74 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia: Refleksi Seorang Guru

Yang namanya pahlawan bukan hanya berlatar militer. Ada dari kalangan ulama, guru, dan petani yang turut berjuang membebaskan bangsa ini dari jerat kolonialisme.


Alhamdulillah, pada bulan Agustus saya masih diberi kesempatan oleh Allah mengikuti upacara memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74. Usia 74 tahun untuk ukuran manusia sudah tergolong usia tua. Namun untuk ukuran sebuah bangsa, masih relatif muda. Kemerdekaan negara kita berkat rahmat Allah. Hal ini sudah termaktub dalam pembukaan UUD tahun 1945. Selain itu atas perjuangan dan pengorbanan para pahlawan. Yang namanya pahlawan bukan hanya berlatar militer. Ada dari kalangan ulama, guru, dan petani yang turut berjuang membebaskan bangsa ini dari jerat kolonialisme. Mereka punya semboyan, “Merdeka atau mati syahid”.

Ada pangeran Diponegoro yang ternyata seorang ulama dan mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiah. Dalam perang Jawa, beliau dibantu Kyai Maja sebagai guru spiritual. Perang Jawa menelan korban yang tidak sedikit, disebutkan 200 ribu rakyat meninggal dunia. Sosok Panglima besar Jenderal Sudirman ternyata seorang guru Muhammadiyah. Konon Pak Sudirman pernah menjual perhiasan istrinya demi membiayai perang, khususnya ransum untuk tentaranya. Kemudian KH. Hasyim Asyari, ulama besar asal Tebuireng-Jombang. Beliau ini penggagas Resolusi Jihad. Apabila kita menyimak film “Sang Kyai”, di sana ada santri Tebuireng yang berhasil menghabisi jenderal AWS Malaby.

Kalau di kota Malang, kota kelahiran saya banyak pahlawan yang berjasa, nama-nama mereka diabadikan menjadi nama jalan raya dan tugu peringatan. Misalnya, Kiai Tamin dan Hamid Rusdi. Hamid Rusdi adalah pahlawan yang berasal dari Pagak, Kabupaten Malang. Beliau pejuang 3 zaman: era Belanda, Jepang dan prakemerdekaan. Hamid Rusdi ternyata seorang guru agama, sehari-harinya bekerja menjadi supir dan pernah jadi staf partai NU. Tolong jangan lupakan fakta sejarah ini.

Sekarang ini menjadi tugas generasi muda untuk mempertahankannya. Generasi sekarang bukanlah generasi pejuang (baca: angkat senjata) seperti Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Pangeran Antasari, Kapitan Pattimura dan I gusti Ngurah Rai, bukan pula generasi perintis, seperti HOS Tjokroaminoto, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, Haji Agus Salim, M. Natsir, Syafruddin Prawiranegara, Tan Malaka, KH. Wahid Hasyim dan lain-lain. Posisi kita ini sebagai generasi pembangun sekaligus mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tantangan kita dalam mempertahankan bangsa ini cukup berat, karena yang dihadapi bukan hanya pihak asing melainkan “bangsa kita sendiri”. Contoh, pejabat korup, makelar jabatan, tukang plagiat dan pengedar Narkoba.  Perkara narkoba saja, Mantan Menkumham, Patrialis Akbar pernah menyatakan sekitar 50 persen dari 135.000 penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) di Indonesia adalah pengguna narkoba.

Boleh jadi kita lepas dari penjajahan fisik, tapi belum tentu lepas dari penjajahan berbentuk pemikiran atau ideologi. Ambil contoh di bidang hukum kita belum bisa lepas dari produk hukum peninggalan kolonial Belanda. Di bidang budaya kita masih dirongrong budaya atau gaya hidup kebarat-baratan dan K-Pop yang orientasinya 3F: Food, Fun, dan Fashion. Di bidang ekonomi, kita belumlah mandiri dan berdaulat. Masih mengandalkan utang luar negeri dari bank dunia untuk menyokong APBN.

Tidak dapat dipungkiri kondisi ekonomi negara juga sedang lesu. Baru-baru ini terjadi gelombang PHK di salah satu stasiun televisi swasta ternama. Penyebabnya stasiun televisi ini tidak mampu bersaing dengan kompetitornya. Kemudian kurs mata uang rupiah berada di level 14.273/dolar AS. Yang bisa kita lakukan sebagai orang yang bukan pelaku moneter adalah mendoakan Gubernur BI, Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, dan Bappenas, semoga mereka dapat memperbaiki perekonomian negara.

Di usia 74 tahun sudah banyak pencapaian yang dilalui negara kita. Dulu awal kemerdekaan, buta aksara masih tinggi. Sekitar 9 dari 10 orang mengalami buta aksara. Sekarang tersisa 5% dari jumlah total penduduk bangsa Indonesia. Dulu kita dilarang mengkritik kolonial maupun pemerintah berlatar belakang militer (Orde baru). Kini berubah drastis, kita boleh mengkritisi kebijakan pemerintah bahkan membully sesuka hati. Dalam bidang teknologi, kita boleh berbangga hati karena putra terbaik bangsa, yakni BJ. Habibie mampu membuat Pesawat CN 235. Selain itu ilmuwan-ilmuwan kita sudah mampu membuat pesawat tanpa awak (PUNA Sriti besutan BPPT), memanipulasi cuaca hingga membuat panser dan kapal perang.

Jangan apatis terhadap kondisi negara ini, mari kita optimis saja. Jadilah generasi muda yang lebih baik dari generasi terdahulu. Jadilah orang baik yang bisa memperbaiki orang lain. Republik Indonesia ini tidak butuh generasi muda yang bisanya mencaci maki “kegelapan” tapi enggan menyalakan lilin atau lentera (baca: harapan dan aksi). Demikian refleksi saya sebagai seorang guru dalam melihat pasang surut bangsa ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi anda semua.

Wallahu’alam bishawwab.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals