Hubungan Sesama Manusia pada masa Wabah Virus Corona dalam Perspektif Hadis

Ditiadakannya shalat berjamaah sebagaimana di Dubai di atas pernah terjadi di masa Rasulullah saw. Setidaknya, Bilal selalu menyelipkan kata sallu fi buyutikum..


Virus Corona (covid-19) merupakan wabah penyakit yang memakan banyak korban. Hal tersebut tidak saja terlihat dari sebaran negara yang terkena melainkan juga jumlah korban yang terus meningkat. Bahkan korban virus tersebut juga merambah ke pejabat publik di beragam negara seperti Menteri Kesehatan, Perdana Menteri dan lain sebagainya. Dengan demikian, diperlukan mewaspadai penyebaran secara luas virus tersebut.

Cara efektif untuk agar virus corona tersebut adalah menghindari kontak langsung dengan banyak orang. Hal tersebut menjadikan beragam pertemuan yang mengundang banyak orang dibatalkan. Pertemuan wisuda atau event lain mampu menjadi sarana efektif dalam tersebarnya virus tersebut. Kejadian terdekat adalah adanya tabligh akbar di negara tetangga telah menjadikan banyak orang tertular virus terebut.

Baca juga: Salam Pejabat Itu Syubhat, Iyakah?

Dalam kondisi normal, hubungan persaudaraan sesama muslim merupakan sebuah jalinan yang utuh. Hal tersebut menjadikan satu orang dengan yang lainnya saling membutuhkan dan saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Bahkan ketika bertemu dan berjabat tangan saja Allah swt. akan mengampuni dosa-dosanya.  Hal tersebut sebagaimana dalam hadis di bawah ini:

روى أبو داود عن البراء بن عازب، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ما من مسلمَينِ يلتقيان فيتصافحان، إلا غفَر لهما قبل أن يفترَّقا))؛ (حديث صحيح)

Hadis di atas menunjukkan ikatan persaudaraan yang erat sesama umat Islam. Jabat tangan dalam kondisi normal menjadikan hubungan yang erat bahkan dinilai di mata Allah swt.; Diampuni dosa kedua orang muslim yang berjabat tangan.

Baca juga: Anjuran Menebar Salam

Namun fenomena di atas tidak berlaku di saat merebaknya virus corona. Jabat tangan antar manusia akan mengantarkan tertularnya virus. Hal tersebut mengantarkan pentingnya menjauhi kontak dekat dengan banyak orang. Bersalaman menjadi haram. Dalam hadis lain hadis Ahmad 18655 18655/26363 dijelaskan:

حَدَّثَنَا هُشَيْمُ بْنُ بَشِيرٍ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ فِي وَفْدِ ثَقِيفٍ رَجُلٌ مَجْذُومٌ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْجِعْ فَقَدْ بَايَعْتُكَ

Telah menceritakan kepada kami [Husyaim bin Basyir] dari [Ali bin Atha`] dari [Amru bin Syarid] dari [bapaknya] ia berkata; Di antara utusan Tsaqif terdapat seorang laki-laki yang menderita penyakit kusta (Lepra). Maka Nabi saw. mengutus seseorang untuk menyampaikan kepadanya, “Kembalilah, sesungguhnya saya telah membai’atmu.”

Atas dasar fenomena di atas, menjaga agar tidak ikut dalam keramaian yang menjadi sumber virus adalah kewajiban. Fenomena corona juga telah memaksa Saudi Arabia menghentikan umrah dan menyemprotkan desinfektan di bagian Ka’bah untuk seterilisasi. Demikian juga, di Malaysia memaksa meniadakan Shalat Jum’at di Masjid dengan menggantinya dengan shalat Dhuhur di rumah masing-masing. Bahkan di Dubai, Muazzin menambahkan Shallu ala Buyutikum (Shalatlah di rumah kalian) pada azannya. Hal tersebut menjadi petanda untuk kebaikan umat manusia di belahan bumi agar selamat dari musibah pandemi.

Ditiadakannya shalat berjamaah sebagaimana di Dubai di atas pernah terjadi di masa Rasulullah saw. Setidaknya, Bilal sang Muazzin selalu menyelipkan kata sallu fi buyutikum aw fi rihalatikum. Ucapan tersebut dilakukan di saat cuaca ekstrim yaitu cuaca yang teramat dingin. Keselamatan umat Islam sangat penting dalam hal ini.

Baca juga: Menjaga Tali Persaudaraan

Hadis yang membicarakan hal tersebut dapat dilihat sebagaimana berikut ini:

روى البخاري (666) ، ومسلم (697) عَنْ نَافِع ، قَالَ : ” أَذَّنَ ابْنُ عُمَرَ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ بِضَجْنَانَ ، ثُمَّ قَالَ : صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ ، فَأَخْبَرَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ ، ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ : ” أَلاَ صَلُّوا فِي الرِّحَالِ ” فِي اللَّيْلَةِ البَارِدَةِ ، أَوِ المَطِيرَةِ ، فِي السَّفَرِ .

وروى البخاري (668)، ومسلم (699) واللفظ له ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الحَارِثِ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ ، أَنَّهُ قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ : ” إِذَا قُلْتَ : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، فَلَا تَقُلْ : حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ ، قُلْ : صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ ” ، قَالَ : فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ ، فَقَالَ: ” أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا ؟! ، قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي ، إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ ، وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ ، فَتَمْشُوا فِي الطِّينِ وَالدَّحْضِ

Ibnu Umar pernah mengumandangkan adzan shalat di malam yang sangat dingin dan berangin kencang, maka dalam adzannya ia mengucapkan; ‘Alaa tusholluu fir rihaal (Tidak sebaiknyakah kalian shalat di persinggahan kalian?) kemudian katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah memerintahkan mu’adzinnya jika malam sangat dingin dan terjadi hujan lebat untuk mengucapkan; ‘ALAA SHALLUU FIR RIHAAL (Shalatlah di rumah masing-masing) ” (HR. Muslim: 111) “Shalatlah di tempat tinggal kalian.” Ia melanjutkan perkataannya, “Jika malam sangat dingin dan hujan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan seorang mu’adzin untuk mengucapkan: “Hendaklah kalian shalat di tempat tinggal kalian.” (HR. Bukhari: 626)

Baca juga: Lebih Baik Menyalakan Lilin daripada Mengutuk Kegelapan

Musibah Corona tidak saja menimbulkan korban jiwa manusia. Beragam kehidupan sosial dan budaya manusia terancam seperti perekonomian dan lainnya. Maskapai penerbangan banyak yang membatalkan penerbangan bahkan katanya ada juga yang bangkrut. Selain itu sepinya penumpang memaksa banyak hotel dan wisata menjadi sepi dan bahkan ditutup seperti di kota Jakarta. Bahkan sekolah juga diliburkan.

Upaya di atas setidaknya menjadi bentuk menjaga diri sendiri dan orang lain agar tidak tertular oleh peyakit yang mewabah. Selain itu, mari berdoa untuk segera selesai wabah corona agar semua aktivitas normal kembali baik ibadah dan lainnya. Sekarang yang perlu dihindari adalah kontak langsung dengan khalayak ramai dan hindari salaman yang merupakan cara virus tersebut masuk tubuh manusia. []

Baca artikel tentang perspektif hadis lainnya: Hantu Gentayangan dalam Perspektif Hadis

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
3
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
7
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
2
Terkejut
Alfatih Suryadilaga
Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. merupakan Asosiate Professor dalam Matakuliah Hadis di Prodi Ilmu Hadis Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang sebagai Kaprodi Ilmu Hadis dan Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Selain itu, sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 2

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Sebaiknya hadits pertama dan yang ke terakhir dalam artikel ini diterjemahkan agar sinkron dengan penjelasannya dan dapat dipahami oleh orAng yang pahala bahasa arAb.

    1. Sebaiknya hadits pertama dan yang ke terakhir dalam artikel ini diterjemahkan agar sinkron dengan penjelasannya dan dapat dipahami oleh orAng yang tidak paham bahasa arAb.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals