Idealisme dalam Perspektif Psikologis Carl Rogers

Tulisan ini dibuat untuk mengkritisi dan merefleksi pada klaim-klaim yang menyebut dirinya idealis, padahal hanya omong kosong. 7 min


1
1 point
Sumber gambar: depositphotos.com

Dalam proporsi kita sebagai manusia, adalah hal yang lumrah bahwa kebenaran yang digapai menjadi sesuatu yang bersifat subjektif. Ini tidak dapat kita pungkiri. Terlebih menyangkut hal-hal yang prinsip maupun privasi. Batas-batas di sepanjang kehidupan manusia akan selalu dibayang-bayangi kebenaran yang lainnya. Manusia akan diberi pilihan pada akhirnya. Mempelajari antitesis dari kebenaran miliknya atau menolak lalu kukuh terhadap kebenaran yang dianggapnya mutlak padahal baru bersifat subjektif.

Lantas, dari mana datangnya keobjektifan yang universal?

Realitas demi realitas senantiasa memberikan fakta bahkan dalih untuk memperkuat argumentasi kita. Sehingga hal itu dapat divalidasikan kemudian terdengar objektif dikarenakan itu murni dipandang bukan hanya dari sudut pandang tunggal. Dalam filsafat empirisme, pengetahuan dapat bersumber dari materi yang didapatkan (masalah yang menjadi agen realitas) kemudian dipelajari hingga menjadi suatu idea (kesimpulan yang mungkin menjadi solusi permasalahan manusia). 

Pertanyaan selanjutnya, apakah idea dituntut untuk konkrit? Memang tidak selalu, namun idealisme yang digaungkan butuh pertanggungjawaban dari mana idea tersebut diinkubasikan. Misalnya saja, Tan Malaka mengatakan “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”. 

Mengapa hanya pemuda? Mengapa menjadi kemewahan terakhir? Apakah idealisme akan menjadi kandas bila tidak menjadi pemuda lagi? Apakah semakin berumur, seseorang tidak dapat merekonstruksikan idea-nya untuk permasalahannya dalam kehidupan? Apakah idea pada pemuda mesti menjadi yang universal dan objektif sehingga menjadi yang tertinggal bila tidak terwujud?

Dahulu, konteks kepemudaan yang disebutkan di atas adalah sebuah simbolisme dari perwujudan semangat dari sebuah pergerakan. Intinya, yang bergerak dialah yang muda, yang berbahaya. Sejarah Kongres Pemuda contohnya, banyak dari sana yang mengungkapkan kekritisan sehingga perlu diorasikan dalam rapat-rapat kongres tersebut (Dirjenbud, 2024). Gerakan kritisisme dari pemuda menjadi buah idealisme yang dituai oleh pemuda.

Mari kita hayati hingga saat ini, apakah ide-ide yang dikontemplasikan dan disampaikan dalam uraian sejarah tersebut masih terimplementasikan? Atau hanya sebatas bualan yang sudah dimanifestasikan dalam bentuk janji-janji dan sumpah-sumpah? Berikut adalah poin-poin pikiran saya yang mana makna dari idealisme telah bergeser:

Idealisme hanya sebatas idealisme tanpa aksi

Aksi (matter) dapat dikatakan sebagai perwujudan dari ide. Banyak dari beberapa orang mengatakan idealismenya sebagai omong kosong. Karena memang hanya omong kosongnya-lah materi (aksi)-nya. Dalam fenomena ini kerap disebut dalam Quran dengan kaburo maqtan. Disebutkan bahwa perencanaan dan pengorganisasian hanya akan menjadi sia-sia bila tidak dilanjuti dengan pelaksanaan. 

Diksi kaburo maqtan yang diambil dari ayat 3 Surah As Shoff menjadi diksi yang mengartikan kesombongan bagi orang yang hanya bisa merencanakan namun tidak ada pengaplikasian dari apa yang telah direncanakan (Ahmad Jaelani, Nurwadjah Ahmad & Andewi Suhartini, 2020, hal. 70). 

Idealisme macam ini dapat ditemukan pada kamu-kaum prokastinator. Dikatakan prokastinator dengan apa yang dijelaskan oleh Carl Rogers (1902-1987) (Feist & Feist, 2010)–seorang psikolog yang terkenal dengan pendekatan terapi klinis yang berpusat pada klien–dikarenakan adanya kendala dalam mengaktualisasikan dirinya, dan merealisasikan idenya. Sebagai tokoh psikolog dengan aliran humanistik, ia berpendapat bahwa manusia itu sebenarnya adalah sehat atau baik (LPKA UMY, 2020). Oleh karenanya, manusia mesti mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri termasuk kontrol atas merealisasikan idenya. 

Secara teoritis, ketidaksesuaian (incongruence) antara yang ideal dengan realitas juga terjadi dari dalam diri manusia. Itulah kenapa, Carl Rogers menyebutkan adanya ideal self dan real self. Rogers mengatakan bahwa ada dua self dalam diri manusia, Real Self yaitu dirinya yang nyata dan Ideal Self yaitu diri yang idealnya (Rabbani et al, 2018). Saya membahasakan Real Self sebagai diri yang digambarkan dengan realitas yang disadarinya, sesuai dengan fakta dan subjektifitasnya. Sedangkan Ideal Self sebagai diri yang digambarkan dengan citra yang diinginkannya secara sadar, sesuai dengan dorongan pada dirinya dan objektifitasnya kendati tetap mendasar dari pengalaman subjektifnya. 

Sehingga akan sangat mungkin real self tumbuh didasari dari pengalaman aktual sedangkan ideal self tumbuh terpengaruhi dari harapan pribadi maupun standar sosial dan lingkungan. Untuk itu, ketidaksesuaian antara ideal self dengan real self menjadikan tidak sedikit orang yang mengalaminya merasa terjebak di ideal self atau sebaliknya pesimistik dengan real self yang dimilikinya. 

Idealisme, sesuai dari istilahnya merujuk pada pemikiran yang dianggap ideal, hal itu tentu saja berangkat dari yang punya pikiran–yaitu manusia. Jiwa yang terwakilkan dari konteks “mind” tentu saja bisa dipengaruhi dari istilah ini. Namun perlu disadari juga, orang yang berpikir ideal mesti tetap menjejak kakinya dalam realitasnya sehingga bukan menjadi seorang yang hanya mengawang-ngawang larut dalam dunia imajinya, yang tentu saja dapat berpotensi adanya psikopatologis dalam diri. Itulah kenapa omong kosong sebagai salah satu perwujudan konteks kaburo maqtan yang sudah disinggung dalam koridor idealisme yang tanpa aksi. Bila ini berlanjut terus dapat menjadi penyakit dalam jiwa. 

Lebih menariknya, untuk konteks tersebut, orang yang idealismenya sebatas idealisme tanpa aksi, hanya berkoar-koar kemudian seolah menularkan ide kepada yang lain untuk dilakukan aksinya. Apakah itu ideal? Silakan pembaca analisis dan berikan kesan awal. 

Idealisme hanya sebatas idealisme tanpa refleksi

Sebagaimana yang sudah disinggung, orang yang berpikir ideal mesti tetap menjejak kakinya dalam realitasnya sehingga bukan menjadi seorang yang hanya mengawang-ngawang dan larut dalam dunia imajinya. Artinya perlu adanya refleksi agar idealisme tidak menjadi beban, bahkan menciptakan tekanan dan kekecewaan dalam diri. Dengan refleksi juga, idealisme dapat menjadi medium untuk berkembang secara personal. Ambisi dan kenyataan menjadi seimbang. 

Akan tetapi, apakah refleksi ini mudah?

Dalam kehidupan yang penuh dengan paradoksal nilai (Dery, 2024), kita bisa memberi nilai apa saja terhadap yang kita temukan di lingkungan. Hanya saja, kita lupa untuk menilai diri kita yang juga merupakan bagian dari lingkungan tersebut. Misalnya, kita menilai sistem pendidikan di negeri sangat bobrok. Artinya, dari argumen itu mengatakan bahwa lingkungan di dunia pendidikan adalah sangat buruk. Dibarengi dengan pernyataan bagaimana dunia pendidikan mestinya berjalan, dan seterusnya. Tentu saja ini menjadi idealisme tanpa refleksi. Hal ini dikarenakan memisahkan diri pada konteks yang dinilai. Sistem pendidikan tidak akan berdiri sendiri tanpa manusianya. Begitupun dengan lingkungan manapun di mana manusia berada. 

Refleksi ini dapat melibatkan konsep Roger antara Real Self – Ideal Self atau Ideal Self – Real Self. Tujuan dari refleksi ini tentunya agar manusia menyadari dua hal dalam dirinya apakah sedang mengalami keselarasan (congruence) atau ketidakselarasan (incongruence). Individu yang mengalami keselarasan akan merasa lebih otentik, puas, dan memiliki keseimbangan psikologis. Sedangkan individu yang mengalami ketidakselarasan akan merasa tidak diterima apa adanya atau merasa terlalu banyak tekanan ekspektasi yang perlu ia penuhi sehingga menjadi tidak seimbang secara psikologisnya. 

Idealisme mengikat komitmen secara pribadi terhadap idea-nya bukan hanya dogma dalam lisan

Pernah Anda mendengar kalimat pepatah “Seseorang dinilai dan dipegang dari omongannya” dan ini mestinya berlaku untuk keseluruhan gender. Banyak kalimat serupa yang merujuk pada integritas diri, yaitu keselarasan ideal self dengan real self; dalam bahasa Arab mengatakan “Al-insân bi ahdihi” (Manusia dinilai dari janji-janjinya), dalam bahasa Latin “Dictum meum pactum” (Ucapanku adalah janjiku), bahkan dalam bahasa Jawa “Ajining diri gumantung saka ing lathi” (Harga diri tergantung pada ucapan).

Kita tarik kembali perihal yang menarik di atas, orang yang hanya berkoar-koar perihal idenya kemudian seolah menularkan ide kepada yang lain untuk dilakukan idenya dengan aksi mereka. Kendati idealisme dapat diwujudkan seperti menunjukkan jari kepada orang lain, maka sudah semestinya bahwa ia menyadari ada tersisa 4 jari yang menghadap kepadanya. 

Artinya, idealisme itu mesti mengikat komitmen pada si pencetus ide. Bukan hanya dogma dalam lisan. Bila itu dilanjut terus tanpa diputus dengan kesadaran kolektif, maka sangat banyak sekali manusia yang terjebak dalam ilusi ideal self ditambah ketidakselarasan dan kekecewaan akibat ketidakpuasan dalam diri sehingga menjadi penyakit yang tidak ada obatnya. 

Misalnya lagi, apakah nasehat adalah bentuk idealisme? Bisa saja, hal itu ideal karena mengarahkan pada yang seharusnya terjadi sesuai harapan sosial, namun apakah nasehat juga diperlukan untuk terefleksikan ke diri penasehat? Jawabannya, adalah sangat perlu. Artinya nasehat bukan hanya nasehat untuk menggurui namun sekaligus menyadari diri kita sehingga terefleksi ke alam sadar kita bahwa kita masih perlu belajar dan belajar. 

Butuh terus akan pengembangan diri. Bukan lantas dengan dapat menasehati, kita dapat menjadi sosok yang purna dan berharap itu dapat didengar dan dilakukan oleh orang lain. Termasuk tentunya pada tulisan ini. Artinya, tulisan ini mengikat komitmen pada si penulis secara pribadi dari ide yang dituliskan. Bukan sebatas dogma picisan yang bisa saja dishare kemana saja. 

Dalam model teori psikologinya Rogers (Feist & Feist, 2010), Rogers menentukan adanya dua keadaan dalam diri manusia untuk mengaktualisasikan dirinya. Pertama, eksistensi manusia adalah korban dari conditional positive regard (Ideiswasti, 2013). Kedua, eksistensi yang tidak diharapkan dari manusia membutuhkan unconditional positive regard. Dikatakan keadaan pertama, yaitu conditional positive regard adalah lingkungan kita akan menjadi kontrol untuk mengarahkan perilaku manusia sebagaimana mestinya sehingga manusia akan dihargai jika memenuhi syarat tertentu. Dan apabila tidak, maka akan masuk ke penjelasan keadaan kedua. 

Dikatakan keadaan kedua, yaitu unconditional positive regard adalah dukungan yang dibutuhkan manusia dikarenakan dirinya adalah manusia. Bagaimana jika sekiranya manusia tidak sesuai dengan norma sosialnya? Tentu akan mendapat banyak hal negatif dirinya, seperti pengucilan dan seterusnya. Oleh karena itu, keadaan unconditional positive regard diharapkan dapat mengembalikan keselarasan dalam hidupnya. 

Eksistensialisme dalam idea

Carl Rogers sebagai tokoh humanistik mengarahkan pada kebutuhan aktualisasi diri untuk eksistensi diri manusia. Pengaktualan tersebut akhirnya mendapatkan dinamika antara diri yang nyata dengan diri yang diharapkan (real self versus ideal self). Yang sejatinya (tentu idealnya) adalah di mana real self selaras dengan ideal self-nya, begitupun sebaliknya. 

Apakah kita dapat menilai diri kita? Tentu bisa. Ini yang akan menjadi dorongan untuk menegaskan konsep diri sebagai real self

Apakah kita ditentukan oleh nilai sekitar kita? Tentu saja bisa. Ini akan menjadi dorongan ideal self ke diri kita.

Salah satu cara untuk merefleksi apakah telah selaras konsep diri kita baik real self dan ideal self, adalah dengan muhasabah (Luky Arya Suwandi, 2018, hal 35-45). Adapun cara lainnya adalah dengan menjadi teladan, dalam arti lain mentransenden idea dirinya dalam realitasnya sebagaimana yang diungkapkan dalam konsep kepemimpinan profetik (Luthfi Faishol, 2020, Hal. 44). Dengan begitu konflik batin bahkan konsep diri yang terbangun tidak akan tercederai karena yang sejatinya tidak ada yang tercederai, sebagaimana yang pernah saya tulis perihal eksistensi (Dery, 2023). 

Meskipun kesibukan manusia selalu berkutat drama-drama ekstensialisme tersebut, konflik selalu ada, ketersinggungan dan harga diri, itu semua semata-mata menjadi bahan bakar diri pribadi untuk menjadi yang berkembang dan mengaktualisasikan nilai yang dimiliki. Bisa jadi generasi-generasi sekarang atau sebelumnya terlalu malas dan akhirnya mewarisi kemalasan kepada setelahnya untuk ambisi yang tidak tercapai itu. Dengan begitu, idea itu saja yang dapat direalisasikan – yaitu omong kosong. 

Referensi

Jaelani, Ahmad., E.Q Ahmad, Nurwadjah., dan Suhartini, Andewi. “Landasan Teologis Manajemen Pendidikan Islam”. Leaderia: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 1,2 (Desember 2020): 63-75

Faishol, Luthfi. “Kepemimpinan Profetik dalam Pendidikan Islam”. Eduprof : Islamic Education Journal 2,1 (Maret 2020): 39-53

Feist, Jess dan Feist, Gregory. Teori Kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika, 2010.

Kurniawan, Dery. Damai dan Ketersinggungan. Artikula.id – Bijak Menyikapi Perbedaan. (Januari, 2023)

Kurniawan, Dery. Werewolf dalam Perspektif Psikologi Kognitif. Artikula.id – Bijak Menyikapi Perbedaan. (Mei, 2024)

Suwandi, Luky Arya. “Telaah Konsep Diri Carl Rogers Melalui Perspektif Muhasabah Al-Ghazali” Skripsi., IAIN Bengkulu, Bengkulu, 2021. Repository IAIn Bengkulu. 

Dirjenbud. 2024. Sejarah Sumpah Pemuda – Museum Sumpah Pemuda diakses 5 Desember 2024    https://museumsumpahpemuda.kemdikbud.go.id/sejarah-sumpah-pemuda/

Rabbani et.al (2018). Teori Carl Rogers. Sosiologi79 diakses 5 Desember 2024 https://www.sosiologi79.com/2018/08/carl-rogers-teori.html

Ideiswasti (2013). Real Self vs Ideal Self. Ideiswasti RSS diakses 5 Desember 2024 https://ideiswasti.staff.ugm.ac.id/2013/01/29/real-self-vs-ideal-self/

LPKA UMY, (2020). Ideal Self of Real Self. Ideal Self of Real Self – LPKA UMY diakses  5 Desember 2024 https://lpka.umy.ac.id/ideal-self-or-real-self/#:~:text=Konsep%20diri%20yang%20dikemukakan%20Carl,seseorang%20pada%20realitanya%20saat%20ini.

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Dery Kurniawan
sekiranya ketiadaan dapat diterima sebagai eksistensi, memperkenalkan diriku hanya sebatas pengingat bahwa aku bukan siapa-siapa melainkan Dia yang menjadikanku siapa.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals