Amanat dan Tanggung Jawab Pemimpin

"..Pemimpin mesti berorientasi untuk berjasa, tapi tidak minta jasa. Berkorban, tapi tidak menjadi korban.."


Suber foto: dreamstime.com

Amanat ialah sesuatu yang dipercayakan kepada pihak lain. Atas dasar itu ia mempunyai hak untuk bertindak. Ia dapat menggunakannya sesuai dengan ketentuan yang sudah diberikan, tetapi ia juga kuasa menggunakannya dengan cara lain. Sebuah amanat tidak ada artinya jika yang memegang tak punya kekuasaan untuk bertindak. Pemberi amanat percaya dan mengharapkan pemegang amanat menggunakannya sesuai dengan maksud dan tujuannya.

Allah swt berfirman dalam Al-Quran,Sungguh, Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semua enggan memikulnya, karena khawatir akan mengkhianatinya. Maka manusia datang memikulnya. Manusia sungguh zalim dan amat bodoh (QS 33:72).

Langit, bumi, dan gunung-gunung adalah simbol. Langit simbol para malaikat yang kemauannya sepenuhnya tunduk kepada Allah swt; gunung simbol kemantapan dan keteguhan; bumi simbol ketundukan kepada hukum Allah swt. Semuanya tunduk tanpa kemauan dan kehendak bebas mereka sendiri. Maka di sini amanat tidak berlaku. Manusialah yang sanggup mengemban amanat tersebut berbekal akal pikiran dengan menanggung segala risikonya.

Kepemimpinan adalah amanat sekaligus tanggung jawab. Pemimpin niscaya berlaku adil kepada pihak yang dipimpinnya. Allah swt berpesan dalam Al-Quran,

Loading...

Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang layak menerimanya. Apabila kamu mengadili di antara manusia, bertindaklah dengan adil. Sungguh Allah mengajar kamu dengan sebaik-baiknya. Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS 4:58).

Menunaikan amanat adalah salah satu kunci keberuntungan orang beriman (QS 23:1-11). Ketika Alah swt mengangkat Nabi Daud as sebagai khalifah di bumi, pesan utamanya ialah agar ia melaksanakan hukum secara benar dan tidak mengikuti hawa nafsu. Allah swt berfirman,

Hai Daud, Kami jadikan engkau khalifah [penguasa] di muka bumi, maka laksanakanlah hukum di antara manusia dengan benar dan adil, dan janganlah memperturutkan hawa nafsu, karena itu akan menyesatkan kau dari jalan Allah. Sungguh, orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat hukuman berat, sebab mereka melupakan hari perhitungan. (QS 38:26).

Nabi Daud as pun lebih dahulu diuji dengan pengaduan dua orang yang berperkara perihal kambing mereka. (QS 38:21-25). Calon pemimpin zaman now dievaluasi track record-nya.

Allah swt mengingatkan rakyat agar tidak main uang untuk memenangkan perkara dalam pengadilan. Hal itu juga bermakna bahwa para pejabat tidak boleh menyalahgunakan jabatannya.

Janganlah kamu memakan harta di antara kamu secara tidak sah dan jangan membawa harta itu untuk menyuap hakim, dengan tujuan agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui. (QS 2:188).

Allah swt tidak meridhai pemimpin yang zalim, sebagaimana firman-Nya ketika mengangkat Nabi Ibrahim as sebagai imam bagi umat manusia.

Ingatlah, ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan perintah-perintah tertentu, lalu ia menunaikannya; Allah berfirman, “Aku jadikan engkau seorang imam umat manusia.” Ibrahim bermohon, “Dan imam-imam dari keturunanku.” Allah berfirman, “Janji-Ku ini tidak berlaku bagi orang yang zalim.” (QS 2:124).

Manusia pada umumnya cenderung berkeluh kesah dan kikir. Kurang mensyukuri nikmat Allah swt. Salah satu anugerah Allah swt yang niscaya disyukuri ialah amanat, baik amanat pribadi maupun amanat sosial. Allah swt berfirman dalam Al-Quran dalam rangkaian ayat yang mirip dengan rangkaian ayat terdahulu (QS 70:19-35).

Allah swt melarang orang beriman mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadanya.

Hai orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan mengkhianati segala amanat yang dipercayakan kepadamu, padahal kamu tahu. Ketahuilah bahwa harta bendamu dan anak-anakmu adalah cobaan; dan hanya pada Allah pahala yang besar. (QS 8:27-28).

Tanggung jawab seseorang dalam mengemban amanat diuji dengan harta benda dan anak-anak. Karena terpesona harta seseorang dapat menyelewengkan amanat dan tanggung jawab yang diembannya dengan melakukan korupsi, menerima suap dan gratifikasi, atau sebaliknya, mengeluarkan uang milik negara untuk melestarikan jabatan atau untuk memenangkan Pilkada. Demi masa depan dan karir anak seorang pejabat dapat pula menyalahgunakan wewenang dan jabatannya. Allah swt berfirman,

Tidak mungkin seorang nabi akan berkhianat. Barang siapa berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, pada hari kiamat ia datang membawa hasil pengkhianatannya itu, kemudian setiap nyawa akan menerima balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya. Tak ada yang diperlakukan tak adil. (QS 3:161).

Al-Quran dengan sangat indah menggambarkan kelakuan sebagian Ahli Kitab perihal amanat sebagai berikut.

Allah menentukan rahmat-Nya kepada yang Dia kehendaki dan Allah mempunyai karunia yang besar. Ada di antara Ahli Kitab itu yang bila kauberi kepercayaan dengan setimbunan emas, ia mengembalikannya kepadamu; tetapi ada juga orang yang jika kauberi kepercayaan dengan satu dinar saja, tidak dikembalikan kepadamu kecuali bila kamu tagih berulang-ulang, sebab mereka berkata, “Tidak ada kewajiban bagi kami tetap setia kepada orang bodoh.” Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. Ya, barang siapa menepati janji dan bertakwa, maka Allah mencintai mereka yang bertakwa.(QS 3:74-76).

Pemimpin niscaya menjadi teladan umat dan rakyat dalam segala aspek kehidupan. Karakter pemimpin profetik ialah shidiq, amanah, tabligh, fathanah. Dalam rumusan Ki Hajar Dewantara, “Ing ngarsa asung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani – di depan memberikan contoh keteladanan, di tengah ikut bekerja dan berjuang, di belakang memberikan dorongan dan motivasi.”

Pemimpin mesti berorientasi untuk berjasa, tapi tidak minta jasa. Berkorban, tapi tidak menjadi korban. “Bandha, bahu, pikir; lek perlu sak nyawane pisan – berkorban harta benda, tenaga dan pikiran; bila perlu dengan nyawa sekalian.”

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

Loading...

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
2
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
8
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
2
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals