The True Role Model

sepandai-andainya seseorang, jika ia tidak memiliki attitude yang baik, maka jangan harap ia akan disegani oleh orang lain


Pepatah mengatakan, sepandai-pandainya seseorang, jika ia tidak memiliki attitude yang baik, maka jangan harap ia akan disegani oleh orang lain. Pun sebaliknya, jika ia kurang akan ilmu pengetahuan, tetapi ia pandai menempatkan diri, sopan, santun, ramah, baik tutur bahasanya, maka ia akan disegani dan dimuliakan oleh orang lain. Inilah bukti besarnya pengaruh attitude seseorang terhadap respon orang lain. Tak hanya kepada manusia, attitude juga sangat dibutuhkan ketika kita berhadapan kepada sang Khalik.

Dalam bahasa syariat, kita biasa mendengar dengan istilah hablu minallah dan hablu minannas. Hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama. Kedua hubungan tersebut memerlukan sikap atau bagaimana seharusnya kita berhubungan yang baik dan benar. Lantas, bagaimana seharusnya kita berattitude? Apa yang harus kita lakukan? Sekaligus, apa saja yang tidak pantas kita lakukan? Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, kita dapat melakukan beberapa cara.

Pertama, kita dapat memilih seseorang yang memiliki attitude terbaik untuk kita jadikan acuan dalam bersikap. Kedua, kita dapat menentukan sendiri sikap yang baik untuk dilakukan melalui survei lapangan. Misal, kita melakukan suatu hal kemudian mendapatkan respon positif dari orang di sekitar kita, maka perilaku tersebut dapat diasumsikan sebagai perilaku yang baik, dan berlaku pula sebaliknya.

Berpandu pada cara yang pertama, berarti kita perlu mencari sosok yang dapat dijadikan panutan dalam membina sikap, atau lebih kerennya kita sebut dengan idola. Sosok tersebut harus dipastikan memiliki attitude yang bagus dan sesuai dengan akidah kita. Dalam Islam, kita mengenalnya dengan sebutan akhlak. Allah sendiri telah menggambarkan dalam Al-Qur’an sosok yang memiliki akhlak mulia yang cocok untuk dijadikan suri tauladan.

Dengan begitu, muncul pertanyaan “Siapakah makhluk Allah yang memiliki akhlak paling mulia?” Maka, Nabi Muhammad SAW lah jawabnnya. Ya, seperti yang kita ketahui bersama bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang paling cocok untuk dijadikan tuntunan dalam membina akhlak. Akhlak dalam berhubungan dengan Allah, maupun akhlak dalam berhubungan dengan sesama manusia.

Semua orang pasti setuju dengan pernyataan ini, “akhlak yang dimiliki Nabi Muhammad saw. adalah sebaik-baiknya akhlak yang dimiliki oleh manusia di muka bumi”. Bagaimana tidak, tutur bahasanya yang ramah kepada siapa pun menjadikan setiap lawan bicara beliau terkagum-kagum. Setiap masalah yang dihadapkan kepada beliau, selalu dapat terpecahkan dengan baik.

Bahkan, terdapat suatu riwayat yang menceritakan, ketika itu ada seorang sahabat yang hendak menghadap Nabi untuk mengadukan suatu masalah yang ia hadapi. Sahabat tersebut datang ke rumah Nabi dengan berjalan kaki.

Ketika mendekati rumah Nabi, sahabat tersebut melihat Nabi ada di depan rumah. Dengan seketika, masalah yang hendak diadukan kepada Nabi terasa hilang begitu saja. Sahabat tersebut seakan-akan sudah mengetahui jalan keluarnya, padahal belum sempat diadukan kepada Nabi. MasyaAllah, begitu mulianya lah Nabi Muhammad saw. Beliau adalah ‘the best problem solver’ bagi siapa pun yang menghadap kepada beliau.

Berbicara tentang akhlak beliau kepada sesama manusia, tidak perlu diragukan lagi perangai beliau. Perangai beliau kepada orang tua beliau, kerabat-kerabat beliau, istri-istri beliau, putra putri beliau, cucu-cucu beliau, orang yang lebih muda, orang yang lebih tua dari beliau, guru-guru beliau, tetangga beliau, sahabat-sahabat beliau, hingga kepada musuh beliau sekalipun. Tidak pernah sekali pun Nabi Muhammad menampakkan akhlak yang kurang berkenan. Bahkan, kemuliaan Nabi Muhammad sudah nampak semenjak beliau masih di dalam kandungan.

Sebelum kelahiran beliau, rumah yang ditinggali Siti Aminah dikelilingi oleh cahaya yang sangat terang dari langit. Rumah itu juga terlihat bercahaya, seakan-akan seluruh penduduk lagit menyambut akan lahirnya manusia paling mulia di muka bumi. Tak hanya itu, hewan pun juga menyambut kelahiran beliau.

Diceritakan, saat itu ada seorang sahabat bersama untanya melewati rumah keluarga Nabi Muhammad, unta itu tiba-tiba berbelok ke rumah Siti Aminah dan masuk ke dalamnya. Sesampainya di depan pintu, unta itu duduk, seakan-akan menunggu seseorang yang ada di dalam rumah itu. MasyaAllah, sunggu kemuliaan beliau tersaksikan oleh semua makhluk Allah, yang nampak maupun yang tidak nampak, yang berakal maupun tidak berakal.

Nabi Muhammad saw. sangat menghormati ibu, patuh terhadap apa yang dituturkan oleh ibunda beliau, Siti Aminah. Tidak pernah sekali pun beliau tidak mengiyakan apa yang diminta oleh ibundanya. Dengan segala perangainya, beliau selalu menyenangkan hati ibundanya. Nabi Muhammad juga seorang yang sangat menyayangi ibunya.

Pernah suatu ketika beliau menemani Siti Aminah yang hendak berkunjung ke rumah saudaranya sekaligus berziarah ke makan ayahnya, Abdullah. Pada saat itu, kondisi Siti Aminah sedang kurang sehat. Dengan penuh kasih sayang, Nabi Muhammad merawat ibundanya. Kedua tangannya yang masih kecil terus berbuat untuk ibundanya. Hingga akhirnya, pada perjalanan pulang, ibunda beliau, sangat lemas kondisinya dan menghembuskan napas terakhir.

Nabi Muhammad sangat terpukul mengetahui keadaan tersebut. Apalagi saat itu Nabi masih berusia sangat kecil. Seketika itu, suhu badan beliau naik hingga tak sadarkan diri. Sungguh berat ujian yang harus beliau hadapi, lahir dengan keadaan yatim dan harus menyaksikan kepergian ibunda tercintanya saat usia yang masih kecil.

Saat diasuh oleh kakek beliau, Abdul Muthalib, beliau tetap menampakkan sikap yang patut untuk diteladani. Kasih sayang beliau kepada kakeknya juga tak kalah besar, dan beliau juga bukan termasuk anak yang manja. Beliau gemar membantu kakeknya dalam bekerja, padahal tubuh kecilnya belum seharusnya melakukan pekerjaan itu. Sampai wafatnya Abdul Muthalib, orang yang merawat beliau, yang beliau anggap sebagai orang tua beliau, beliau sangat terpukul. Kesedihan ketika ibunya wafat terulang kembali saat wafatnya Abdul Muthalib.

Dengan sabar, beliau menghadapi semuanya. Setelah itu, beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Tidak sedikit pun beliau menampakkan sikap yang kurang berkenan, meski dengan pamannya bukan berarti beliau bebas berpangku tangan. Justru kebalikannya, beliau menunjukkan sikap kerja kerasnya, keuletannya, hingga pantang menyerah. Mulai dari mengembala kambing hingga berdagang beliau lakukan untuk membantu paman beliau.

Rasulullah sangat sayang kepada anak-anak kecil, beliau kerap iba ketika melihat anak kecil yang bersedih hati. Suatu hari, saat hari raya idu fitri, beliau bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang bersedih diantara orang-orang yang bergembira menyambut hari raya idul fitri. Beliau bertanya pada anak tersebut mengapa ia bersedih saat yang lain bergembira menyambut hari raya. Anak kecil itu pun menjawab bahwa ia sedih karena ia sudah tidak memiliki orang tua,ia tidak memiliki baju baruseperti anak-anak yang lainnya.

Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah merasa iba dan tidak tega, lantas beliau berkata, “Wahai anak kecil, jika aku menjadi ayahmu dan dia (istri Rasulluah) menjadi ibu apakah kamu senang? Aku juga akan membelikanmu baju dan memberimu makanan”. Seketika itu, anak kecil tersebut merasa sangat bahagia. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah mengajari kita untuk senantiasa menyayangi anak kecil, terutama anak yatim. Bahkan Rasullah bersabda, “Barang siapa yang di dalam rumahnya terdapat anak yatim, maka jarak orang tersebut dengan beliau adalah seperti jari tengah dan jari manis”.

Saat berdagang, lagi-lagi beliau memberi suri tauladan bagi umatnya. Beliau mengajarkan bagaimana seharusnya berdagang secara baik dan benar. Dalam menawarkan barang misalnya, beliau selalu mengutarakan harga asli dari barang tersebut, beliau juga menyebutkan kekurangan (aib) dan kelebihan barang tersebut. Tidak sekali pun beliau menambah atau mengurangi keadaan barang yang ditawarkan. Jika barang itu baik, maka dikatakanlah baik. Jika barang itu kurang baik, maka dikatakan kurang baik pula.

Pun dalam hal harga, beliau selalu memberitahukan harga asli dari barang tersebut. Beliau tidak memberi patokan harga yang harus dibayarkan oleh si pembeli. Pembeli bebas menentukan sendiri berapa tambahan yang diberikan sebagai keuntungan beliau. Dengan metode seperti itu, beliau disukai oleh banyak orang. Beliau berdagang dengan kejujuran yang tinggi. Hal ini juga menjadi pelajaran untuk kita bahwa dalam berdagang, kita harus terang-terangan kepada pembeli. Jangan sampai barang yang tidak baik kita tawarkan sebagai barang baik, dan sebaliknya.

Akhlak Rasulullah kepada orang yang lebih tua tidak kalah so sweetnya. Suatu hari diceritakan ada seorang perempuan yang berusia renta, ia tidak dapat melihat, dan membutuhkan tuntunan saat berjalan. Dan lagi, perempuan tersebut adalah salah satu yang membenci Rasul. Rasul kerap menemui perempuan tersebut saat berjalan, dan beliau tak sungkan-sungkan menolongnya. Saat berjalan bersama, perempuan itu kerap bercerita tentang seorang laki-laki bernama Muhammad, seseorang yang dianggap mengajarkan ajaran yang sesat.

Perempuan tersebut bahkan mengimbau untuk tidak percaya dengan laki-laki yang bernama Muhammad tersebut. Mendengar hal seperti itu, tidak sedikit pun Nabi merasa sakit hati. Dengan keikhlasan hatinya, beliau tetap istiqomah membantu perempuan tersebut. Hingga pada suatu ketika ada seseorang yang memberi tahu perempuan tersebut tentang siapa yang selama ini menolongnya.

Perempuan tersebut kaget saat mendengar bahwa yang selama ini yang menolongnya adalah Nabi Muhammad, seseorang yang ia kira membawa ajaran yang sesat, ternyata memiliki akhlak yang luar biasa. Menyadari hal itu, perempuan tersebut langsung bersyahadat di depan Nabi. Subhanallah, begitu luar biasa akhlak beliau.

Akhlak beliau kepada istri? Jangan diragukan lagi. Keluarga beliau adalah keluarga ter-romantis sepanjang masa. Keluarga panutan untuk membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah, dan barokah. Diceritakan, istri beliau, Aisyah memiliki kebiasaan menyambut kepulangan beliau. Suatu hari, beliau terlambat pulang ke rumah, namun Aisyah tetap setia menunggu kepulangan beliau hingga larut dan hingga Aisyah tertidur di ruangan depan. Saat tiba di rumah, beliau enggan mengetuk pintu rumah.

Beliau mengira Siti Aisyah sudah tidur dan beliau tidak mau mengganggu tidurnya. Akhirnya, beliau tidur di depan rumah. Ada cerita lain, Aisyah juga memiliki kebiasaan membuatkan minuman Nabi selepas kepulangan beliau. Dan beliau pun juga memiliki kebiasaan, yakni menyisakan minuman itu kemudian diberikan kepada Aisyah. Namun, pada suatu hari, beliau tidak menyisakan minuman tersebut untuk Aisyah, beliau menghabiskan minuman itu. Aisyah bertanya-tanya, mengapa Nabi tidak menyisakan minuman untuknya.

Belum mendengar jawaban dari beliau, Aisyah diberi minuman yang masih tersisa sedikit. Ternyata, minuman tersebut rasanya asin dan Aisyah baru menyadari saat merasakan sendiri. Namun, beliau tidak marah sedikit pun, malah beliau langsung menghabiskan minuman dengan maksud menjaga perasaan Aisyah agar tidak kecewa, dan juga agar aisyah tidak merasakan minuman yang asin tersebut.

Termasuk kepada musuh-musuh beliau, nabi tidak pernah menampakkan akhlak yang kurag baik. Beliau selalu memberi contoh bagaimana berakhlak yang baik kepada sesama meskipun orang tersebut menyakiti kita. Suatu ketika, saat di medan perang, Nabi berhadapan dengan seorang musuh. Mereka sama-sama membawa pedang dan dihadangkan untuk siap menghunus leher di depannya. Saat itu si musuh bertanya kepada Nabi, siapa yang akan menyelamatkan beliau dari hunusan pedangnya.

Lalu, beliau menjawab bahwa Allah lah yang akan menyelamatkan beliau. Kemudian beliau baik bertanya kepada si musuh dengan pertanyaan yang sama. Si musuh tidak menjawab apa-apa. Bisa saja Nabi langsung mengarahkan pedangnya kepada si musuh, namun tidak demikian. Beliau tetap menampakkan sikap kasih sayangnya. Dengan rahmat Allah, si musuh itu pun bersyahadat di depan Nabi seketika itu juga. Subhanallah.

Ada juga cerita tentang seseorang yang selalu istiqomah melempari kotoran kepada nabi saat beliau hendak melaksanakan sholat jamaah di masjid. Namun, beliau pernah marah? Apa beliau pernah membalasnya? Tidak, sebatas niatan pun tidak pernah. Jika kita mengenal pepatah air susu di balas dengan air tuba, maka yang berlaku pada beliau adalah kebalikannya, yakni air tuba dibalas dengan air susu. Beliau selalu mendoakan orang-orang yang berbuat tidak baik kepada beliau agar segera mendapat petunjuk dari Allah.

Dari berbagai cerita perangai Nabi di atas, tidak ditemukan satu pun akhlak beliau yang tidak baik. Semua perilaku beliau, sifat beliau adalah mulia. Pantas saja beliau diberi titel sebagai makhluk yang memiliki akhlak mulia. Mulia kepada orang tua, anak kecil, istri, saudara, hingga musuh sekalipun. Hikmah yang dapat kita ambildari peranga beliau yag mulia ini tak lain adalah untuk memotivasi kita untuk meneladani setiap sikap beliau.

Meskipun kita belum bisa meniru dengan sempurna, setidaknya kita senantiasa berusaha agar dapat memiliki akhlak yang baik pula untuk menunjang hubungan kita kepada Allah maupun kepada sesama. Tak ada habisnya jika kita membahas akhlak mulia beliau.

Tidak ada habisnya sholawat kita haturkan kepada beliau karena kekaguman kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa berkiblat akhlak kepada beliau dan bisa mendapat syafa’at beliau di hari akhir kelak, amin. Allahumma sholii ‘ala sayyida Muhammad wa ‘ala ali sayyida Muhammad.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Walida Ami

Walida Ami. Mahasiswa Hukum Bisnis Syariah '17 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals