Corona yang ditakuti: Disfungsi Sosial dan Egosentrisme Kesalehan

Masyarakat merupakan struktur yang dinamis. Begitu dinamisnya di saat pandemi Corona, struktur itu dapat berubah demikian cepat.


Ilustrasi: MIT Technology Review

Masyarakat kita dikejutkan dengan penyebaran Corona (Covid-19) yang demikian cepat. Pada awalnya mungkin hal ini tidak disadari. Namun, pada kenyataannya pandemi Corona ini menjadi “musuh bersama” seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah dalam hal ini Presiden Joko Widodo menginstruksikan kepada seluruh masyarakat untuk memerangi wabah ini, yang bila tidak ditangani dengan cepat ancamannya adalah kematian. Resonansi ketakutan masyarakat begitu besar dirasakan beberapa hari belakangan, ditambah dengan pemberitaan media terhadap Corona semakin memberikan gambaran betapa berbahayanya virus tersebut.

Apa yang dilakukan Pemerintah merupakan suatu upaya untuk mewujudkan keselamatan dan ketenangan bagi masyarakat, sehingga hal ini kiranya perlu mendapatkan apresiasi dari semua pihak. Di sisi berbeda, Pemerintah juga perlu berfikir keras agar penanganan wabah Corona memberikan jaminan kepada masyarakat supaya wabah ini tidak menyebar dan memakan korban lebih banyak lagi.

Baca juga: Covid-19 dan Tantangan Masyarakat Muslim Indonesia

Ketakutan dan kekhawatiran masyarakat akan penyebaran Corona seyogyanya bisa ditepis bilamana Pemerintah menggaransi dengan memberikan informasi yang komprehensif dan transparansi data yang kuat.

Masyarakat kita masih perlu pemahaman yang bagus terhadap klasifikasi kelompok orang di sekitarnya yang konon terpapar Corona, saya pun merasa agak rancu dengan istilah ODP (Orang dalam Pemantauan), PDP (Pasien dalam Pemantauan), bahkan ada lagi istilah suspect dan postitif Corona. Sehingga hal tersebut sesungguhnya masih memberikan ambiguitas informasi karena kebingungan klasifikasi tadi. Oleh karena itu, istilah-istilah tersebut perlu diterjemahkan secara gamblang agar masyarakat dengan pemahaman masing-masing tetap aware terhadap penyebaran wabah Corona.

Apapun alasannya, pemberitaan media juga berdampak pada situasi masyarakat itu sendiri. Lebih-lebih masyarakat merasakan dampak psikomatis karena kekhawatiran yang luar biasa terhadap wabah Corona. Saya meyakini itu sebagai fenomena kehebohan tatkala masyarakat kita dihadapkan pada rasa cemas (anxiety) dan rasa takut (fear) akan suatu fenomena yang mungkin jarang terjadi. Kedua hal tersebut merupakan rasionalisasi masyarakat dalam menyikapi wabah Corona. Oleh karena itu, kehadiran Negara dirasa begitu penting dalam memberikan ketenangan dan keamanan bagi seluruh masyarakat.

Baca juga: Prinsip Teori Evolusi dalam Media Sosial

Masyarakat merupakan struktur yang dinamis. Begitu dinamisnya di saat pandemi Corona, struktur itu dapat berubah demikian cepat. Akses informasi begitu mudah didapat terhadap penyebaran Corona dan pasti berdampak pada saling mencurigai satu sama lain karena stigma negatif wabah ini. Kesadaran tinggi untuk membatasi kontak sosial, misalnya tidak berbaur secara bebas baik di pusat-pusat keramaian seperti mall dan pasar, meminimalisir penggunaan transportasi umum dan daring. Semua hal tersebut saat ini menjadi keharusan karena muncul kekhawatiran penyebaran Corona.

Snowball effect lain yang ditimbulkan akibat wabah ini mungkin secara ekonomi yang terlihat adalah menurunnya produktivitas kegiatan masyarakat. Saya melihat ada kecenderungan panicbuying, yang didasarkan pada kekhawatiran masyarakat atas kelangkaan ketersediaan bahan-bahan pokok.

Apa yang saya amati beberapa minggu ke depan menjelang bulan Ramadhan dan musim Lebaran tiba- bahkan bisa jadi mulai dari sekarang sudah terasa efeknya-yaitu terjadinya lonjakan pemudik yang begitu besar akan memunculkan fenomena disfungsi sosial. Fenomena ini memungkinkan terjadinya gesekan sosial di antara masyarakat dengan munculnya kecurigaan masyarakat terhadap kelompok masyarakat lain di luar daerahnya yang diduga membawa wabah Corona. Maka, peran Pemerintah dalam menghambat disfungsi sosial begitu penting dengan melakukan standar yang ditetapkan, sehingga masyarakat benar-benar memahami penyebaran wabah ini.

Baca juga: Hubungan Sesama Manusia pada masa Wabah Virus Corona dalam Perspektif Hadis

Pandangan yang perlu kita pahami juga, aspek berbeda mengenai keberagamaan masyarakat saat ini barangkali dihadapkan pada kelenturan sikap dan kesadaran bahwa setiap kemaslahatan yang dilakukan akan kembali pada masing-masing individu dan masyarakat itu sendiri. Himbauan salat di rumah saat ini menjadi keniscayaan yang dilakukan setiap lapisan masyarakat di seantero negeri.

Saya meyakini tulisan Moch. Nur Ichwan sebelum ini memberikan gambaran cukup jelas kepada kita. Dengan gamblang Islam mengajarkan untuk bersikap hati-hati terhadap pandemi Corona agar tidak semakin menyebar dan toleran kepada orang lain dalam mengedepankan kemaslahatan bagi semua pihak. Islam sangat jelas menjadi referensi kesadaran diri untuk bersikap tidak egois dalam berinteraksi sosial. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan potensi kemudharatan yang lebih besar sampai dipastikan kembali situasi yang lebih kondusif dan terkendali.

Lalu jika ada yang menyatakan aktivitas di masjid-masjid menjadi sepi dan dibatasi, bahkan ada yang mengatakan dilarang. Lalu muncul pertanyaan, mengapa pasar, mall dan pusat-pusat aktivitas bisnis tidak ditutup? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu seyogyanya dikembalikan lagi ke konsep yahtamilu al-dharar al-khas Li daf’i Al-dharar al-‘am (memberlakukan darurat khusus demi mencegah darurat yang lebih besar).

Baca juga: Wabah Corona dan Imaji Religiositas yang Timpang

Sebenarnya tidak ada dampak sosial apapun bila salat dilaksanakan di rumah. Tetapi jika pasar dan pusat-pusat aktivitas ekonomi ditutup, dampak yang paling mudah dirasakan adalah aktivitas ekonomi menjadi terhambat, bahan-bahan kebutuhan pokok menjadi langka, harga akan melonjak, permintaan barang dan aktivitas monopoli semakin merajalela, kesenjangan sosial semakin tinggi sehingga ujung dari semua itu kehidupan semakin sulit.

Dengan gambaran tersebut, dengan melihat situasi saat ini, banyak orang berubah seketika menjadi sangat religius. Mereka seolah menjadi kelompok yang paling nyunnah dan paling agamis di tengah pandemi Corona. Dengan kata lain, mereka tidak paham esensi Islam yang sesungguhnya yang di dalamnya terdapat Maqashid Syariah yang secara jelas memberikan arahan bagaimana Islam itu ditransformasikan secara bijak. Tentu saja tujuannya menghindarkan diri dari egosentrisme kesalehan personal yang bisa saja merusak tatanan nilai-nilai Rahmatan Lil’alamin.[]

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Lukis Alam

Master

Dr. Lukis Alam SS.,M.Eng.,MSI adalah Dosen tetap di Institut Teknologi Nasional Yogyakarta, mengajar mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Ia lulusan berpredikat Cumlaude program Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta & Magister Studi Islam UII Yogyakarta. Pendidikan S1 Bahasa & Sastra Arab ia selesaikan di UIN Sunan Kalijaga (2005), S2 Information Technology Engineering ia tuntaskan di UGM (2007), S2 Studi Islam ia selesaikan tahun 2015 dari UII Yogyakarta, sedangkan S3 ia selesaikan di tahun 2019. Selain mengajar ia aktif di Adpisi (Asosiasi Dosen Pendidikan Agama Islam) dan Penggiat di CITRUS (Center of Religion Transparency Studies & Societies).

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals