Landasan Islam Tentang Masyarakat Tanpa-Kekerasan (Bagian 1)

“..Kemiskinan, kesengsaraan, kelaparan, pengagguran, diskriminasi, eksploitasi, rasisme, apartheid dan semacamnya merupakan sumber penghancur perdamaian...”


Perbincangan tentang perdamaian dalam Islam mungkin merupakan hal yang cukup “klasik” mengingat banyak orang (baca: muballigh) sejak lama selalu mengedepankan bahwa Islam adalah agama yang mencintai perdamaian. Meski demikian,  wacana ini tetap saja menarik karena beberapa alasan. Pertama, Meski Islam dinilai sebagai agama yang mengajarkan perdamaian, namun realitas dalam masyarakat seringkali menunjukkan hal yang sebaliknya, bahkan di kalangan umat Islam sendiri.

Kedua, Makna Islam sebagai agama yang cinta damai seringkali dimaknai secara sepihak, sehingga bisa memunculkan kesan “anti-perdamaian” di pihak lain. Hal ini memang sering terjadi karena adanya tarik-menarik antara ajaran yang normatif dan kenyataan yang faktual. Ketiga, Islam tentunya memiliki tanggung jawab untuk merealisasikan ajaran normatifnya itu dalam kehidupan yang faktual.

Tulisan ini berupaya untuk mengedepankan seberapa jauh teologi “harus” berperan dalam upaya membumikan pesan-pesan perdamaian yangdi mana-mana didengungkan oleh para muballigh tersebut. Masalah pokok yang harus selalu diupayakan jawabannya adalah bagaimana menciptakan garis penghubung antara idealitas yang normatif dengan realitas faktual? Tanpa adanya garis hubung yang bisa mendekatkan kedua hal ini mungkin yang akan terjadi adalah idealitas hanya akan menjadi utopia dan realitas akan berjalan tak terkendali. (Hanafi:2002)

Perdamaian sebagai Permasalahan Teologis

Perdamaian sesungguhnya bukan semata-mata persoalan sosial, di mana perdamaian ini  diperlukan untuk mengatasi konflik-konflik yang terjadi dan untuk menciptakan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Islam persoalan perdamaian nuansa teologisnya sesungguhnya sangat kental. Kata “salam” atau “silm” yang berarti perdamaian atau kepasrahan dan segala derivasinya muncul berulang kali dalam al-Quran, dan lebih banyak dikemukakan dalam bentuk noun daripada bentuk verb.

Pemakaian bentuk noun kata “salam” ini menunjukkan bahwa perdamaian merupakan pernyataan akan sebuah substansi, struktur dan sistem kata, dan bukan sekadar aksi. Dengan kata lain, perdamaian itu merupakan sebuah kondisi yang harus menjadi kenyataan obyektif, bukan hanya keinginan yang bersifat subyektif. Islam, yang kemudian menjadi nama agama, juga berasal dari kata “salam”, sehingga bisa dikatakan bahwa Islam berarti “agama perdamaian”. Sudah barang tentu Islam di sini merujuk pada ajaran yang dipeluk oleh para Nabi.

Kata “salam” yang ma’rifat dengan “al” (al-salam) merupakan salah satu dari al-asma’ al-husna, nama yang dikaitkan dengan Allah swt, dan oleh karenanya,  memiliki kesucian. Oleh karena merupakan istilah yang suci, maka perdamaian pun merupakan seuatu yang sudah selayaknya untuk disucikan. Menurut Hanafi, karena kesucian perdamaian inilah, manusia tidak diperkenankan menggunakan istilah “salam” untuk nama diri, kecuali dikaitkan dengan “Abdul” pada awalnya, sehingga menjadi Abdul Salam. Hal ini memberikan implikasi bahwa seorang  muslim itu adalah hamba dari perdamaian, yang berkewajiban mengimplementasikan nama suci tersebut ke dalam kehidupan dan mengarahkan semua perbuatannya untuk perdamaian. (Hanafi, 2002)

Ucapan salam dalam Islam “as-salamu ‘alaikum” juga menunjukkan manifestasi perdamaian itu baik dalam hubungan antar individu, keluarga maupun kehidupan sosial. Dalam Islam rumah merupakan satu privasi yang sangat dilindungi sehingga dilarang memasukinya tanpa ijin dari pemiliknya. Memaksa masuk, memata-matai, merampok dan segala jenis perbuatan yang melanggar privasi ini dianggap bertentangan dengan perdamaian. Dengan pengucapan salam, Tuhan menyatakan bahwa pengutusan para Nabi adalah untuk perdamaian. (QS. 27:59: 11:48; 37: 109) Kesamaan misi Nabi ini bisa dikatakan bahwa perdamaian merupakan kode etik universal.

Perdamaian pada hakikatnya adalah norma, etika. Perdamaian adalah sebuah nilai yang bersumber pada keesaan dan universalitas Tuhan. Dalam artian ini, sistem keyakinan dalam Islam sesungguhnya merupakan sebuah sistem nilai, sebuah manifestasi dari keesaan Tuhan ke dalam kehidupan manusia dan masyarakat. Wahyu bagi Islam bukan sekadar persoalan keyakinan terhadap kitab suci, tetapi merupakan persoalan implementasi terhadap titah suci dan realisasi perintah Tuhan. (QS 16: 89; QS 16: 102: QS 28: 53)

Bagaimana kemudian perdamaian harus dimanifestasikan? Menurut Hanafi, ada dua syarat untuk tercapainya perdamaian yang sesungguhnya. Pertama, manusia harus mampu menciptakan perdamaian internal atau perdamaian dalam jiwa. Dalam hal ini, setiap orang harus menciptakan rasa aman dan rendah hati, dengan tunduk pada kitab suci. Perdamaian dalam jiwa inilah yang nantinya dapat memanifestasikan keimanan kesalehen, kejujuran, ketulusan, kerendahan hati, kedermawanan, kesabaran, kesederhanaan dan lain-lain.

Kedua, dengan perdamaian jiwa ini akan tercipta perdamaian eksternal. Perdamaian bukan bertujuan untuk meneguhkan kekuatan atau kekuasaan, melainkan untuk menegakkan kebenaran, keadilan, kesetaraan dan lain sebagainya. Kemiskinan, kesengsaraan, kelaparan, pengagguran, diskriminasi, eksploitasi, rasisme, apartheid dan semacamnya merupakan sumber penghancur perdamaian. (Hanafi, 140-155) Hanya dengan mengatasi persoalan ini semua, maka perdamaian akan tercipta.

Baca juga: Landasan Islam Tentang Masyarakat Tanpa-Kekerasan (Bagian 2)

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Baidowi

Dr. Ahmad Baidowi, S.Ag., M.Si. adalah Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals