Talbis Iblis “Godaan Iblis terhadap Orang-orang Awam”

"..banyak orang yang berperang tapi tidak mengetahui secara pasti siapa yang diperangi.."


kabarmakkah.com

Iblis adalah musuh yang nyata bagi umat manusia dari zaman Nabi Adam AS sampai nanti terjadinya hari kiamat. Pekerjaan iblis hanyalah menggoda manusia agar kafir terhadap Allah SWT. Kapasitas kuat tidaknya godaan iblis terhadap seseorang ditentukan oleh ilmu yang dimiliki orang tersebut.

Semakin bodoh seseorang, semakin banyak dan beraneka ragamlah cara iblis menggodanya. Semakin kuat dan banyak keilmuan seorang hamba, maka semakin sulit iblis menguasai orang tersebut. Sehingga iblis harus mencari celah dengan teliti untuk menyesatkan orang yang berilmu itu. Berikut ini disajikan beberapa paparan singkat dan jelas mengenai talbis iblis pada orang awam:

Iblis datang menghampiri orang awam yang tidak memikirkan apa-apa, lalu iblis membuat orang itu berfikir mengenai zat Allah dan sifat Allah, sehingga ia merasa ragu terhadap Allah.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya salah seorang dari kamu akan didatangi syetan, lalu bertanya: “Siapakah yang menciptakan kamu?” lalu dia menjawab, “Allah”. Syetan berkata: “Kemudian siapa yang menciptakan Allah?”. Jika salah seorang dari kamu menemukan yang demikian, maka hendaklah dia membaca amantu billaahi wa rasuulih (aku beriman kepada Allah dan RasulNya), maka godaan yang demikian itu akan segera hilang darinya.”

Kewajiban seorang hamba adalah berfikir tentang makhluk, bukan berfikir tentang Allah sebagai Tuhan. Mengapa demikian? Karena keluasan ilmu manusia hanyalah setetes dari samudera ilmu Allah. Bagaimana bisa manusia sebagai makhluk yang hanya dititipi ilmu sedikit saja akan mengukur Allah yang Maha Segala-galanya dengan pengetahuannya yang sedikit itu?

Tidak bisa dan tidak boleh dilanjutkan! Allah mengutus manusia untuk bertafakkur pada penciptaan langit, bumi, dan ciptaan-ciptaan Allah lainnya. Bukan bertafakur yang orientasinya langsung kepada Allah.

Selain itu, iblis juga mendatangi orang awam ketika orang tersebut mendengarkan atau membaca sifat-sifat Allah. (Tidak demikian), tetapi kedua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. (QS. Al-Maidah: 64). Lalu iblis merasuk dan membuat orang itu berfikir bagaimana bentuk tangannya Allah? Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa lalu Dia bersemayam di atas Arsyi. (QS. Al-A’raaf: 54).

Iblis pun membuat orang itu berfikir untuk menjangkau ranah imajinasi tentang arsyi dan membayangkan Allah duduk di singgasana raja seperti yang dilakukan oleh raja dari bangsa manusia.

Tanpa sadar, pemikiran tersebut sudah me-makhluk-kan Allah sebagai Tuhan. Muncullah rasa ragu dan dualisme pemikiran dalam otak orang tersebut. Sedangkan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menekankan bahwa sifat-sifat Allah itu berbeda dengan sifat-sifat manusia. Sehingga untuk memahami suatu arti dari dalil naqli maupun aqli tidak boleh letterlek, harus memenuhi syarat-syarat untuk mengartikan dalil terlebih dahulu.

Sisi fanatik yang kerap kali muncul pada era zaman now ternyata juga hasil talbisnya iblis, ketika orang awam yang pemikirannya masih dasar-dasar sudah mengklaim paling benar sendiri sehingga terjadilah fanatik buta pada madzhab dan pemikiran. Ada poin penting disini bahwa orang awam itu mudah tersulut untuk mengorbankan banyak hal pada kefanatikan golongan atau madzhab yang dianutnya. Hal semacam itu menimbulkan banyak orang yang berperang tapi tidak mengetahui secara pasti siapa yang diperangi.

Dalam kata lain, fanatik menyebabkan banyak sekali perpecahan dan pertumpahan darah. Padahal Allah menyuruh kita fanatik hanya kepadaNya dan kepada rasulNya, bukan pada madzhab. Kalaupun ada sunnah rasul, itu dianjurkan untuk dikerjakan dan dilarang meninggalkan sunnah rasul karena madzhab yang dianutnya berbeda pandangan dengan sunnah rasul tersebut.

Fanatik timbul karena rasa ke-aku-an dari dalam diri manusia yang ingin menunjukkan kepada khalayak ramai bahwa dialah yang paling pintar dibanding yang lainnya, dia ingin menunjukkan identitas dirinya, simbol bendera golongannya, keluasan wilayah cakupannya.

Tidak berhenti disitu. Iblis mendatangi pula orang-orang yang ditakdirkan Allah untuk mau sedikit berfikir. Terkadang orang itu menerima informasi tentang syariat Allah dengan baik, kadang pula ia tidak menerimanya apabila tidak sesuai dengan permintaannya. Iblis membuat orang itu berfikir mengapa Allah menjadikan Fir’aun sesat, mengapa iblis membangkang? Orang itu bertanya dan dia seakan-akan ingin melawan kuasa Allah dengan ilmunya yang terbatas.

Padahal Allah berbuat adil dan tidak akan mendzalimi hamba-hambaNya. Sesungguhnya Allaah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. (QS. Yuunus: 44). Untuk menjangkau semua ilmu Allah, akal manusia tidak akan pernah sampai. Bukannya sering kita dengar suatu pertanyaan, mengapa orang itu tetap miskin meskipun ia telah beribadah siang malam? Itu adalah salah satu bentuk talbis iblis.

Penyebabnya hanya satu, yaitu jauhnya orang awam dari ilmu agama, jauh dari ulama, tidak mau mendekat kepada alim ulama. Apabila orang awam mau merujuk kepada ulama atau ahli ilmu, pasti akan dikabarkan bahwa Allah Maha Adil sehingga tidak perlu adanya pertentangan. Jikalau telah berilmu dan berpredikat, jangan salah artikan predikat itu. Predikat itu orientasinya pada dunia. Bukan berarti yang telah berpredikat itu bisa mengatakan segala sesuatu tentang agama sesuai dengan fikirannya.

Diantara kesekian talbis iblis, iblis membuat orang awam mudah tertipu dengan penampilan luar (cover). Padahal tidak semua penampilan itu menjamin kuantitas serta kualitas isi. Zaman sekarang ini banyak orang awam yang mengukur kelayakan ulama berdasarkan banyaknya pengikut yang menghadiri ceramah ulama tersebut, tanpa mempertimbangkan banyak hal tentang prosedur penetapan gelar ulama.

Lain topik, tidak semua orang yang rajin ibadah adalah ahli ibadah. Sebab tidak ada manusia yang bisa mengetahui diterima atau tidakkah ibadah yang dilakukan itu. Jangan mudah percaya terhadap orang berpenampilan zuhud dan mengaku bisa berjalan di atas air. Apabila sampai memperlihatkan karomahnya itu di hadapan publik, bisa saja itu dukun. Karomah tidak bisa disengaja untuk diperlihatkan di hadapan banyak orang.

Apalagi ada yang bilang, “Saya mendapat ilmu kanuragan berjalan di atas air ini karena mengamalkan ayat kursi secara istiqamah.” Janganlah percaya. Itu hanyalah talbis iblis. Iblis sangat menyukai bid’ah karena kullu bid’atin dlolaalatin wa kullu dlolaalatin fin-naari (setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka)Maka dari itu, kita harus berusaha mengetahui hakikat agama Islam, dan tajalli-tajalli ilmu Allaah.~

Diringkas dari salah satu bab dalam kitab Talbis Iblis karangan Ibnu Qayyim al Jauziyyah

Ushikum binafsi bitaqwallaah. Wallaahu a’lam bish shawaab…

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Anafya Sa

Fiana Shohibatussholihah lahir di Surabaya pada tanggal 01 Februari 1998. Saat ini, penulis sedang menempuh pendidikan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan program studi Pendidikan Agama Islam semester 5. Ia alumni SMA Negeri 1 Tuban dan SMP Negeri Tuban. Sejak SMP ia aktif dalam organisasi Rohani Islam sampai lulus SMA. Hobinya adalah menulis apapun yang diminati. Belakangan ini, ia membuka fanspage Embun Sufi untuk menyalurkan hobinya itu.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals