Kajian Semantik Kata Tahun (‘Aam dan Sanah) dalam Al-Qur’an: Serupa Namun Tak Sama

Tampaknya redaksi kata tahun dalam Al-Qur’an menggunakan dua varian kata yang berbeda yakni ‘aam dan sanah. Namun ternyata keduanya berbeda dalam segi makna.


Kata-tahun-dalam-al-quran
Sumber Gambar: Pelita.online

Tampaknya redaksi kata yang menunjukkan makna tahun dalam Al-Qur’an menggunakan dua varian kata yang berbeda yakni ‘aam dan sanah. Dalam beberapa kamus bahasa Arab – Indonesia, baik berupa kamus cetak maupun kamus online, kata ‘aam dan sanah selalu diartikan sama, yaitu: tahun. Namun kalau menilik lebih jauh ke dalam  Al-Qur’an ternyata keduanya memiliki makna yang berbeda.

Al-Qur’an  menunjukkan bahwa kedua kata tersebut memang memiliki indikasi makna tahun, akan tetapi perbedaan keduanya akan terlihat jelas tatkala Al-Qur’an menggunakan kedua diksi tersebut dalam pemaknaan yang berbeda, sesuai dengan konteks yang ada.

Dalam “al-Mu’jam al-Mufahrash lialfaazhil Qur’an al-Karim” yang dikarang oleh Muhammad Fuad al-Baqi, kata sanah disebutkan dalam 2 bentuk, plural/jamak dan singular/mufrad. Bentuk jamak terulang sebanyak 12 kali dan bentuk mufrad terulang sebanyak 7 kali. Sedangkan kata ‘aam disebutkan dengan 2 bentuk, singular/mufrad dan mutsanna. Bentuk mufrad disebutkan terulang sebanyak 8 kali, dan dari bentuk tasniyah terulang sebanyak 1 kali.

Pengertian‘Aam dan Sanah 

Dalam kitab “Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Ma’ashir” yang dikarang oleh Dr. Ahmad Mukhtar Abdul Hamid Umar (1424 H), dijelaskan terkait makna dasar dari ‘aam dan sanah, yaitu:

عَامٌ [مفرد]: ج أَعْوَامٌ : سَنَةٌ، وَهِيَ أَرْبَعَةُ فُصُوْلٍ، أَوْ اثْنَا عَشرَ شهرًا

“‘Aam adalah mufrad dan bentuk jamaknya A’waam: Tahun yang terdiri dari 4 musim atau terdiri dari 12 bulan.”

Terkait kata sanah, dalam kamus Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Ma’ashir disebutkan :

سَنَةٌ [مفرد]: ج سِنون وسَنَوَات: فَتْرَةٌ مِنَ الزَّمَنِ مُدَّتُهَا اثْنَا عَشرَ شَهْرًا, يبلغ أيامها 365 يومًا

“Sanah adalah mufrad dan bentuk jamaknya adalah Sinwan dan Sanawat : jarak sebuah waktu yang panjangnya 12 bulan dan terdiri dari 365 hari.”

Dari kedua pengertian makna dasar di atas sekilas terlihat bahwa makna ‘Aam dan Sanah menunjuk pada makna yang sama yaitu ‘tahun’ yang terdiri dari 12 bulan, akan tetapi kata Sanah dijelaskan lebih spesifik daripada ‘Aam dengan penjelasan bahwa ia terdiri dari 365 hari. Dalam hal ini Al-Qur’an juga menggunakannya dalam konteks tertentu, sehingga nantinya memunculkan makna relasional yang khas.

Di kitab “al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an” disebutkan pengertian yang lain, yaitu bahwa kata ‘Aam mirip dengan kata Sanah, akan tetapi kata Sanah digunakan untuk menunjukkan dalam sebuah tahun terdapat banyak keadaan yang sulit, seperti bencana, paceklik dan lain sebagainya. Sedangkan kata ‘Aam sendiri menunjukkan sebuah tahun yang di dalamnya terdapat banyak kebaikan, kemaslahatan, kemakmuran dan lain sebagainya.

Contoh dari Al-Qur’an:

Mari kita lihat contoh yang ditampilkan Al-Qur’an untuk membedakan makna keduanya, Allah berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ (14)

“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim”(QS. al-‘Ankabut [29]:14)

Dari lafazh (فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا), konteks ayatnya menerangkan tentang kisah Nabi Nuh yang diutus kepada kaumnya untuk berdakwah selama 1000 tahun kurang 50 tahun. Dia didustakan oleh kaumnya selama 950 tahun sehingga akhirnya Allah mengazab kaum tersebut dengan menimpakan kepada mereka banjir yang sangat besar dan akhirnya menenggelamkan mereka semua. Selanjutnya setelah bencana itu terjadi Allah memberikan kemakmuran pada Nabi Nuh dengan hidup bersama kaumnya selama 50 tahun sebelum akhirnya beliau wafat. (al-Munir :1418 H)[1].

Ketika melihat ayat di atas, terlihat jelas bahwa Al-Qur’an menggunakan 2 diksi kata tahun sekaligus (‘aam & sanah). Terlihat kata sanah  dipilih Al-Qur’an untuk menunjukkan kesukaran Nabi Nuh dalam berdakwah selama 950 tahun, kemudian kata ‘aam untuk menunjukkan kemakmuran yang Nabi Nuh alami setelah datangnya azab dari Allah. Hal ini menunjukkan bahwa ketika Al-Qur’an menghendaki makna yang berbeda, diksi kata yang digunakan pun berbeda.

Pada ayat lain Allah SWT berfirman:

ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ (49)

“Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).” (QS. Yusuf [12]: 49)

Dari lafazh (ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ عَامٌ فِيهِ), konteks ayatnya menerangkan tentang ta’wil Nabi Yusuf terkait mimpi Raja Mesir saat itu. Bahwasanya setelah datangnya tahun-tahun kesulitan bagi Mesir saat itu, akan datang tahun-tahun di mana di dalamnya semua orang akan merasakan kemakmuran, mereka akan menikmati hujan (karena melimpah ruah) dan lain sebagainya (al-Munir :1418 H)[2]. Nampak jelas bahwa diksi (kata tahun) yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan kemakmuran yang akan datang pada masa itu adalah kata ‘Aam.

Jadi, dari paparan di atas terbukti bahwa walaupun kata ‘aam dan sanah sama-sama bermakna tahun di satu sisi. Namun di sisi lain keduanya memiliki perbedaan makna sebagaimana yang tergambarkan pada contoh aya-ayat di atas, yang mana kata sanah digambarkan dengan tahun yang di dalamnya terdapat banyak kepayahan dan penderitaan. Sedangkan kata ‘aam digambarkan dengan tahun yang didalamnya terdapat banyak kemakmuran dan kebahagiaan. Wallahu’alam.

Refrensi:

  • Ahmad Mukhtar Abdul Hamid Umar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Ma’ashir (maktabah shamila)https://al-maktaba.org/
  • Husain bin Muhammad dikenal dengan ar-Raghib al-Ashfahani  al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an(maktabah shamila)https://al-maktaba.org/
  • Muhammad Fuad al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahrash lialfaazhil qur’an al-Karimhttps://waqfeya.net/book.php?bid=1392
  • Wahbah bin Mustafa az-Zuhaili , al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa asy-Syari’ah wa al-Manhaj (Damaskus : Darul Fikr, 1418 H) . (maktabah shamila)https://al-maktaba.org/

[1] Wahbah bin Mustafa az-Zuhaili , al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa asy-Syari’ah wa al-Manhaj (Damaskus : Darul Fikr, 1418 H) jld.20 hlm. 208

[2]Wahbah bin Mustafa az-Zuhaili , al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa asy-Syari’ah wa al-Manhaj (Damaskus : Darul Fikr, 1418 H) jld.12hlm. 275

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 5

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals