Hakekat Manusia dan Fitrahnya dalam Perspektif Pendidikan Islam

Manusia adalah makhluk yang dapat berpikir, merasa dan bertindak dan terus berkembang.


Dalam diri setiap manusia terdapat fitrahManusia adalah makhluk yang dapat berpikir, merasa dan bertindak dan terus berkembang. Manusia juga makhluk paedagogik yang selalu perlu dikembangkan dan pengembangan itu senantiasa dilakukan dalam usaha dan kegiatan pendidikan.

Adapun usaha dan kegiatan pendidikan dan pengajaran harus dimulai sejak anak didik lahir ke dunia ini, anak adalah amanah Allah SWT kepada orang tuanya. Fitrah anak harus disalurkan dengan sewajarnya, dibimbing dan diarahkan kepada rasa iman kepada Allah SWT dan mencintainya pula. Proses pendidikan dan pengajaran tauhid harus dimulai sejak lahir anak ke dunia ini. Bukankah kehadiran seorang bayi ke dunia ini supaya didengungkan suara adzan sebagai pertanda pendidikan dan pengajaran tauhid telah dimulai.

Islam adalah dien (agama) yang sangat manusiawi (sesuai dengan fitrah atau kodrat manusia). Ajaran Islam dapat diamalkan oleh seluruh umat manusia karena memang sesuai dengan fitrah dan kemampuannya. Allah SWT menegaskan, tidak akan membebani manusia kecuali apa-apa yang manusia sanggup memikulnya.

Fitrah atau pembawaan manusia sejak lahir adalah berjiwa monoteisme atau tauhid, mengesakan atau menuhankan Allah SWT semata. Sebelum diciptakan dalam wujud sempurna manusia yang terdiri dari ruhani (jiwa, ruh) dan jasmani (badan, tubuh, raga), seluruh ruh manusia dikumpulkan di suatu tempat oleh Allah SWT yang dikenal dengan “Alam Arwah”. Pada saat itu Allah SWT bertanya, sekaligus “membaiat” mereka untuk menuhankan-Nya alias mengakui Allah SWT sebagai Tuhan mereka. Mereka pun termasuk kita tentunya. Pada saat itu bersedia “dibaiat” sebagai bentuk “perjanjian” dengan-Nya.

Kalaupun kemudian banyak, bahkan kebanyakan, manusia menjadi sesat, tidak beriman, menolak,  atau  membenci  Islam,  penyebabnya  antara  lain  karena  mereka tidak mendapat tuntunan ruhaniah dan pendidikan tauhid, tidak sampainya informasi Islam dengan benar kepada mereka, atau karena mendapat pengaruh lingkungan yang buruk, terutama di lingkungan keluarga.

Usaha-usaha pemupukan rasa iman sebagai fitrah manusia itu harus sungguh-sungguh mendapat perhatian orang tua/pengasuh, agar dapat bertumbuh dan berkembang dengan wajar. Usaha-usaha pemupukan rasa iman itu melalui dalam tiga proses, yaitu pembiasaan, pembentukan pengertian dan akhirnya pembentukan budi luhur.

Manusia adalah makhluk Allah SWT yang diciptakan dengan bentuk sebaik-baiknya (Qs. AtTiin: 4) yang diberi akal dan budi pekerti oleh Allah SWT yang merupakan potensi yang paling penting dalam kehidupan manusia. Potensi itu juga yang dapat menentukan kualitas dan kemuliaan manusia. Secara fisik, bisa jadi tidak semua manusia memiliki bentuk yang sempurna. Tetapi, akal dan budi pekerti yang dimiliki oleh manusia dapat melengkapi sehingga ia bisa tetap menjalankan peran dan fungsinya sebagai khalifah.

Sebaliknya bentuk fisik yang sempurna tidak menjamin seseorang menjadi manusia yang mulia. Apalagi jika akal dan budi pekertinya tidak baik atau tidak selaras dengan tujuan penciptaannya. Oleh karena itu, keterpaduan dalam menggunakan dua macam potensi itu sangat diperlukan, agar manusia benar-benar menjadi makhluk Allah SWT yang mulia dihadapan-Nya.

Pendefinisian manusia yang diungkapkan dalam Al Qur’an dengan istilah Al Insân, Al Basyar dan Al Nâs menggambarkan tentang keunikan dan kesempurnaan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Hal ini memperlihatkan bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang utuh, antara aspek material (fisik/jasmani), dan immaterial (psikis/ruhani) yang dipandu oleh ruh Ilahiah.

Kedua aspek tersebut saling berhubungan. Dengan kelengkapan dua aspek material dan immaterial tersebut, manusia dapat melaksanakan tugas-tugasnya. Disini manusia memerlukan bimbingan,binaan dan pendidikan yang seimbang, harmonis dan integral, agar kedua aspek tersebut dapat berfungsi dengan baik dan produktif.

Fitrah adalah faktor kemampuan dasar perkembangan manusia yang dibawa sejak lahir dan berpusat pada “potensi dasar” untuk berkembang. Potensi dasar tersebut berkembang secara menyeluruh (integral) yang menggerakkan seluruh aspek-aspeknya secara mekanistis satu sama lain saling mempengaruhi menuju ke arah tujuan tertentu.

Aspek-aspek fitrah merupakan komponen dasar yang bersifat dinamis, responsive terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan. Komponen-komponen dasar tersebut meliputi: Bakat, Insting atau gharizah, Nafsu dan dorongan-dorongannya, Karakter atau tabiat manusia, Hereditas atau keturunan, dan Intuisi.

Pendidikan Islam merupakan upaya yang ditujukan ke arah pengembangan potensi yang dimiliki manusia secara maksimal. Sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk konkrit, dalam artian berkemampuan  menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, masyarakat dan lingkungan sekitar sebagai realisasi fungsi dan tujuan penciptaannya sebagai khalifah.

Pendidikan Islam juga tidak hanya menekankan pada pengajaran. Dimana orientasinya hanya kepada intelektualisasi penalaran, tetapi lebih menekankan pada pendidikan dimana sasarannya adalah pembentukan karakter kepribadian yang kaffah (sempurna), maka pendidikan Islam pada hakekatnya adalah menghendaki kesempurnaan kehidupan yang tuntas (Qs. Al Baqarah: 208).

Jadi, perspektif pendidikan Islam terhadap manusia dan fitrahnya dapat dibagi menjadi:

Pertama,pendidikan Islam merupakan jalan yang tepat dalam rangka mengembangkan fitrah manusia, karena Islam sesungguhnya sesuai dengan fitrah manusia, karena fitrah manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat baik dan berbuat buruk. Fitrah tersebut harus di didik agar sejalan dengan ketetetapan Allah SWT.

Kedua,pendidikan Islam sebagai pengembangan potensi karena manusia lahir di dunia membawa sejumlah potensi atau kemampuan. Agar potensi manusia dapat berkembang, maka perlu adanya pendidikan. Pendidikan merupakan suatu proses untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi – potensi tersebut, dalam arti berusaha untuk menampakkan (mengaktualisasikannya). Manusia berkewajiban mengembangkan segenap potensi tersebut, sehingga dapat berfungsi sesuai dengan ketetapan Allah SWT.

Ketiga,pendidikan Islam sebagai pengembangan ketaqwaan kepada Allah SWT karena manusia diciptakan Allah SWT untuk mengemban misi sebagai abid dan khalifah. Manusia sebagai khalifah Allah SWT bertugas membangun dan mengolah bumi serta segala sesuatu yang ada di dalam dengan sebaik-baiknya.

Manusia dengan melaksanakan amanat Allah SWT sebagai khalifah-Nya berarti manusia telah memanifestasikan ketaqwaan kepada-Nya. Agar manusia dapat bertaqwa kepada Allah SWT, maka manusia perlu dididik. Mustahil manusia dapat bertaqwa apabila tidak terdidik. Pendidikan Islam merupakan syarat manusia untuk dapat bertaqwa kepada Allah SWT.

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
6
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
8
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Rahmadanni Pohan
Rahmadanni Pohan, S.Pd.I, M.Pd.I. Aktif dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pendidikan & Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat.

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals