Krisis Pemahaman dalam Pendidikan Islam

Pendidikan Islam sudah harus diajarkan kepada anak semaksimal mungkin. Dengan itu setidaknya dapat mencegah terjadinya krisis moral dalam kehidupan bermasyarakat.


sumber: insider.pk

Pendidikan Islam adalah sebuah proses untuk membuat hidup menjadi lebih baik dan ada tujuan dalam setiap pembelajaran tersebut.

Pendidikan Islam merupakan proses mengubah tingkah laku individu dalam kehidupannya yang berdasarkan pada syariat Islam.

Agama merupakan kepercayaan dan cara hidup untuk menjalankan roda kehidupan bagi setiap pemeluk agama.

Seperti halnya pendidikan Islam, ajaran Islam bersumber dari Al-Qur’an dan hadis nabi, guna melihat tujuan untuk membentuk manusia secara utuh, menjadikan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt., serta membentuk  nilai-nilai dalam kehidupan yang sesuai dengan ajaran yang dianutnya agar tidak salah dalam mengambil langkah dalam hidup.

Di masa pandemi ini, ruang belajar tidak bisa seefektif saat belajar di kelas, akan tetapi upaya meningkatkan belajar dengan sebaik mungkin sudah dikerahkan oleh para pendidik seperti belajar tetap bisa face to face melalui video zoom, google class dan lainnya yang akan kita bahas.

Dalam hal ini penulis akan membahas tentang “Krisis pemahaman pendidikan Islam” dalam dunia pendidikan dimana banyak orang yang keliru saat memberikan suatu pengetahuan yang tidak sesuai dengan pengetahuannya yang menyebabkan orang lain menjadi korban kekeliruannya dalam memahami Islam.

Untuk itu, kita harus tahu terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan krisis pemahaman pendidikan islam, dan apa penyebabnya? serta solusinya yakni bagaimana cara  mengatasi kurangnnya pemahaman tentang pendidikian islam dan apa dampaknya?

Krisis Pemahaman Pendidikan Islam

Islam merupakan sebuah nama agama, sedangkan agama adalah kepercayaan dan sebuah tuntunan hidup atupun cara hidup.

Islam lahir pada 17 Rahmadan bertepatan dengan 6 Agustus tahun 610 M. Islam disebar luaskan oleh Sayyidina Muhammad Saw, yang menjadikan sumber pokok ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah. Orang yang memeluk agama Islam disebut muslim (Mulyadi, 2017).

Di kutip dari Harun Nasution, bahwa intisari yang terkandung dalam istilah-istilah yang merujuk pada agama ialah “ikatan”. Jadi, agama adalah ikatan-ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia.

Jika yang dimaksud dengan agama adalah ikatan, maka agama adalah sebuah aturan, layaknya rambu-rambu lalu lintas setiap yang ingin mengambil jalan lurus maupun jalan kanan (jalan yang baik).

Kalau ingin selamat mesti melihat rambu-rambu lalu lintas tersebut karena hidup adalah pilihan, maka memilih jalur kiri adalah hak setiap indivudu sebab bisa jadi itu adalah sebuah jalan yang akan menuntun ke jalan yang lurus atau jalan kanan yang penuh aturan tadi. Memilih jalur kiri adalah hak setiap indivudu sebab bisa jadi itu adalah sebuah jalan yang akan menuntun ke jalan yang lurus atau jalan kanan yang penuh aturan tadi (Nasution, 1985).

Baca Juga: Hakekat Manusia dan Fitrahnya dalam Perspektif Pendidikan Islam

Islam sebagai ilmu pengetahuan yaitu memberikan berbagai pelajaran yang harus dipahami sebagai suatu bentuk ilmu pengetahuan yang merujuk pada seluruh sistem pemikiran yang terkandung dalam Islam.

Islam bukan hanya masalah akidah, atau keyakinan semata, melainkan juga peradaban. Setiap peradaban mencakup segi-segi kehidupan moral, material, pemikiran, dan perasaan. Jika berdasarkan keyakinan Islam adalah agama yang sempurna, universal, dan komprehensif.

Sementara kenyataan atau eksistensial yang disebut dalam Islam terbatas pada ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw., Al-Qur’an, hadis dan masyarakat pemeluk agama Islam . Maka dapat dikatakan bahwa Islam dan Agama Islam berbeda.

Islam merujuk pada konsep metafisika dari objek fisik agama Islam yang “kongkrit” adalah “agama Islam” dan yang “abstrak” adalah “Islam”.

Sedangkan proses pemahaman kedua objek itu sendiri adalah salah satu bentuk sudut pandang Islam sebagai suatu “ilmu pengetahuan” (Qomar, 2017).

Pada hakikatnya semua agama menganjurkan umatnya untuk tampil baik di dalam kehidupan sosial bermasyarakat dan bersikap baik terhadap penganut agama-agama lain dan bersikap baik kepada sesama makhluk hidup (Bakhri, 2009: 37-45).

Ilmu pendidikan Islam merupakan ilmu yang proses pendidikannya didasarkan pada nilai-nilai filosofis ajaran yang berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Pendidikan agama Islam yang diterapkan dalam sistem di sekolah pendidikan Islam bukan hanya bertujuan untuk mentransfer nilai-nilai agama, akan tetapi juga bertujuan agar penghayatan dan pengamalan ajaran agama dapat berjalan dengan baik di tengah-tengah msyarakat.

Hal ini menjelaskan bahwa agama Islam dapat memberikan andil dalam pembentukan jiwa dan kepribadian untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Pendidikan agama Islam yang dapat memberikan andil dalam pembentukan jiwa dan kepribadian adalah pendidikan yang mengacu pada pemahaman yang baik dan benar, mengacu pada pemikiran ajaran yang rasional dan filosofis, pembentukan akhlak yang luhur dan merehabilitasi kehidupan akhlak yang telah rusak.

Dalam proses  pendidikan Islam terdapat usaha mempengaruhi jiwa anak didik melalui suatu proses yang perlahan lahan akan menuju pada tujuan yang telah ditetapkan di antaranya; memanamkan akhlak dan taqwa serta menegakkan kebenaran sehingga membentuk manusia yang berkepribadian yang memiliki budi pekerti yang baik sesuai dengan ajaran islam (Rahmat, 2018).

Faktor Penyebab terjadinya Krisis Pemahaman Islam

Faktor penyebab terjadinya krisis pemahaman tentang islam salah satunya yaitu lingkungan, dimana lingkungan membentuk karakter seseorang. Lingkungan sangat mempengaruhi pola pikir, perilaku (akhlak), sopan santun dan juga cara bicara hingga pengetahuan dalam diri anak didik maupun orang lainnya.

Lingkungan sangat erat dalam hubungan antar masyarakat baik dalam bentuk kerja sama ataupun tempat berkumpul.

Dalam lingkungan terdapat bermacam-macam bentuk karakter setiap orang yang tentunya berbeda-beda, maka dari itu lingkungan sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian maupun pengetahuan anak-anak baik yang positif maupun yang negatif semua diterimanya dengan pengetahuannya yang minim (Nurhidayah, 2017).

Minimnya pengetahuan tentang agama Islam sebab kurang maksimal dalam mendidik di bidang tersebut, hal ini terjadi karena adanya faktor internal dan faktor eksternal, faktor eksternal yang mempengaruhi minimnya praktik pendidikan agama Islam di sekolah umum berupa :

  1. Timbulnya sikap orang tua yang kurang menyadari pentingnya pendidikan agama.
  2. Kondisi lingkungan sekitar sekolah yang kurang mendukung seperti, lingkungan yang jarang ada tempat belajar agama, tempat judi, kawan sebaya yang tidak pernah ngaji, teman teman yang tidak gemar melalukan kebaikan dan tempat yang berpengaruh kurang baik dalam menimba ilmu agama.
  3. Kemajuan teknologi yang semakinmakin pesat membuat sebagian anak-anak bahkan orang dewasa terlena menikmati sosial media, beragam internet yang membuatnya jauh dari pengetahuan ilmu agama. Mereka hanya fokus kepada pesatnya perkembangan teknologi, akan tetapi tidak bisa memanfatkannya dengan bijak.
  4. Mahalnya biaya pendidikan.

Faktor internal yang mempengaruhi gagalnya pembelajaran ilmu agama yakni:

  1. Guru kurang kompeten dalam mendidik anak.
  2. Hubungan antara guru dan murid kurang baik,
  3. Metode pengajaran yang diberikan oleh guru kurang menarik bagi si anak
  4. Belum mantapnya landasan pandangan  guru yang menjadi dasar pijakan pengelolaan pendidikan agama dalam sistem pendidikan.
  5. Mahalnya biaya pendidikan.
  6. Fasilitas kurang memadai.
  7. Rendahnya peluang pemerataan pendidikan (Rouf, 2015).

Pendidikan agama Islam di Indonesia dihadapkan pada persoalan yang sangat kompleks, mulai dari berbagai konseptual teoritis sampai dengan berbagai masalah oprasional praktis.

Hal ini dapat kita lihat dari ketertinggalan pendidikan Islam dengan pendidikan lainnya baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif, sehingga pendidikan terkesan menjadi pendidikan yang di nomor duakan.

Namun kita sebagai masyarakat ataupun peserta didik harus sadar akan kecenderungan pendidikan Islam yang terkesan di nomor duakan, sebab bisa kita lihat sekolah dengan berbasis umum memang berbeda dengan sekolah yang berbasis pesantren, jelas beda.

Pendidikan Islam diakui keberadaannya dalam sistem pendidikan yang terbagi menjadi tiga yaitu;

Pertama, pendidikan islam diakui sebagai lembaga yang diakui kelembagaannya secara eksplisit.

kedua, pendidikan Islam sebagai mata pelajaran diakuinya pendidikan agama sebagai salah satu pelajaran yang wajib diberikan kepada tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

Ketiga, pendidikan Islam sebagai nilai (value) yaitu ketika ditemukannya nilai-nilai Islami dalam sistem pendidikan. Jika masyarakat atau orang tua peserta didik ingin anaknya lebih banyak tau dan lebih banyak menguasai pengetahuan pendidikan Islam, maka yang terbaik adalah sekolah berbasis Pesantren dimana anak mendapatkan ilmu keduanya, yakni ilmu umum dan ilmu agama (Baharun, 2018).

Baca Juga: Paradigma Dikotomi dalam Dunia Pendidikan Islam

Cara Mengatasi Ketertinggalan Pendidikan Islam 

  • Memberikan motivasi bagi siswa yang kurang mampu memahami tentang pentingnya belajar pendidikan baik pendidikan bersifat umum maupun yang berbasis  islamseperti pesantren.
  • Orang tua tetap memberikan arahan yang baik agar anak tetap semangat belajar.
  • Mendampingi anak dalam belajar menggunakan media, agar terhindar dari penyimpangan penggunaan media, misal buknnya sekolah online tapi justru main game.
  • Anak di ikutkan mengaji di TPA atau tempat yang baik untuk belajar agama.
  • Diberikan pengetahuan tentang pendidikan baik agama ataupun pendidikan yang lain dengan baik (jika orang tua tau).
  • Jangan terlalu memberikan tugas terlalu banyak hingga anak merasa bosan dan tidak tertarik untuk belajar lagi.
  • Guru harus kreatif dalam memberikan tugas, misal menggunakan anime saat belajar atau saat memberikan tugas, hingga si anak suka dan seolah belajar sambil bermain. Manusia adalah makhluk sosial yang berarti tidak bisa terpisah dari makhluk satu dengan makhluk yang lain yang membutuhkan pendidikan sebagai petunjuk kehidupan (Yahdi, 2010).

Maka dari itu, penulis menyimpulkan bahwa pendidikan Islam sejatinya merupakan proses mengubah tingkah laku individu dalam kehidupannya yang berdasarkan pada syariat islam.

Di masa pandemi ini ruang belajar tidak bisa seefektif saat belajar di kelas, akan tetapi upaya meningkatkan belajar dengan sebaik mungkin yang sudah dikerahkan oleh para pendidik seperti belajar tetap bisa face to face melalui video zoom, google clas dan lain sebagainya.

Krisis pemahaman tentang Islam salah satunya yaitu lingkungan, dimana lingkungan membentuk karakter seseorang. Lingkungan sangat mempengaruhi pola pikir, perilaku (akhlak), sopan santun dan juga cara bicara hingga pengetahuan dalam diri anak didik maupun orang lainnya.

Krisis pengetahuan pendidikan bisa dibantu dengan menyekolahkan anak di pesantren (jika ada biaya), atau bisa tetap sekolah umum namun ikut mengaji, jadi antara pendidikan agama maupun pelajaran umum dapat menyeimbangi.

Orang tua juga harus mendukung agar tumbuh rasa mencintai pelajaran pengetahuan tentang islam. Guru mengupayakan yang terbaik untuk anak didiknya, sebab keberhasilan guru adalah ketika melihat muridnya berhasil melebihi dirinya.

Oleh karena itu mari sama-sama memberikan yang terbaik untuk anak–anak baik ilmu pengetahuan secara umum maupun ilmu pendidikan agama.

Referensi Tulisan
(1) Baharun Hasan, Pendidikan Islam Dalam Sistem Nasional (Telaah Epistimologi Terhadap Problematika Pendidikan Islam), Universitas nurul Jadid Paiton Probolinggo, dalam Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA Vol. 19, Nomor Agustus 2018.
(2) Bakhri Syamsul, Agama, Persoalan Sosial dan Krisis Moral, Dalam Jurnal Dakwah Dan Komunikasi Vol. 3 No. 3 Januari –Juni 2009 pp. 37-45.
(3) Mulyadi dkk, Pendidikan Agama Islam Multidispliner, Malang : Januari 2017.
(4) Nasution Harun, Islam Di Tinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Penerbit Universits Indonesia, 1985), jilid 1, Cetakan V.
(5) Nurhidayah Aris, dkk, Faktor-faktor penyebab krisis Akhlak Dalam Keluarga (studi khusus di desa Galak Kecamatan Slahung Kabupaten Ponorogo).
(6) Qomar Mujamil, Problem-Problem Mendasar Pendidikan Islam, Malang : 8 Februari 2017.
(7) Rouf Abdul, Potret Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Umum, Dalam  Jurnal Pendidikan Agama Islam Volume 03, Nomor 9, Mei 2015.
(8) Yahdi Muhammad, Fungsi Pendidikan Islam,  Dalam Jurnal Lentera Pendidikan, Vol. 13, Nomor 220 Desember 2010.

Editor: Hadi Wiryawan

_ _ _ _ _ _ _ _ _
 Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Anda juga bisa mengirimkan naskah Anda tentang topik ini dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.iddi sini!

Jadi, bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals