SWT, SAW dan BMW

Aku tidak setuju bukan pada penggunaan BMW-nya. Karena BMW hanyalah huruf mati bila diabstraksikan muatannya.


Saya kok masih “oke” dan tidak “illfeel” dengan upaya-upaya penyingkatan kalimat-kalimat, abreviasi bentukan-bentukan kata atau semacam pengakroniman dalam peristilahan, gelar dan sejumlah hal penting lain dalam Islam. Saya rela bukan karena kerelaan atas dasar pribadi saya sendiri, sebab Allah dan Para Kanjeng Nabi sendiri kok kelihatannya sejauh ini juga sepertinya rela “gelarnya” dipersingkat.

Pernah aku dibisiki seseorang soal kabar bahwa yang pertama kali menyingkat “gelar shalawat” Nabi yang penuh nuansa doa dan puji-pujian itu menjadi “SAW” adalah orang yang setelah ia menyingkatnya mendadak meninggalnya tidak wajar, penuh desas-dedus yang tidak mengenakkan, suu’ul khatimah dan dijadikan bahan bicaraan dan gunjingan sejarah yang menguap kesana-kemari.

Itupun ironisnya ternyata kuselidiki cacat redaksi sejarahnya. Gagal narasi historisnya. Belum ditemukan bukti kronologis yang kuat dan otentik mengenai kredibilitas cerita dan siapa gerangan, orang mana, meninggalnya kenapa, masih simpang siur siapa yang pertama kali menceritakan, jangankan lagi bukti secara ilmiah, saintifik dan medis terhadap sebab meninggalnya orang tersebut. Itu semacam “dakwah strategis”. Itu semacam “rokok air kencing iblis”. Itu metode kamuflatif syiar kontemporer. Itu “konon”.

Toh andai pun benar, berapa banyak populasi manusia dan puluhan juta orang lain yang hidup di dunia dan yang juga hidup di bentangan “sajadah panjang sejarah” dari zaman yang sangat old hingga yang sangat now yang berpeluang besar terkena azab dari Allah dikarenakan persoalan penyingkatan “peristilahan mulia” dalam tatanan Islam itu.

Entah apa itu soal pujian bagi Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang dipersingkat menjadi SWT, ataukah gejolak shalawat kerinduan untuk Baginda Rasul yang digubah menjadi SAW dari Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam atau PBUH dari Peace Be Upon Him, atau Nabi-Nabi lain semacam ‘Alaihis Salaam ke AS atau Sahabat-Sahabat yang Radhiyallhu ‘Anh ke RA dan juga Sayyidati yang ditransformasikan menjadi Siti sementara orang-orang yang hobi menyingkat-nyingkat dan memangkas-mangkas itu sampai detik ini masih baik kondisi hidupnya, lancar situasi lahir-batinnya, malah taat ibadahnya dan sepertinya, terlepas istidraj: tidak tercium sama sekali bau laknat Tuhan baginya.

Singkat bukan ucapan. Singkat bukan lafal. Singkat terletak pada cara menuliskannya, permainan tata letak kata-katanya dan pemeringkasan model lafadznya sesuai konteks pemakaiannya. Lafadz itu teks, itu tulisan dan tatanan huruf, itu kataba-yaktubu. Kalau lafal itu bunyi, itu warna nada, itu tatanan peletakan intonasi suara, itu qoola-yaquulu. Tidak mungkin saya berani melafadzkan “titel kenabian” beliau dengan SAW yang pada momentum yang sama lafalnya saya samapersiskan bunyinya dengan teksnya.

Aku dipersalahkan oleh teman-temanku di sekitaran lima jam lalu ketika sebuah berondongan broadcast pesan menyelonong masuk ke Whatsapp-ku, cetang-cetung sampai 11 kali untuk kemudian isinya kubuka ternyata menawarkan bagaimana kalau OTW (On The Way) yang mengisyaratkan suatu tanda bahwa orang sudah dalam perjalanan itu diganti dengan istilah BMW saja sehingga muncul peristilahan baru yang dengan itu lalu sontak memantik pikiran-pikiran jangka pendekku untuk segera reaktif: Apa-apaan BMW itu?

Mereka ‘nging’ dan sedikit naik pitam. Wah, Arsyad Ibad sekarang mendadak tekstualis dan kelihatan membodoh. Dari titik kata BMW ini saja kita tahu dia sekarang sudah kehilangan esensi jalan pemikirannya dan rel-rel pegangan inti tujuan berhidup dan intisari kehidupannya. Memangnya ada yang salah dengan BMW?

Itu kan padanan huruf saja, rangkaian alphabet semata, deretan-deretan aksara belaka. Kenapa dia menentang-nentang dan lalu mentidakpersetujukan apa-apa terhadap segala kemungkinan-kemungkinan terciptanya budaya kepenulisan yang baik dengan mendadak langsung menjadi “No-Man” tanpa memahami terlebih dahulu “hijrah literasi” itu. Mana letak salah keseluruhan atau paling tidak sedikit kadar kesalahan dari: BMW?

Sedangkan aku sendiri masih bingung. Apa pula itu Be-Em-We? Merk? Mobil? Apa itu adalah semacam nama versi syar’inya dari O-te-We? Apa-apaan ini? Apa memang karena ada korelasinya dengan perjalanan, keselamatan, jalan raya dan kendaraan yang ditumpangi, helm, setir, pancalan gas, ban, aspal, mudik dan bepergian lalu seenaknya meminjam kata dari dunia otomotif dan dihubungan dengan sejenis mobil yang lumayan High Class agar bisa memenuhi standaritas itu? Kenapa tidak Mitsubishi? Kenapa tidak Toyota Yaris atau tidak sekalian Tamiya saja atau The Invisible Spongebob’s Car? Apa BMW adalah mobil paling aman dan paling penyelamat dibanding sejumlah mobil lain?

Kalau memang BMW adalah representasi transportasi darat dan sebuah mobil, kenapa pula tidak diambil dari wilayah agen transportasi air maupun udara, atau sekalian luar angkasa? Kenapa tidak sejenis kapal selam atau apapun itu untuk menggantikan OTW? Kenapa tidak helikopter? Kenapa tidak pesawat? AirBnB? Jet? Kapal Ferry? Kereta api dengan lokomotif mutakhir? Homestead: Avalon Starship? Apollo? Kenapa harus hanya dari mobil dengan nama BMW? Apa hanya karena komposisi Tiga-Hurufnya? Aku mempertanyai semua pertanyaan itu kepada diriku sendiri dalam sekian detik untuk kemudian beberapa persekian detik berikutnya aku ‘ngeh’ bahwa BMW adalah: Bismillaahi Majreehaa Wamursaahaa!

Aku tidak setuju bukan pada penggunaan BMW-nya. Karena BMW hanyalah huruf mati bila diabstraksikan muatannya. Melainkan pada munculnya potensi dipergunakannya potongan-potongan ayat Alquran yang sejenis itu untuk dipermainkan menjadi trend saja. BMW seperti membuka peluang terhadap upaya-upaya untuk “menggaulkan” dan “mengkerenkan” Alquran tanpa pernah sensitif kok dengan mudahnya mereka merekonstruksi tatanan abjad yang luhur itu menjadi sebuah “slang”  semacam OTW. Padahal ia luhur dan mulia.

Jangan dipikir Quran itu kertas atau tulisan tinta. Alquran tidak terletak pada dimensi bentuk. Bukan yang di mata. Alquran koordinatnya ada di Lauhul Mahfudz yang mencuat jauh di luar akal nalar pikiran kita bisa memahaminya. Bahwa yang kita pegang selama ini hanyalah Mushaf, hanya kertas-kertas percetakan pabrik, yang kebetulan hanya saja isi dan kandungan muatannya bervibrasikan Alquran. Sedangkan ia hanyalah bayangan saja. Hanya medium agar Alquran bisa mendistribusikan isinya. Ia hanya “Cosplayer” dari Alquran yang sesungguhnya.

BMW dipandang telah menciderai Alquran bukan pada bentuk Mushaf melainkan yang berlokasi di Lauhul Mahfudz itu. Lalu bagaimana dengan SWT dan SAW? Ia aman: Satu, karena bukan ayat Alquran secara literatur agama. Dua, ada semacam kesepakatan “kepemahaman masyarakat” yang “klik” memperbolehkan SWT dan SAW atau sejenis itu untuk dipergunakan meskipun secara resmi tidak ditemukan acara formal penyepakatannya. Ia “Bis Sukuut”. Sedangkan kalau BMW kadar potensialnya lebih tinggi untuk hanya dijadikan tren di kalangan anak muda yang bahkan jangankan orang tua-orang tua  dan para generasi old, antar anak muda pun mungkin ada yang banyak belum memahaminya. Hal-hal seperti ini yang bikin beberapa orang menggaruk-garuk kepalanya persis seperti apa yang dilakukan oleh orang yang bercalon-pasangan dalam kontestasi-kontestasi politik namun ujungnya ia gagal, dan gila.

Dan berkait tentang Paslon-Paslon Gagal. Saya jadi ingat dengan kata “penistaan”. Bukan ingat karena apa atau soal momentum apa, tapi untuk sekadar refleksi bahwa saya mungkin termasuk orang beruntung karena belum pernah oleh hukum dipermasalahkan kehidupan saya karena sebuah pencemaran agama, saya masih suci identitas religi saya terhadap hal apapun yang berkaitan dengan penistaan agama. Yaaahh, setidaknya itu menurut hukum, setidaknya lagi itu menurut saya sendiri demi untuk menenangkan sedikit kisruh hati saya soal pengelolaan nuansa keberagamaan yang morat-marit di negeri tercinta ini dan mendamaikan sejenak porak-poranda pikiran saya terhadap kebudayaan politik yang tak jelas arahnya di negara kita.

Tepat besoknya, aku kaget. Tiga teman saya segera diringkus dan berurusan dengan kepolisian dan aparat penegak hukum negara setelah diketahui Si Anton kedapatan plat truknya “L 297 SWT”, sedangkan Si Delmek plat sepeda motornya bertuliskan “H 746 SAW”, dikarenakan plat tersebut dicurigai abal-abal, yang oleh sekelompok ormas dituduh dengan keabalabalan itu mereka mem-plat-kan Gelar-Gelar Suci sehingga mereka memutuskan mem-Bareskrim-kannya. Yang paling parah adalah Samsul, dia innocent. Dia kena pasal bukan karena plat kendaraannya, melainkan dia tidak tahu kalau tiap hari ia menginjak-injak Al-Quran, menistakan ayat-ayat sucinya, hanya karena ia selalu naik mobilnya yang ber-merk BMW.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
6
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
6
Ngakak
Wooow Wooow
9
Wooow
Keren Keren
6
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
A. Irsyadul Ibad
A. Irsyadul Ibad atau Arsyad Ibad melakukan restorasi humanisme, arketipe ketauhidan dan cara pandang interpretasi.

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals