Rumah sebagai Tempat Aktivitas di Saat Wabah Corona

Upaya menghindari beragam pergumulan merupakan sebuah ikhtiar manusiawi yang dilakukan untuk kebaikan bersama.


Gambar: pikiran-rakyat.com

Sejak mewabahnya Virus Corona (Covid 19) perkuliahan dilaksanakan secara online atau jarak jauh. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir kontak antar individu sebagai sebuah ikhtiar dalam mencegah banyaknya korban yang lagi mewabah di Indonesia. Dahulu kuliah ini sering di lakukan oleh Universitas Terbuka (UT) dan kini sudah tidak terhitung lagi PT yang menggunakan model daring termasuk UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kuliah online merupakan salah satu solusi atas wabah mematikan tersebut. Setidaknya dosen dapat memilih beragam sarana media pembelajaran online seperti e-learning buatan kampus, google classroom, zoom atau bahkan medsos seperti facebook, whatsapp, dan sebagainya. Pemilihan berdasarkan kebiasaan masing-masing dosen dalam kuliah daring.

Baca juga: Covid-19, Prof. Iwan, dan Para Ulama Korban Wabah Penyakit

Respons mahasiswa atas kuliah daring juga sangat beragam. Setidaknya keluhan dan kualitas perkuliahan yang semakin meningkat dengan model online. Terbatasnya kuota mahasiswa menjadi alasan utama sehingga banyak yang lebih senang dengan medsos melalui WA. Terbatasnya kuota ini memaksa mahasiswa mencari area yang menyediakan layanan gratis wifi. Selain itu, sebagian mahasiswa merasa beban kerjaan tugas akibat kuliah sistem ini semakin meningkat. Sedangkan di mata dosen, kuliah daring menjadikan partisipasi mahasiswa meningkat dan kualitas pertanyaan dan respons papernya meningkat.

Fenomena di atas tidak saja dialami oleh mahasiswa. Proses pembelajaran online juga dilakukan oleh semua tingkatan pendidikan baik di sekolah dasar maupun menengah pertama dan atas. Daerah yang dikategorikan zona merah akibat pandemi virus diliburkan bertahap 14 hari dan jika belum ada tanda-tanda menurun maka akan diperpanjang lagi, seperti Pemprop Jateng, DKI Jakarta dan Jatim yang sudah melakukan membatasi interaksi langsung. Hal tersebut dilakukan sejak meningkatnya jumlah masyarakat yang ODP. Sekarang, transfer keilmuan dilakukansecara daring lewat rumah masing-masing. Upaya ini untuk menghindari interaksi dengan sesama selama 14 hari untuk memutus mata rantai virus.

Social distancing juga dilakukan dalam rumah ibadah. Masjid sejak tanggal 20 Maret 2020 libur mengadakan salat Jum’at berjamaah dan diganti salat Dhuhur di rumah. Himbauan tersebut sudah disampaikan oleh MUI. Bahkan imbasnya juga sampai ibadah salat selain Jum’at juga disarankan di rumah karena masjid tidak menyelenggarakannya selama dua minggu lamanya.

Baca juga: Ijtihad Kolektif di Akar Rumput yang Mendebarkan

Beberapa masjid ada yang melaksanakan himbauan tersebut dan ada yang tidak. Masjid terbesar di Surabaya, Masjid al-Akbar masih menyelenggarakan jamaah salat Jum’at, namun dengan jarak barisan salat yang tidak seperti biasanya. Imam dan seluruh jamaah menggunakan masker dan imam membaca qunut nazilah untuk kebaikan seluruh umat Islam.

Masjid Istiqlal Jakarta sebagai masjid terbesar di Indonesia berbeda dengan masjid di Surabaya. Jama’ah masjid tetap berkumpul di masjid tersebut di waktu salat Jum’atan meskipun penyelenggara mengumumkan tidak ada salat Jum’atan. Mereka yang terlanjur datang di masjid akhirnya mengadakan salat dhuhur dalam masjid tersebut.

Padahal, peniadaan salat Jum’at sebagaimana dalam hadis bukan menjadi alasan untuk tetap salat dhuhur di masjid. Salat berjamaah ketika dalam keadaan tertentu dilakukan di rumah masing-masing. Di awal Islam, bangunan Masjid tidak seperti sekarang. Sehingga, Nabi Muhammad saw. memberi kelonggaran berbagai peribadatan yang terkait dengan fasilitas di mana salat ied yang bersamaan dengan salat Jum’at, maka salat Jum’at diperbolehkan di rumah dengan Salat  Dzuhur. Atau peristiwa di saat musim yang dingin atau hujan lebat. Bahkan kasus tersebut menjadikan panggilan adzan diubah dengan salatlah kalian di rumah masing-masing.

Baca juga: Hubungan Sesama Manusia pada masa Wabah Virus Corona dalam Perspektif Hadis

Dalam kondisi wabah, menghadiri walimah nikah juga menjadi tidak sunnah lagi. Hal tersebut dikarenakan berkumpulnya banyak orang menjadi bagian menularnya wabah virus yang sedang merebak di Indonesia. Hal ini bisa setidaknya dilihat dari sebuah perhelatan pesta pernikahan di Australia yang dihadiri 120 orang bisa menyebabkan lebih dari 135 orang terkena virus yang belum ditemukan obat dan antivirusnya.

Artinya, social distancing merupakan bagian usaha kita untuk memutus mata rantai virus. Upaya menghindari beragam pergumulan merupakan sebuah ikhtiar manusiawi yang dilakukan untuk kebaikan bersama. Selain itu, doa dan tawakkal menjadi penting dilakukan setiap muslim. Allah swt. memberikan kemudahan bagi seluruh umat manusia dalam melewati masa pandemi dan menjadi bagian umat manusia untuk semakin dekat dengan Tuhannya. []

_ _ _ _ _ _ _ _ _

Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Apakah Anda menyukainya atau sebaliknya? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom bawah ya! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Alfatih Suryadilaga
Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. adalah Wakil Dekan Bidang Akademik Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga (2020-2024). Beliau juga menjabat sebagai Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) dan Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals