Tidak Semua Bid’ah Itu Sesat

Sesungguhnya tidak semua bid'ah itu sesat. Ada bid’ah-bid`ah yang baik dan bermanfaat bagi kemajuan Islam dan umat Islam.


Sesungguhnya tidak semua bid’ah itu sesat. Ada bid’ah-bid`ah yang baik dan bermanfaat bagi kemajuan Islam dan umat Islam. Sebab makna bidah sendiri secara bahasa sesungguhnya sangat positif.

Bid’ah secara bahasa berasal dari kata bada`a-yabda`u-bid`ah yang bisa berarti menciptakan sesuatu yang baru (to create something new), bekreasi dan berinovasi, menciptakan sesuatu yang didalamnya ada unsur keindahan.

Itu sebabnya, Allah Swt dalam al-Qur’an disebut sebagai badî` al-samâwati wal ardl wa idzâ qadlâ amran fa innmâ yaqûlu lahu kun fayakûnu. Artinya: “Allah adalah pencipta langit dan bumi, dan apabila Dia hendak memutuskan sesuatu, maka ia cukup mengatakan kun fayakun (jadilah,maka ia jadi) (Q.SalBaqarah[2]:117).

Setidaknya ditemukan beberapa argumentasi historis terkait dengan pernyataan bahwa tidak semua bid’ah sesat. Dalam sejarah umat Islam, para sahabat Nabi Saw juga melakukan bid’ah-bid’ah yang baik.

Pada hal dulu Nabi Muhammad Saw tidak pernah melakukannya. Misalnya, sahabat Abu Bakar melakukan bid’ah yang baik yaitu dengan mengumpulkan al-Qur’an yang kemudian dikenal dengan istilah Mushafal-Imam.

Umar bin Khathab juga melakukan bid’ah yang baik, yaitu menyuruh agar shalat tarawih dikerjakan secara berjama’ah. Awalnya, orang-orang melakukannya sendiri-sendiri, lalu Umar datang ketika itu dan menyuruh agar shalat tarawih dilakukan secara berjama’ah dimasjid dengan satu imam.

Bahkan ketika itu beliau mengatakan, “nimatal-bidah hadzihi (sebaik baik bid’ah yaini, yakni melaksanakan shalat tarawih dengan berjama’ah dibawah komando satu imam).

Demikian juga dengan sahabat Usman bin Affan ra. Beliau melakukan bid’ah yang baik dengan mengumpulkan al-Qur’an menggunakan rasam `utsmani yang kemudian disalin untuk disebarkan ke negeri-negeri yang lain. Beliau juga yang melakukan shalat Jum’at dengan menggunakan adzan dua kali.

Karena saat itu umat Islam semakin banyak dan mereka banyak yang sibuk berdagang dipasar-pasar. Maka, agar mereka tidak lupa melaksanakan shalat Jum’at, diutuslah seorang sahabat untuk adzan awal di pasar, sebagai peringatan agar mereka siap-siap segera datang ke masjid untuk shalat Jum’at.

Demikian halnya, dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Abu Aswadal-Duwali yang membuat bid’ah yang baik dengan memberikan tanda-tanda baca al-Qur’an yang dulunya dizaman Nabi Saw belum ada tanda bacanya.

Dapat dibayangkan sedandainya Mushafal-Qur’an hari ini tanpa syakl dan tanpa harakat, niscaya akan banyak umat Islam tidak dapat membaca al-Qur’an yang masih gundul tanpa harokat.

Pertanyaannya, mengapa Muhammad Saw menyatakan Kullu bidatin dlalâlah. (Setiap bid’ah adalah sesat?) Hadis tersebut meskipun shahih diriwayatkan al-Bukhari sesungguhnya mengandung unsur majaz yang perlu mendapatkan penjelasan lebih lanjut.

Artinya, hadis tersebut jangan dipahami mentah-mentah apaadanya, melainkan perlu penjelasan yang logis. Para ulama ahli bahasa dan Ahli hadis menyebut bahwa kata “kulu” (semua) tidak mesti berarti kuliyah (keseluruhan).

Sebagaimana kita juga sering mengatakan dalam sebuah pembicaraan. Misalnya, ucapan “Semua orang mengetahui hal itu lho”. Nah, apakah itu berarti bahwa setiap individu-individu semuanya mengetahui hal itu? Tentu tidak.

Dalam al-Qur’an juga dinyatakan “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup, apakah mereka beriman? (QS. al-Anbiyâ`, ayat:30). Nah, apakah semua makhluk hidup faktanya tercipta dari air? Ternyata tidak.

Faktanya tidak semua makhluk hidup tercipta dari air. Bukankah Iblis (bangsa jin) terbuat dari api. Sebagaimana dalam Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. al-Hijr:27).

Itu sebabnya iblis selalu menentang perintah Allah Swt. Bukankah para malaikat terbuat dari nur (cahaya)? Sebagaimana disebut dalam hadis Nabi Saw. Itu sebabnya para malaikat selalu taat pada perintah Alah Swt. (Q.S al-Tahrim:6).

Kalau demikian, maka ayat QS. al-Anbiyâ`ayat:30“ Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” Dapat dipahami bahwa umumnya semua bentuk kehidupan membutuhkan air untuk bertahan hidup.

Hewan didaerah kering, oleh karena itu telah diciptakan dengan mekanisme untuk melindungi metabolisme mereka dari kehilangan air dan untuk memastikan manfaat maksimal dari penggunaan air.

Para ulama menjelaskan bahwa sabda Nabi Saw bahwa “kulbidah dlalalah. Semua bid`ah adalah sesat.”, yang dimaksud adalah kulubi dahsayyiah (semua bid’ah yang jelek).

Jadi maksudnya adalah bahwa setiap bid’ah yang jelek adalah sesat, sedang bid’ah yang baik tidak sesat. Dengan demikian, dalam hadis tersebut ada majaz bil hadzf (yakni membuang kata kata tertentu karena maksudnya sudah jelas). Nah, dari penjelasan tersebut, maka para ulama membagi kategori bid’ah setidaknya menjadi dua macam,yaitu

Pertama, bid`ah hasanah, yaitu bid’ah yang baik, meskipun dizaman Nabi Saw tidak ada dan tidak pernah diperintahkan, namun hal itu tidak bertentangan dengan prinsip syariah bahkan secara substantif sejalan dengan perintah al-Qur’an dan hadis.

Misalnya, adzan dan khutbah dengan menggunakan pengeras suara, menyetel bacaan al-Qur’an sebelum sholat Jum’at, aplikasi Mushafal-Qur’an dalam HP, bacawirid (wiridan) dan do’a bersama setelah sholat berjama’ah, do’a bersama sebelum UAN disekolah-sekolah, korban dengan model urunan dikalangan siswa, puji-pujian dengan (membaca shalawat/sholawatan) sebelum iqamat sholat, sambil menunggu para jamaah, memperingati maulid Nabi Saw, Isra’ miraj, tradisi tahlilan, mujahadah dan sebagainya.

Semua itu sebenarnya ada perintahnya secara umum tersirat dalam al-Qur’an atau hadis. Pokoknya, segala hal-hal baru meskipun tidak ada dizaman Nabi Saw asalkan bukan merupakan ibadah mahdloh (murni)-, boleh dilakukan. Dengan syarat hal itu tidak bertentangan dengan prinisp syari’at Islam.

Semua itu, bukan bid’ah yang sesat, tapi bid’ah hasanah yang baik dan dapat praktikkan. Bukankah sekarang ada bid’ah berupa tradisi one day one juz (satu hari baca al-Qur’an satu juz). Ini jelas tidak ada dalil atau perintah Nabi Saw secara tegas, namun juga tidak ada larangan.

Maka hal ini boleh dilakukan. Bukankah para khatib di Indonesia juga melakukan khutbah dengan menggunakan bahasa Indonesia? Mana hadis dan contohnya dari Nabi Muhammaad bahwa beliau berkhutbah menggunakan bahasa Indoensia? Tentu tidak kita temukan.

Kedua, bid’ah sayyiah, bid’ah yang jelek, yaitu praktik ibadah atau tradisi keagamaan yang baru, yang didalamnya mengandung unsur kemusyrikan atau unsur yang bisa merusak moralitas masyarakat. Misalnya, tradisi nyadran tetapi dengan menyembah kuburan para leluhur.

Jika tradisi nyadran di isi dengan istighfar, do’a-do’a dan membaca ayat-ayat al-Qur’an untuk mendo’akan para orang tua dan para leluhur agarmen dapat ampunan Allah Swt, maka hal itu jelas boleh dan ada dalilnya dari al-Qur’an dan hadis. Namun tradisi-tradisi yang disertai minum-minuman keras atau ada unsur judi jelas itu dilarang dalam agama.

Bahkan, hemat penulis khutbah-khutbah, ceramah dan pidato keagamaan yang sudah kental dengan nuansa profokasi, fitnah dan ghibah dan sangat didominasihat espeech (ujaran kebencian), jelas itu merupakan bid’ah sayyiah (bid’ah jelek) dan dlalalah (sesat).

Oleh sebab itu, kita jangan hanya terjebak pada bungkus, melupakan isi substansi. Bungkusnya khutbah, tapi kalau isinya fitnah dan ghibah, maka itu jelas tidak baik. Sebaliknya, bisa jadi bungkusnya mungkin tradisi mocopatan, tapi isinya nasehat dan kearifan lokal untuk senantiasa merawat persaudaraan dan kedamaian, maka jelas itu baik.

Kita tidak perlu anti terhadap tradisi, melainkan menjadikan tradisi sebagai wadah atau alat untuk mengeksekusi sebagian ajaran-ajan Islam melalui kearifan lokal. Islam is not culture but Islam can not be executed withaout culture. Islam memang bukan budaya, tetapi Islam tidak dapat dieksekusi tanpa melibatkan unsur budaya. WaAlahualambisshawâb.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Abdul Mustaqim

Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag. adalah Ketua Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga dan Pengasuh Pesantren Mahasiswa LSQ (Lingkar Studi al-Qur’an) ar-Rohmah Yogyakarta.

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Kajian

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals