Suara

Dalam dua hari ke depan kata 'suara' atau secara umum dalam dua tahun ini, akan menjadi sangat populer.


Ditemukan banyak ungkapan yang terkait dengan kata “suara”. Namun demikian, arti dari ungkapan-ungkapan tersebut sudah bergeser dari kata aslinya. Ungkapan-ungkapan itu lebih bersifat simbolik dan konotatif.

Sejumlah ungkapan yang biasa dipakai dalam konotasi tertentu antara lain: bersuara keras, bersuara nyaring, bersuara lantang,bersuara miring, bersuara sumbang, bersuara rendah, suaranya tenggelam, suaranya pedas,  buka suara, membawa suara, mewakili suara, jual beli suara,surat suara, bilik suara, tempat pemungutan suara, kotak suara, penghitungan suara, penggelembungan suara, dan seterusnya.

Pada saat bersamaan, ditemukan juga ungkapan yang agak berbeda, tetapi memiliki konotasi yang serupa. Ungkapan-ungkapan itu antara lain: bernyanyi, bernyanyi seenaknya, nyanyiannya sumbang, nyanyiannya miring, nyanyiannya tidak enak didengar, nyanyiannya ketus, nyanyiannya pedas, dan seterusnya.

Untuk mengetahui kepastian dari setiap ungkapan di atas tentu harus memperhatikan konteks kalimat yang mengapitnya. Misalnya: “para anggota DPR sering bersuara lantang”, “para demonstran bersuara nyaring dalam menyampaikan aspirasinya”, dan “para pejabat yang tertangkap KPK bernyanyi di pengadilan tentang siapa saja yang terlibat”.

Dalam dua hari ke depan kata ‘suara’ atau secara umum dalam dua tahun ini, akan menjadi sangat populer. Perbincangan terkait kata ini akan terjadi sejak dari orang awam atau masyarakat kebanyakan, para ilmuwan, para politisi, dan tentu lembaga-lembaga survei. Kata ‘suara’ ini, bahkan bisa jadi ramai dan akan berujung ke dan di pengadilan.

Fokus yang harus diperhatikan terkait kata ini adalah pada si pemiliknya. Apakah si pemilik ‘suara’ betul-betul menggunakannya secara rasional-kritis, emotional-simpatik,  emotional-pragmatis, atau justru benar-benar pragmatis.

Para pemilik suara dalam banyak hal tidak lagi bersifat rasional-kritis. Sebagian dari mereka berada pada kategori tiga yang yang terakhir. Para loyalis misalnya, tentu tidak lagi berpikir rasional-kritis. Fanatisme yang demikian kuat misalnya, akan membuat dan bisa menutup akal sehat mereka.

Para loyalis pada umumnya bisa berada pada posisi emosional-simpatik dan emosional-pragmatis. Sedang di luar kelompok tersebut, mereka bisa menyebar pada empat kategori di atas. Adapun yang paling riskan ada pada kategori keempat, yaitu benar-benar pragmatis.

Kategori keempat inilah yang menjadi penyebab suburnya politik uang. Tidak dapat disangkal, bahwa dalam proses pengumpulan suara, banyak agen-agen yang siap menjadi kepanjangan tangan dari ‘seseorang’ atau ‘suatu partai’. Serangan Fajar hanyalah merupakan bagian kecil dari serangkaian serangan terselubung dan juga serangan terbuka yang sudah terencana.

Suara oh suara, batapa menariknya kamu. Demi kamu, banyak pihak terus menerus mengincarmu kapan dan di mana pun. Mereka bahkan rela menggadaikan kehormatannya hanya demi kamu. Suara oh suara, kamu bagai buah simalakama,  kamu bisa mengangkat kedudukan seseorang, tapi sekaligus menjerumuskannya. Wallahu a’lam.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ajat Sudrajat

Warrior

Prof. Dr. Ajat Sudrajat, M.Ag adalah Guru Besar pada Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta, Dosen pada Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Porgam Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta. Menulis dan menerjemahkan sejumlah buku.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals