Menyikapi Kemajemukan Perspektif Al-Qur’an dalam Bingkai Keindonesiaan

Akhirnya, memaklumi keniscayaan adanya perbedaan, lalu memfokuskan diri pada titik persamaan, merupakan cara terbaik dalam menciptakan kerukunan.


Indonesia merupakan negara majemuk dengan komposisi etnis yang beragam. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri untuk terus dikaji di kalangan tokoh agama. Ibarat pisau bermata dua, keberagaman Indonesia di satu sisi dapat menjadi good potential (nilai positif) apabila mampu merawatnya hingga menciptakan kerukunan. Namun, di sisi lain tidak bisa dipungkiri bahwa keberagaman juga seringkali menjadi pemicu timbulnya ketegangan, konflik dan kekacauan akibat minimnya kebijaksanaan dalam menyikapi hal tersebut. Seperti yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah.

Hingga saat ini, keberagaman agama dan keyakinan memang masih menjadi pemicu utama terjadinya perpecahan di dunia, termasuk salah satu korbannya adalah Indonesia. Berbagai peristiwa kekerasan, intoleransi, diskriminasi, radikalisme, hingga aksi terorisme menjadi suatu hal yang biasa kita dengar di negeri ini. Mulai dari perusakan rumah ibadah, persekusi tokoh agama, pengeboman tempat-tempat wisata, hingga kasus pelecehan agama sebagaimana yang baru-baru ini menimpa ibu Meliana. Tentu saja ini akan berdampak besar bagi keutuhan negara ini.

Perlu disadari, adanya kemajemukan ini merupakan kehendak Yang Maha Kuasa (sunnatullah). Tuhan telah menciptakan semua makhluk dalam keadaan yang bermacam-macam, termasuk manusia. Tidak hanya beragam dalam bentuk fisik saja, melainkan juga berbeda dalam hal ide, pikiran, gagasan, dan keyakinan. Semua agama pun mengamini adanya keberagaman ini.

Dalam Al-Qur’an, banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan bahwa keberagaman merupakan suatu keniscayaan yang akan selalu menghiasi kehidupan manusia. Salah satunya QS. Al-Hujurat ayat 13 yang sering menjadi dalil dan objek kajian para cendekiawan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, Aku ciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan Aku jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal. Dan sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Teliti”. (Q.S Al-Hujurat: 13)

Tidak hanya menjelaskan keniscayaan adanya keberagaman, ayat ini juga dengan tegas menyebutkan tujuan diciptakannya keberagaman tersebut.

Dikatakan bahwa tujuannya adalah “li ta’arafu”, yaitu untuk saling mengenal. Bukan hanya sekedar kenal nama, tahu alamat rumah, nomor handphone, atau tahu wajah saja. Melainkan lebih dari pada itu. Saling mengenal yang dimaksud adalah saling memahami kebiasaan, tradisi, adat-istiadat, pikiran, hasrat-hasrat satu sama lain yang tak sama. Lebih jauh, “li ta’arafu” memiliki makna supaya manusia saling menjadi ‘arif (bijaksana) dengan yang lain, saling menghargai terhadap segala perbedaan yang ada.

Quraish Shihab mengatakan, semakin kuat pengenalan satu pihak kepada pihak lainnya, maka semakin terbuka peluang untuk saling memberikan manfaat. Jika saling mengenal, seseorang akan lebih gampang untuk bekerja sama, berinteraksi positif, saling melengkapi, dan menarik pelajaran satu sama lainnya.

Inilah yang menjadi sarana bagi seseorang hingga menjadi manusia terbaik dan dapat meningkatkan ketakwaannya kepada Allah SWT. Seperti yang pernah disampaikan Nabi dalam hadisnya, “orang yang paling baik ialah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada yang lainnya”. (Shihab, 2005: 262).

Selaku orang pertama yang menerima ayat suci ini, Nabi Muhammad SAW memberikan teladan yang luar biasa. Beliau mengaktualisasikan langsung nilai-nilai yang terkandung dalam ayat ini di kehidupannya. Bagaimana Nabi berinteraksi dengan orang-orang nonmuslim, terlihat  jelas dalam sikap dan perilaku beliau.  selalu menghargai dan menyayangi tanpa membeda-bedakan.

Ketika beliau di Madinah, Nabi membuat “Piagam Madinah” sebagai sebuah kesepakatan untuk merangkul dan menyatukan seluruh elemen masyarakat Madinah, mulai dari umat Yahudi, Nasrani, hingga umat Islam. Semuanya merasa nyaman dan dapat menjalankan agamanya masing-masing tanpa ada hambatan dan gangguan.

Demikian pula para founding fathers kita terdahulu merawat kebhinnekaan Indonesia. Pesan-pesan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 di atas, mereka aktualisasikan sehingga tercipta semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” –berbeda-beda tetapi tetap satu jua- sebagai simbol kemajemukan negara ini. Dalam pidatonya, Soekarno pernah menyampaikan makna semboyan tersebut. Baginya kebhinnekaan bermakna heb God lief boven alles Uw naasten gelijk U zelf, “mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri”, dan Tat Twam Asi, “aku adalah dia, dia adalah aku, tiada perpisahan”.

Indonesia adalah milik kita semua. Bukan milik satu golongan, satu agama, dan bukan pula milik satu suku atau adat istiadat. Kita semua yang mendirikannya, maka kita pula yang harus mendukung dan merawatnya. (Susilo, 2008: 91-92)

Keberhasilan para founding fathers terdahulu dalam menjaga keutuhan NKRI mestinya kita teladani. Melalui keteladanan yang mereka berikan. Sepatutnya kita bantu mereka untuk selalu merawat kebhinnekaan Indonesia dengan mengaktualisasikan kembali (re-aktualisasi) nilai-nilai yang terkandung dalam Q.S Al-Hujurat ayat 13.

Sebagaimana Gus Dur, yang semasa hidupnya selalu memandang manusia, menjaga hak-haknya sebagai ciptaan Tuhan, siapapun dia, dan di manapun dia berada, tak peduli bagaimana latar belakangnya. Bagaimana Tuhan selalu mengasihi dan menyayangi seluruh ciptaannya, seperti itu pula yang Gus Dur inginkan. Hingga di akhir masa hidupnya, bahkan sampai detik ini, ia dikenang sebagai “Bapak Pluralisme Bangsa”. (Husein Muhammad, 2012: 51-65)

Akhirnya, memaklumi keniscayaan adanya perbedaan, lalu memfokuskan diri pada titik persamaan, merupakan cara terbaik dalam menciptakan kerukunan.

Semua manusia adalah sama, tak peduli dari mana asal usulya, apa jenis kelamin dan warna kulit mereka, suku mereka, ras dan kebangsaan mereka. Semuanya berhak memperoleh kebaikan dan keselamatan. Dengan demikian, Indonesia akan terjaga dari kerusuhan dan perpecahan. Tidak lagi ada diskriminasi, persekusi, dan intoleransi.

Agenda-agenda kemanusiaan seharusnya dilakukan dengan kerja sama antar agama, seperti memberantas kemiskinan, memerangi kebodohan, mencegah korupsi, serta memajukan bangsa dan negara, akan lebih mudah untuk dicapai dengan segera. Sehingga, rakyat Indonesia menjadi lebih sejahtera dan hidup dalam keharmonisan.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
2
Sedih
Cakep Cakep
6
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Suka Suka
6
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals