seorang yang tidak dapat membaca tulisan dan tidak pula dapat menulis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW disuruh membaca olehMalaikat Jibril itu artinya Nabi Muhammad SAW disuruh membaca dengan hafalan. Pada dasarnya, sifat Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang ummi itu menunjukkan kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad SAW serta menyatakan kesucian wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Maksudnya, nyata-nyata Al Qur’an itu bukan karangan Nabi Muhammad SAW, melainkan semata -mata wahyu Ilahi yang Maha Suci, karena jika sekiranya Nabi Muhammad SAW dapat membaca dan menulis, sudah barang tentu ada tuduhan – tuduhan atau dakwaan – dakwaan yang bukan – bukan dari orang – orang yang memang hendak memadamkan atau sekurang – kurangnya menyuramkan cahaya wahyu Ilahi (Al Qur’an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Tuduhan – tuduhan atau dakwaan – dakwaan semacam itu pada masa itu oleh Allah SWT telah ditolak dengan tegas dan jelas serta diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disiarkan kepada mereka, sebagaimana telah termaktub dalam Qs. Al Ankabut ayat 48.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa sebelum Al Qur’an diturunkan, Nabi Muhammad SAW tidaklah sekali – kali dapat membaca dan menulis, sehingga tidak mungkin engkau membaca kitab – kitab lama dan tidak mungkin pula engkau dapat menyalin kitab – kitab kuno itu dengan tangan kananmu, karena jika engkau dapat membaca tulisan dan menulis, patutlah mereka yang hendak merusak itu ragu – ragu terhadap kebenaran dan kesucian Al Qur’an.

Dengan ayat tersebut jelaslah bahwa bacaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada waktu itu adalah secara hafalan, bacaan dari dari dalam hati sanubari beliau, tidak dengan melihat tulisan bagaimanapun juga.

Menurut Ibnu Abbas, setiap kali Allah Swt memberi wahyu kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantaraan malaikat Jibril, beliau senantiasa mengingat – ingat wahyu dan menghafalkannya, karena khawatir lupa. Itulah sebabnya Allah SWT menurunkan Qs. Al A’la ayat 6 kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi, ayat itu membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW dapat membaca adalah dengan hafalan, kemudian Nabi Muhammad SAW dijadikan tidak akan lupa selama – lamanya akan wahyu (ayat – ayat) yang diterimanya. Hal ini menunjukkan bahwa bacaan Nabi Muhammad SAW adalah hafalan.

Sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, setiap malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, Nabi Muhammad SAW selalu menggerak – gerakkan lisannya, membaca dengan perlahan – lahan wahyu yang sedang diturunkan, karena Nabi Muhammad SAW tergesa – gesa agar dapat menghafalkannya dengan segera. Nabi Muhammad SAW khawatir jika malaikat Jibril lekas pergi meninggalkan Nabi Muhammad SAW, sedangkan Nabi Muhammad SAW belum hafal wahyu itu. Oleh sebab itu, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW berupa Qs. Al Qiyamah ayat 16-19.

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa sifat Nabi Muhammad SAW telah disebutkan dalam kitab nabi – nabi sebelumnya yaitu disebutkan bahwa beliau adalah seorang yang ummi. Para nabi sebelumnya memerintahkan untuk mengikuti Nabi Muhammad SAW. Sifat tersebut masih terus ada dalam kitab mereka. Ulama dan rahib mereka bahkan sangat mengetahui hal itu. Namun keummian Nabi Muhammad SAW bukan berarti tidak memiliki ilmu, bahkan beliau adalah orang yang sangat alim dan berilmu.

Ibnu Taimiyah  mengingatkan bahwa keummian Nabi Muhammad SAW bukanlah berarti beliau tidak berilmu atau tidak bisa menghafal, bahkan Nabi Muhammad SAW adalah imamnya para Nabi dalam hal itu. Disebut ummi hanyalah karena beliau tidak bisa menulis dan tidak bisa membaca sesuatu yang tertulis.

Al Mawardi menyebutkan:Jika ada orang yang bertanya, apa sisi kelebihan dengan Allah SWT utus seorang Nabi yang ummi?

فالجواب عنه من ثلاثة أوجه: أحدها: لموافقته ما تقدمت به بشارة الانبياء. الثاني: لمشاكلة حال لأحوالهم، فيكون أقرب إلى موافقتهم. الثالث: لينتفي عنه سوء الظن في تعليمه ما دعى إليه من الكتب التي قرأها والحكم التي تلاها.

Maka jawabannya adalah agar sesuai dengan informasi dan kabar gembira yang disampaikan para nabi sebelumnya tentang kehadiran beliau, agar sesuai dengan keadaan orang Arab, sehingga lebih dekat dengan kesamaan mereka, dan untuk menghilangkan su’udzan karena beliau dianggap telah mengajarkan kitab-kitab yang telah beliau baca sebelumnya.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Rahmadanni Pohan
Rahmadanni Pohan, S.Pd.I, M.Pd.I. Aktif dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pendidikan & Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals