Jangan Siksa Aku dengan Rindu

Wo hanya menggelengkan kepala. Seolah-olah tak ada yang berubah sama sekali pada tubuhnya.


Hari ini merupakan ketiga kalinya Wo check-up dengan kondisi tubuh agak meriang. Kacamata lensanya terus dikenakan dari proses pendaftaran administrasi hingga pengecekan di ruangan spesialis mata. Wo sampai kira-kira pukul 08.00 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) bersama Bibi. Perjalanan dari rumah menuju rumah sakit agak jauh sehingga Wo harus menyeberang selat yang begitu luasnya. Jadi menempuh waktu beberapa jam harus sampai ke RSUD. 

Dari hasil check-up dokter mengatakan bahwa kondisi Wo mengalami peningkatan. Dari sebelum operasi hingga sesudah operasi. Tapi anehnya Wo merasa tidak ada perubahan sama sekali pada bagian matanya. Matanya semakin kabur dan buram. Jadi kemana-mana Wo harus menggunakan kacamata beresep. 

Tiba sampai di rumah, aku pun menilik Wo kira-kira pukul 16.15. Waktunya Wo duduk santai di depan teras sambil menung. 

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.” (Wo terkejut dan memaksakan matanya terbuka lebar agar pemandangan tidak kabur)

“Hahaha.” (Aku tertawa terkekeh) 

“Macam mano hasel cek tadi Wo? Ado perubahan dak?”

Wo hanya menggelengkan kepala. Seolah-olah tak ada yang berubah sama sekali pada tubuhnya. 

“Tak apolah. Baghu cek yang ketigo Wo. Biaso tu kalau belom ado perubahan. Wo tak usah banyak pikei. Apolagi banyak menong petang aghi. Tak elok kato oghang tuo dulu.” 

“Dikau ni macam oghang tuo kalau becakap. Nak ceramah dengan aku pulak.” (Wo tiba-tiba kesal)

“Hehehe. Aku becakap macam ni karno aku sayang dengan Wo. Kito kan tetanggo daghi Emak samo Bapak pindah sini. Aku dah macam cucu Wo soghang,”

Setelah itu aku menyempatkan diri bertemu dengan Bibi. Aku ingin tahu hasil check-up tadi pagi. Bibi menunjukkan hasil rontgen dan menceritakan panjang lebar tentang kondisi Wo. Bibik mengajukan jempol bahwa kondisi Wo mengalami banyak perubahan dan hasil rontgen tak mungkin manipulasi alias berbohong. 

Aku pun mulai resah mengapa Wo mengatakan bahwa dirinya tidak merasakan apa-apa. Baik sebelum maupun sesudah operasi dan check-up rawat jalan. Sebenarnya apa yang menjadi keresahan Wo selama ini? 

Seminggu setelah itu, kira-kira lepas shalat Magrib aku video call lewat whatsApp mencari kontak Bibi bungsu yang beberapa tahun ini bermukim di kota metropolitan. Sudah lama aku tak menanyakan kabarnya dan malam itu kami beleseng-beleseng menceritakan pengalaman masing-masing. Sontak setelah itu, aku bertanya kepada Bibi. 

“Bik, bilo balek? Dah lupo kampong halaman e.”

Bibi hanya menjawab singkat “Buat apo tinggal dekat kampong. Bukan sedap. Tak bual.” 

Aku pun tak mengerti entah kalimat yang dilontarkan Bibi barusan adalah kalimat gurauan atau kalimat serius. 

“Tapi masalahnyo Wo saket. Apo Bibik tak beniat nak nengok Wo samo uda. Baliak lah sabanta. Ajak uda pai kamari. Kasian bana Wo.”

“Uda sibuak bana. Banyak bana karajonyo. Tapi setiap bulan Bibik dah transfer berapo pengobatan Wo. Jadi Wo tak paralu risau lah.”

“Bukan Bik. Bukan. Tapi… “

Tiba-tiba Bibi menutup Video Call tanpa pamit. Terdengar suara suaminya pulang kerja.

Bibi bungsu adalah anak bungsu Wo dari tujuh bersaudara. Dia adalah satu-satunya perempuan yang tinggal jauh dari keluarganya. Semua keluarganya tinggal di sekitar kampung tempat ia dilahirkan. Bibi bungsu 3 tahun yang lalu menikah dengan lelaki bersuku Minang lalu dikaruniai seorang anak laki-laki. Memang Bibi bungsu jarang sekali pulang. Kalau iya pun dia pulang hanya beberapa hari saja di rumah. 

***

Aku sering mengamati tingkah Wo di balik tingkaprumah. Tingkaprumah berhadapan lurus dengan teras rumah Wo. Sepertinya ada yang Wo pikirkan selama ini. Sehingga menjadi buah pikir. Ada cara jitu supaya bisa memancing Wo curhat. 

“Assalamualaikum. Wo, aku cari uban e. Wo banyak uban ha. Pasti kepalo Wo miang kan?” (Aku merayu Wo agar diperbolehkan mencari uban di kepalanya) 

Lima belas menit kemudian, 

“Dulu anak aku tujoh. Kecik-kecik semuo. Setaon satu. Aku mintak Atok buatkan umah agak beso supayo anak aku bisa belaghi kesano kemaghi. Kalau dah beso belaki atau bebini bisa balek ke umah nengok oghang tuo, tido umah aku. Mungken karno aku ni oghang susah, jadi maseng-maseng malu nak bawak laki atau bini dio bawak ke umah ni.” (Wo seolah-olah membuka kacamata lensanya seperempat bagian dan mengelap bagian  matanya yang berair). 

Aku pura-pura tak menanggapi apa yang Wo katakan. Memang sengaja agar Wo bisa meluahkan apa yang ia pendam selama ini. 

Wo cumo ghindu. Ghindu dengan anak Wo. Wo tak butuh duit banyak dikirim lewat bank ternama sekalipon. Wo hanyo nak budak ni bekumpol besamo-samo. Lamo Wo tak merasokan suasana macam dulu. Penat Wo nyekolahkan dio sampai sarjana, tamat sekolah menikah dengan oghang kayo, semacam lupo daghat. Wo paham selamo dio dibesokan banyak kebutuhan yang tak terpenuhi. Mangkonyo dio mencaghi oghang kayo supayo kebutuhan dio terpenuhi. Kadang Wo sedeh nengok perangai anak-anak Wo. Wo ni sebetolnyo tak saket. Mato Wo kato dokter keno katarak, rabon dekat atau jaoh, semuo tu hanyo sebab. Wo sebetolnyo tesikso dengan ghindu Wo soghang. Tapi anak-anak Wo tak penah paham apo yang Wo alami. Mungken kalau Wo dah tak ado, maseng-maseng baru nak mengenang".

Tadinya aku bersemangat untuk mencari uban Wo, akhirnya berhenti seketika. Aku mulai menanggapi apa yang Wo katakan barusan. Sambil mencari uban lagi, akhirnya aku dapat merespon ternyata selama ini Wo hanya rindu dengan anak-anaknya. Aku baru paham bahwa banyak orang tua di atas dunia ini memiliki kriteria masing-masing. Wo adalah kriteria orang tua yang susah mengungkapkan keinginan sendiri sehingga harus dipendam dan menjadi penyakit seperti penyakit “Jangan Siksa Aku dengan Rindu”.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
5
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Sumiati

Mahasiswi STAIN BKS, Riau, Indonesia

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Cerpen

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals