Menjadi Ahli Tajrid Itu Kurang Nikmat!

Dengan maqom tajrid, kenyang datang tanpa sebab makanan, dan usaha untuk mendapatkan makan, apa enaknya?


gambar: kitabaca

Tajrid adalah teori sufistik yang diantonimkan dengan istilah asbab atau kasab. Jika secara bahasa Tajrid itu memiliki arti penanggalan, pelepasan, atau pemurnian, maka secara maknawi adalah penanggalan aspek-aspek dunia dari diri (nafs), atau secara singkat bisa dikatakan sebagai pemurnian diri. Maka asbab atau kasab berarti status diri (nafs) yang sedang Allah tempatkan dalam dunia sebab akibat.

Meski bukan sebagai tokoh yang pertama kali menyebut, teori tajrid dan asbab menjadi begitu populer ketika disebut oleh Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari dalam masterpiece-nya “Al-Hikam”, yang menyebutkan “Keinginan hati menempuh maqamtajrîd di saat kondisi menuntutnya untuk menempuh maqamiktisâb merupakan syahwat tersembunyi. (Sebaliknya) dorongan hati untuk menempuh maqamiktisâb padahal sudah saatnya seorang hamba menempuh tajrîd merupakan sebuah kemunduran.”

Fakta tentang tajrid yang murni bisa kita dapatkan dalam kisah Maryam, ibu Nabi Isa as, yang ada dalam Al-Qur’an. Ketika Nabi Zakaria as yang biasanya mengantarkan makanan kepada Maryam ke tempatnya, ia mendapati tempat itu sudah penuh dengan makanan, lalu Nabi Zakaria as bertanya “Dari mana ini semua?”, Maryam menjawab “Ini dari Allah”. Artinya, Maryam mendapatkan makanan itu tanpa sebab atau usaha (kasab) manusiawi, tetapi langsung diberikan oleh Allah swt. Singkatnya, tajrid adalah menafikan sebab dan usaha.

Sekilas, maqom tajrid mungkin menjadi dambaan bagi banyak orang, yang bisa mendapatkan apa yang diinginkan tanpa sebab dan usaha. Meskipun berbeda, tetapi bolehlah kita mengilustrasikan tajrid dengan passiveincome. Memiliki passive income saja sudah nikmat sekali. Penghasilan datang dengan sendirinya setelah sistem bisnis berjalan dengan baik. Bedanya,passive incomeyang dalam pengertian secara umum bukan tanpa sebab dan usaha, melainkan didahului dengan kerja keras, perjuangan untuk membangun sistem yang kelak bisa berjalan tanpa kita terlibat langsung lagi di dalamnya. Jika yang demikian saja sudah sangat hebat, lalu bagaimana dengan maqom tajrid, mendapat sesuatu tanpa sebab dan usaha?

Ternyata jika dipikir kembali, menurut hemat penulis, maqom tajridjustru bisa berpotensi mengurangi kenikmatan hidup. Karena kenikmatan hidup sejatinya datang setelah kesulitan, kelelahan, dan sebagainya. Seperti nikmatnya makan setelah lapar, dan akan lebih nikmat lagi jika mendaptakan makanan itu setelah lelah mencari uang untuk membelinya. Bayangkan jika kenyang itu datang begitu saja tanpa sebab makan?

Dengan maqom tajrid, kenyang datang tanpa sebab makanan, dan usaha untuk mendapatkan makan, apa enaknya? Bukankah merasakan panasnya nasi, pedasnya sambal dan gurihnya lauk itu kenikmatan tersendiri? Tidak heran jika Allah swt berfirman “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan“. (QS. Al-Insyirah : 4).

Jika ada orang yang memiliki maqom tajrid dalam harta, agaknya harta akan datang dari kantong bajunya tanpa sebab, lalu dia tidak perlu lelah bekerja, tidak perlu bersosialisasi, tidak perlu menuntut ilmu, tidak perlu bersiasat untuk meningkatkan penghasilannya. Mungkin sekilas enak sekali hidup seperti itu, tapi kehidupan seperti itu akan menjadi pasif, tidak ada perjuangan, usaha bahkan keringat sekalipun.

Bukankah seluruh kehidupan manusia paling mulia di muka bumi ini dipenuhi dengan perjuangan, padahal beliaulah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki maqom tajrid sejati yang jika beliau ingin beliau tidak akan pernah merasa lapar dan susah. Bukankah Allah swt berfirman “Dan agar setiap jiwa diberi balasan atas apa yang mereka usahakan?” (QS. Thaha : 15).

Tulisan ini samasekali tidak ada hubungannya dengan mereka yang menolak teori tajrid semisal Ibnu Taimiyyah. Ia mengarang risalah khusus yang berjudul “Qâ’idah fi al-radd ‘ala al-Ghazâli fi al-Tawakkul” terkait tanggapannya terhadap teori tajrîd yang ditawarkan al-Ghazali dalam bukunya “Minhâj al-‘Âbidîn”. Atau mendukung Al-Maraghi dan Al-Qaradhawi yang mengklaim teori tajrîd tidak sesuai dengan ajaran Al-Qur’an, Al-Hadits, jejak para Nabi dan sahabat, serta pendapat para ulama ahli tahqîq. (Yusuf al-Qardlawi, 1996: 37-56). Tulisan ini hanya merefleksikan betapa maqom tajrid yang begitu diidamkan itu sejatinya tidak senikmat dan sehebat itu.

Bagi para salik (penempuh jalan spiritual sufi) teori tajrid dan asbab atau kasab ini mungkin seringkali menjadi pertanyaan. Bahkan penulis sendiri mencoba mengidentifikasi maqom diri apakah tajrid atau asbab. Tetapi pada satu waktu, penulis mendapati bahwa usaha kita untuk mencapai sesuatu sesungguhnya suatu kenikmatan tersendiri, seni kehidupan dan pengalaman indah. Tanpa itu semua hidup akan membosankan.

Maka, baik teori tajrid ataupun asbab bukanlah hal yang perlu membuat kita sibuk memikirkannya atau mempertentangkannya, biarlah hidup kita berjalan manusiawi, dengan usaha dan perjuangan, dan jika Allah swt berbelas kasih kepada kita dengan memberi kita sesuatu yang tidak kita usahakan maka itulah anugerah Allah swt kepada kita.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Mukhrij Sidqy

Master

Dr. Mukhrij Sidqy, MA. adalah doktor di bidang Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dosen di STIQ Baitul Qur'an, Kelapa Dua, Depok. Ia menjabat sebagai Ketua Ikatan Da'i Muda Indonesia Depok, Wakil Pengasuh PP. Al-Wutsqo Depok, dan Pembina Tahfidz LPTQ Al-Muhajirin BPI Depok.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals