Falsafah “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata”: Komitmen Melawan Radikalisme

Menyatakan perang terhadap radikalisme adalah wajib hukumnya. Komitmen untuk mempertahankan kehormatan negara yang telah dinistakan adalah hal penting.


Mungkin kalau Anda kenal dengan orang Madura maka pasti tidak akan asing lagi dengan falsafah hidup yang satu ini; “lebih baik putih tulang daripada putih mata”.  Artinya,  harga diri seseorang di atas segalanya ketimbang menanggung rasa beban malu.  Falsafah ini setidaknya mengajarkan terhadap masyarakat tentang nilai optimisme yang kuat agar punya prinsip yang tidak mudah goyah apalagi terpatahkan, agar tidak mudah terombang-ambing dan tergiur dengan godaan.

Mengajarkan berkomitmen yang tinggi,  terutama dalam menjalankan tugas atau tanggungjawab atas semua hal yang menjadi pekerjaanya. Jadi, sangat penting untuk ditanamkan sedini mungkin. Seperti nilai-nilai yang baik, bisa saja berupa nilai-nilai nasionalisme,  patriotisme, dan nilai-nilai positif lainnya.

Falsafah Madura “Lebbhi bagus pote tolang” (lebih baik putih tulang) adalah menanamkan semangat jihad untuk membela diri dengan mempertahankan harkat dan martabat, baik hal itu menyangkut keluarga, harta, agama, dan tanah.

Baca Juga: Bela Bangsa dan Penegak Agama

Pengertian tersebut sebenarnya muncul sebagai bentuk perlawanan masyarakat Madura terhadap penjajahan yang dilakukan oleh Belanda. Perlawanan demi perlawanan terus dilakukan untuk menjaga marwah atau kehormatan dirinya.

Hal tersebut dapat menjadi simbol sebagai masyarakat yang merdeka dan masyarakat yang bekerja keras.

Tradisi “carok” salah satunya yang dalam bahasa Kawi diartikan sebagai perkelahian. Pada saat carok mereka tidak menggunakan senjata pedang atau keris sebagaimana yang dilakukan masyarakat Madura zaman dahulu, akan tetapi menggunakan celurit sebagai senjata andalannya.  Senjata celurit digunakan masyarakat Madura sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda.

Masyarakat Madura sebenarnya juga banyak yang berbeda-beda dalam menafsirkan arti carok itu sendiri terkhusus di wilayah Sampang, Pamekasan, dan Bangkalan. Akan tetapi dikarenakan satu problem yang sama yakni dijajah oleh Belanda, maka mereka juga memahami satu prinsip yang sama yakni sebagai masyarakat yang merdeka terhadap lawan.

Sebenarnya istilah kekerasan “carok” belum muncul pada abad ke-12 M, di mana zaman kerajaan Madura saat itu dipimpin oleh Prabu Cakraningrat sampai pada abad 14 M di bawah pemerintahan Joko Tole, istilah itu baru dikenal pada saat Belanda menjajah Madura, yaitu pada abad ke-18 M hingga menjadi Tradisi di Pulau Madura. Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, orang- orang di Jawa Timur mulai berani melakukan perlawanan pada Belanda menggunakan senjata celurit (Huub de Jonge, 2012).

Tidak berlebihan kiranya, apabila semboyan masyarakat Madura “lebih baik putih tulang ketimbang putih mata” menjadi sumber spirit dalam melawan radikalisme di Indonesia seperti melawan terhadap penjajah.

Baca Juga: Kujamu Seribu Penjajah (Mengikis Perang, Memupuk Kompetisi)

Tentu saja pantas karena ideologi ini telah meresahkan masyarakat, telah menjelma menjadi gerakan-gerakan makar. Apalagi saat pandemi seperti ini stabilitas negara masih dalam kecamuk politik identitas. Banyak yang mengambil kesempatan di dalamnya untuk merusak, masuk melalui tokoh-tokoh politik dan ormas-ormas  yang mendulang banyak pengikut.

Menyatakan perang terhadap radikalisme adalah hal yang sah dan wajib hukumnya, Kemudian berkomitmen untuk mempertahankan kehormatan negara yang telah dinistakan oleh kelompok ini agar menumbuhkan semangat jihad tersebut menjadi kewajiban.

Melawan secara ideologi atau melawan dengan bentuk fisik semua harus dilakukan, bahkan kalaupun harus kalah dan mati itu lebih terhormat daripada menanggung malu harga diri dan kehormatan negara yang diinjak-injak oleh kelompok radikal.

Demikianlah falsafah Madura mengajarkan terhadap masyarakat Indonesia secara umum. Pelajaran “lebih baik mati daripada menanggung malu” sebenarnya menanamkan semangat untuk berjuang melawan musuh, dengan gigih dan sungguh-sungguh, karena siapapun itu tidak terbatas kepada orang Madura saja, juga tidak akan rela jika harga diri mereka diinjak-injak.

Maka dari itulah sikap keras melawan musuh harus dipupuk menjadi prinsip yang mendarah daging. Bahkan menjadi tradisi yang kuat agar bisa mengakar di masyarakat juga di kalangan para raja (pemimpin atau pemerintah) yang selama ini memiliki peran besar dalam memikirkan masa depan Indonesia dari gangguan ideologi dan paparan radikalisme. Wallahua’lam… (HW)

 _ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Jamalul Muttaqin
Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, sebagai pemerhati spikologi dan tasawuf, tulisan-tulusanya terbit di berbagai media, di antaranya; Media Indonesia, Harakatuna.com, Bangkit.com, Alif.id, NusantaraNews.com, GeoTimes.co, Radar Surabaya.co, JawaPos Group Radar Madura, dan lain-lain. Sekarang tinggal di SMP-SMA Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta.

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Membaca tulisan di atas mengingat saya kembali pada seorang teman yang bernasabiyah Madura. Dia pandai memasak dan pintar mencari gebetan. Akan tetapi ketika dia berbicara menggunakan bahasa daerahnya saya hanya bisa melongo. Terlebih-lebih kalau sedang marah, dia setiap perkataannya pasti bernada tinggi.
    Owh, iya menyinggung tentang tradisi carok, saya malah menjadi penasaran dan ingin melontarkan pertanyaan. Di zaman sekarang tradisi carok apakah masih sering dilakukan dan diberlakukan oleh masyarakat Madura? Contohnya dalam kesempatan seperti apa? atau mungkin menjadi hukum tidak tertulis yang disepakati bersama untuk menyelesaikan kasus yang sangat krusial.

    Pasalnya beberapa tahun yang lalu saya mendapati berita yang fokus menyoroti kasus carok terjadi disebabkan karena permasalahan sengketa lahan. Ada pula kasus carok karena disulut oleh urusan asmara. Terakhir, saya mendapati berita kasus carok antara paman dan keponakan disebabkan karena persoalan sikap yang berikan.
    Terima kasih.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals