Enam Etika dalam Hidup Manusia

Melalui berpikir terlebih dahulu sebelum menulis itu artinya ada kesadaran diri bahwa rangkaian kata itu memiliki kekuatan yang besar untuk mempengaruhi.


Sumber gambar: Instagram.com/ulama.nusantara

Mana Ada Kehidupan yang Merdeka?

Hidup di dunia fana tak pernah benar-benar sampai pada keadaan yang merdeka. Sekalipun merdeka sejatinya hanya sekadar perasaan semata. Persepsi yang melulu dibenarkan dengan berbagai alibi untuk menegaskan dimana posisi kemerdekaan seseorang berada. Berada di titik mana ekspektasi kemerdekaan itu diletakkan sebenarnya.

Percaya atau tidak, demi identitas kemerdekaan itu masing-masing kita terus memintal segunung asumsi yang disandarkan pada sesuatu yang dipandang bertuah-istimewa. Entah itu istimewa karena nasabiahnya yang terjaga (red; kehormatan, martabat), kekuasaan yang meliputinya ataupun kegelimangan harta.

Atau memang kemerdekaan itu dipahami sebagai kemandirian, ketidaktergantungan atas segala apa dan ketidakadaan sesuatu yang mengikat semena-mena. Bebas, sebebas-bebasnya. Bebas untuk melakukan apa-apa. Seperti halnya lelaku mereka-mereka yang membebaskan ke mana arah dan tujuan hidupnya. Tanpa mengekang diri dengan segenap pertanyaan yang dimulai dengan; mengapa, kenapa dan untuk apa (?).

Pada kenyataannya tidak demikian. Kehendak atas kemerdekaan-kebebasan-itu bersimpuh pada nalar insaniah. Nalar yang dimiliki atas dasar kemakhlukan. Salah satu di dalamnya berkaitan erat dengan etika. Tatanan norma dan kode etik yang menempatkan dan mendikte kesadaran manusia harus melakukan apa.

Orang (yang waras) bisa saja menyangkal secara leluasa melakukan ini-itu dalam hidupnya tanpa terpaksa dan sesuai kehendak kemerdekaannya. Tapi tetap saja, kebenaran habitus yang telah lama mengerak di kepala, dapat menjadi hakim terbaik yang tidak disadarinya. Termasuk pula hati nurani yang tidak pernah mampu dibohonginya.

Jika telanjur lacur atas nama kehendak dan ekspektasi kebebasan maka lambat laun rapuhlah keajegan hidup kita. Hal itu dibuktikan dengan adanya perasaan salah-menyesal- yang ditandai dengan keresahan, kegelisahan dan dongkol yang menggurita di hati kita.

Baca juga: Merampas Waktu Bermain

Di antara sekian banyak etika yang berlaku dalam hidup, penataan personal menjadi kunci utama sebagai pusatnya. Adapun enam etika yang harus kita tanamkan dalam masing-masing diri kita ialah sebagai berikut.

Sebelum Bicara Dengarkan Terlebih Dahulu

Komunikasi Intensif di antara sesama manusia sangatlah penting. Wujud komunikasi dapat berbentuk verbal ataupun non verbal seperti gesture dan ekspresi wajah yang lebih spesifik. Tidak menutup kemungkinan, kedipan mata, belaian rambut, menepuk kening, menggaruk telinga adalah bahasa komunikasi yang berlaku dalam lingkungan orang-orang tertentu.

Komunikasi verbal ataupun non verbal ini hanya dapat dibangun tatkala masing-masing di antara kita berusaha menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan segala sesuatu yang diucapkan oleh kawan bicara kita sangatlah penting.

Mendengarkan terlebih dahulu menjadi kunci sukses membangun kesamaan persepsi dan pemahaman atas topik pembicaraan yang sedang dibahas pada satu waktu tertentu. Bisa saja, karena teledor dan malas mendengar perkataan orang lain (red; lawan bicara) itu menjadi buah simalakama versi ketidaksadaran. Utamanya, topik pembicaraan itu berkaitan dengan sesuatu hal penting dalam kehidupan kita.

Nah lo… Mau apa terusan??? Masih mending itu bisa diulang. Seandainya tidak? Menyesal iya.

Sebelum Belanja Hasilkan Terlebih Dahulu

Sebagian besar di antara kita selalu menimbun banyak hal yang diidam-idamkan dalam kehidupan. Entah itu hendak memiliki ataupun membeli sesuatu. Sesuatu yang menurut kita inginkan dalam satu waktu tertentu.

Tapi masalahnya, jujur atau tidak, hasrat belanja atas sesuatu yang diidam-idamkan itu terkadang hadirnya lebih besar daripada penghasilan kita. Utamanya yang masih hidup mandiri (single), katanya sebagian besar tidak mampu mengelola antara pemasukan dan pengeluaran.

Untung tidak, boros iya. Cita-cita terbesarnya menyisihkan uang untuk modal nikah atau membuka usaha, namun kenyataannya ngutang mulu pada tetangga. Katanya si… ijab kabul itu obat terampuh mengatasinya. Uhuk, Uhuk, Uhuk. Kok tiba-tiba keselek ya. Ah malu dong Bang, Bang. Kok buka aib di sini. Kaburrr.

Harusnya sih, justru karena masih single itu banyak-banyakin belajar menata ruang kehidupan sehari-hari untuk menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Bagaimanapun kalau tidak dimulai dari sekarang mau kapan lagi? Kalau tidak dimulai dari diri sendiri dari siapa lagi? Ayo menjadi generasi yang baik dan cerdas dengan menata keuangan yang baik dari sekarang. Ayo menabung. Eh, kok malah jadi duta bank anu ya. (Tiiittt nama bank disensor).

Sebelum Menyerah Cobalah Terlebih Dahulu

Memiliki harapan, motivasi dan semangat juang adalah kunci untuk menjalani hidup. Hampir-hampir tidak ada nafas kehidupan yang berhasil menjamah tubuh bumi tanpa adanya setitik harapan, motif dan semangat juang yang ditanamkan pada sanubari.

Berusaha melakukan sesuatu lebih baik daripada menyerah sebelum mencoba. Dalam terminologi Bahasa Sunda hal itu disebut dengan istilah “Kumeok samemeh dipacok” (kalah sebelum bertarung). Rumus sederhananya, berusaha sama dengan bergerak. Bergerak dalam konteks usaha akan mampu menuai hasil meskipun itu tidak sesuai ekspektasi. Artinya, selama kita terus bergerak, kita akan terus menuai hasil.

Berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian. Cikacarak ninggang batu lila-lila jadi dekok, (red; Bahasa Sunda, layaknya tetes air yang menimpa batu lama-lama menjadi berlubang). Begitu pun dengan gerakan (usaha) yang terlatih akan terarah menjadi hasil yang tiada terkira. Yakinlah tidak hasil yang membohongi proses.

Meski demikian, jauh-jauh hari Albert Camus mengingatkan; He who despairs of the human condition is a coward, but he who has hope it is a fool. Penegasan Camus ini menunjukkan bagaimana cara kita menghadapi kenyataan hidup di dunia. Hiduplah hari ini jangan mudah tertipu berjibun harapan dan tenggelam di dalamnya. Di saat sekarang, bergerak dan menempa diri dengan penuh kesadaran itu penting.

Sebelum Menulis Pikirkan Terlebih Dahulu

Tidak hanya memuai dalam tutur kata, pada kenyataannya menulis pun harus dipikirkan terlebih dahulu. Menuangkan ide pikiran itu tak semudah bertutur kata. Begitu juga sebaliknya. Dapat dipastikan ada proses reduksi makna asali yang terus-menerus menjadi sangat sederhana.

Berpikir sebelum menulis itu berarti berhati-hati. Berhati-hati itu adalah upaya mengkonsentrasikan konsep alur dan pemilahan kata yang tepat untuk menyampaikan informasi yang menarik kepada publik supaya nampak apa adanya. Tidak mbulet. Tidak rumit. Tidak memusingkan kepala siapa pun yang membaca.

Melalui berpikir terlebih dahulu sebelum menulis itu artinya ada kesadaran diri bahwa rangkaian kata itu memiliki kekuatan yang besar untuk mempengaruhi, menempatkan dan menggerakkan kehendak orang lain di luar dirinya.

Bisa saja, ada banyak motif dan harapan tertentu yang hendak diraih melalui menulis. Sehingga tidak heran apabila melalui tulisan keadaan sosial masyarakat tertentu bisa menjadi chaos. Melalui tradisi menulis bisa saja membawa keberuntungan atau kebuntungan bagi sang empunya. Terlebih lagi jika seorang penulis menyadari, bahwa tulisan yang telah dipublish di media tertentu tidak dapat diketahui nasibnya.

Multitafsir tidak dapat dibantahkan lagi. Multi penghakiman tak dapat terelakkan lagi. Tapi mau diapa, menuliskan sesuatu pada media tertentu lebih berarti daripada mengoceh lantang sampai berbusa-busa. Walaupun itu hingga menguap hingga memenuhi alam semesta.

Sebelum Istirahat Kerja Terlebih Dahulu

Bergerak dalam upaya berusaha pada akhirnya menunjukkan manusia pada kegiatan yang disebut kerja. Kerja dalam bentuk apapun itu sudah pasti bergerak atas motif satu kepentingan tertentu. Entah itu karena hendak memenuhi kebutuhan hidup, kepentingan eksistensi atau atas apapun itu.

Dalam kehidupan sosial masyarakat, kadang kala profesi kerja menjadi salah satu bagian vital yang menentukan derajat dan martabat manusia. Saking vitalnya, banyak orang yang menghubungkan tingkat pendidikan dan profesi kerja apa yang digelutinya dalam kehidupan nyata. Dan ini seakan-akan menjadi topik menarik perbincangan banyak tetangga.

Hampir-hampir, ketidaksinkronan antara pendidikan dan profesi kerja menjadi bahan cibiran yang layak dihakimi setiap orang tanpa memikirkan akibatnya. Ada kecenderungan, seolah-olah setiap orang berhak mendikte ke mana arah muara dan ‘keharusan’ seseorang menggeluti satu profesi tertentu. Sehingga, jika tidak sesuai dengan kehendak tetangga bak dosa besar telah dilakukannya.

Bayang-bayang tuntutan dan ekspektasi orang-orang yang kerap kita sebut dengan tetangga itu terkadang menjadi bahan pikiran yang banyak mencekal waktu istirahat kita. Bekerja di rumah dipandangnya nganggur. Mengganti antara waktu istirahat dengan jam kerja dipandangnya tidak kompeten. Waktu kerja yang tidak proporsional dipandangnya kurang profesional. Terlebih lagi, berusaha merintis kerja dari nol, dicacinya, “buat apa berpendidikan tinggi? Jika akhirnya tidak bekerja di kantoran”.

Yah, mungkin demikianlah cara paradigma kolonialisme bekerja di pikiran kita. Persisnya di pikiran saya. Seperti halnya kita belajar membaca; “Ini Budi. Ibu Budi pergi ke pasar. Ayah Budi pergi ke kantor”.

Istirahatlah yang cukup setelah bekerja. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu bekerja dan mengembangkan potensi diri di lain waktu. Mungkin, mereka-mereka yang mampu menembus ketidakwajaran untuk menempa diri menjadi lebih baik saja yang teramat beruntung.

Terkait dengan profesi kerja, Steve Henry dalam salah satu bukunya terbitan PT. Ufuk Publishing House, “You are Really Rich You Just Don’t Know It”, yang digadang-gadang sebagai buah tangan Bestseller Change The World for a Fiver menegaskan, betapa seringnya manusia banyak mengorbankan waktu kebersamaan dengan keluarga untuk mengejar-ngejar kesibukan dalam pekerjaannya.

Bukankah bekerja ditemani ataupun berada dekat dengan keluarga tercinta lebih menenangkan daripada bertaruh nyawa jauh melintasi samudera? Betapapun demikian, sebagian besar dari kita lebih sibuk mencari-cari kebahagiaan yang bersumber pada materi yang kita sebut dengan harta, uang utamanya.

Padahal kebahagiaan itu seperti halnya yang disampaikan Al-Ghazali; “Ia yang mengenal dirinya adalah yang merasakan kebahagiaan sejati”.

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbuhu, (barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya). Hadits Rasulullah Saw.

Baca juga: Jangan Mati Sebelum Mati

Sebelum Mati Manfaatlah Terlebih Dahulu

Satu hal terpenting lagi yang harus dicatat. Manfaatkanlah segala potensi yang ada di dalam dirimu untuk kebaikan sebelum menutup mata terakhir di dunia.

Kebaikan di sini berarti berusaha berbuat baik sesuai porsinya. Berbuat baik dalam dimensi vertikal dan horizontal. Menjalankan segala kewajiban dan ketaatan sesuai amar makruf nahi mungkar sesuai firman sang pencipta. Berusaha memberikan teladan yang terbaik kepada sesama manusia. Serta memperlakukan alam semesta sesuai kodratnya tanpa mengeksploitasinya.

Dari sekian banyak contoh memberikan kemanfaatan diri sebelum mati ialah dengan menciptakan karya. Salah satunya ialah mengabadikan ide dan gagasan kita melalui buku. Melalui buku itulah kita berusaha berinteraksi melintasi hiruk-pikuk zaman yang berbatas kehidupan yang fana.

Selain itu, siapa tahu saja melalui rangkaian kata, rajutan kalimat dan sebatang paragraf yang ada di buku itu mampu menginspirasi dan membukakan pintu pemahaman dan pengetahuan mereka yang membaca. Semoga saja itu menjadi amal jariyah kelak kita. Amin.

Tulungagung, 5 Januari 2021.

Editor: Sukma Wahyuni

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Hikmah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals