Idul Fitri dan Peningkatan Ketakwaan

Hakikat Idul Fitri bukanlah mudik dari kota ke desa, tetapi mudik dan merdeka dari perbudakan nafsu menuju penyucian diri (tazkiyatun nafsi).


Sumber ilustrasi: Merdeka.com

Hakikat Idul Fitri bukanlah mudik dari kota ke desa, tetapi mudik dan merdeka dari perbudakan nafsu menuju penyucian diri (tazkiyatun nafsi). Kendaraan mudiknya bukan pesawat terbang, kapal laut, bus, kereta api, atau kendaraan pribadi, tetapi kesucian hati, ketulusan memberi (zakat fitri dan zakat harta), keterbukaan sikap dalam meminta maaf dan memaafkan orang lain, dan kejujuran untuk mewujudkan kedamaian dan keadilan sosial.

Bahan bakarnya juga bukan bensin atau solar, tetapi keikhlasan, kejujuran, kesabaran, kejernihan pikiran, kesungguhan berdoa dan beriktikaf. Sementara jalan yang dilaluinya bukan jalan tol, tetapi jalan istiqamah (konsistensi) menuju pakaian kemenangan takwa.

Idul Fitri merupakan momentum ”wisuda universitas Ramadan” sekaligus reformasi iman, ilmu dan amal shalih. Idul Fitri bukan sekadar ritual ”kegembiraan” tanpa makna, melainkan merupakan manifestasi teologis atas kesucian asal usul jati diri kita yang bertauhid dan cinta Tuhan.

Mulai 1 Syawal para lulusan universitas Ramadan harus mampu menindaklanjuti kedekatan vertikal dengan Allah dan kedekatan horizontal dengan sesama) dalam bentuk amal shalIh, akhlak terpuji, dan silaturrahmi. Lulusan Ramadan harus mampu menunjukkan perilaku penuh keadaban, perdamaian, persaudararan, kebersamaan dan silaturrahmi kebangsaan. Itulah esensi makna kembali ke fitrah dalam dimensi sosial politik.

Jika pada akhir shalat kita diperintahkan mengucapkan salam dengan menengok ke kanan dan kiri, pada hari raya Idul Fitri ini kita diwajibkan memperhatikan kemiskinan ekonomi dan sosial di sekitar kita. Kita diwajibkan berpartisipasi mengentaskan kemiskinan dan penderitaan yang dialami oleh sebagian saudara kita yang belum beruntung melalui zakat fitri. Tujuan utama zakat fitri ini tidaklah sekadar membersihkan harta kita yang menjadi hak orang lain, melainkan juga mengingatkan kita agar terus-menerus berjuang menegakkan keadilan sosial.

Zakat fitri yang dibagikan kepada fakir miskin ketika mengakhiri puasa ini juga mengingatkan kita bahwa ibadah kepada Allah harus melahirkan sikap dan perilaku kemanusiaan yang peduli terhadap nasib sesama. Tauhid individual tidak akan pernah berarti tanpa dibarengi dengan tauhid sosial. Kesalehan individual perlu diintegrasikan dengan kesalehan sosial. Tauhidul ibadah baru akan melahirkan masyarakat yang harmonis, adil dan sejahtera jika ditindaklanjuti dengan tauhidul ummah (penyatuan umat).

Sedemikian pentingnya integrasi ibadah ritual (seperti shalat) dan ibadah sosial (seperti zakat), sehingga Nabi SAW dalam salah satu pesannya sebelum dipanggil oleh Allah menyatakan: “Wahai umat manusia, tunaikanlah zakat hartamu. Ketahuilah,barang siapa tidak menunaikan zakat, maka shalatnya tidak sempurna. Ketahuilah, barang siapa tidak sempurna shalatnya, berarti tidak sempurna agamanya, tidak sempurna puasanya, dan tidak sempurna jihadnya.” (HR. Muslim).

Sejarah membuktikan bahwa pada masa khalifah Abu Bakar al-Shiddiq orang-orang yang tidak mau membayar zakat yang disponsori oleh Musailamah al-Kadzdzab diperangi, karena mereka membahayakan stabilitas sosial-ekonomi umat Islam. Sedemikian pentingnya perang melawan kemiskinan, sampai-sampai Abu Bakar menyatakan: “Demi Allah, saya akan memerangi orang-orang yang memisahkan antarashalat dan zakat (melaksanakan shalat tetapi tidak berzakat) karena zakat itu keharusan kekayaan dan menjadi hak faqir miskin.

Idul Fitri juga merupakan momentum penting yang sangat dinantikan oleh setiap Muslim setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan. Peristiwa religius ini sangat mengesankan karena di hari yang fitri itu umat Islam merayakan sebuah kemenangan. Yaitu kemenangan dalam jihad al-nafsi (jihad mengendalikan nafsu, jihad melawan diri sendiri) dan memerdekakan diri dari: nafsu birahi, perut, serakah, dan sebagainya. Menurut Imam al-Ghazali (w. 1111 M), melalui pendidikan Ramadan, Muslim yang berpuasa mengalami transformasi spiritual dari manusia yang berwatak abdul hawa (budak nafsu) menjadi abdullah (hamba Allah).

Dalam hidupnya, manusia seringkali ”dijajah” dan menjadi budak nafsu karena, pada dasarnya, dalam setiap aliran darah manusia itu terdapat aliran bujuk rayu setan (HR an-Nasa’i). Menurut Imam al-Ghazali ada dua nafsu yang menjadikan manusia terperangkap dalam budak nafsu, yakni: nafsu ammarah dan nafsu lawwamah.

Jika yang menjajah manusia nafsu ammarah, maka ia akan memperlihatkan watak sabu’iyyah yang mencerminkan sifat-sifat kebinatangan seperti: mudah marah, pendendam, dan serakah. Sedangkan jika manusia didominasi nafsu lawwamah, maka ia memunculkan watak bahimiyyah yang memperlihatkan watak kebinatangan yang rakus, tidak mengenal halal dan haram. Sementara kombinasi nafsu ammarah dan lawwamah akan memunculkan watak syaithaniyyah dalam diri manusia, sehingga ia cenderung berperilaku takabur, iri, dengki, pendendam, tamak, korup, dan serakah.

Idul Fitri pada hakikatnya merupakan aktualisasi jati diri manusia menuju fitrahnya yang cinta Allah dan cinta sesama manusia. Karena itulah, sebelum merayakannya, setiap jiwa yang mampu wajib mengeluarkan zakat fitri sebagai simbol kepedulian sosial. Dan ketika Idul Fitri dirayakan, takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil dikumandangkan sebagai tanda syukur dan peneladanan sifat-sifat ketuhanan yang mengharuskan manusia berperilaku rendah hati, tidak sombong, empati, dan senantiasa mengingat Allah (QS al-Baqarah [2]: 185). Dengan demikian, Idul Fitri merupakan jalan kemenangan yang mengantarkan kita kepada kebahagiaan personal dan kebahgiaan sosial.

Manifestasi dari sikap dan sifat moral yang luhur di hari raya adalah kesediaan meminta maaf dan memaafkan kesalahan orang lain. Maaf dan memaafkan adalah lambang kembalinya jati diri manusia, dan terajutnya tali silaturrahmi. Silaturrahmi kebangsaan di hari Idul Fitri idealnya dapat ditindak-lanjuti dengan silatulqalbi (sambung rasa, hati), silatulfikri (sambung pemikiran), kemudian silatulamali (sambung aksi).

Sesama Muslim seringkali hanya baru berjabat tangan, tetapi belum berjabat hati, berjabat pemikiran, dan berjabat perbuatan, sehingga satu sama lain masih diliputi rasa curiga dan tidak saling percaya. Karenanya, energi umat Islam belum dapat diwujudkan dalam menampilkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Pesan moral lainnya dari Idul Fitri adalah penyadaran manusia terhadap pentingnya kembali kepada eksistensinya yang paling asasi, yaitu sebagai makhluk religius yang selalu memihak kepada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran (QS ar-Rum [30]: 30). Salah satu bentuk komitmen dan aktualisasi nilai-nilai kebaikan dan kebenaran adalah mengembangkan hubungan cinta kasih terhadap sesama, baik melalui “mudik fisik”:pulang kampung untuk bersilaturrahmi dan berbagi keberkahan maupun “mudik mental spiritual”: memulangkan kesucian jiwa dan pikiran menuju persaudaraan sejati.

Oleh sebab itu, jika kita telah beragama, dalam arti kita telah beriman dan beribadah, namun kita lalai, enggan dan mengabaikan kewajiban menegakkan keadilan sosial dengan memperhatikan dan memberdayakan kaum miskin, maka Allah dalam surat al-Ma’un menilai kita sebagai pendusta dalam beragama Islam, bohong dalam beriman, palsu dalam beribadah.

Dengan demikian, nilai-nilai agama idealnya menjadi ruh (spirit) dan benteng moralitas bangsa. Sayangnya, pendidikan agama di lembaga-lembaga pendidikan kita masih cenderung berhenti pada tataran kognitif-verbalistik, dan belum efektif menjadi ruh transformasi sikap (afektif), perilaku (psikomotorik), dan karakter (akhlak/moral) menuju manusia Indonesia yang sadar akan nilai-nilai moral dan memilih hidup mulia dan bermartabat terhormat.

Seiring dengan ajaran salam itu, pada hari raya Idul Fitri ini, kita umat Islam juga diperintahkan untuk melakukan silaturrahmi (menyambung dan mempererat tali kekerabatan dan persaudaraan) sambil saling bermaaf-maafan. Sungguh luar biasa indah ajaran Islam ini. Di saat menyadari dan kembali ke asal kejadian kita yang fitri, kita diingatkan pentingnya berkomunikasi sosial dan bermitra-horizontal dengan sesama.

Shilaturrahmi memang merupakan manifestasi dan langkah awal menuju tegaknya keadilan sosial dimaksud karena melalui shilaturrahmi ini kita bukan sekedar bertemu-kangen, berbagi rasa, melainkan juga dapat membuat perencanaan dan program-program bersama demi perbaikan masa depan kita.

Dalam silaturrahmi, kita tidak hanya berusaha merajut kembali tali kekerabatan dan kekeluargaan kita, melainkan juga kita dituntut mampu melakukan shilatul al-qalb (kontak/komunikasi hati), merasa senasib sepenanggungan, merasa bahwa kita satu keluarga, yaitu keluarga besar Indonesia, satu sama lain adalah bersaudara, bersahabat, dan bermitra.

Setelah itu, kita pun perlu mewujudkan shilatul al-fikr (kontak/komunikasi pemikiran): menyatukan visi, memikirkan secara bersama-sama agenda ke depan, merancang hari esok yang lebih baik secara bersama dan saling mengisi satu sama lain. Seterusnya, kita juga perlu mengembangkan shilatul `amal (karya bersama, kerja kolektif, gerakan sosial), bukan kerja sendiri-sendiri: merancang masa depan bersama secara lebih baik dan lebih maju.

Dengan shilatul amal, kita misalnya dapat berkomitmen untuk memerangi dan mengikis budaya korupsi, kolusi, premanisme, anarkisme, terorisme, dan neokolonialisme yang berkedok “demokratisasi dan pemberantasan terorisme internasional”.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Rizal Mubit

Rizal Mubit, S.HI., M.Ag. adalah Peneliti Farabi Institute dan dosen di Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik. Ia telah menulis sejumlah buku bertema keislaman.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Tak Berkategori

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals