Damai dan Ketersinggungan Eksistensial

Menyoal eksistensi dapat diraih hanya berawal dari apa yang kita fikirkan bahkan dari apa yang kita rasakan, wajar bilamana ketersinggungan senantiasa berpotensi.7 min


1
Sumber: Pexels.com

Di era sekarang, ditambah dengan gempuran ketersediaan platform-platform sosial media tidak luput dari penawaran untuk memikirkan bagaimana sesuatu yang kita miliki dapat menjadi viral. Hal inilah yang kemudian menjadi wadah untuk sebuah “peng-ada-an” yang disebut dengan eksistensi. Beberapa ada yang ingin menjadi viral dan beberapa juga mencoba mati-matian agar tidak sampai menjadi viral. Namun terlepas dari sifat yang menyertai pada sebuah eksistensi yang viral (terkadang apapun kemasannya, baik hal itu disebut dengan konten, eksistensi diri akan terikat dengan tampilan yang dihadirkan/diwujudkan).

Ditambah lagi, dengan meluasnya akses serta keterbukaan berpendapat maupun berkarya dalam wadah-wadah eksistensial tersebut, akan ditanggapi dengan reaksi dan akan berputar kembali menjadi aksi begitupun seterusnya. Akan tetapi, salah satu reaksi yang acapkali menjadi fenomenal bagi suatu produk yang bernama eksistensi adalah ketersinggungan.

Barangkali, ketersinggungan memanglah lekat dengan efek samping dari buah eksistensi. Dani Aditya, seorang komika yang dikenal sebagai komika yang memiliki disabilitas pada suatu wawancara di acara platform media sosial Youtube mengatakan, “selama kalian belum berdamai dan bisa menertawakan diri sendiri, kalian akan lebih mudah tersinggung dari pada orang lain. Dan masalah terbesar dalam hidup kita adalah ketersinggungan (TSN, 2022)”. Dalam opini tersebut, bilamana sebuah eksistensi diibaratkan sebagai buah dan ketersinggungan adalah semacam parasit yang senantiasa ada dalam buah tersebut, maka kita lebih baik tidak memerlukan buah tersebut, karena akan merugikan diri sendiri.

Kendati begitu, kita tidak bisa mengatakan dengan pasti apakah kita membutuhkan eksistensi tersebut atau justru sebaliknya. Persoalan lebih lanjut menyasar pada apakah kita layak untuk eksis, dalam artian wajar kah untuk menciptakan eksistensi kita itu sendiri? Atau, sebaliknya, meski kita ada dan dilahirkan, namun eksistensi tidak cukup menentukan apakah dengan adanya/hidup sampai sekarang adalah layak. Kemudian, pemikiran ini ujungnya akan selalu beririsan dengan istilah yang disebut dengan esensi. Sehingga pada alur paradigma ini, mengentaskan satu pola berfikir bahwa eksistensi mendahului esensi.

Baca Juga: Benteng Eksistensialisme Sartre

Di sisi lain, efek dari eksistensi bahkan sebelum merambah pada area esensi selalu dibayang-bayangi dengan potensi-potensi ketersinggungan. Bisa jadi, ketersinggungan dapat menjegal area eksistensi diri ‘si yang tersinggung’ dan bahkan sudah menyentuh pada area esensinya. Pihak-pihak yang memikirkan hal ini lebih banyak mengkaitkan ketersinggungan dengan area eksistensi. Filsuf-filsuf eksistensialisme yang terdahulu dan terkemuka sedikit banyaknya telah mengulas seputaran eksistensi. Sebutlah salah satunya Martin Heidegger dengan gagasannya yang terkenal yaitu konsep “Being-in-the-world”, dimana manusia selalu berada dalam dunia yang ia persepsikan (Tjiadarma, 2017).

Akan tetapi hingga saat ini, stimulus tersebut ‘masih belum’ merumuskan solusi yang sekiranya dapat menjadi acuan dari semua polemik yang berpusat dengan eksistensi. Dengan begitu, wajar saja, karena dengan begitu melumrahkan potensi ketersinggungan akibat hal-hal yang tidak sesuai dengan yang sudah manusia persepsikan.

Eksistensi merupakan wilayah yang rentan terluka karena terlalu banyak memberi ruang untuk implementasi rasa “ada” pada diri kita. Katakanlah seseorang marah ketika dihina, itu artinya dirinya secara ego dicederai eksistensinya. Bahkan secara sederhananya, orang tersebut marah kemudian terlihat jelaslah eksistensinya bahwa dirinya sedang dalam keadaan marah. Eksistensi juga dapat dimunculkan dengan berfikir. Sebagaimana yang disemboyankan oleh Descartes, “Cogito Ergo Sum” yang artinya aku berfikir maka aku ada. Dengan begitu menyoal eksistensi dapat diraih hanya berawal dari apa yang kita fikirkan bahkan dari apa yang kita rasakan.

Maka akan sangat wajar bilamana ketersinggungan senantiasa memberikan anteseden tersendiri dari sebuah eksistensi. Bahkan dari hal-hal yang sepele sekalipun, eksistensi yang dirujukkan akan berujung pada perilaku membenci dan seterusnya, sebagaimana yang didialogkan oleh Mas Sabrang di kanal Youtube “Cahaya untuk Indonesia” bersama Habib Ja’far Ash Shadiq. Hubungan interaksi manusia kerap bermasalah hanya lantaran eksistensi yang diatributkan pada apa dari manusia itu sendiri, baik apa yang ia sukai atau apa yang ia anggap itu valid bagi dirinya (Cahaya Untuk Indonesia, 2022).

Kemudian, dalam dialog tersebut, Mas Sabrang mengemukakan, perihal eksistensi yang dianggap tercederai atau ketersinggungan dieratkaitkan dengan apa yang difikirkan dan dirasakan karena menurut individu tersebut hal itu penting. Oleh karena itu, wilayah eksistensi akhirnya menjadi hal yang paradoks dalam meletakkan nilai ‘penting’ dari eksistensi itu sendiri. Apakah dari dimulai dari rasa ketersinggungannya, atau dari sebelum ia mulai tersinggung.

Bagi saya, nilai penting dari hubungan interaksi antara manusia adalah ‘kedamaian’. Bagaimana mungkin, semakin banyak manusia dan semakin banyak akses manusia berinteraksi antar satu dengan yang lainnya malah membuat lebih banyak kerusuhan dan kekacauan. Sebagaimana yang dikhawatirkan malaikat pada penciptaan manusia,

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S Al-Baqarah, ayat 30).

Dengan begitu, senada dengan ayat di atas, baik itu masih relevan atau tidak, subjektif atau tidak, sepertinya manusia yang dicap khalifah belum dapat memberikan manifestasi ‘damai’ sepanjang peradaban interaksi antar umat manusia.

Bagaimana ketersinggungan bisa terjadi? – Penjelasan Psikologi secara teoritis

Salah satu teori yang dapat dijadikan rujukan mengapa seseorang dapat menjadi tersinggung? Yaitu Teori Atribusi (Attribution Theory) yang menjelaskan mengapa seseorang berperilaku tertentu, katakanlah berperilaku (merasa) tersinggung.

Nuke Martiarini, S.Psi, M.A, seorang Dosen Psikologi Universitas Negeri Semarang mengulas teori atribusi tersebut secara lugas dalam tulisannya. Menurutnya, dalam memahami konsep teori atribusi, setidaknya membuat kita menjadi lebih bijaksana dalam menilai perilaku diri manusia, terkhusus pada perilaku (merasa) tersinggung.

Ia pun memvalidasi bahwa memang sudah menjadi kenyataan bahwa kita sulit sekali melepaskan “keberpihakan” pada hal tertentu. Sulit sekali untuk mengamati keadaan (apapun itu secara empirik) tanpa mengevaluasi. Ini jugalah yang menjadikan indikasi, tidak ada satu manusia pun yang dapat memposisikan diri di posisi netral. Akibat ‘keberpihakan’ yang ada dalam atribusi yang dimiliki.

Teori atribusi ini sudah lama disusun oleh para ahli Psikologi Sosial seperti Heider; Jones & Davis; dan Kelley melalui berbagai eksperimen sosial (Shaver dalam Nuke, 2021). Sudah menjadi hal yang umum bila perdebatan antar pakar mesti ada dalam mencanangkan model teori yang komprehensif untuk menjelaskan fenomena. Heider serta Jones & Davis pada mulanya menekankan pada ‘persepsi’ sebagai aktor utama atau manusianya sebagai ‘information processor’.

Sementara Kelley berpendapat justru yang terpenting adalah lingkungan sebagai penyedia stimulus, penyebab perilaku dapat terjadi. Artinya bila kita kaitkan pada ketersinggungan, manusia bisa jadi tersinggung karena manusia itu sendiri yang mempersepsikan informasi sebagai hal yang menyinggung dirinya, atau bisa saja manusia itu tersinggung karena lingkungan atau keadaan yang terjadi saat itu. Semisal keadaan formil yang tidak patut untuk berperilaku sesuai penghayatan dari formalitas kondisi tersebut.

Dengan adanya dualisme tersebut, akhirnya melahirkan model awal teori atribusi yang sampai sekarang masih reliabel dalam menganalisis potensi perilaku ketersinggungan, yaitu mengatribusi perilaku diri sendiri (Attribution of Self – yang tujuannya untuk evaluasi diri) dan mengatribusi perilaku orang lain (Attribution to Other – yang tujuannya memahami kausalitas dan responsibilitas dari apa yang lakukan, yaitu rasa ketersinggungan).

Kemudian teori atribusi juga menjelaskan bagaimana proses mengatribusikan suatu perilaku, sebagaimana yang sempat juga disinggung dalam dialog Habib Ja’far bahwa hubungan interaksi manusia kerap bermasalah hanya lantaran eksistensi yang diatributkan pada apa dari manusia itu sendiri, baik apa yang ia sukai atau apa yang ia anggap itu valid bagi dirinya (Cahaya Untuk Indonesia, 2022). Proses tersebut dimulai dengan tahap awal, kemudian dilanjutkan pada tahap kedua lalu berakhir pada tahap terakhir (Kelley, 1967 dalam Nuke, 2021).

Baca Juga: Ruwetisme Hidup

Pada tahap Awal, disebut dengan observation an action. Yaitu apakah ada stimulus kasat mata (baik perilaku, ucapan, dan seterusnya) yang dapat diamati? Jika “ya” maka proses tahap kedua dapat dilanjutkan. Jika “tidak ada” maka tahap kedua tidak dapat dilakukan.

Pada Tahap Kedua, disebut dengan judgement of intention. Apakah stimulus yang ditunjukkan (baik perilaku, ucapan, dan seterusnya) punya tujuan tertentu? Jika dinilai “ya” maka lanjut ke proses tahap Akhir. Jika “tidak” maka proses selesai sampai sini.

Pada Tahap Akhir, disebut dengan making a dispositional attribution. Apakah stimulus yang dimunculkan dilakukan atas keinginannya sendiri?jika “ya” maka dapat disimpulkan bahwa penyebabnya adalah faktor personal. Namun jika stimulus dilakukan atas desakan lingkungan, maka penyebabnya adalah faktor lingkungan.

Ketersinggungan bisa saja menjadi indikasi Tahap Awal atau bisa saja menjadi indikasi Tahap Akhir, sebagaimana yang disinggung oleh Mas Sabrang mengenai wilayah eksistensi yang akhirnya menjadi hal yang paradoks dalam meletakkan nilai ‘penting’ dari eksistensi itu sendiri. Apakah dari dimulai dari rasa ketersinggungannya, atau dari sebelum ia mulai tersinggung. Seumpama dimulai dari rasa ketersinggungannya, maka individu tersebut tersinggung sebagai tahap Awal atribusi dirinya. Sebaliknya, seumpama sebelum individu merasa tersinggung, maka individu tersebut tersinggung sebagai Tahap Akhir atribusi dirinya.

Damai, eksistensi yang terbebas dari ketersinggungan (tinjauan psikologis secara singkat)

Akhirnya, untuk meneruskan opini yang disampaikan oleh Dani Aditya sebelumnya, menjadi diri yang eksistensinya terbebas dari ketersinggungan – mesti melalui proses damai dengan diri sendiri dan mampu menertawakan diri sendiri – memerlukan ulasan lebih lanjut agar secara praktis kita bisa merealisasikan keadaan mental yang ‘damai’.

Barangkali damai tidak dinaungi oleh konsep seperti emosi. Mestinya ada hal hal lain yang lebih kompleks dalam jiwa manusia untuk mencapai suatu keadaan mental yang ‘damai’. Damai yang sebagaimana dilontarkan oleh Dani adalah konsep penerimaan diri. Sudah sejauh apa diri kita telah menerima apa keseluruhan dari diri kita itu sendiri, dan biasanya dipusatkan pada aspek-aspek yang tidak dapat diubah. Dalam terminologi spiritualis menyebutkan secara gamblang dengan istilah takdir.

Penerimaan diri dapat diekspresikan dengan menertawakan diri. Mungkin, menertawakan merupakan salah satu bentuk yang  bisa ditampilkan agar menandakan bahwa diri kita sudah menerima diri kita apa adanya. Cara lain yang mungkin secara teknisnya sudah digaungkan dari 1400 tahun yang lalu akan tetapi mungkin tidak begitu mudah dalam penerapannya, yaitu kembali kepada Tuhan. Sebagaimana yang difirmankan dalam surat Al-Fajr ayat 27-30,

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridhai-NYa. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surgaKu.” (Q.S Al-Fajr ayat 27-30).

Baca Juga: Menggapai Kebahagiaan

Dalam pedoman tersebut, memberikan arahan psikologis agar jiwa menjadi lebih tenang (damai), yaitu agar menjadi damai maka kembalilah ke Tuhan dalam keadaan substansi mental yang puas (Ridha) juga memenuhi ketentuan Ridha Allah itu sendiri. Selebihnya berilah impact ke sekitar. Tidak akan menjadi sebuah dampak bila tidak terlibat ke dalam lingkungan atau kelompok baik skala kecil maupun besar untuk mengimplementasikannya, yaitu nilai dari sebuah kedamaian. Sehingga kedamaian menjadi paripurna, menjadi Surga.

Penutup

Barangkali, ketersinggungan bukanlah hal yang melulu terasa sebagai impact yang buruk, namun bisa diolah untuk dijadikan parameter tersendiri agar kita merekonstruksi ulang terkait eksistensi diri kita itu sendiri. Bilamana secara hakiki, kita sebenarnya tidak memiliki apa-apa di dunia ini, untuk apa kita merasa kehilangan? Begitupun, pada konteks eksistensi, bilamana sebenarnya kita bukanlah apa-apa, untuk apa kita merasa Ada?Akhirnya, tergantung pada apa kita atribusikan diri kita, seumpama diatribusikan pada dzat Tuhan yang Maha Ada, maka wajar saja diri kita merasa Ada dan perlu diakui ke-‘ada’-annya, bila tidak justru kita merasa tersinggung bahkan tidak suka lantas marah.

Wallahu A’lam Bish-Shawab

Referensi

TonightShowNet. 2022, 18 Desember. Bingung! Salah Ngomong Diki, Langsung Jadi Bahan Buat Dani Aditya – Tonight Show Premiere. Youtube. https://youtu.be/0gkowDyXt-E

Cahaya Untuk Indonesia, 2022, 12 Juli. Anak Muda, Eksistensi, dan Ketersinggungannya. Youtube. https://youtu.be/g5hDtwxsQR0

Tjiadarma, E L. (2017, 19 Januari). Heidegger, Media, dan Problem Eksistensial Manusia. Diakses pada 23 Januari 2023, dari https://www.remotivi.or.id/kupas/350/heidegger-media-dan-problem-eksistensial-manusia

Kelley, H. H. (1967). Attribution theory in social psychology. Nebraska Symposium on Motivation, 15, 192–238.

Shaver, K.G. (1983). An Introduction to Attribution Processes. London and New York : Routledge (Taylor & Francis Group).

Martiarini, Nuke. (2021, 4 Desember). Penasaran Dengan Alasan di Balik Perilaku Seseorang? Yuk Intip Apa itu Atribusi!. Diakses pada 23 Januari 2023, dari Penasaran dengan Alasan di Balik Perilaku Seseorang? Yuk Intip Apa Itu Atribusi! – PSIKOLOGI UNNES

Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!


Like it? Share with your friends!

1
Dery Kurniawan
sekiranya ketiadaan dapat diterima sebagai eksistensi, memperkenalkan diriku hanya sebatas pengingat bahwa aku bukan siapa-siapa melainkan Dia yang menjadikanku siapa.

One Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals