Perubahan Relasi Suami-Istri di Era Covid-19

Tulisan ini menjelaskan konsep relasi antara suami-istri atau ayah-bunda dalam keluarga terkait Covid-19


Sumber: cerpen.co.id

Perubahan besar-besaran terjadi di masa wabah Covid-19. Perubahan tersebut terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat seiring dengan protokol Covid-19. Selain itu, pembatasan interaksi mengakibatkan perkantoran, ibadah dan pembelajaran dilakukan di rumah saja untuk mengurangi jumlah korban yang terus bertambah yang di Indonesia mencapai seratus ribu lebih.

Perubahan besar di atas juga harus diterapkan dalam kehidupan rumah tangga. Perubahan relasi dan pembedaan jenis pekerjaan seperti ranah domestik dan publik menjadi tidak penting lagi. Istilah yang dapat didalami dan diterapkan adalah mubadalah yang memungkinkan pertukaran peran di antara kedua makhluk hidup yang bersatu dalam kehidupan rumah tangga.

Tulisan ini menjelaskan konsep  relasi antara suami-istri atau ayah-bunda dalam keluarga terkait Covid-19. Bagaimana relasi yang berkembang sebelum Covid-19 dan Pasca Covid-19. Bagaimana faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut selain dari protokol kesehatan dan bagaimana transformasi relasi keduanya di era post Covid-19.

Asumsi yang berkembang di masyarakat, relasi dalam rumah tangga banyak ditentukan oleh suami atau ayah. Khususnya hal tersebut terjadi di wilayah penganut patriarki. Perubahan relasi masih terbatas pada akademisi di mana telah memahami peran masing-masing agar seimbang di antara keduanya. Atas dasar inilah peran tersebut tidak mengenal jenis kelamin dan implikasinya.

Baca Juga: Falsafah “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata”: Komitmen Melawan Radikalisme

Awal Relasi Terjadi Sebelum Covid-19

Dalam kehidupan zaman lampau masih mengenal pembagian peran dalam rumah tangga. Suami atau ayah biasanya bertugas sebagai pencari nafkah dan lebih banyak di luar rumah. Kegiatan tersebut dikenal dengan ranah publik. Sebaliknya, perempuan dan ibu bekerja dalam rumah yang dikenal dengan ranah domestik. Segala urusan dalam rumah tangga yang bertangung jawab adalah ibu. Kedua ranah tersebut menjadi kebiasaan turun menurun di masyarakat tertentu yang menganut ‘patrialkhal’.

Dalam persoalan jam kerja di antara kedua insan dalam rumah tangga berbeda. Ranah publik memiliki jam kantor tersendiri seperti PNS atau ASN dari jam 07.30-16.00 Senin sampai Kamis khusus di hari Jum’at lebih lambat 30 menit. Hari Sabtu dan Ahad libur bagi yang lima hari kerja. Bagi yang enam hari diatur sesuai beban kerja 37,5 jam perminggunya. Sementara, sebagai istri jadwal dan kegiatan sangatlah padat dan tidak ada habisnya. Apalagi posisi tersebut bagi keluarga dengan memiliki anak yang masih belum mandiri. Biasanya waktu dalam penyelesaian kegiatan lebih lama dibanding suami.

Relasi di atas sebagai konsep lama telah mengakar dan dibingkai pemahaman tafsir keagamaan. Kebanyakan tafsir dan pemahaman atas ajaran Islam yang diproduksi masa klasik menunjukkan akan supremasi laki-laki. Hal tersebut terlihat dalam beragam kitab tafsir dan syarah hadis dengan menunjuk pada beragam konsep tertentu seperti kepemimpinan laki-laki dalam Q.S. al-Nisa (4): 24 atau konsep lain yang merujuk penciptaan perempuan dalam hadis. Model penafsiran kemudian diikuti dengan tradisi yang melingkapinya.

Tradisi Arab pada saat  Al-Qur’an diturunkan dan penjelasan Nabi saw. merupakan sebuah revolusi di saat perempuan tidak memiliki peran penuh di mana sejak lahir pun tidak sepenuhnya diterima bahkan terjadi penguburan hidup-hidup. Q.S. al-Nahl (16): 58. Termasuk jumlah atau batasan poligami yang pada awalnya masa sebelum Islam tanpa batasan menjadi empat orang perempuan saja pada masa Islam.

Baca Juga: Apa Kabar Media Sosial Kita?

Covid-19 Merubah Perilaku dalam Kehidupan Rumah Tangga

Covid-19 menjadi lahirnya rumah sebagai pusat segala aktivitas yang sehat dan aman dari penularan dan kontak dengan penderita. Hal tersebut sesuai dengan protokol yang disarankan oleh WHO dan pemerintah. Hal inilah menjadi tidak saja sebagai tempat untuk istirahat melainkan dengan beragam bentuk seperti tempat ibadah, belajar bekerja. Fungsi rumah sama dengan masjid atau mushola, sekolah dan kantor. Ketiga tempat bercampur dalam fungsi rumah tangga yang asal.

Relasi antara suami-istri atau ayah-bunda menjadi  berubah. Relasi asal yang hanya berbagi peran secara ketat yakni peran domestik dan publik menjadi relasi kebersamaan. Kedua insan tersebut menjadi ayah, imam salat, khatib, guru atau pengajar, dan kerja. Pekerjaan ayah sebagai suami juga bisa diakukan oleh perempuan. Runtuhnya ekonomi memaksa banyak keluarga juga menjadi korban PHK. Sehingga, pekerjaan yang tadinya dilakukan di luar dapat dilakukan di rumah dengan mendapatkan dukungan bersama.

Kebersamaan juga terjadi dalam kegiatan ibadah. Hal tersebut terkait erat dengan seiring Covid-19, relasi ayah-suami dan bunda-istri dapat berperan penuh dan sekaligus mendidik anak-anak sebagai bagian dari peran tertentu dalam ibadah. Kegiatan ceramah dapat dijadikan model pembagian kerja tanpa menunjuk perbedaan jenis kelamin. Demikian juga dalam memelihara kebersihan rumah dengan membuang sampah, menyapu dan memasak bisa dijadikan sarana belajar.

Orang tua menjadi bagian penting dalam membina anggotanya. Termasuk berperan sebagaimana guru yang menjadi diskusi dalam memahami materi pelajaran.

Peran perempuan atau ibu dalam hal di atas dapat dilakukan oleh seorang ayah atau laki-laki. Hal ini menjadi bagian tanggung jawab ayah dalam keluarga. Setidaknya di masa Covid-19, ayah dapat bekerja sama dengan isteri dalam membersamai anak untuk belajar. [MJ]
 _ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Alfatih Suryadilaga
Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. adalah Wakil Dekan Bidang Akademik Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga (2020-2024). Beliau juga menjabat sebagai Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) dan Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals