Rindu Tak Terjamah

"Rindu tak pernah terikat dengan waktu. Ia akan terus tumbuh walau raga telah punah oleh tanah. Menyatu bersama cinta, menyepi tidak terjamah selamanya."


Sumber gambar: droppingkeys.net

Aku menulis cerita ini dalam suasana yang masih sama dengan suasana aku menulis cerita-cerita sebelumnya, malam yang gelap. Hujan baru saja reda dengan jejak-jejak aroma tanah menusuk hidung. Angin malam ini seakan terhalang oleh jeruji air langit menimbulkan kesan panas pada badan. Panas pula aku rasakan dalam kepalaku. Fikiranku selalu tertuju pada masa laluku yang seharusnya sudah punah. Aku merasakan rindu yang terlarang.

Namaku masih sama, Asya Fiya. Sudah lebih dari seratus kali aku mengalihkan fikiranku yang masih terpaku pada masa lalu yang berawal dari tahun 2011 sampai sekitar tahun 2015, sehingga aku berkesimpulan bahwa dalam kisah asmara, aku susah move on kata kids zaman now. Apapun istilahnya, cobalah jamah rinduku ini dalam palung hati yang terbiasa disebut paling dalam.

Pada malam-malam sebelum ini, hadirnya Dias yang merupakan seseorang spesial pada zamannya, selalu mewarnai mimpi-mimpi sunyiku. Pertanda yang sama selalu terulang menyiratkan bahwa Dias sudah hidup bahagia dengan pilihannya kini tanpa ingatan tentangku menyeretnya. Setiap terbangun pun aku selalu bersedih bila teringat.

“Aku masih kangen kamu. Kita sudah lama gak pernah berkiriman pesan.” Ucapnya bersamaan dengan perubahan posisi duduk menjadi berhadapan denganku yang awalnya dia duduk di sampingku sambil membuka aplikasi WhatsApp-nya.

“Kenapa kamu kangen aku? Kan kamu sudah ada Ervi yang ngga seburuk aku. Kayaknya emang udah baik kita ngga berhubungan lagi. Toh aku juga gamau merusak hubunganmu sama dia. Itu di jari manismu sudah ada cincin yang melingkar.” Aku tertunduk karena air mataku mau menetes yang sesekali melirik ke arah cincin di jari manisnya. Dalam hati aku berkata, “Aku merindukanmu dan aku ingin kita kembali seperti dulu. Namun itu mustahil sekarang.”

Tiba-tiba Dias mengucapkan kalimat yang tak pernah aku fikirkan sebelumnya. “Ya bagus kalau kamu sudah melihat cincin ini. Kamu gak perlu galau lagi kalau keinget sama aku. Sudah ya, aku harus ninggalin kamu sendiri disini soalnya aku ada urusan mendadak.” Aku terdiam. Mataku mengikuti gerakan badan Dias kemana mengarah. Ternyata ada Ervi yang melambaikan tangannya dari kejauhan untuk menarik Dias mendekat kepadanya.

Bunyi alarm handphone menyadarkan lamunan mimpiku saat itu. Ada jadwal kuliah setengah jam lagi dan aku masih belum persiapan. Parade akrobat pun akan terselenggara menjelang menit-menit kegugupan. Sesampai di kelas perkuliahan, dosen yang terjadwal mengajar belum juga datang. Hidup terselamatkan.

***

Kehidupanku sebagai mahasiswa yang full tugas sudah menjadi kebiasaan yang tidak perlu dijadikan keheranan. Mengerjakan tugas siang-malam tanpa peduli waktu istirahat dan tidur sudah menjadi makanan keseharian. Ketika sedang mengerjakan tugas yang sangat gawat, secara tidak sengaja fikiranku teringat dengan Dias. Rindu menyekapku seketika tanpa ruang aku bernafas atau melarikan diri.

Laptop langsung aku matikan. Otakku tidak bisa memikirkan tugas lagi apabila Dias telah masuk dalam fikrianku. Ku rebahkan badanku, ku pejamkan mataku, ku rilexkan nafasku, dan aku tak sadar.

“Asyaaaa… ayo cepat! Kumpulnya disini, gak jadi di rumah yang tadi direncanakan.” Nuri berteriak dari luar rumah yang aku tempati. Tanganku membelai banyak barang dalam lemari, antara jaket dan kemeja, aku mencari almamater kampusku. “Sebentar, Nuri. Almamaterku nggak ada. Siapa yang habis pinjam? Ditaruh mana tadi sehabis dikembalikan?” kakiku melangkah kesana kemari masih berusaha mencari.

Nuri terlihat menepuk jidatnya seraya berteriak lagi, “Sudah, pakai saja almamater yang ada punya siapapun itu. Kalau kita telat, sia-sia kita bayar buat jadi relawan. Kamu nanti juga bakalan kaget bakalan ketemu siapa di dalam forum. Makanya cepetan!”

Aku tertarik pada ucapan Nuri, sayangnya fikiranku tidak menjurus memikirkan kekagetan dalam forum sebab tanganku berhasil menemukan almamater. Aku berlari sambil memakai almamater. “Maaf, aku telat. Barusan nyari almamater baru ketemu sama Nuri.” Mataku lirak-lirik ke kanan-kiri sebagai isyarat persetujuan dari anggota forum. Tangan kiriku disenggol sikutnya Nuri agar aku menunduk. Aku pun menunduk.

Tarikan pada lengan tangan aku rasakan, Nuri memintaku merendahkan telinga kepadanya. “Sya, coba lihat ke arah sana.” Ku lihat tangannya menunjuk ke pojok ruangan. “Itu kan mantanmu, Dias. Ini kesempatanmu ngomong sama dia. Habis ini kumpul rapatnya dialihkan ngajar, Dias juga ngajar. Kamu ngikutin Dias aja biar bisa ngobrol banyak sama dia.” Tambah Nuri.

Benar apa kata Nuri. Kita langsung ditugaskan mengajar. Dias berlari kencang setelah matanya melihatku melihatnya. Aku megejarnya dan terus mengejarnya sampai aku kehilangan jejaknya. Tengak-tengok kepalaku dengan mata tajam melihat setiap sudut yang ada. Pundakku tertepuk, “Pean lurus aja kesana, terus belok kanan. Pas di tengah itu ada rumah ngajar, masuk o situ. Disitu ada yang pean cari.”

“Oh iya mbak, terima kasih.” Jawabku seraya berlari.

Aku telah sampai pada rumah yang ditunjukkan oleh seseorang tadi. Mataku tidak menangkap bayangan Dias. Aku masuk ke dalam rumah itu, mencari ke setiap ruangan mengajar yang disediakan. Pada ruangan terakhir, aku menemukan Dias. Lagi-lagi dia berlari menjauhiku. Aku mengejarnya kemanapun dia berlari dalam rumah itu. Beberapa teman panitia membantuku menangkap Dias dengan perintah Nuri.

“Kamu kenapa lari terus dari aku? Aku hanya ingin tanya kabarmu!” teriakku mendekati Dias yang dipegangi kedua tangannya oleh teman panitia. Dia mengelak berbicara kepadaku sampai teriakanku yang kesekian kalinya baru dijawab olehnya.

“Aku ingin melupakanmu, Asya! Aku sudah ada kehidupan sendiri yang sudah aku bangun setelah hubunganku denganmu selesai. Sudah bertahun-tahun lamanya! Kala kamu hadir dalam hidupku, menyapaku terus-terusan, aku ingin kembali kepadamu tetapi kewajibanku dengannya (Ervi) tidak bisa aku biarkan. Pergi dariku, Asya! Jangan pernah temui aku lagi! Biarkan aku bahagia tanpamu. Pergi, Asya! Aku gak mau melihatmu lagi selamanya!”

Tubuhku bergetar. Aku terpaku melihatnya meronta mengatakan semua teriakan itu. Tidak pernah aku kira sebelumnya dia akan bersikap begitu kepadaku. Dia melupakanku dengan keras dan rajin, sedangkan aku malah merawat bayangannya subur dalam sanubari. Tanganku mengode agar teman panitia melepaskan tangan Dias, membebaskannya agar tidak terlihat seperti orang gila lagi di hadapanku. Aku menjadi lemas.

Dalam larinya, dia menengokku. Melihatku lagi dan lagi.

Ruhku seperti tertarik terbang di udara. Hembusan angin terasa lebih segar, tapi rindu ini masih saja berat. Kenyataan bahwa Dias memang memintaku pergi, namun hatiku masih menimangnya manja. Rindu ini tersendat sampai kesempatan mempertemukan kelanjutan kisah ini. Kabar yang akan tersirat, rindu ini masih belum selesai. Tunggu edisi kisah selanjutnya.

Tuban, Jawa Timur, Indonesia
Kamis, 21 Juni 2018 pukul 00.47 WIB

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
2
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
3
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Anafya Sa

Fiana Shohibatussholihah lahir di Surabaya pada tanggal 01 Februari 1998. Saat ini, penulis sedang menempuh pendidikan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan program studi Pendidikan Agama Islam semester 5. Ia alumni SMA Negeri 1 Tuban dan SMP Negeri Tuban. Sejak SMP ia aktif dalam organisasi Rohani Islam sampai lulus SMA. Hobinya adalah menulis apapun yang diminati. Belakangan ini, ia membuka fanspage Embun Sufi untuk menyalurkan hobinya itu.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Cerpen

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals