Polemik Pernyataan Menag Yaqut Cholil Qoumas

Hanya ada satu cara untuk menghindari kritik, yaitu tidak melakukan apa-apa, tidak mengatakan apapun, dan tidak menjadi apapun.


Sumber gambar: merdeka.com

Akhir-akhir ini dunia persosialan dan media dihebohkan dengan beberapa kejadian. Ya, bukan media sosial namanya kalau tidak mengandung nilai kehebohan. Kehebohan tersebut mulai dari hal yang sepele maupun yang berat. Hal yang sepele dan receh misalnya kita pernah dihebohkan dengan berita artis Nia Ramadhani yang tak bisa mengupas salak, atau Rafathar mendapat nilai jelek dan lain sebagainya. Hal yang berat misalnya pernyataan presiden Jokowi yang katanya Indonesia punya uang di Swiss yang nilainya 11.000 Triliun, atau kejadian tewasnya anggota TNI oleh KKB di Papua.

Nah, minggu-minggu ini kita turut juga mendengar berita yang heboh. Mulai dari kekalahan beruntun Barcelona di laga El Clasico, pembantaian MU oleh Liverpool, dan yang ingin dikupas kali ini yaitu pernyataan kontroversial Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas atau yang lebih dikenal dengan Gus Yaqut. Pernyataannya yang mengatakan “Kemenag adalah hadiah negara Untuk NU (Nahdlatul Ulama)” lantas memenuhi tagline media saat ini.

Lantas mengapa ini bisa terjadi? Hal ini tak pernah lepas dari yang namanya sudut pandang (point of view). Tentu dalam hal ini terdapat masyarakat yang pro dan yang kontra. Jika kita berpijak ke masyarakat yang membela dengan pernyataan Gus Yaqut tersebut, kita akan dengan mudah menjawab dan mengklarifikasinya. Pernyataan tersebut tentunya disampaikan di dalam internal NU dengan tujuan untuk memotivasi para santri untuk selalu giat belajar sehingga mendapat kedudukan yang nantinya dipakai untuk kemaslahatan umat. Lagi pula video itu merupakan potongan yang jika ditonton secara lengkap pernyataan tersebut erat kaitannya dengan cikal bakal berdirinya Kementrian Agama pasca-kemerdekaan. Lantas di mana salahnya pernyataan tersebut?

Baca Juga: Demensia Pejabat Publik dalam Masa Pandemi

Sedangkan jika kita berpihak ke kubu kontra, tentu pernyataan ini mengandung polemik. Pernyataan tersebut seolah-olah negara memberikan semacam feedback (timbal balik) atas dukungan NU pada pilpres 2019 kemarin. Dengan kata lain, jabatan Menteri Agama yang diberikan bukan atas kapabilitas sebagai Menteri melainkan bagi-bagi jabatan. Lagi pula Gus Yaqut tidak sekali dalam membuat pernyataan kontroversial. Jika diulas balik setidaknya ada beberapa pernyataan beliau yang mebuat heboh jagat medsos. Pernyataan akan melindungi kaum Ahmadiyah, mengucapkan selamat hari raya kepada pemeluk Baha’i juga membuat kita terheran-heran.

Namun di balik semua itu, saya tertarik dengan pernyataan filsuf Yunani, Aristoteles, “There is only one way to avoid criticism: do nothing, say nothing, and be nothing.” Artinya kurang lebih begini, “Hanya ada satu cara untuk menghindari kritik, yaitu tidak melakukan apa-apa, tidak mengatakan apapun, dan tidak menjadi apapun.” Nah, intinya di sini menjadi publik figur memang tidak lepas dari kritikan dan kontra.

Jika tidak ingin mendapat kritikan, maka janganlah menjadi apapun dan siapapun. Jadilah masyarakat biasa. Mendapat kritikan dan ketidaksetujuan sudah menjadi resiko. Artinya pro dan kontra dalam kehidupan itu memang sudah menjadi hukum alam, lebih lagi jika kita seorang tokoh. Kita tidak akan bisa membuat senang siapapun dan membuat puas siapapun. Keberadaan kubu yang kontra juga diperlukan supaya terjadi adanya keseimbangan dalam ekosistem politik suatu negara.

Jadi, yang penulis ingin sampaikan bijaklah dalam menggunakan media sosial. Jika kita seorang tokoh atau publik figur, alangkah baiknya kita memikirkan dahulu sebelum berucap. Walaupun maksud yang kita sampaikan benar, tetapi menggunakan diksi yang kurang tepat, tentu akan menjadi salah sasaran. Hal ini sesuai dengan kaidah Arab, “لكل مقام مقال و لكل مقال مقام “ Artinya tiap perkataan ada tempatnya. Jika kita berhadapan dengan masyarakat awam, maka gunakanlah bahasa yang mudah dipahami dan dicerna.

Ada juga kaidah lain yang mengatakan, “خاطبوا الناس بقدر عقولهم” Maksudnya, berbicaralah kepada manusia sesuai dengan ukuran pengetahuan mereka. Kita sama-sama tahu masyarakat Indonesia masih banyak yang memiliki tingkat literasi yang rendah. Hendaknya sebagai pejabat tidak memberikan pernyataan yang ambigu dan nyeleneh. Sebagai masyarakat dan pengguna media sosial, kita jangan mudah terpengaruh dengan berita-berita yang belum jelas duduk perkaranya. Oleh karena itu hendaknya kita mengedapankan tabayyun (cek dan ricek) sebelum menilai sesuatu.

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Rizki
Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals