Kehidupan yang Tidak Pernah Selesai

Manusia diciptakan dengan nafsu yang begitu liar sehingga terus berambisi untuk menjadi penguasa di mana pun.


Sumber gambar: pinterest.com

Dunia dengan peradaban yang terbentuk seperti sekarang, tidak terlepas dari dominasi dan perebutan kekuasaan. Selama bumi masih berputar dan jalan takdir masih terus membentang, kita akan kembali pada situasi yang sama. Inilah yang dikatakan oleh salah seorang filsuf di abad ke-19 yang kita kenal dengan Friedrich Nietzsche, bahwa sejatinya manusia adalah mereka yang selalu memiliki kehendak untuk berkuasa.

Tercatat dalam sejarah, bahwa perang-perang yang terjadi selalu didasarkan oleh perebutan kekuasaan. yang menanglah yang akan menjadi penguasa baru. Perang Troya sekalipun, yang pada mulanya bertujuan untuk mengembalikan seorang wanita, tiba-tiba berubah haluan menjadi haus akan kuasa.

Jika manusia didominasi dengan perempuan dan menganut sistem matriarki, tentu kaum yang berseberangan akan berusaha menuntut kesetaraan dan sangat mungkin mereka menjatuhkan sistem itu lalu membangkitkan kaumnya.

Pada kenyataan yang terjadi rupanya manusia didominasi oleh laki-laki. Sistem patriarkal yang begitu kokoh ini membuat perempuan merasa menjadi minoritas dan ‘minta dikasihani’. Feminisme adalah gerakan yang kita kenal untuk mendobrak sistem tersebut. Bentuk dobrakan tersebut dapat kita temukan pada buku-buku dan tulisan-tulisan mengandung kata patriarki, matriarki, feminisme yang sudah lama berjejer dalam setiap perpustakaan.

Baca Juga: Menakar Gender dan Feminisme

Perbudakan merupakan sebuah kata yang terdengar ironis, tidak manusiawi dan sangat menjijikan. Narasi itu mengantarkan kaum proletar dan sejenisnya menjadi perhatian untuk mendapat rasa belas kasihan. Namun, penolakan terhadap dominasi laki-laki menambahkan perempuan bergabung bersama proletar dan masuk dalam list kaum-kaum yang harus mendapat perhatian.

Kesetaraan selalu menjadi narasi yang gencar dideklarasikan. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa kaum tertindas akan berusaha menjadi yang lebih tinggi dari yang menindasnya. Terlebih yang kita bicarakan adalah manusia, makhluk multidimensi yang begerak tak hanya dengan insting semata. Mereka dipacu oleh nafsu liar dan perasaan yang bisa meledak kapan saja.

Jika kemudian hari sistem patriarkal runtuh dan dunia akan dikuasai oleh perempuan, maka laki-laki pun akan melakukan hal yang sama seperti hari ini. Mereka akan membuat gerakan menuntut kesetaraan dan bahkan merebut kembali kekuasaan mereka. Pada akhirnya kehidupan tidak akan pernah selesai.

Kejadian di mana dua golongan atau lebih saling menjatuhkan, membunuh dan merampas adalah hal yang sangat lumrah. Sebab sangat tidak mungkin jika ada orang yang membiarkan kekuasannya terusik dan diganggu orang lain, ditambah lagi dengan kehausaannya akan dominasi.

Bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita masih menemukan sifat dominasi. Ketika dalam satu grup Whatsapp kita akan melihat bahwa yang sering berkomentar orangnya hanya itu-itu saja. Dalam teori Friedrich Nietzsche, sejatinya mereka yang diam sedang berada dalam moralitas budak. Hal ini hanya bisa timbul dari rasa takut yang tak bisa mereka kendalikan.

Orang-orang yang hanya membaca saja, meminta diperhatikan dan dikasihani sehingga harus dipancing terlebih dahulu agar mau berkomentar. Ini merupakan validasi atas ketidakkuasaan mereka dalam grup Whatsapp tersebut. Kemudian mereka yang berkomentar tentu merasa superior dan punya kuasa atas grup itu, sehingga ia tidak perlu takut untuk mengirim apapun.

Sifat mendominasi ini sangat wajar dan tak bisa dibantah. Manusia diciptakan dengan nafsu yang begitu liar sehingga terus berambisi untuk menjadi penguasa di mana pun. Jika tidak mampu menguasai kelompok atau orang lain, minimal ia menguasai dirinya sendiri.

Penguasaan diri sendiri merupakan dominasi yang paling mudah untuk dikakukan, manusia hanya perlu mewujudkan kehendak dan sifat kehendak adalah bertahan hidup. Namun, pada dasarnya kehendak selalu bersifat jahat dan satu-satunya cara menghindari kejahatan adalah dengan mengingkari kehendak.

Namun, psikologis manusia selalu membawanya untuk melakukan sesuatu sesuai kehendaknya. Mereka hanya bisa berbuat baik jika terlihat atau ada yang mengetahuinya. Hal ini diceritakan oleh Plato dalam karyanya yang berjudul “The Republic”. 

Baca Juga: Psikologi Islam dan Peradaban Kebun Binatang

Kisah “The Ring of Gyges” juga menceritakan seorang gembala yang melayani penguasa Lydia yang menemukan cincin dari kawah. Kemudian Gyges mengenakan cincin itu ketika bertemu dengan sang Raja. Tidak sengaja ia merubah posisi cincin di tangannya dan membuat ia tidak terlihat oleh orang-orang yang duduk didekatnya.  ini merupakan kesempatan emas dan kesempatan itu digunakannya untuk membunuh raja sekaligus merebut permaisurinya.

Dalam kisah tersebut, Plato mengajak kita untuk membayangkan dua cincin ajaib, satu diberikan kepada orang baik secara moral dan satu lagi orang yang tidak baik secara moral. Plato berpendapat tidak akan ada perbedaan dari cara keduanya berperilaku. Orang akan bertingkah laku secara moral−klaimnya−karena mereka takut akan konsekuensi ketahuan jika mereka berperilaku buruk.

Kisah ini juga mengandung arti sekaligus memberikan validasi bahwa manusia benar-benar haus akan kuasa. Perebutan kekuasaan akan terus terjadi sampai kapanpun, selalu ada yang tertindas dan menindas. Kemudian timbul sebuah pertanyaan, di manakah posisi kita? Akankah kehidupan ini tak pernah selesai (dalam hal persaingan dan perebutan kekuasaan)?

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
M Rizki Yusrial
Hanyalah seorang mahasiswa merdeka yang kuliah di UIN Sunan Kalijaga dan sedang dalam keragu-raguan

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals