Dinamika Interaksi Sosial secara Psikologis dalam Era Perkembangan Teknologi dan ‎Informasi

Dengan bahasa sebagai salah satu modal manusia untuk berkomunikasi, apakah dengan hal yang sama dapat meningkatkan peradaban yang baik secara sosial dan spiritual?


dinamika-interaksi-sosial
Sumber gambar: theconversation.com

Perkembangan teknologi dan informasi dalam lingkup persentuhan sosial antar-manusia lambat laun bergeser dan mulai berubah dasar kebutuhannya. Dengan adanya teknologi yang berkembang, manusia cukup memangkas ruang dan waktu guna mendapatkan informasi tanpa perlu berinteraksi secara langsung (hanya sekadar bertatap muka, nongkrong sambil memesan kopi kemudian berbincang). Sehingga dampak lebih lanjut secara psikologis, manusia mengandalkan beragam macam fitur untuk dapat mengekspresikan emosi lebih efisien dan efektif (cukup menekan emoticon untuk mewakili dorongan sikap atau kecenderungan emosi, misalnya).

Masih banyak lagi, yang akan dapat digambarkan dari perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial di masyarakat. Pada cakupan masyarakat dalam norma tertentu memungkinkan segala aktivitas yang berhubungan dengan sosial budaya manusia dijalani dengan persentuhan-persentuhan yang umum. Namun, apakah perubahan yang terjadi dalam interaksi sosial dapat dikatakan baik atau malah sebaliknya?

Baca Juga: Psikologi Islam dan Peradaban Kebun Binatang

Mari kita tengok ke belakang dari yang terjadi dalam sektor dunia pendidikan. Sejalan dengan keadaan pandemi, akhirnya kegiatan belajar-mengajar yang secara teknis memerlukan persentuhan sosial bagi banyak peran, yaitu dari peserta didik, tenaga kependidikan hingga para tukang jajanan di sekolah tidak lagi memenuhi kebutuhannya secara offline. Begitupun dalam sektor dunia bisnis dan perekonomian menjalani kegiatannya dengan teknis online.

Baik disadari maupun tidak, banyak yang melakukan kegiatan secara individu dan tertutup, dengan artian lain, tanpa perlu menghubungnkan koneksi antar-personal dalam unsur masyarakat. Persentuhan antar-individu dilakukan pada hal-hal yang tidak dapat diwakili dengan ‘pangkas jarak’ dan membutuhkan kontribusi sesama untuk terus melanjutkan peradaban.

Berdasarkan teori interaksi sosial, perilaku sosial dalam suatu kelompok (seperti masyarakat, dan sebagainya) ditentukan oleh tekanan sosial yang terjadi dalam kelompok tersebut. Pandemi menjadi salah satu tekanan yang berujung ke wilayah sosial, hingga interaksi sosial yang terjadi di hampir seluruh negara di dunia mengeluarkan kebijakan yang meminimalisir interaksi sosial. Tentunya interaksi sosial yang dimaksud adalah interaksi yang membutuhkan persentuhan secara fisik.

Baca Juga: Prinsip Teori Evolusi dalam Media Sosial

Kemudian dengan keadaan seperti itu, manusia mengandalkan ketersediaan teknologi-teknologi yang membantu segala urusan mereka. Beragam macam pendekatan virtual akhirnya menyesuaikan untuk bisa melanggengkan tradisi berinteraksi yang sudah dilakukan sebelumnya. Tentunya, interaksi yang sedemikian rupa diganti pembawaannya untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia terhadap informasi-informasi terkait sektor yang digeluti.

Umumnya interaksi sosial ‘yang baru’ diterapkan dalam dunia pendidikan dimaksudkan agar para murid terus mendapatkan informasi akan pengetahuan-pengetahuan dari pelajaran yang diemban dan para guru dapat menyalurkan informasi demi informasi dalam proses kegiatan belajar mengajarnya dari materi yang diajarkan kepada murid. Kemudian, interakasi sosial antara pedagang dan pembeli produk dapat melakukan transaksi hanya dari gawai mereka masing-masing, dan seterusnya.

Begitupun pada wilayah sosial dalam masyarakat tentunya hanya memerlukan informasi demi informasi yang perlu didapatkan oleh unit sosial atau individu. Terlepas dari hasil apa yang didapatkan dari informasi yang dibutuhkan untuk setiap pendekatan interaksi sosial yang digunakan, entah itu bertatap muka atau sekadar menggunakan media sosial yang dimiliki di gawainya. Tentunya masing-masing dari kita membutuhkan informasi yang membantu diri kita terbangun secara positif baik dalam pikiran kita maupun psikis kita. Lantas, apakah bentuk interaksi sosial yang lama dulu diterapkan tetap memiliki nilai yang baik untuk didapatkan manusia? Katakanlah, budaya mencibir, menghasut, menjulid, bahkan memfitnah kerap saja terjadi dalam model interaksi sosial yang lama atau secara face to face.

Baca Juga: Pentingnya Amar Makruf Nahi Mungkar dalam Kehidupan Sosial

Salah satu kredo yang terdengar oleh saya dari yang telah saya paparkan maksud dari tulisan ini,

“Bertemu dengan orang di luar hanya berujung pada kegiatan bergunjing akan seseorang, meng-ghibah-i seseorang bahkan memakan gosip sana sini. Nambah-nambah dosa saja!”. 

Secara tidak disadari, pernyataan tersebut akan membentuk pribadi seseorang yang mengatakan hal itu menjadi pribadi yang meregulasikan dirinya untuk mendapatkan informasi yang bernilai positif dengan cara yang baru. Seperti, membaca artikel di website, kiriman postingan di grup-grup Whatsapp, dan lain-lain.

Apapun keadaan yang terjadi di lingkungan, termasuk pandemi sekalipun, manusia membentuk ‘zona aman dan nyaman’-nya untuk kebutuhan informasi dari teknologi yang seiring berkembang di sepanjang peradaban manusia. Sudah menjadi hal yang perlu direnungi, apabila secara jelas ada yang menghindari dirinya dari pengaruh-pengaruh yang menjerat dirinya ke dalam kubangan dosa. Sekilas terdengar menggelikan dan mengarah pada kebuntuan nalar apabila tidak dicerna kembali dengan baik.

Apakah kita benar-benar bisa terbebas dari hal yang kita namakan sebagai ‘dosa’?

Sebagai penutup dari tulisan ini, saya akan berargumen perihal perubahan dinamika interaksi sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat kita, adalah hal yang wajar apabila secara sosiologis, pola interaksi kita secara sosial berpindah dari kebutuhan yang mendorong kita untuk menjalin persentuhan-persentuhan ke kebutuhan yang mendorong kita mengeksplorasi wilayah lain dengan bentuk persentuhan yang berbeda. Akan tetapi, sudah sebaik apa kita menggunakan lisan bahkan jempol kita sebagai alat untuk mengkomunikasikan segala informasi kepada sosial kita?

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Dery Kurniawan
sekiranya ketiadaan dapat diterima sebagai eksistensi, memperkenalkan diriku hanya sebatas pengingat bahwa aku bukan siapa-siapa melainkan Dia yang menjadikanku siapa.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals