Menepis Insecurity dengan Bersyukur

Dengan sikap syukur, seseorang bisa menerima dirinya, karena ia menyadari pada dirinya juga memiliki potensi, dan ia tidak berputus asa pada dirinya sendiri.


Istilah lain dari bersyukur dalam psikolog adalah gratitude. Psikologi positif memaknainya sebagai sebuah kesadaran akan adanya hal baik pada diri sendiri. Jadi, bukan sekedar ucapan terima kasih kepada seseorang ataupun kepada Tuhan, tapi keadaan emosi yang mengizinkan untuk selalu berbahagia atas apa yang ada pada kita.

Namun bersyukur itu tidak segampang membalikkan telapak tangan, apalagi mengatakan kepada orang yang lagi  bersedih, perlu kehati-hatian “bersyukurlah, kamu masih untung…”. Apalagi mengatakannya kepada orang yang sedang ditimpa banyak masalah.

Diperlukan kesediaan dalam membangun rasa syukur, artinya setiap individu bersedia menanggung beban, bersedia menerima keadaan, baik ataupun buruk.

Al-Qur’an dalam beberapa ayat  menganjurkan untuk bersyukur, misalnya di  Qs. Lukman ayat 12.

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗوَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ – ١٢

“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, ”Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji”.

Wahbah Zuhayli dalam tafsir Al-Munir, menjelaskan bahwa bersyukur tidak hanya sekedar ucapan pujian ataupun terima kasih, tetapi juga upaya untuk mengoptimalkan atau menggunakan anggota tubuh sesuai dengan fungsi penciptaannya untuk kebaikan. Rasa syukur dalam Qs. Luqman: 12 menyebutkan bahwa bersyukur tidak lain manfaatnya kembali ke diri sendiri.

Selain itu,ayat yang senada juga terdapat dalam Qur’an surat An-Naml : 40

قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ – 

Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.

Ayat ini menceritakan  kisah Nabi Sulaiman yang belum puas dengan kesanggupan Ifrit. Ia ingin agar singgasana itu sampai dalam waktu yang lebih singkat lagi. Lalu ia meminta kepada yang hadir di hadapannya untuk melaksanakannya. Maka seorang yang telah memperoleh ilmu dari al-Kitab menjawab, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu dalam waktu sekejap mata saja”.

Apa yang dikatakan orang itu terbukti, dan singgasana Ratu Balqis itu telah berada di hadapan Sulaiman. Ada pendapat yang mengatakan orang itu ialah al-Khidhir. Ada pula yang mengatakan malaikat, dan ada pula yang mengatakan ia adalah Asif bin Barqiya.

Melihat peristiwa yang terjadi hanya dalam sekejap mata, maka Nabi Sulaiman berkata, “Ini termasuk karunia yang telah dilimpahkan Tuhan kepadaku. Dengan karunia itu aku diujinya, apakah aku termasuk orang-orang yang mensyukuri karunia Tuhan atau termasuk orang-orang yang mengingkarinya.”

Dari sikap Nabi Sulaiman itu tampak kekuatan iman dan kewaspadaannya. Ia tidak mudah diperdaya oleh karunia apa pun yang diberikan kepadanya, karena semua karunia itu, baik berupa kebahagiaan atau kesengsaraan, semuanya merupakan ujian Tuhan kepada hamba-hamba-Nya.

Sulaiman mengucapkan yang demikian itu karena sangat yakin bahwa barang siapa yang mensyukuri nikmat Allah, maka faedah mensyukuri nikmat Allah itu akan kembali kepada dirinya sendiri, karena Allah akan menambah lagi nikmat-nikmat itu. Sebaliknya, orang yang mengingkari nikmat Allah maka dosa keingkarannya itu juga akan kembali kepadanya. Dia akan disiksa oleh Allah karena keingkaran itu.

Selanjutnya Sulaiman mengatakan, “Bahwa Tuhan yang disembah itu adalah Tuhan Yang Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu pun dari makhluk-Nya, tetapi makhluklah yang memerlukan-Nya. Tuhan yang disembah itu adalah Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya ketika membalas kebaikan mereka dengan balasan yang berlipat ganda“.

Sikap Nabi Sulaiman dalam menerima nikmat Allah adalah sikap yang harus dijadikan contoh teladan oleh setiap muslim. Sikap demikian itu akan menghilangkan sifat angkuh dan sombong yang ada pada diri seseorang.

Ia juga akan menghilangkan rasa putus asa dan rendah diri bagi orang yang sedang dalam keadaan sengsara dan menderita, karena dia mengetahui semuanya itu adalah cobaan dan ujian dari Tuhan kepada para hamba-Nya.

Dua ayat di atas menjelaskan bahwa bersyukur bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk diri sendiri. Orang yang bersyukur berarti dia menerima dirinya, apa yang ia miliki, apa yang sedang dialaminya, sehingga ketika ia diberi nikmat ia tidak angkuh dan sombong, dan ketika ia  sedang mengalami ujian atau musibah, ia tidak berputus asa.

Dalam ayat lain dikatakan bahwa Q.S 14:7

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Ayat di atas mengatakan bahwa orang yang bersyukur, niscaya akan ditambahkan nikmatnya, dan sebaliknya apa bila ia ingkar, maka azab Tuhan sangat pedih.

Ayat-ayat Alqur’an yang disebutkan di atas jika diperhatikan saling menjelaskan antara satu dengan yang lain.

Pertama, kita diperintahkan untuk bersyukur, kedua menjelaskan tentang dampak dan manfaat bersyukur. Paling tidak, ketika kita besyukur atau menerima diri sendiri, ada rasa ketenangan jiwa, sehingga kita juga mencintai dan menghargai diri sendiri, dan tidak menghardik atau menghina diri ketika mendapat ujian. Bukankah ketenangan jiwa juga merupakan nikmat yang besar.

Kita seringkali menghardik diri, ketika kita berada di titik terendah, melihat orang-orang sukses, sedangkan diri masih belum menjadi apa-apa.

Melihat postingan orang-orang di sosial media yang menunjukkan kesuksesan, seolah mereka memiliki segalanya, padahal sosial media tidak jauh dari dunia tipu-tipu.

Namun, hal itu bisa mempengaruhi diri untuk merasa insecure. Dengan sikap syukur, seseorang bisa menerima dirinya, karena ia menyadari pada dirinya juga memiliki potensi, dan ia tidak berputus asa pada dirinya sendiri. Sehingga sikap bersyukur ini bukan mengakibatkan sikap jumud, tapi justru sikap optimis.

 

Referensi

Febryan KM, Berbahagia dengan Bersyukur,https://pijarpsikologi.org/blog/berbahagia-dengan-bersyukur, 2022.

Tafsir Qur’an Kemenag Android

Editor: Sukma Wahyuni

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

 

 

[zombify_post]

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Dirasah

REKOMENDASI

pornjk, pornsam, xpornplease, joyporn, pornpk, foxporn, porncuze, porn110, porn120, oiporn, pornthx, blueporn, roxporn, silverporn, porn700, porn10, porn40, porn900