Tafsir QS. Al-Nur Ayat 26: Sebuah Motivasi dan Nasihat Jodoh bagi Muda-Mudi Masa Kini


Sumber gambar: muslim.okezone.com

Pandangan umum mengatakan bahwa jodoh atau pasangan hidup merupakan suratan takdir dari Allah Swt. Banyak di antara kita telah lama menjalin hubungan dengan seseorang berakhir dan kandas di tengah jalan, bahkan seorang yang hendak menikah pun bisa batal menjelang hari pernikahannya. Ada di antara kita mendambakan seorang pasangan hidup yang cantik, tampan, saleh, salehah, pengertian dan setia. Tetapi yang datang adalah seorang yang tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Begitulah jodoh, hanya Allah yang tahu. Karenanya, harus kita tanamkan prinsip bahwa “seberapa yakinnya kita dengan ikhtiar kita, tetaplah Allah yang menentukan segalanya”.

Di sisi lain perihal gambaran jodoh kita di masa depan, Allah Swt memberikan nasihat sekaligus motivasi kepada kita, yakni melalui ayat 26 pada QS. Al-Nur. Secara tidak langsung ayat tersebut memberikan konklusi bahwa terdapat hukum kausalitas dalam permasalahan jodoh. Mari kita simak ayatnya!

ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Artinya: Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). (QS. Al-Nur:26)

Tafsir QS. Al-Nur ayat 26

Beberapa mufassir, termasuk Quraish Sihab dalam magnum opusnya yakni Tafsir al-Misbah menafsirkan bahwa, setiap yang keji dari wanita maupun laki-laki (baik ucapan maupun perbuatannya) lebih sesuai dengan yang keji pula. Setiap yang baik dari golongan laki-laki maupun wanita (baik ucapan maupun perbuatannya) maka ia akan menjumpai (pasangan) yang baik pula.[1] 

Baca juga: Surah Al-Baqarah [2] Ayat 187: Relasi Kesetaraan dalam Hubungan Suami Istri

Penafsiran ini sejalan dengan ungkapan Imam al-Qurthubi yang menafsirkan bahwa ayat ini menjelaskan adanya timbal balik terkait dengan jodoh atau pasangan hidup seseorang. Pribadi yang buruk maka akan menjumpai seorang yang buruk pula, begitupun sebaliknya.[2]

Imam At-Thabari dalam tafsirnya mengatakan bahwa para ahli takwil berbeda pendapat terkait dengan ayat tersebut, Sebagian pendapat mengatakan bahwa wanita-wanita yang selalu berucap keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji dalam ucapan mereka, wanita-wanita yang baik dalam ucapan mereka adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk untuk wanita-wanita yang baik dalam ucapannya.[3]

Beda halnya dengan pendapat beberapa mufassir di atas, Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa maksud ayat di atas adalah perkataan yang keji hanya mungkin keluar dari orang-orang yang keji, dan hanya laki-laki yang keji yang pantas dituduh dengan perkataan yang keji. Demikian pula perkataan yang baik akan keluar dari orang-orang yang baik, dan hanya orang-orang yang baik yang pantas dibalas dengan perkataan yang baik pula.[4]

Terlepas dari itu semua, ayat ini sejatinya diturunkan sebagai bantahan terhadap tuduhan orang-orang munafik yang menyebarkan berita bohong bahwa Aisyah dituduh telah berselingkuh dengan sahabat Nabi, yakni Sufyan bin Mu’attal. Padahal, tidak mungkin seorang Aisyah yang memiliki perangai yang baik melakukan hal keji tersebut. Dalil logisnya, andaikan Aisyah adalah orang yang hina, maka tidak mungkin Allah sandingkan dengan seorang Nabi yang sangat agung perangainya, yakni Nabi Muhammad Saw.

Oleh karenanya, Allah menjawab tuduhan orang-orang  munafik tersebut dengan berfirman, “Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang”, maknanya adalah mereka sangat jauh seperti apa yang dituduhkan orang munafik tersebut dan para pelaku kezaliman.

Nasihat dan Motivasi dalam QS. Al-Nur Ayat 26 bagi Muda-Mudi Masa Kini

Dari pemaparan penafsiran ayat di atas, terdapat beberapa hal yang perlu kita jadikan ibrah atau pelajaran. Pertama, ayat di atas mengatakan bahwa jodoh merupakan gambaran diri atau takdir Allah Swt. maknanya bukan berarti kita pasrah atau pesimis. Ketika kita memiliki akhlak atau perangai yang buruk kita akan mendapatkan pasangan yang buruk pula. Justru hal ini menjadi motivasi bagi kita untuk senantiasa berikhtiar atau berusaha menjadikan diri kita menjadi pribadi yang baik pula.

Sehingga dari ayat ini juga, kita bisa merubah persepsi tentang makna jodoh atau pasangan jodoh kita yang semula merujuk pada konsep “pada siapa saja akan berjodoh”, menjadi konsep “bagaimana pribadi saya akan berjodoh”. Hal ini sebagaimana petuah bijak mengatakan, “Sesungguhnya, apa yang kamu tanam itulah yang akan kamu petik. Jika ingin memetik dan memanen hasil yang baik, maka tanamlah sesuatu yang baik dan rawatlah dengan baik pula”.

Baca juga: Membaca Kembali Hadis tentang Kriteria Memilih Pasangan Perspektif Kesalingan

Kedua, ayat tersebut memberikan kita wejangan, bahwa tidak selamanya kegagalan kita dalam memilih pasangan adalah takdir yang buruk dari Allah Swt. Menurut kita, mungkin pilihan kita adalah yang terbaik, tetapi belum tentu bagi Allah itu adalah yang terbaik, karena masih ada yang paling baik di antara yang terbaik.

Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 216, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

Ayat ini, jika kita kontekstualisasikan perihal jodoh, maka perihal baik-buruknya jodoh merupakan perkara tersirat yang Allah gariskan kepada kita. Kita hanya boleh berusaha, tapi selebihnya kita serahkan kepada Allah Swt (dengan  berdo’a).

Ketiga, ayat ke-26, surah al-Nur ini mengajarkan kepada kita bahwa memilih jodoh bukanlah perihal mengejar fisik dan materi (cantik, tampan dan kaya raya). Sebab hal tersebut merupakan hal yang fana’ dan sifatnya sementara. Jika merujuk ayat ini, bahwa kriteria pasangan jodoh yang kita utamakan adalah mereka yang memiliki perangai baik (ucapan maupun perbuatannya).

Hal ini pula, disabdakan oleh Rasulullah Saw terkait dengan wanita atau pasangan ideal bagi seorang suami, Beliau bersabda, “Wanita yang terbaik adalah mereka yang dapat membuat bahagia suaminya jika suami melihatnya, menaatinya jika ia memerintah dan tidak menyelisihinya dalam diri dan hartanya dengan sesuatu yang ia tidak sukai”.[5]

Di samping itu, terkait dengan suami ideal pun Rasulullah pernah bersabda bahwa beliau adalah gambaran dari suami ideal bagi seorang wanita. Bagi kita para pemuda masa kini, meskipun tidak bisa menjadi seperti beliau, minimal kita dapat meneladani hal-hal sederhana dari beliau, misalnya bertanggung jawab terhadap seorang istri dan menjadi pemimpin yang baik bagi keluarganya. Oleh karenanya, sosok pasangan ideal yang perlu kita contoh, hingga saat ini adalah Rasulullah Saw dan Sayyidah ‘Aisyah r.a, keduanya merupakan pasangan yang memiliki akhlak yang agung, perangai yang baik, dan berwatak yang luhur.

Al-Nur ayat 26 ini meskipun berbicara perihal kafa’ah atau kecocokan dalam permasalahan jodoh, bukan berarti memerintahkan kita untuk menilai kejelekan dan kebaikan orang lain. Sebab kembali pada konsep awal bahwa segala sesuatu, termasuk baik dan buruknya seseorang hanya Allah yang tahu.

Hanya saja, secara logika, seseorang dalam memilih pasangan lebih nyaman dengan pasangan yang sefrekuensi atau yang memiliki kesamaan/kafa’ah dengan kebiasannya. Artinya, jika kita terbiasa dengan kebiasaan yang baik, maka pasangan yang ideal adalah pasangan yang baik pula, begitupun sebaliknya.

Semoga kita senantiasa diberikan pasangan yang terbaik oleh Allah Swt.

 رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا 

Refrensi:

[1] M. Quraish Sihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, vol. 9 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 169.

[2] Abu Abdillah Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, (Beirut: Al-Risalah, 1427 H/2006 M), hlm. 185

[3] Abu Ja’far bin Jarir ath-Thabari, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayil Qur’an, (Beirut: al-Risalah, 1415 H/1994 M), hlm. 41.

[4] Abu Fida’ Islmail bin Kasir, Tafsir al-Qur’an al-Karim, (Beirut: Dar ibn Hazm, 1420 H/2000 M), hlm.1324

[5] HR. Nasa’i dan Ahmad

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

 

Andy Rosyidin

Andy Rosyidin adalah alumnus MIN 5 Buleleng, MTsN Patas, MA Nurul Jadid Paiton Probolinggo Program Keagamaan angkatan 21(el-fuady) dan saat ini tengah menempuh S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Penulis asal Penyabangan, Gerokgak, Buleleng, Bali ini adalah mahasiswa yang sering bergelut dengan dunia kepenulisan terutama Essay dan Paper. Saat ini menetap di Ponpes LSQ Ar-Rahmah Bantul Yogyakarta. Bisa dihubungi melalui Email: [email protected] dan No Hp: 081238128430

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Al-Qur'an dan Hadis

REKOMENDASI

pornjk, pornsam, xpornplease, joyporn, pornpk, foxporn, porncuze, porn110, porn120, oiporn, pornthx, blueporn, roxporn, silverporn, porn700, porn10, porn40, porn900