Jahl: Disabilitas Kognitif dan Problematika Mental

jahl/bodoh tidak dianggap sebagai kelainan mental, sementara jahiliyyah (kebodohan) adalah bentuk problematika mental6 min


8
8 points

Jahl, ketidaktahuan atau kebodohan dapat mempengaruhi pengambilan keputusan, interaksi sosial, dan perkembangan individu. Faktanya istilah “bodoh” bukan hanya muncul dan berlaku dalam kehidupan masyarakat melainkan juga terdapat dalam kitab suci khususnya Al-Qur’an. Nantinya dikenal dengan term Jahl atau Jahil. Antonim dari kata bodoh adalah pintar, kedua istilah ini sering menjadi label untuk menjustifikasi seseorang memenuhi ekspektasi atau tidak.

Pemberian label “bodoh” apabila individu tidak memenuhi ekspektasi atau label “pintar” ketika memenuhi ekspektasi. Nyatanya pemberian label tersebut memunculkan stigmatisasi dan mempengaruhi kehidupan seseorang. Karena psikologi dan agama Islam bersepakat bahwa setiap individu memiliki potensi masing-masing. Dengan demikian diperlukan pemahaman yang mendalam untuk mendudukkan istilah “bodoh” diposisi yang tepat.

Al-Aṣfahani mendefinisikan term Jahl dalam Al-Qur’an menjadi tiga arti yakni: tidak adanya ilmu dalam jiwa seseorang, keyakinan yang tidak sesuai dengan semestinya, dan melakukan tindakan yang keliru dengan keyakinan bahwa itu benar. Term Jahl juga telah diserap ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjadi kata “jahil” yang artinya bodoh atau tidak tahu (terutama masalah agama). Sementara itu menurut KBBI, “bodoh” diartikan dalam tiga arti yaitu 1) tidak lekas mengerti; tidak mudah tahu atau tidak dapat, 2) tidak memiliki pengetahuan (pendidikan, pengalaman), 3) terserah (kepadamu).

Mengacu pada uraian di atas, menimbulkan berbagai pertanyaan seperti apakah kata “jahl” dalam Al-Qur’an hanya merujuk pada arti bodoh atau kurang ilmu dan dapat diukur berdasarkan instrumen kemampuan kognitif menurut sudut pandang psikologis. Apakah kebodohan termasuk gangguan jiwa dan bagaimana bentuk jahl masa kini?

Kapan dikenalnya istilah jahl

Romziana mengungkapkan bahwa istilah jahl telah dikenal oleh bangsa Arab sebelum turunnya Al-Qur’an, umumnya ditemukan dalam syair (Hendra 2015). Setelah turunnya Al-Qur’an, kata jahl kemudian mendapat variasi baru yaitu jahiliyyah. Salih Al-Fauzan mengartikan jahiliyyah sebagai kebodohan karena tidak adanya Nabi, rasul dan kitab. Penggunaan kata jahiliyyah digunakan unutk menggambarkan kehidupan masyarakat Arab pra-Islam, pendapat ini didukung oleh Muhammad Izzat bahwa Jahiliyyah merupakan istilah Qur’ani yang bertujuan untuk menggambarkan sifat orang-orang yang menolak petunjuk dan syariat dari pada Allah.

Pada masa Nabi Muhammad saw, ketidaktahuan berupa kata jahilliyyah kadang digunakan sebagai teguran, misalnya dalam hadis Bukhari nomor 6050. Sebagai bentuk teguran kepada Abu Dzar  

Sesungguhnya pada dirimu ada sifat jâhiliyyah

Baca juga: Eksistensi Kaum Nabi Luth dalam Fenomena LGBT

Jahl/bodoh, Apakah merupakan tanda kurangnya kognitif 

Sejatinya Agama Islam dan ilmu psikologi menilai bodoh berbeda-beda tapi tidak menuntut adanya persamaan. Secara rinci Al-Qur’an menggambarkan term jahl sebanyak 24 kali beserta dengan variasinya, paling tidak sebanyak 19 kali dalam bentuk isim dan lima kali dalam bentuk fi’il. Keberagaman kata jahl tersebut bisa saja memiliki makna yang bervariasi atau fleksibel dan tidak selalu bermakna tercela.

Kata jahl sendiri berasal dari jahila – yajhalu – jahlan – jahâlatan yang artinya “tidak tahu, bodoh, dan juga pandir” (Umar 2016). Pandangan Salim dalam Syarh Bulûgh al-Marâm, Jahl memiliki dua arti yakni jahl sebagai lawan dari ‘ilm “kebodohan atas sesuatu yang belum diketahui”, jahl sebagai antonim dari hilm (santun) artinya idiot, tolol, buruk adab, dan perusak kehormatan. Sementara itu Azhari tentang jahl dalam pandangan tafsir Al-Azhar dan Al-Misbah menyebutkan bahwa arti jahl terdiri atas: orang yang belum atau tidak mengetahui, belum atau tidak berilmu, lemah atau tidak berakal, lemah iman, tidak mau menggunakan akalnya, dungu, sombong, congkak, bebal, dan orang yang menutup diri dari kebenaran (Wibawa 2023).

Al-Aṣfahani mengungkapkan bahwa jahl terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu: tidak atau belum memiliki keyakinan, pemikiran rusak namun belum parah, meyakini pemikiran rusak sehingga tertutup hatinya, dan meyakini pemikiran rusak serta dengan sadar menjalankannya (Al-Aṣfahāni 2009).

Sementara itu, Jahl atau bodoh dari kacamata psikologi dipandang sebagai kurangnya kemampuan kognitif yang mengakibatkan kesulitan dalam mengerti, mengingat, dan menerapkan informasi. Namun demikian, pandangan psikologi penggunaan kata “bodoh” atau “jahl” tidaklah diperkenankan lantaran dianggap sebagai stigmatisasi yang merendahkan, sebagai gantinya digunakan istilah “disabilitas kognitif” (Goodey 2004).

Karakter orang bodoh itu rumit dan berbagai karakteristik telah dikaitkan dengan orang bodoh: bahwa ia bodoh, tidak pandai bicara, tidak mampu menyesuaikan diri dengan standar perilaku konvensional; dan bahwa dia memiliki kesederhanaan alami dan kepolosan hati. Umumnya bodoh akan dinilai berdasarkan standar atau ukuran tertentu khususnya pada aspek kognitif. Namun demikian, pandangan psikologi lebih cenderung kearah positif terhadap disabilitas kognitif (bodoh) dan melihatnya sebagai sesuatu yang memerlukan metode dan perhatian khusus.

Dari berbagai sudut pandang, Al-Qur’an dan psikologi sepakat bahwa makna “bodoh” terkait dengan kelemahan atau ketiadaan akal. Ketidakmampuan atau ketiadaan akal akan menyulitkan dalam memahami dan mengimplementasikan informasi. Namun, perbedaan mendasar antara konsep “bodoh/Jahl” dalam Al-Qur’an dan psikologi terletak pada kriteria penilaian. Al-Qur’an menganggap seseorang yang tidak tahu sebagai bodoh, sementara psikologi menilainya berdasarkan penyerapan informasi selama proses pendidikan. Jahl dalam Al-Qur’an juga diartikan sebagai penolakan terhadap kebenaran, namun dalam psikologi tindakan penolakan tersebut dianggap sebagai akibat kurangnya pendidikan, dorongan, dan pengalaman.

Demikian pula, dari segi keluasannya, psikologi terbatas pada kemampuan kognitif, sedangkan dalam Al-Qur’an, jahl memiliki makna yang luas dan kompleks yang tidak hanya terkait dengan defisiensi kognitif. Kalau hanya mengandalkan kemampuan kognitif, maka Nabi Muhammad (saw) tidak akan bisa membaca dan menulis, apakah dianggap bodoh/jahil? bahkan masih dianggap fatanah (cerdas). Contoh lain dalam QS. Al-Maidah: 50, bahwa masyarakat Arab menentang Allah dengan hukum-hukum yang mereka buat. Hal tersebut menggambarkan bahwa mereka tidaklah bodoh dalam artian kurangnya kemampuan kognitif melainkan sengaja menolak menerima informasi.

Perbedaan lainnya dapat dipahami dari penggunaan jahl, baik dalam Al-Qur’an maupun hadis, jahl terkadang diartikan sebagai bentuk teguran sebagaimana yang ditunjukkan dalam QS. Ali-Imran ayat 154 dan Hud ayat 46.

Berdasarkan argumen di atas, penafsiran dan pemahaman terhadap kata “bodoh” atau “jahl” memunculkan berbagai pandangan baik secara positif maupun negatif. Namun demikian bodoh/jahl dalam Al-Qur’an tidak terbatas pada kekurangan kognitif, melainkan mencakup berbagai aspek kehidupan dan kepribadian seseorang. Seseorang tidak hanya dianggap bodoh karena memiliki kekurangan dalam kemampuan berpikir atau belajar, tetapi juga karena ketidaksadaran akan konsekuensi dari tindakan mereka. Bodoh juga dapat merujuk pada sifat dan perilaku yang tidak cerdas, seperti ketidaksopanan, ketidakbijaksanaan dalam mengambil keputusan, dan kurangnya tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa bodoh tidak hanya terbatas pada kekurangan kognitif saja, tetapi juga melibatkan aspek-aspek lain di dalamnya.

Baca juga: Literasi dan Islam: Sebuah Ikhtiar untuk Kemajuan Bangsa

Jahl/bodoh, Apakah problematika mental 

Membahas apakah bodoh merupakan masalah mental bisa menjadi topik yang menarik untuk ditelusuri. Langkah pertama yang harus disadari meletakkan posisi bodoh itu di mana, apakah ditempatkan sebagai sifat atau tindakan. Apabila diletakkan pada posisi sifat dan kondisi, maka jahl/bodoh diartikan sebagai suatu kondisi bawaan seperti ketidaktahuan maupun lemahnya dalam penyerapan informasi dan pengambilan keputusan. Sementara jika diartikan sebagai tindakan maka kata jahl berubah menjadi jahiliyyah (kebodohan) dan bisa berupa sesuatu yang dipilih atau disengaja (Lapadi 2022).

Bodoh sebagai suatu sifat adalah sesuatu yang berada di luar kendali individu tergambar dari kurangnya kemampuan intelektual atau kognitif maupun kelainan perilaku. Untuk itu tidak adil rasanya apabila mencap bodoh sebagai suatu kelainan mental, sebaliknya dianggap sebagai variasi dari tingkat kognitif manusia. Di sisi lain, bodoh dalam artian ketidaktahuan masih bisa diatasi melalui proses pendidikan. Dengan kata lain, bodoh itu bersifat sementara. Tapi tidak menuntut bodoh mengarah ke gangguan mental, misalnya seseorang yang dalam gangguan kognitif sulit untuk memperoleh dan mempertahankan pengetahuan sehingga mengarah pada kebodohan. Kondisi tersebut lebih sering dianggap sebagai kebodohan yang tidak disengaja.

Berbeda dengan bodoh, kebodohan cenderung dilihat sebagai sebuah kondisi mental, misalnya ketidaktahuan yang disengaja, dimana individu secara aktif memilih untuk tetap tidak mendapat informasi atau menolak menerima informasi baru. Tindakan seperti ini akan menghambat perkembangan dan pemahaman, menghambat pemikiran kritis, dan mengurangi kontribusi individu dalam problematika sosial. Kesimpulannya bodoh atau ketidaktahuan tidak selamanya masalah mental, hal tersebut masih bisa diperbaiki melalui pendidikan. Sementara kebodohan sebagai tindakan sengaja dan menolak untuk memperoleh informasi adalah suatu bentuk kelainan mental.

Jangan marah

Sebagaimana didefinisikan, istilah jahl (bodoh) dan jahiliyyah (kebodohan) bukan sekedar kekurangan kognitif melainkan termasuk kualitas, sikap, dan tindakan. Jahl sebagai bawaan atau ciri alami tetap masih didapati hingga saat ini dan dipengaruh oleh berbagai faktor. Di antara faktor tersebut seperti individu memiliki kemampuan kognitif yang berbeda-beda, ketersediaan informasi atau ilmu pengetahuan dan akses pendidikan.

Sementara itu, beberapa contoh jahiliyah (kebodohan) di masa sekarang dilihat berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an, antara lain:

  1. Berbuat jahat (QS. An-Nisa ayat 17, Al-An’am ayat 54 dan An-Nahl ayat 119)
  2. Menyembah berhala berdasarkan (QS. Al-A’raf ayat 138)
  3. Mempercantik dan mempertontonkan aurat secara berlebihan (QS. Al-Ahzab ayat 33)
  4. Orientasi seksual yang salah (penyuka sesama jenis) (QS. An-Naml ayat 55)
  5. Mengajak manusia berbuat syirik (QS. Az-Zumar ayat 64)
  6. Ketidaktelitian dalam menerima informasi (QS. Al-Hujurat ayat 6)

Jahl dan jahiliiyah memiliki posisi dan makna yang berbeda namun memiliki keterkaitan yang erat. Dalam penanganannya jahl dapat diminimalisir dengan pendidikan dan penyediaan informasi. Di sisi lain, jahiliyyah seperti dikutip dari situs Muhammadiyah dapat diatasi dengan membangun sistem hukum yang tegas dan transparan berdasarkan nilai-nilai Islam, menyebarkan luaskan dakwah Islam dengan tujuan membangun kesadaran masyarakat dan bersama-sama melawan tindakan yang meresahkan masyarakat.

Referensi

Al-Aṣfahāni, Al-Rāgib. 2009. Mufradāt Alfaẓ Al-Qur’ān . Damaskus: Dār al-Qalam,.

Goodey, CF 2004. “’Kebodohan’ dalam Pengobatan Modern Awal dan Konsep Disabilitas Intelektual.” Riwayat Medis 48 (3): 289–310. https://doi.org/10.1017/S002572730000764X .

Hendra, Muhammad. 2015. Jahiliyah Jilid II. Yogyakarta: Deepublish.

Lapadi, Saleh. 2022. “Kitab Akal Dan Ketidaktahuan.” WWW.Erfan.Ir. 2022. https://erfan.ir/indonesian/82758.html.

Umar, Abdul Rahman. 2016. “Konsep Jahiliyah dalam Al-Qur’an.” PappasanRâyah Al-Islâm: Jurnal Kajian Islam 1 (1): 47–62. https://doi.org/10.46870/jiat.v3i2.52 .

Wibawa, Muhda Ashari Dimiyati. 2023. “Konsep Dan Profil Jahl Dalam Al-Qur’an Perspektif Tafsir Al-Azhar Dan Tafsir Al-Mishbah.” Universitas Ahmad Dahlan.

Editor: Ahamd Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!


Like it? Share with your friends!

8
8 points

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
muhiqbal

Master

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals