Agama Cinta dan Kedamaian

Agama seolah menjadi sorotan utama –jika tidak mau dikatakan kambing hitam- dalam setiap peristiwa.


Agama sering dijadikan sebagai sumber konflik dan alasan pemecah-belah. Agama selalu dijadikan legitimasi dalam setiap tindakan dan peristiwa orang-orang yang beragama, walaupun bukan menyangkut persoalan  agama. Agama seolah menjadi sorotan utama –jika tidak mau dikatakan kambing hitam- dalam setiap peristiwa. “Agamanya Apa? Alirannya Apa? Pemahaman keagamaannya bagaimana? Dan seterusnya”

Sebagai makhluk sosial, egosentrisme merupakan suatu sikap yang sulit dinafikan: suatu sikap yang menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran (perbuatan), menilai segalanya dari sudut pandang diri sendiri. Hanya diri sendirilah yang benar, sedangkan yang lain salah. Lebih lanjut, sikap demikian menjalar ke arah penolakan terhadap keberagaman. Selain itu, fanatisme (individu maupun kelompok) merupakan suatu sikap yang –diistilahkan oleh Nabi dengan sebutan ‘asabiyah atau ta’assub– membuat percerai-beraian. Mereka kokoh membela kendatipun salah: faktor kelompok, keluarga, aliran dan lain semacamnya. Al-Qur’an hadir salah satu misinya adalah untuk menghilangkan sikap fanatik buta tersebut.[i]

Zuhairi Misrawi dengan mengutip Abdul Husein Sya’ban mengatakan bahwa permusuhan terjadi karena sikap intoleransi dan tidak mengerti arti sesungguhnya toleransi. Baik, toleransi pada level individu maupun kolektif: kelompok, organisasi maupun partai politik. Kita banyak menyaksikan peperangan, pembantaian dan pembunuhan massal yang disebabkan krisis toleransi, pemberangusan kebebasan berpendapat dan peminggiran kelompok lain.[ii] Toleransi merupakan salah satu ukuran maksimal keadaban dan peradaban sebuah bangsa.[iii] Semakin toleran suatu bangsa akan berpotensi terbangunnya peradaban dan keadaban. Intoleransi melahirkan konflik yang tak berpenghujung yang akan menghambat peradaban.

Fathullah Gulen menyatakan bahwa kekerasan atas nama jihad merupakan kesalahan interpretasi terhadap ayat-ayat jihad. Karena –menurut Gulen- jihad adalah upaya pembelaan diri dari tindakan arogansi dan radikalisme dalam memelihara kemaslahatan yang menjadi maqasid al-syari’ah.[iv] Perang merupakan alternatif paling terakhir dalam menghadapi kemungkaran. Selama masih dapat ditempuh dengan jalan damai, maka perdamaianlah yang dikehendaki oleh Islam, sebagaimana yang digariskan dalam al-Qur’an surah al-Anfal ayat 61. Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang hendak meletakkan kemanusiaan sebagai landasan ideal.[v] Dalam sebuah artikel yang berjudul Islam and violence, John L. Esposito menyatakan bahwa Islam adalah agama cinta damai. Ia menulis,Qur’anic verses also underscore that peace, not violence and warfare, is the norm”[vi](norma yang tertuang dalam al-Qur’an sangat memperhatikan perdamaian, bukan kekerasan dan peperangan). Jalan damai merupakan pondasi penting dalam Islam,[vii] sebagaimana tercermin dalam QS. al-Anfal [8] : 61 dan QS. al-Nahl [16] : 125.

Namun, realitas yang terjadi di era ini, kita masih menyaksikan kekerasan atas nama agama (jihad). Kenapa? Azyumardi Azra menyatakan bahwa pemahaman mereka terhadap ayat-ayat al-Qur’an dipengaruhi kondisi subjektif dan perspektif yang lain dari lingkungannya. World view-nya tidak semata-mata dikuasai atau diwarnai oleh Islam, namun juga terkontaminasi perspektif lain, seperti ekonomi, politik, kepentingan kelompok dan lain sebagainya.[viii] Wallahu a’lam.

[i]Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI Tahun 2012, Tafsir Al-Qur’an Tematik, Seri 4: Moderasi Islam (Jakarta Timur: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2012), 59.

[ii]Zuhairi Misrawi, Al-Qur’an Kitab Toleransi: Inklusivisme, Pluralisme dan Multikulturalisme, 180.

[iii]Zuhairi Misrawi, Al-Qur’an Kitab Toleransi: Inklusivisme, Pluralisme dan Multikulturalisme, 180.

[iv]M. Arfan Mu’ammar, dkk., Studi Islam Perspektif Insider/Outsider, 481.

[v]Zuhairi Misrawi, Al-Qur’an Kitab Toleransi: Inklusivisme, Pluralisme dan Multikulturalisme, 58.

[vi]Kunjungi, John Esposito, “ Islam and violence”. http://www.commongroundnews.org/article.php?id=20801&lan=en&sid=1&sp=1&isNew=0

[vii]M. Fathullah Gulen, Toward a Global Civilization of Love and Tolerance, 76.

[viii]Azyumardi Azra, et. al., Nilai-Nilai Pluralisme dalam Islam: Bingkai Gagasan yang Berserak (Bandung: Nusantara, 2005), 151-152.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Hendri

Hendri adalah mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan alumnus PKM Pusat Studi al-Qur'an.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals