Menggali Paradigma Perdamaian Islam dalam Q.S. al-Anbiya (21): 107

Setiap agama yang lahir dalam peradaban manusia sebenarnya merupakan respon terhadap situasi dan kondisi moral masyarakat. Bagaimana dalam Islam?3 min


Sumber gambar: IBTimes.id

Agama yang selama ini menekankan pesan transendental dan moral sosial telah sedikit memudar dengan munculnya konflik dan kekerasan umat manusia di muka bumi. Kiranya masih segar dalam ingatan kolektif kita tragedi Rohingya di Myanmar, konflik dan kekerasan antara pemerintah Myanmar dengan warga Rohingya.

Konflik di Poso yang memperlihatkan ketegangan sosial bernuansa agama; antara Islam dan Kristen Protestan. Konflik yang saat ini tak kunjung usai seperti pendudukan Israel terhadap Palestina.

Sejarah umat manusia menunjukkan berbagai konflik dan kekerasan yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu. Misalnya, politik, budaya hingga ideologi agama dan sebagainya. 

Beberapa fakta di atas menunjukkan, urgensi menghadirkan nilai atau tujuan utama ajaran agama-agama guna menghadirkan solidaritas kemanusiaan dan perdamaian umat manusia.

Misi penting agama Islam menekankan transformasi transendental, profetik dan moral sosial masyarakat Arab saat itu. Tiga dimensi tersebut apabila diakumulasikan merujuk pada kata ‘rahmat’ yang mengandung makna perdamaian seperti dalam Q.S. al-Anbiya [21]: 107.

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ                          

Artinya: 

“Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”. (QS. al-Anbiya [21]: 107).

Baca juga: Islam Moderat dan Cinta Kedamaian

Kata rahmat’ dalam al-Qur’an terulang sebanyak 114 kali. Kata ‘Rahmat’ memiliki arti: mengasihi, menyayangi dan bersikap lemah lembut. Apabila dikaitkan dengan Allah berarti: kasih-Nya, kebaikan-Nya dan rejeki dari-Nya, konsep rahmat sebagai rejeki seperti dalam (Q.S. Hud [11]: 9) (Ibnu Manzur, 1993, hlm.232).

Menurut Ibnu Faris, kata ‘rahmat’ dan ‘rahim’ bermuara pada makna kasih sayang Ibnu Faris, 1979, hlm.498)

Ibnu Katsir menjelaskan kata rahmat dalam redaksi ayat di atas dengan merujuk pada Rasulullah SAW yang termanifestasikan secara lahiri dan batini. 

Oleh karenanya, pengutusan Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam, bagi siapa yang menerima dan mensyukuri nikmat ini, maka dia akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat, dan sebaliknya –barangsiapa yang menolak nikmat ini telah ditegaskan dengan ancaman kerugian dunia dan akhirat sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Ibrahim [14]: 28-29 dan QS. Fussilat [41]: 44-46.

Penafsiran Ibnu Katsir terkait Rasulullah sebagai rahmat juga ditegaskan dalam hadits Muslim, yaitu Rasulullah sebagai rahmat bukan pelaknat (Ibnu Katsir, 2018, hlm. 184-187).

Tafsir al-Qurthuby menguraikan kata ‘rahmat’ dengan merujuk pada Rasulullah dengan penekanan Rasulullah menjadi rahmat bagi manusia secara umum, mempercayai dan membenarkan ajaran Tuhan yang disampaikannya, namun ia juga mengutip pendapat Ibnu Zayd bahwa rahmat Rasulullah dikhususkan kepada orang-orang yang beriman (al-Qurtubi, 2006, hlm. 302-303).

Sedangkan Tafsir al-Misbah menafsirkan kata ‘rahmat’ dengan menunjukkan klaster-klaster rahmat yang terkandung dalam ayat tersebut diantaranya: 1) utusan Allah 2) Allah sebagai pengutus nabi Muhammad 3) semesta alam sebagai objek yang diutus 4) risalah nabi Muhammad (Quraish Shihab, 2005, hlm.519).

Kitab suci al-Qur’an dan beberapa tafsir al-Qur’an di atas secara eksplisit mengisyaratkan paradigma perdamaian Islam. 

Adapun tulisan ini menjawab pertanyaan bagaimana dan seperti apa langkah praktis mewujudkan ‘rahmat’ dalam (QS. al-Anbiya [21]: 107) dan gagasan penafsir di atas? 

Untuk menjawab itu penulis mengutip gagasan dialog konstruktif Frans Magnis Suseno, sebagaimana dikutip Syamsun Ni’am, sebagai berikut. 

Setiap agama adalah representasi rahmat universal, membangun sikap non-violence religious and peace building, pemuka agama sebagai representasi sifat Allah yaitu sifat Maha Pengasih, pemikiran dan pemahaman agama-agama perlu toleran dan pluralistik, agama sebagai pendukung demokrasi dan pemenuhan hak-hak manusia, pendidikan agama yang inklusif, kaum agama peduli terhadap keadilan sosial dan masyarakat tertindas, pemuka agama-agama bersikap dialektis-egaliter pada tataran sosial masyarakat yang dinamis (Syamsun Niam,2013, hlm.38).

Baca juga: Resep dari Al-Qur’an untuk Perdamaian Dunia

Penulis dapat menyimpulkan bahwa ajaran normatif dan pemikiran Islam mengarusutamakan cinta kasih, harmonisasi dan perdamaian manusia yang secara luas menjembatani keseimbangan alam semesta. 

Dalam hal ini diskursus singkat QS. al-Anbiya (21): 107 memuat paradigma perdamaian Islam, membentuk sikap menghormati perbedaan prinsip beragama, saling cinta kasih terhadap sesama, membangun persaudaraan dan perdamaian umat manusia di muka bumi. 

Setiap agama yang lahir dalam peradaban manusia merupakan respon terhadap situasi dan kondisi moral masyarakat. Konflik dan kekerasan dapat terjadi lantaran sikap eksklusif, radikal dan intoleran individu atau kelompok terhadap lain. 

Kadangkala sikap keagamaan yang demikian ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu, pada akhirnya konflik dan kekerasan menjadi resolusi konflik yang tak kunjung selesai.

Referensi

“Jangan Lihat Isu Rohingya Sebagai Konflik Antara Islam Dan Buddha,” accessed November 30, 2022, https://nasional.kompas.com/read/2017/09/06/06410621/jangan-lihat-isu-rohingya-sebagai-konflik-antara-islam-dan-buddha.

“Konflik Poso: Latar Belakang, Kronologi, Dan Penyelesaian Halaman All – Kompas.Com,” accessed November 30, 2022, https://www.kompas.com/stori/read/2021/07/30/100000279/konflik-poso-latar-belakang-kronologi-dan-penyelesaian?page=all.

“Kronologi Konflik Israel vs Palestina, Inikah Akar Masalahnya,” accessed November 30, 2022, https://www.cnbcindonesia.com/news/20220604153058-4-344346/kronologi-konflik-israel-vs-palestina-inikah-akar-masalahnya.

“The Quranic Arabic Corpus – Quran Dictionary,” accessed November 30, 2022, https://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=rHm.

al-Qurtubi, Al-Jaami’u Li Ahkamil Qur’an (Beirut: al-Resalah, 2006). hlm. 302-303.

Ibnu Manzur, Lisan Al-Arab Jilid 12 (Beirut: Dar Ash-Shadr, tt, 1993). hlm. 232.

Ibnu Faris, Maqayis Al-LughahJilid 2 (Bairut: Dar al-Fikr, 1979). hlm. 498.

Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-’Adzim Tafsir Ibnu Katsir (al-Qohiroh: Maktabah Islamiyyah, 2018). hlm. 184-187.

Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur’an Vol. 8 (Tangerang: Lentera Hati, 2005). hlm. 519.

Syamsun Niam, Wajah Keberagamaan Nusantara (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013). hlm.38.


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals