Menapaki Jalan Cinta Bersama Rumi

Review buku "Ngaji Rumi: Kitab Cinta dan Ayat-ayat Sufistik" karya Afifah Ahmad


Judul: Ngaji Rumi: Kitab Cinta dan Ayat-ayat Sufistik

Penulis: Afifah Ahmad

Penerbit: Afkaruna.id

Tahun Terbit: 2021

Kota Terbit: Bandung

Jumlah hlm: 224

ISBN: 9-786239-372873

Saya cukup beruntung menjemput buku ini secara langsung dari Achmad Fathurrahman, orang yang terlibat langsung dalam proses penerbitannya. Momen ini saya manfaatkan untuk bertanya alasan dia berani menerbitkan buku ini. Ia tanpa ragu menjawab, “Ini adalah buku langka tentang tasawuf yang menjelaskan puisi-puisi Rumi dengan merujuk pada sumber aslinya yakni bahasa Persia.”

Sebagaimana diketahui, Rumi menuliskan puisi-puisi dalam Matsnawinya menggunakan bahasa Persia. Sementara, karya-karya sebelumnya tentang Rumi umumnya mengacu pada sumber berbahasa Arab atau Inggris. Penguasaan Afifah Ahmad sebagai penulis terhadap bahasa Persia menjadi poin istimewa dalam buku ini. Dengan demikian, referensi yang digunakannya sangat otoritatif.

Di tangan Afifah, puisi-puisi Rumi menemukan relevansinya bagi kehidupan kontemporer. Puisi-puisi Rumi yang ditulis ratusan tahun yang lalu dibuktikan olehnya mampu memberikan jawaban dan bimbingan bagi manusia hingga saat ini. Itu artinya, puisi-puisinya mengandung petuah kebijaksanaan yang dapat diterima secara universal.

Afifah membagi bukunya ke dalam enam bagian yakni Konsep Cinta dan Manusia, Perempuan dan Kesetaraan, Etika Sosial, Toleransi, dan Perdamaian, Beribadah dengan Bahagia, Rumi dan Karya-Karyanya yang Membersamainya, dan Album Puisi Rumi.

Konsep cinta dan manusia dijadikan pembuka dalam buku Ngaji Rumi ini. Namun sebelum membedah konsep cinta, penulis dengan piawai mengupas secara singkat perjalanan hidup Rumi sampai ia menapaki jalan spiritual dan menjadi seorang pecinta.

Afifah menyebutkan, “Membincang Rumi tanpa menyebut kata cinta adalah kemustahilan. Rumi dan cinta adalah dua hal yang selalu melekat (hlm. 30).” Cinta bagi Rumi adalah anugerah dari Tuhan yang menggerakkan, membahagiakan, dan tidak mengharap balasan. Dengan konsep cinta, Rumi memberi petunjuk kepada manusia untuk menapaki jalan spiritual menuju Tuhan.

Konsep tasawuf cinta ini ternyata juga menjadi landasan Rumi untuk membincang isu-isu sosial seperti kesetaraan gender, toleransi, dan perdamaian. Isu-isu ini bahkan sampai sekarang selalu mengundang perdebatan dan menarik untuk didiskusikan.

Dengan diangkatnya isu-isu tersebut, Afifah ingin menegaskan bahwasanya tasawuf cinta Rumi dapat berperan dalam transformasi sosial. Mungkin selama ini kita berpikir bahwa tasawuf hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Padahal, tasawuf juga berbicara tentang sosial dan bahkan isu lingkungan.

Oleh Afifah, puisi-puisi Rumi terkait tema tertentu menjadi jelas maknanya. Bahasanya mudah dicerna, sehingga dapat dipahami dengan mudah bahkan oleh orang awam sekalipun. Saya bisa katakan ini adalah buku syarah atau penjelasan yang membawa kita semakin dekat dengan Rumi sekaligus dapat memberikan pengantar untuk memahami maksud puisi-puisi indahnya.

Jujur sebelum membaca buku ini, saya hanya menikmati keindahan puisi-puisi Rumi tanpa memahami maksud sebenarnya. Afifah memberikan saya loncatan untuk menyelami samudera makna puisi-puisinya.

Ini adalah buku yang sayang untuk dilewatkan baik bagi yang hendak berkenalan dengan Rumi ataupun pecinta Rumi yang sudah lama. Afifah berhasil menguliti pandangan- pandangan Rumi terkait tema-tema spesifik, kemudian dihubungkan dengan konteks kekinian.

Gaya Afifah membedah bait perbait puisi Rumi mengingatkan saya terhadap tradisi bandongan di pesantren. Maka sangat tepat jika judul buku ini adalah Ngaji Rumi. Hanya saja ini versi tulisan bukan lisan. Metode tradisional yang dipadukan dengan kekuatan referensi dan daya analisisnya menyajikan Ngaji Rumi ini ringan dipahami, tapi berbobot secara makna.

Urgensi buku ini sangat penting dalam kehidupan kontemporer. Ia menawarkan tasawuf yang berlandaskan cinta sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan saat ini yang perlahan kehilangan dimensi kedalaman (spiritual). Sekaligus menjadi kompas untuk bertransformasi, meminjam kalimat Nevzat Tarhan, dari zaman informasi ke zaman kebijaksanaan.

Yang pasti, kita diajak kembali menjelajahi samudra cinta Rumi dan tanpa disadari kita telah tenggelam dalam kebahagiaan hakiki.

 

 

 

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Resensi

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals