Membentuk Sekolah yang Damai

Seperti taman, seharusnya sekolah menjadi tempat yang membuat anak-anak selalu gembira.


sekolah-dengan-gembira
Sumber gambar: Kompas.com

Entah apa yang terjadi akhir-akhir ini, pendidikan atau sekolah yang seharusnya menjadi tempat mendidik murid-murid agar berguna di masa depan. Kini namanya tercoreng akibat oknum seorang guru yang dengan tega dan kelewat batas melakukan kekerasan seksual terhadap anak didiknya sendiri.

Sebagaimana pada kasus pemerkosaan terhadap 21 santriwati di sebuah pesantren daerah Tasikmalaya. Bahkan baru-baru ini terdapat kasus serupa, yakni seorang oknum kepala sekolah di Medan mencabuli 6 siswinya.

Tentu semua fenomena di atas membuat kita yang melihatnya menjadi kaget, kesal, dan tidak menyangka bahwa guru yang seharusnya menyadari perannya sebagai Gudang Utama Rasa dan Urip (GURU) yang digugu lan ditiru malah memberikan contoh yang sungguh tidak beradab kepada anak muridnya.

Padahal, guru memiliki peran sentral sebagai ujung tombak pencapaian tujuan pendidikan. Pada UU No. 20/2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional ditegaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah 1). Mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. 2). Mengembangkan kesehatan dan akhlak mulia dari peserta didik. 3). Membentuk peserta didik yang kreatif, terampil, dan mandiri.

Baca Juga: Quality Time sebagai Alternatif Pola Pendidikan Anak di Era Keterbukaan Informasi

Tujuan ini menjadi isyarat bahwa guru merupakan garda terdepan dalam menentukan kualitas pendidikan. Namun apa jadinya jika oknum guru-guru yang melakukan kekerasan seksual tersebut telah melenceng dari tujuan pendidikan.

Bagi tumbuh kembang anak-anak hal itu tentu sangat berbahaya di kemudian hari. Hal itu bukan tanpa alasan. Bayangkan dahulu di kala pagi-pagi di seluruh penjuru negeri. Langkah-langkah kecil anak-anak melewati deretan sawah, menyeberang sungai dengan sampan kecil, melewati deru kendaraan mulai menuju ke sekolah. Jalan mereka beragam, tapi tujuan mereka adalah sekolah.

Langkah-langkah itu sebenarnya bukan langkah biasa, melainkan langkah seorang anak menuju masa depannya. Maka tidak heran jika Ki Hajar Dewantara sadar betul dengan langkah-langkah kecil tersebut, Ki Hajar Dewantara tidak ingin begitu saja menyia-nyiakan langkah itu.

Sekolah sebagai Taman

Dengan ikhtiarnya, beliau mewujudkan sekolah sebagai sebuah “taman”. Istilah “taman” bagi Ki Hajar Dewantara bukan tanpa alasan, taman merupakan metafora tempat menyenangkan yang menjadi bagian dan proses tumbuh kembang anak (Candra, 2016).

Seperti taman, seharusnya sekolah menjadi tempat yang membuat anak-anak selalu gembira. Sebab tidak ada anak-anak yang tidak senang ketika diajak pergi ke taman. Tapi apa jadinya jika sekolah dengan oknum guru yang abnormal itu telah menjadi taman-taman kekerasan yang membuat anak didik merasa ketakutan untuk pergi ke sekolah?

Ketakutan itu belum lagi ditambah banyaknya bullying atau perundungan yang dilakukan antar sesama siswa. Ikhtiar dalam menciptakan sekolah yang menyenangkan memang bukan pekerjaan mudah. Sebab ini bukan kerja satu atau dua orang, melainkan pekerjaan bersama di antara kepala sekolah, guru, dan orang tua murid.

Sekolah Nir-Kekerasan

Secara konstitusional pendidikan memang tanggung jawab pemerintah. Tapi secara moral pendidikan adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Oleh karena itu, untuk mewujudkan semangat sekolah sebagai taman yang menyenangkan tanpa kekerasan. Perlu sebuah upaya bersama dalam menciptakan sekolah nir-kekerasan.

Maka dalam tulisan ini penulis ingin sedikit membagikan beberapa pengalaman dari beberapa orang tua murid dan fasilitator perdamaian dalam menciptakan sekolah nir-kekerasan atau bina damai.

Salah satu dari pengalaman orang tua murid itu adalah pengalamannya melihat bagaimana pendidikan atau sekolah yang dijalankan di Australia benar-benar telah mengajarkan anak-anak sejak TK tentang cara menjaga diri dari kekerasan seksual, tentu dengan cara-cara yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak.

Baca Juga: Krisis Pemahaman dalam Pendidikan Islam

Berikut beberapa hal yang diajarkan (Candra, 2016) yang menurut saya perlu diterapkan di Indonesia.

Pertama, aturan menjelaskan bahwa yang boleh tinggal di sekolah hanya siswa dan guru. Semua pihak yang tidak berkepentingan tidak diizinkan memasuki sekolah.

Sekolah hanya bisa dimasuki melalui pintu reception yang dijaga staf sekolah. Semua tamu sekolah wajib menunjukkan identitas serta memberikan keterangan tujuannya berkunjung.

Kedua, petugas kebersihan melakukan tugas membersihkan sekolah sebelum sekolah dibuka. Tugas diselesaikan hingga jam 8 pagi setelah itu mereka pulang, dan tidak boleh ada di sekolah. Tidak ada satpam di dalam sekolah yang berjaga sepanjang hari. Kepala sekolah berkeliling sekolah untuk memastikan tidak ada orang asing yang berada di sekolah setelah jam kelas di mulai.

Ketiga, semua siswa diwajibkan ke toilet bersama teman. Kalau pergi ke toilet pas jam belajar, guru meminta seorang teman menemani sampai kembali ke kelas dengan selamat. Semua murid diwajibkan melaporkan kejadian-kejadian aneh yang mungkin ditemui di sekolah.

Keempat, saat jam jemput sekolah, siswa hanya boleh keluar kelas kalau sudah ada yang menjemputnya. Guru kelas memastikan bahwa sang anak dijemput oleh orang tuannya.

Kelima, ada surat edaran untuk tidak mengambil foto siswa lain di sekolah. Disarankan juga dalam surat edaran tersebut untuk tidak mengunggah foto anak dalam keadaan tanpa berpakaian. Foto-foto yang diunggah orang tua dalam media sosial harus foto yang berpakaian lengkap.

Foto siswa yang sedang berenang dengan pakaian renang tidak boleh diunggah ke media sosial. Terkait perundungan atau bullying di dunia maya, siswa dan orang tua di berikan form untuk ditanda-tangani. Form tersebut menyatakan bahwa program-program yang bisa diakses oleh siswa harus aman dari konten dewasa dan kekerasan.

Keenam, pihak sekolah sudah harus mengajarkan siswa tentang good touch dan bad touch. Adapun good tuch adalah sentuhan yang dirasakan nyaman dan aman. Bahkan membuat kita merasa disayangi. Sementara bad touch adalah sentuhan yang membuat merasa tidak nyaman, merasa kotor, takut, dan khawatir. Sentuhan yang membuat kita merasa terluka secara fisik atau perasaan. Mengajarkan anak-anak mengenal good touch dan bad touch ini sangatlah penting, mengingat sentuhan adalah salah satu cara setiap orang untuk berkomunikasi satu sama lain.

Namun, dalam sentuhan ada batasan-batasannya. Batasan tersebut diperlukan untuk melindungi diri dari manipulasi, penyalahgunaan, atau tindak kekerasan orang lain. Selain mengajarkan batasan melalui pemahaman ini dapat membantu mencegah terjadinya kekerasan seksual. (ceritaaidee, 2018). Dan terakhir, siswa dianjurkan untuk berani berbicara: berani melaporkan hal-hal yang tidak diinginkan dalam pandangan mereka.

Memahami Budaya Sekolah

Tentu, enam point di atas tidak terlaksana dengan baik jika pola perilaku segenap anggota komunitas sekolah tidak menciptakan budaya sekolah yang nir-kekerasan, aman dan damai. Oleh karena itu, penting kiranya kita memahami budaya sekolah.

Budaya sekolah diartikan sebagai sekumpulan nilai yang mendasari perilaku, tradisi, kebiasaan kesehariaan, dan simbol-simbol yang dipraktikkan anak didik, guru, staf (manajemen dan administratif), dan masyarakat di sekitar sekolah. Atau, budaya sekolah bisa dimaknai sebagai ramuan dari nilai, ritual, dan keyakinan yang diyakini bersama dan dipraktikkan di dalam suatu lingkungan (Panggabean, 2015).

Baca Juga: Membaptis Tubuh yang Bernamakan “Pendidikan”

Oleh karena itu, supaya budaya sekolah terpelihara dengan baik maka semua pihak perlu membuat tata tertib, slogan, dan merancang mekanisme penghargaan dan sanksi. Sebagaimana contoh sekolah Sukma Bangsa di Aceh yang membiasakan seluruh warga sekolah dan pihak luar yang sedang mengunjungi sekolah supaya menghormati budaya “3 NO” yang berarti no smoking, no cheating, no fighting (pada praktiknya, budaya “no fighting” mencakup semua perilaku kekerasan).

Maka dengan begitu tujuan akhir sekolah yang damai adalah menciptakan program disiplin di level sekolah yang memfokuskan pada pemberdayaan setiap komponen para pelaku pendidikan baik guru maupun murid. Sehingga sekolah yang menjunjung tinggi hakikat perdamaian menunjukkan sekolah dengan iklim yang mencerminkan kepedulian, kejujuran, kerjasama, dan menghargai perbedaan latarbelakang setiap penghuni sekolah.

Adapun bentuk ciri-ciri konkret yang melekat pada sekolah yang mempercayai praktik perdamaian yang menurut saya penting diterapkan adalah: (Panggabean, 2015).

Pertama, masalah dan konflik dihadapi tanpa nir-kekerasan. Setiap orang yang ada di sekolah memiliki pengetahuan dan keyakinan mengenai arti penting pendekatan nir-kekerasan dan mempratikkan ajaran-ajaran nir-kekerasan ketika berhubungan dengan sesama di sekolah.

Kedua, setiap warga sekolah, khususnya anak-anak, terbiasa dengan pendekatan pemecahan masalah di sekolah. Masalah yang ada dicari tahu penyebabnya dan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya secara bersama-sama. Dengan pendekatan pemecahan masalah, setiap anak akan merasa mempunyai tanggung jawab yang sama dalam mencari tahu dan menyelesaikan akar persoalan.

Ketiga, menerapkan pendidikan resolusi konflik bagi guru, murid, staf manajemen, staf administrasi, dan orang tua secara berkesinambungan. Kurikulum pendidikan resolusi konflik mencakup, antara lain, manajemen konflik, manajemen emosi, menghargai perbedaan, dan komunikasi efektif. Sekolah adalah tempat orang tua menitipkan anak, maka sudah seharusnya sekolah sebagai sebuah “taman” yang menyenangkan dan damai perlu diperjuangkan untuk memberikan rasa aman baik bagi siswa maupun orang tua.

Daftar Pustaka

Candra, N. P. (2016). Sekolah Nirkekerasan:  Inspirasi Sekolah Menyenangkan Dari Empat Benua. Yogyakarta: Ifada Press.

ceritaaidee. (2018, Oktober 5). Good Touch Versus Bad Touch.  Retrieved Desember 16, 2021, from ceritaaidee.wordpress.com.

Panggabean, R. (2015). Manajemen Konflik Berbasis Sekolah: Dari  Sekolah Sukma Bangsa untuk Indonesia. Jakarta: PT Pustaka Alvabet.

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

[zombify_post]

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Dirasah

REKOMENDASI