Menjaga Hati

"..Keselamatan dan kesehatan hati juga membutuhkan makanan teratur dan bermanfaat yang dapat menjaga kebersihannya.."


Hati adalah organ rohani dalam diri setiap manusia tempat bertolak segala perbuatan manusia, dan tempat pahala serta dosa berpadu. Sesuai dengan asal katanya, kalbu, ialah sesuatu yang berbolak-balik. Nabi Muhammad saw pun mengajarkan sebuah doa yang sangat populer, ”Ya muqallibal qulub tsabbit qalbi ’ala dinika wa ’ala tha’atika – Ya Dzat yang membolak-balikkan kalbu, tetapkanlah kalbuku pada agamamu dan menaati-Mu.”

Nutrisi hati adalah zikir kepada Allah swt yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Apabila engkau berzikir kepada Allah swt, setiap makhluk yang mendengarmu turut berzikir bersamamu, karena engkau berzikir dengan lisanmu, kemudian dengan hatimu, lalu dengan jiwamu, dan dengan ruhmu, serta akalmu.

Allah swt berfirman dalam Al-Quran, Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS 59:1); Tidakkah mereka mau merenungkan Al-Quran? Ataukah hati mereka yang sudah terkunci mati? (QS 47:24).

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman, Katakanlah, “Allah membiarkan sesat siapa yang Ia kehendaki dan membimbing kepada-Nya orang yang tobat. Yaitu mereka yang beriman dan hatinya tenang karena ingat kepada Allah. Sungguh, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. (QS 13:27-28).

Nilai kebersihan hati tergambar dalam ayat berikut. Janganlah hinakan aku pada saat ketika orang dibangkitkan;- tatkala harta dan anak-anak keturunan tak bermanfaat lagi, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati bersih. (QS 26:87-89).

Jika manusia ingin mencintai Allah swt, maka ia harus menjaga kebersihan hatinya dari noda dan cela. Bila hatinya rusak, ia tak akan mendapatkan manfaat dalam urusan yang diusahakan di dunia dan akhirat. Agar hati jernih dan terkendali, ia niscaya dihiasi nilai-nilai keimanan dan ketaatan.

Agar suatu tempat dapat menerima apa yang akan diletakkan padanya, maka ia harus dikosongkan dari lainnya. Demikian pula untuk keyakinan dan kehendak. Jika hati dipenuhi kebatilan sebagai kesenangannya, maka tidak ada sisa tempat  untuk kebenaran dan kecintaan. Zikir adalah terbebas dari keadaan lalai dan lupa dengan lestarinya kehadiran hati bersama al-Haqq swt.

Tidakkah mereka mau mengembara di muka bumi ini, sehingga hati dan pikiran mereka dapat memahami, dan telinga mereka dapat mendengar? Bukanlah mata mereka yang buta, melainkan hati mereka yang di dalam dada. (QS 22:46).

Zikir dapat dilakukan dengan lisan, hati, dan anggota badan. Hakikat zikir ialah berkuasanya Allah swt di dalam hati. Hati yang sibuk dengan yang selain Allah tidak bisa disinggahi kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya. Lidah tidak bisa digerakkan untuk berdzikir kepada Allah dan anggota tubuh tidak bisa digerakkan untuk pengabdian kepada-Nya.

Allah tiada membuat dua jantung hati dalam dada seorang manusia, dan Ia tiada membuat istri-istrimu yang kamu ceraikan dengan zihar sebagai ibu-ibumu, juga Ia tiada membuat anak-anak angkatmu sebagai anak-anakmu; itu hanya kata-katamu yang keluar dari mulutmu… Yang diutamakan niat dalam hatimu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih (QS 33:4-5).

Tidak akan bersemayam dalam hati seorang mukmin cinta dunia dan cinta akhirat. Jika hati diisi perkataan Allah, maka hakikat Alquran dan pengetahuan tentang makna kesempurnaan dan kebahagiaan akan memenuhi hatinya. Para sahabat Rasulullah saw senantiasa menjauhkan diri dari dosa yang membinasakan.

Dalam diri manusia terdapat kelemahan terpendam yang mengundang kesalahan dan mengakibatkan maksiat, yakni sombong, tamak, dan dengki. Sombong adalah maksiat pertama yang dilakukan iblis. Tamak adalah sebab dosa pertama manusia, akibat bujukan setan/iblis kepada Adam dan Hawa. Dengki adalah sebab maksiat anak Adam yang pertama.

Dan ingatlah, Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam”, mereka pun bersujud: tidak demikian iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri; dan ia termasuk di antara mereka yang tidak beriman. (QS 2:34).

Bacakanlah kepada mereka yang sebenarnya tentang kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) ketika mereka mempersembahkan kurban. Dari yang seorang diterima, tetapi dari yang seorang lagi tidak. Kata yang belakangan, “Akan kubunuh engkau”. Yang pertama menjawab, “Allah menerima (kurban) hanya dari orang yang bertakwa”. (Al-Maidah/5:27).

Orang yang mengharap selamat harus menyingkirkan ketiga akar kesalahan tersebut dari dalam hatinya. Siapa mampu melakukannya, maka ia memperoleh petunjuk dan cinta Allah swt: membenci kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan.

Ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah; kalau dalam banyak hal ia harus mengikuti kamu, tentulah kamu akan berada dalam kesulitan. Tetapi Allah membuat kamu mencintai iman dan menjadikannya indah dalam hatimu; dan Ia membuatmu benci pada kekufuran, kefasikan, dan pendurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang benar. (QS 49:7).

Kebersihan hati membutuhkan penjagaan. Keselamatan dan kesehatan hati juga membutuhkan makanan teratur dan bermanfaat yang dapat menjaga kebersihannya. Sebelum timbul noda, perlu pengawasan, sebab perawatan lebih baik daripada pengobatan. Siapa yang ingin hatinya bersih harus dapat memanfaatkan waktu sujud, tafakur, dan istighfar. Siapa beristighfar dan bertobat, maka Allah memberinya kenikmatan.

Nabi Muhammad saw berpesan, ”Apa yang ditolak oleh hatimu, hendaknya engkau tinggalkan;” “Hati yang bersih ialah yang mengetahui dan meyakini bahwa Allah itu haq, hari kiamat itu pasti datang, dan Allah membangkitkan orang-orang yang ada di dalam kubur.” (Muhammad Ibnu Sirin); ”“Hati yang selamanya bersih adalah hati yang sehat, yakni hati seorang mukmin.” (Sa’id bin Musayyab)

“Hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari segala macam  noda dan hal-hal yang makruh.” (Ibnu Rajab Al-Hambali); “Hati yang bersih terjaga dari segala sesuatu selain Allah; dalam ibadah, kehendak dan cinta kepada-Nya. Kesehatan hati terjaga dengan ketaatan dan sakit akibat kemaksiatan. Kesehatan hati terjaga oleh iman yang benar, ilmu yang bermanfaat, dan amal shalih.” (Ibnu Taimiyyah).

Hati nurani adalah suara abadi dari kebenaran dan keadilan; suara yang tak dapat dibungkam oleh apa pun juga, yang diperintahkan oleh Tuhan untuk memperingatkan kita dan yang menuntut kita sebelum Tuhan berbicara.”(Bossuet); ”Hati adalah Al-Quran yang sesungguhnya, dan mestinya hanya ditempatkan di mana keimanan dan kecintaan kepada Allah bersemayam. Tubuhmu adalah sebuah kitab dan hatimu adalah surga; kearifanmu adalah cahaya yang gemilang.” (MR Bawa Muhaiyaddeen).

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
6
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals